Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Penjelasan tentang Bidah

Makna 'Kullu' dalam Hadits Setiap Bid'ah Sesat

Rasulullah SAW bersabda:

ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮَّ ﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

Artinya:

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan كُلُّ (setiap/sebagian besar) bid’ah adalah sesat. (HR Muslim dalam Kitab Jumat).

Sebagian orang yang belum faham sering menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk membid'ahkan dan menyesatkan setiap perkara-perkara baru dalam agama. Salah satu alasannya karena dalam redaksi hadits tersebut tercantum kata "kullu" ( كُلُّ ) yang bermakna "setiap". Sehingga dalam anggapan mereka, setiap perkara baru dalam agama harus dihukumi sebagai bid'ah yang sesat tanpa terkecuali.

Pedahal hal tersebut jelas merupakan sebuah kekeliruan. Sebab kajian hadits menjadi tidak utuh, dengan tanpa melihat terhadap nash-nash lainnya baik berupa hadits maupun ayat al-Qur'an.

Makna Kullu dalam Hadits "Kullu bid'atin dlalalah"

Makna hadits ﻛُﻞّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔ jika diartikan secara sederhana memang menyatakan bahwa semua jenis bidah adalah sesat. Namun jika dimaknai seperti ini maka akan terjadi kontradiksi dengan hadits dan nash-nash lainnya. Seperti dengan hadits:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya:

“Barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang baik dalam Islam, maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang jelek dalam Islam, maka ia akan terkena dosanya dan juga dosa orang-orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikit pun” (HR. Muslim)

Sayidina Umar bin Khottob Ra. pernah menggagas pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan ketika beliau menyaksikannya berkata:

 نِعْمَت الْبِدْعَةُ هَذِهِ 

Artinya:

"Sebaik-baiknya bidah adalah ini" (HR. Bukhari).

Hadits dan ucapan Sayidina Umar r.a. di atas jelas mengindikasikan adanya bid'ah yang baik.

Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan, jika ada dua atau lebih nash yang dzahirnya saling kontradiksi, maka harus dicari titik temu selama memungkinkan. Kita tidak boleh secara langsung membuang satu nash dan berpegang pada nash lain hanya karena mengikuti hawa nafsu semata.

Lantas, bagaimana titik temu antara hadits-hadits tersebut?

1. Makna Kullu: Sebagian

Titik temu hadits-hadits tersebut adalah mengartikan kullu dalam hadits ﻛُﻞّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔ dengan makna "sebagian". Jadi arti hadits tersebut adalah: sebagian bidah adalah sesat. Artinya ada sebagian bidah yang baik yaitu yang diisyaratkan oleh ucapan Sayidina Umar RA.

Kullu dengan makna sebagian bukanlah mengada-ada. Di dalam bahasa Arab kata kullu tidak selalu bermakna "semua". Terkadang kullu juga bermakna sebagian. Imam Fairuz Abadi dalam kitabnya Qomus al Mukhith mengatakan:

الكُلُّ، بِالضَّمِّ اسْمٌ لِجَمِيْعِ الْأَجْزاءِ، لِلذَّكَرِ والْأُنْثَى، أَوْ يُقَالُ كُلُّ رَجُلٍ، وَكُلَّةُ امْرَأَةٍ، وَكُلُّهُنَّ مُنْطَلِقٌ وَمُنْطَلِقَةٌ، وَقَدْ جَاءَ بِمَعْنَى بَعْضٍ

Artinya:

"Kullu dengan dhomah, adalah nama bagi semua bagian. Baik bagi kata maskulin atau feminim. Ada pula yang mengatakan bagi maskulin kullu rojul bagi feminim kullatu imroatin. (dikatakan) Kulluhunna muntholiq atau muntholiqoh. Dan sungguh telah datang (kullu) dengan makna sebagian."

Al Murtadho Az Zabidi dalam Kamusnya Tajul `Arus mengatakan:

قَالَ ابْنُ الْأَثِيْرِ : مَوْضِعُ كُلٍّ اَلْإِحَاطَةُ بِالْجَمِيْعِ وَقَدْ جَاءَ اسْتِعْمَالُهُ بِمَعْنَى بَعْضٍ وَعَلَيْهِ حُمِلَ قَوْلُ عُثْمَانَ رضي الله عنه حِيْنَ دُخِلَ عَلَيْهِ فَقِيْلَ لَهُ : أَبِأَمْرِكَ هَذَا ؟ فَقَالَ : كُلُّ ذَلِكَ – أَيْ بَعْضُهُ – عَنْ أَمْرِيْ وَبَعْضُهُ بِغَيْرِ أَمْرِيْ

Artinya:

"Berkata Ibnu Atsir, topik dari kullu adalah makna yang mencakup keseluruhan. Namun sungguh telah datang penggunaannya dengan makna sebagian. Atas makna ini diarahkan ucapan Sayidina Utsman ra, Ketika beliau didatangi seseorang kemudian ditanya, “Apakah ini perintahmu?” Beliau ra menjawab, “Kullu (sebagian) itu adalah perintahku dan sebagiannya bukan perintahku.”

Semakna dengan ini apa yang disebutkan oleh Imam al-Akhdhori dalam kitab mantiq “Sulamul Munawraq” yang telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban:

اَلْكُلُّ حُكْمُنَا عَلَى الْمَجْمُوْعِ*** كَكُلِّ ذَاكَ لَيْسَ ذَا وُقُوْعِ

وَحَيْثُمَا لِكُلِّ فَرْدٍ حُكِمَا*** فَإِنَّهُ كُلِّيَّةٌ قَدْ عُلِمَا

Artinya:

“Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti ‘Sebagian itu tidak pernah terjadi’. Dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan, maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi.”

Jelas bahwa secara bahasa kullu bisa bermakna semua atau sebagian.

Memaknai hadits di atas dengan makna "sebagian bidah" juga bukan pendapat baru. Ulama sekaliber Imam Nawawi r.a. dalam Syarah Muslim berkomentar mengenai hadits kullu bidah dholalah:

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَا عَامٌّ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ

Artinya:

“Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam (yang berbunyi) “Kullu bid’ah dholalah”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “Kullu bidah dholalah” adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarah Shahih Muslim, 6/154).

Penggunaan kata kullu dengan makna sebagian juga umum dalam percakapan bahasa Arab, bahkan di dalam al-Quran pun ada beberapa contohnya. Di antaranya adalah:

Contoh lafadz Kullu (كل) yang memiliki makna sebagian dalam Al Quran:

a. Surat al-Ahqof ayat 25 tentang hancurnya segala sesuatu lantaran tiupan angin, yaitu:

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

Artinya:

"Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (QS. al-Ahqof : 25)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa segala sesuatu ( ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ )” dihancurkan oleh tiupan angin, namun ternyata rumah-rumah mereka yang tidak berdosa tidak ikut hancur. Ini menunjukkan tidak semua kata kullu (ﻛُﻞَّ ) itu selalu berarti “semua“.

b. Surat al-Anbiya ayat 30 tentang tidak semua benda yang ada di bumi ini, terbuat dari Air, yaitu

ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ ﺣَﻲ

Artinya:

"Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air." (QS. al-Anbiya : 30) .

Kata "segala sesuatu" ( ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ ) pada ayat ini tidak bisa diartikan “segala sesuatu tercipta dari air,” tetapi harus diartikan “sebagian dari sesuatu ( ﺑَﻌْﺾُ ﺷَﻴْﺊٍ ) tercipta dari air.” Terbukti ada benda-benda lain yang diciptakan Allah bukan dari air, misalnya pada ayat:

ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﺠَﺂﻥَّ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺭِﺝٍ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ

Artinya:

"Dan Allah menciptakan Jin dari percikan api yang menyala." (QS. ar-Rohman : 15)

c. Surat al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, kami pun membuka semua pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka." (QS. al-An’am : 44)

Lafadz ( ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ ) pada ayat ini tidak bisa di artikan "pintu segala sesuatu dibukakan untuk mereka", karena realitanya bahwa pintu rahmat tidak dibukakan untuk mereka disebabkan kelalaian mereka, maka makna ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ pada ayat ini adalah sebagian sesuatu.

d. Surat an-Naml ayat 23 tentang Ratu Bilqis yang diberikan ( مِنْ كُلِّ شَيْء)

إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

Artinya:

"Aku menemui seorang wanita yang memerintahkan mereka dan dia diberikan segala sesuatu dan mempunyai arsy yang besar." (QS. an-Naml : 23)

Lafadz ( ﻛُﻞَّ ﺷَﻴْﺊٍ ) pada ayat ini tidak bisa diartikan segala sesuatu karena realitanya Ratu Bilqis tidak diberikan segala sesuatu. Ratu Bilqis tidak mempunyai apa yang dimiliki Nabi Sulaiman, ini menunjukkan bahwa ia hanya diberikan sebagian saja bukan segala sesuatu.

Contoh Kata Kullu (كل) bermakna sebagian di dalam al-Hadits:

a. Hadits tentang semua mayit akan hancur dimakan bumi kecuali tulang ekor .

كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ

Artinya:

"Setiap (kebanyakan) keturunan Adam akan dimakan oleh tanah kecuali tulang ekornya darinya ia diciptakan dan dengannya dia akan disusun (kembali dalam kehidupan selanjutnya) kendaraan." ( HR. Muslim, an-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Malik dalam Muwattho’nya)

Dalam hadits di atas lafadz (كل) bermakna kebanyakan bukan setiap atau semua karena ada di antara keturunan Nabi Adam as yang tidak dimakan oleh tanah diantaranya adalah para nabi dan rasul sesuai dengan hadits :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺃَﺟْﺴَﺎﺩَ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi memakan jasad para nabi." (HR. Abu Dawud)

b. Hadits tentang jintan hitam (الحبة السوداء) obat segala penyaki:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺩَﺍﺀِ : ‏( ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻡَ ‏) ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﺷِﻬَﺎﺏٍ : ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ

Artinya:

"Dari Abi Hurairah ra. bahwasanya beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda : Pada habbatus sauda’ ( jintan hitam) ada obat dari segala penyakit kecuali saam (kematian). Ibnu Syihab berkata : arti saam adalah mati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lafadz (كل داء ) tidak bisa diartikan segala penyakit tapi sebagian penyakit sesuai keterangan dari Imam Ibnu Hajar ra bahwa penyakit yang disembuhkan oleh habbatus sauda’ adalah penyakit yang bersifat dingin adapun sakit yang bersifat panas tidak bisa disembuhkan dengannya.

Imam al-Khottobi berkata : lafadz كل داء termasuk lafadz umum tapi bermakna khusus karena tidak ada obat dari tumbuh-tumbuhanan yang sifatnya dapat menyembuhkan semua penyakit.

Secara realita pun seperti itu, ada sebagian orang justru tidak cocok jika berobat dengan habbatus sauda’ (jintan jitam). Maka atas dasar inilah makna كل داء adalah sebagian penyakit saja bisa disembuhkan oleh habbatus sauda’.

c. Hadits tentang setiap mata berzina. Nabi SAW bersabda:

ﻛُﻞُّ ﻋَﻴْﻦٍ ﺯَﺍﻧِﻴَﺔ

Artinya:

"Setiap Mata berzina." (HR Turmudzi, Ahmad, Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban, Baihaqi, al Bazzar)

Lafadz ﻛُﻞُّ ﻋَﻴْﻦٍ ﺯَﺍﻧِﻴَﺔ tidak bisa di artikan setiap mata berzina karena makna dari hadits ini,seperti yang dijelaskan Syeikh al Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, adalah: Setiap mata yang melihat wanita yang bukan mahrom ( ajnabiyah) dengan syahwat adalah dihukumi berzina. Maknanya adalah hanya mata yang melihat wanita bukan mahrom dengan syahwat yang dihukumi berzina ada pun mata yang melihat bukan atas dasar hal tersebut tidak dihukumi zina.

Hadits lain yang menguatkan pendapat ini adalah hadits mengenai Sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali yang berkata:

ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻦْ ﻧَﻈْﺮَﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺄَﺓِ، ﻓَﺄَﻣَﺮَﻧِﻲْ ﺃَﻥْ ﺃَﺻْﺮِﻑَ ﺑَﺼَﺮِﻱْ

Artinya:

“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Al-Imam Nawawi berkata: ”Makna pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) adalah pandangan kepada wanita asing/bukan mahram (ajnabiyyah ) tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada awal pandangan, dan wajib untuk memalingkannya pada saat itu juga.”

Dari keterangan di atas dapat kita fahami bahwa tidak setiap mata dihukumi berzina. Mata yang melihat tidak sengaja belum dihukumi berzina jika langsung dipalingkan pandangannya dari hal yang dilarang.

Dari semua contoh hadits dan ayat di atas disimpulkan bahwa kullu tidak harus bermakna semua ada juga yang bermakna sebagian. Siapa yang beranggapan kullu hanya bermakna semua sungguh telah mengada-ngada.

Jadi kata kullu bidah dholalah dapat diartikan ‘sebagian bid`ah adalah sesat’. Artinya ada sebagian bidah yang baik. Inilah yang diisyaratkan oleh Imam Syafii dalam ucapannya:

اَلْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ، أَحَدُهُمَا مَا أُحْدِثَ مِمَّا يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ وَالثَّانِي مَا أُحْدِثَ مِنَ اْلخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ،… (البيهقي بإسناده في مناقب الشافعي)

Artinya:

”Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al- Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka tidak ada khilaf bagi seorang pun mengenainya bahwa hal baru ini tidak tercela…." (al-Baihaqi dalam Manaqib As-Syafi'i)

Masalah:

Sebagian orang bertanya, dalam riwayat lain disebutkan:

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Artinya:

"Setiap hal baru adalah bidah, setiap bidah adalah sesat dan setiap kesesatan ada di neraka." (HR. Nasa’i)

Jika anda konsisten mengartikan kullu bidah dengan sebagian bidah, maka bagaimana dengan sabda Nabi Saw selanjutnya yang mengatakan kullu dholalah fin nar apakah anda artikan kullu di sini juga dengan sebagian sehingga artinya ada kesesatan yang baik?

Jawab: 

telah kami jelaskan bahwa kullu itu ada yang bermakna seluruh dan ada yang bermakna sebagian. Tidak ada halangan untuk menjadikan kullu dalam lafadz kullu bidah bermakna sebagian karena adanya qorinah yang menunjukkan ke arah itu, dan kullu dalam lafadz kullu dholalah bermakna keseluruhan.

Mengumpulkan dua lafadz yang sama dengan makna berbeda bukan bentuk ketidak-konsistenan jika memang ada qorinahnya. Bahkan itu adalah salah satu bentuk keindahan lafadz. Dalam ilmu Badi` (salah satu cabang ilmu Balaghoh) yang demikian itu disebut dengan istilah “Jinasut Tam.”

Sebagai contoh, Nabi SAW pernah bersabda:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ

Artinya:

"Sesungguhnya (wajibnya) air adalah karena air." (HR. Muslim)

Di dalam hadits tersebut dikumpulkan dua kata ma`i (air) tapi makna keduanya berbeda. Yang pertama maknanya air untuk mandi sedangkan yang kedua maknanya air mani. Makna hadits tersebut wajibnya mandi dengan air adalah karena memancarnya air mani.

Di dalam ayat al Quran juga disebutkan:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ

Artinya:

"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja).” (QS. ar-Rum : 55)

Dalam ayat tersebut disebutkan kata Saat dua kali. Yang pertama bermakna kiamat dan yang kedua bermakna sesaat.

Apakah anda akan katakan Nabi SAW dan Al-Quran tidak konsisten karena menyebutkan dua kata sama dengan makna yang berbeda dalam satu alur? Orang yang memahami Balaghoh justru akan menganggap ini adalah keindahan dari bahasa al Quran dan hadits yang dinamakan dengan Jinasut Tam.

Begitulah pula tidak ada halangan untuk mengartikan dua kata kullu dalam hadits bidah dengan dua makna berbeda. Sebab memang ada qorinah yang menunjukkan demikian yakni ucapan Sayidina Umar ra dan hadits man sanna sunnatan.

2. Makna Kullu: Semua

Kalau pun kita ikuti pendapat sebagian orang yang mengatakan kullu dalam hadits ﻛُﻞّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔ adalah semua. Jadi semua bidah adalah sesat. Itu tidak berarti semua hal baru adalah sesat. Sebab mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud bidah di sini adalah bidah yang menyalahi al Quran dan sunnah. Ada pun bidah yang masih dalam naungan al Quran dan hadits itu tidak masuk dalam hadits ini.

Meskipun dalam hadits hanya dikatakan bidah namun yang dimaksud adalah bidah yang buruk atau yang tidak sesuai dengan tuntunan al Quran dan sunah. Dalam Ilmu Balaghah yang demikian ini dinamakan :

حَذْفُ الصِّفَةِ عَنِ الْمَوْصُوْفِ

Artinya:

“Membuang sifat dari benda yang bersifat”.

Contoh penerapan hal ini ada di dalam al Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya:

وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا

Artinya:

“Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi: 79).

Yang dimaksud dengan kapal dalam ayat di atas adalah kapal yang baik, kapal yang buruk tidak akan dirampas oleh raja. Namun di dalam ayat di atas hanya disebutkan kapal saja. Ini adalah bukti penerapan pembuangan sifat.

Jika kita bandingkan dalam ayat di atas disebutkan كل سفينة padahal yang dimaksud adalah setiap kapal yang bagus. Begitulah pula dalam hadits dikatakan كل بدعة padahal yang dimaksud adalah setiap bidah yang buruk. Dalam dua tempat itu ada sifat yang dibuang yang dapat diketahui melalui qorinah yang ada.

Jadi jelas bahwa yang dimaksud dalam hadits kullu bidah dholalah jika kita artikan kullu dengan keseluruan adalah setiap bidah yang buruk adalah sesat. Inilah yang difahami oleh para ulama yang mutabarah.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan mengenai hadits man sanna sunatan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ” ، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَع الْمَذْمُومَةُ

Artinya:

"Hadits ini mengandung pengkhususan atas sabda Nabi SAW, “Setiap hal baru adalah Bidah dan setiap Bidah adalah sesat.” Bahwasanya yang dimaksud adalah hal baru yang batil dan bidah yang tercela."

Syaikh Mala Ali Qori dalam kitab Mirqotul Mafatih mengatakan:

) وَكُلُّ بِدْعَةٍ ( بِالرَّفْعِ وَقِيْلَ بِالنَّصْبِ ( ضَلَالَةٌ ) : قَالَ فِيْ ” الْأَزْهَارِ ” ، أَيْ : كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِّئَةٍ ضَلَالَةٌ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ : ” مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا “

Artinya:

"(Dan setiap bidah) dibaca Rofa ada yang mengatakan Nashob (adalah sesat) berkata di dalam kitab Al Azhar bahwa maksudnya, Setiap bidah yang buruk. Ini berdasarkan hadits Nabi SAW, “Barangsiapa yang menciptakan satu gagasan yang baik dalam Islam, maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakanya.”

Jelaslah bahwa baik secara bahasa, ushul, dan balaghoh. Hadits kullu bidah dholalah tidak bisa sembarangan diartikan. Jangan hanya mengambil satu hadits namun melupakan berpuluh dalil-dalil lainnya. Baik kita artikan Kullu dengan sebagian atau semua, tetap saja kita akan mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa bidah itu ada yang baik dan ada yang buruk. Itulah keyakinan yang difahami oleh pembesar Ahlu sunnah wal jamaah semenjak zaman Sayidina Umar, Imam Syafii, Imam Nawawi, dan ulama-ulama Ahlu Sunah lain sampai pada masa kita kini.

___

Wallahu a'lam.

Pelayan Bagi Siswa-siswi


Guru adalah pelayan bagi murid muridnya Kepentingan murid secara umum harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi guru.

Setiap murid memiliki kesan tersendiri terhadap gurunya. Sosok pemarah atau ramah, disiplin atau abai, alim dan kreatif dalam mengajar atau sulit dimengerti, semua tergantung bagaimana kita melayani Siswa siswi kita.

Tugas guru adalah mentransfer Akhlak. Bila guru miskin akhlak, bisa ditebak apa yang akan diterima Siswa siswi kita?

Jika guru sekedar menyampaikan informasi pengetahuan, mesin google saat ini jauh lebih berjasa dari pada guru. Murah dan mudah diakses.

Guru adalah sosok yang terus mengkritik dan mengoreksi diri demi muridnya, bukan sosok yang rutin mendoktrin murid agar menghormati dirinya.

Guru berupaya membentuk diri menjadi kekasih Tuhan, agar orang orang yang dikasihinya menjadi sukses Dunia dan Akhiratnya.

Seberapa cinta kita kepada Tuhan, seberapa takut kita kepada Tuhan, sebegitu pula murid murid akan mencintai dan menghormati kita.

Mari kita doakan Guru guru kita.

Selamat Hari Guru Nasional. Momen evaluasi diri guru, bukan momen cari penghargaan dari murid.

Sejarah Lahirnya Sholawat Badar

Sholawat Badar berisi pujian-pujian kepada Rasulullah SAW dan Ahli Badar (para sahabat yang mati syahid dalam perang Badar). Berbentuk syair, dan dinyanyikan dengan lagu khas. Shalawat ini digubah oleh Kiai Ali Mansur, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember, pada tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya shalawat ini penuh dengan misteri dan teka-teki.

KH. Ali Mansur Siddiq terinspirasi dari sebuah kitab yang berjudul Mandzumah Ahl al-Badar al-Musamma Jaliyyat al-Kadar fi Fadhail Ahl al-Badar karya al-Imam as-Sayyid Ja’far al-Barzanji. Dan sebelum menulis syair shalawat Badar Kiai Ali bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih bersorban hijau.

Pada suatu malam, Kiai Ali tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiailah pesaing utama PKI di tempat itu.

Sambil terus merenung, Kiai Ali terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sejak masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri. Kegelisahaan Kiai Ali berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya dia bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu Rasulullah Saw.

Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab, “Ya Akhiy, itu Ahli Badar!” Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang ke rumahnya sambil membawa beras, daging dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita, bahwa pada pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membatu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” pertanyaan itu terus mengiang dalam benak Kiai Ali tanpa jawab. Namun malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.

Pagi-pagi sekali menjelang matahari terbit, serombongan habaib berjubah putih-hijau dipimpin Habib Ali bin Abdurrrahman al-Habysi dari Kwitang, Jakarta, datang ke rumah Kiai Ali Mansur. “Alhamdulillah…” ucap Kiai Ali ketika melihat rombongan yang datang adalah para habib yang sangat dihormati keluarganya.

Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga Kiai Ali, “Ya Akhiy, mana syair yang Ente buat kemarin? Tolong Ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”

Tentu saja Kiai Ali terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam. Namun ia memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan Allah kepadanya. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara yang aneh dan perlu dicurigai.

Segera saja Kiai Ali mengambil kertas yang berisi shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan mereka. Kiai Ali juga memiliki suara yang bagus. Di tengah alunan suara shalawat Badar itu para habib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.

Di dalam kunjungan tersebut tercatat dalam buku kecilnya Kiai Ali, kejadian tersebut pada hari Rabu pagi tanggal 26 September tahun 1962 jam 8 pagi. Pada kesempatan itu dibacakan Maulid al-‘Azab dan ceramah agama. Diantara yang memberikan ceramahnya adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi Kwitang dan Habib Salim Bin Jindan.

Di dalam rombongon tersebut ikut diantaranya Habib Ali bin Husein Alattas Bungur, Habib Ahmad bin Ghalib al-Hamid Surabaya, Habib Umar Assegaf Semarang dan banyak lagi yang lainnya para pembesar ulama pada waktu itu.

Selesai mendengarkan shalawat Badar yang dikumandangkan Kiai Ali Mansur, Habib Ali segera bangkit. “Ya Akhi! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan shalawat Badar!” serunya bernada mantap. Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu memohon diri. Sejak saat itu terkenallah shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI.

Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur, ke Jl. Kwitang, Jakarta. Di waktu itu pula Habib Ali meminta Kiai Ali untuk kembali membacakan sholawat Badar di hadapan jamah yang hadir. Sehingga membuat shalawat Badar menjadi masyhur tersebar luas di mana-mana, apalagi shalawat tersebut setelahnya selalu dibaca di awal majelisnya Habib Ali al-Habsyi Kwitang.

Setelah itu Habib Ali al-Habsyi meminta kepada para muridnya untuk mencetak teks shalawat tersebut dan dibagi-bagikan kepada para jamaahnya. Dicetak pertama kali di Percetakan Alaydrus Jakarta. Dan hingga saat ini sholawat Badar berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat Jakarta, Jawa, dan seluruh Nusantara bahkan penjuru Dunia.

Berikut ini adalah Teks Shalawat Badar:

صَـلَاةُ اللهِ سَـلَامُ الله # عَـلَى طَـهَ رَسُـوْلِ الله

صَـلَاةُ اللهِ سَـلَامُ الله #  عَـلَى يـس حَبِيْـبِ الله

تَوَسَّـلْنَا بِـبِـسْـمِ الله #  وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ الله

وَكُــلِّ مُجَـاهِـدٍ لله # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلأُمـَّة # مِـنَ اْلأَفـَاتِ وَالنِّـقْـمَة

وَمِنْ هَـمٍّ وَمِنْ غُـمَّـة # بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ # جَـمِيْعَ اَذِيـَّةٍ وَاصْرِفْ

مَـكَائِـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ # بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا # مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا

وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ # وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ

وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

وَكَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَا الْعُـمْرِ # وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَا الْفَـقْـرِ

وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ # جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ

فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

أَتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ # وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ

فَوَسِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ

فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ # بَلِ اجْعَلْـنَا عَلَى الطَّيْبـَةْ

اَيـَا ذَا الْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ # بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَاتِى

اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى اغْفِـرْ وَأَكْرِمْنَـا # بِـنَيـْلِ مـَطَالِبٍ مِنَّا

وَدَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى أَنْتَ ذُوْ لُطْـفٍ # وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ

وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ # بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرٍ

وَآلِ سَـادَةٍ غُــــرِّ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

Keutamaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Dijelaskan dalam Kitab "An-Ni'matul kubra 'alal 'alami fi Maulidi Sayyidi Walidi Adam, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami bahwa diantara keutamaan maulid Nabi SAW adalah:


1. Sayyidina Abu Bakar RA, berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

"Barang siapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga."


2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام 

Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi Muhammad SAW,maka sesungguhnya ia telah menghidupkan islam."


3. Berkata Sayyidina Utsman RA:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين 

Barang siapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut serta menyaksikan perang Badar dan Hunain."


4. Sayyidina Ali RA,berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب 

"Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan Maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia malainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab."


5. Imam Hasan Bashri RA, berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم 

Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati Maulid Nabi SAW."


6. Imam Junaed Al-Baghdadi, semoga ALLAH membersihkan sir(rahasia)-nya, berkata:

من حصر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

"Barang siapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW,dan mengagungkan derajat beliau,maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagiaan dengan penuh keimanan."


7. Imam Ma'ruf Al-Karkhi,semoga ALLAH membersihkan sir(rahasia)-nya, berkata:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم وجمع اخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتبخر وتعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه وسلم حشره الله يوم القيامة مع الفر قة الأ ولى من النبيين وكان فى أعلى عليين 


"Barang siapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu,memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengangungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya ALLAH akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para NABI dan dia akan di tempatkan di surga yang paling atas." ('IIIiyyin).


8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم


“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi SAW ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga ALLAH akan mengampuni orang yang memakannya."

Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi SAW. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.

Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi SAW.”


9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka ALLAH akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”


10. Imam Sirri Saqathi, semoga ALLAH membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi SAW. Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”


11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.

وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.


Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan ALLAH akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”


Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada ALLAH SWT untuk mereka yang menjadi sebab dibacakan nya pembacaan maulid Nabi SAW. Dan beliau berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan ALLAH SWT menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu.


Dan apabila ia meninggal, maka ALLAH akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka ALLAH akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka ALLAH tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi SAW."

وﷲاعلم بالصواب

Tempatmu mempengaruhi hargamu

Jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu.

Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu..".

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah .