Mukadimah
Sebagai sebuah kerja bersama, kegiatan pendidikan harus dijalankan berdasarkan
sebuah konsep yang dapat dipahami dan dijadikan acuan oleh semua komponen yang
terlibat di dalamnya. Konsep pendidikan yang dimaksudkan itu menyangkut dasar
filosofis, arah yang ingin diraih, kualitas proses dan produk yang diidealkan,
karakteristik komponen pendidikan, serta berbagai pendukung yang diperlukan.
Kejelasan konsep tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah seluruh kegiatan yang
dikembangkan dan sekaligus dijadikan sebagai pemersatu, sumber inspirasi dan
kekuatan penggerak bagi semua komponen pendidikan yang ada.
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sebagai perguruan tinggi yang diharapkan
berdiri tegak dan kukuh, memerlukan konsep pendidikan yang jelas, utuh dan
komprehensif. Apa yang selama ini dijalankan, baru didasarkan pada tradisi dan
pedoman legal-formal yang dikeluarkan oleh pemerintah secara garis besar atau
pokok-pokoknya saja. Pedoman itu masih memerlukan elaborasi secara detil agar
mudah dipahami dan sekaligus berhasil melahirkan ciri khas yang disandang.
Filosofi Tarbiyah Ulul
al-Albab
Sosok manusia Ulul
al-Albab
adalah orang yang mengedepankan dzikr, fikr dan amal shaleh. Ia memiliki ilmu
yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, hati yang lembut dan
semangat serta jiwa pejuang (jihad di jalan Allah) dengan sebenar-benarnya
perjuangan. Ia bukan manusia sembarangan, kehadirannya di muka bumi sebagai
pemimpin menegakkan yang hak dan menjauhkan kebatilan.
Ulul
al-Albab
adalah manusia yang bertauhid. Kalimah syahadah sebagai pegangan pokoknya, �Asyhadu an la il�ha ill� All�h,
wa asyhadu anna Muhammad Ras�l All�h.� Sebagai penyandang tauhid, ia
berpandangan bahwa tidak terdapat kekuatan di muka bumi ini selain Allah. Semua
makhluk manusia berposisi sama. Jika terdapat seseorang atau
sekelompok/sejumlah orang dipandang lebih mulia, adalah oleh karena ia atau
mereka telah menyandang ilmu, iman dan amal shaleh (taqwa). Penyandang derajat Ulul al-Albab tidak akan takut dan merasa rendah
di hadapan siapapun sesama manusia. Kelebihan seseorang berupa kekuasaan,
kekayaan, keturunan/nasab dan keindahan/ kekuatan tubuh tidak menjadikannya ia
lebih mulia dari pada yang lain.
Komunitas UIN Malang berjiwa dan berwatak Ulul al-Albab. Orientasi hidup Ulul al-Albab hanya pada ridha Allah swt. Kegiatan mendidik dan belajar
yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa semata-mata hanya untuk mendekatkan
diri kepada Tuhan. Mencari ilmu bukan sebatas untuk memperoleh ijazah dan
kemudahan dalam mencari pekerjaan dan rizki. Ulul al-Albab selalu yakin pada janji Allah bahwa rizki seseorang selalu
berada di bawah keputusan Tuhan. Tidak selayaknya seseorang merisaukan terhadap
rizki dan jenis pekerjaan yang akan diperoleh. Kebahagiaan bukan semata-mata
terletak pada keberhasilan mengumpulkan rizki, tetapi pada kedekatan dengan
Yang Maha Kuasa, Allah swt. Mahasiswa mencari ilmu pengetahuan lewat observasi,
eksperimen dan membaca berbagai literatur bukan semata-mata untuk memperoleh indeks
prestasi (IP) dan/atau sertifikat/ijazah, apalagi dikaitkan untuk mendapatkan
pekerjaan dan rizki, tetapi adalah kewajiban agar menyandang derajad Ulul al-Albab.
Identitas Ulul
al-Albab
diyakini dapat dibentuk lewat proses pendidikan yang dipola sedemikian rupa.
Pola pendidikan yang dimaksudkan itu ialah pendidikan yang mampu membangun
iklim yang dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya dzikr, fikr dan amal shaleh.
Menyesuaikan dengan konteks Ke-Indonesia-an, bentuk riil pendidikan UIN Malang
diformat sebagai penggabungan antara tradisi pesantren (ma`had) dan tradisi
perguruan tinggi. Pesantren telah lama dikenal sebagai wahana yang berhasil
melahirkan manusia-manusia yang mengedepankan dzikr, sedangkan perguruan tinggi
dikenal mampu melahirkan manusia fikr dan selanjutnya atas dasar kedua kekuatan
itu melahirkan manusia yang berakhlak mulia dengan selalu berkeinginan untuk
beramal shaleh.
Ukuran Keberhasilan Tarbiyah Ulul al-Albab.
Keberhasilan hidup bagi penyandang Ulul al-Albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat,
dan sanjungan yang diperoleh, melainkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat. Di dunia ini tak sedikit orang kaya, berkuasa dan disanjung
orang banyak, tetapi ternyata tidak selamat dan juga tidak bahagia. Ulul al-Albab diberikan oleh Allah swt. rizki
yang halal, mungkin juga pengaruh yang luas tetapi tetap selamat dan bahagia.
Penyandang Ulul
al-Albab
selalu memilih jenis dan cara kerja yang shaleh, artinya yang benar, lurus,
tepat atau profesional. Oleh karena itu, amal shaleh yang dilakukan oleh Ulul al-Albab selalu disenangi oleh manusia dan
bahkan oleh Allah swt.
Ulul
al-Albab
meyakini adanya kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi
kehidupan itu harus memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak dibenarkan
hanya memprioritaskan salah satunya. Keberuntungan di dunia harus berdampak
positif pada kehidupan akhirat dan tidak justru sebaliknya. Demikian pula
kesehatan jasmani harus memberi dampak positif pula pada kesehatan ruhani. Keuntungan
material bisa jadi berdampak positif pada kesehatan jasmani, akan tetapi jika
diperoleh dengan cara yang tidak halal akan berdampak pada kesehatan ruhani.
Bagi Ulul
al-Albab
hal tersebut harus dihindari.
Lewat dzikr, fikr dan amal shaleh, pendidikan Ulul al-Albab mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik, sehat
jasmani dan ruhani. Sebagai manusia terbaik, ia selalu melakukan kegiatan dan
pelayanan terbaik kepada sesama, �khair an-n�s anfa`uhum li an-n�s. Sebagai orang yang sehat harus berusaha menghindar dari
segala penyakit baik penyakit jasmani maupun penyakit ruhani. Penyakit jasmani
mudah dikenali dan dirasakan, sementara penyakit ruhani tak mudah dikenali dan
bahkan juga tidak disadari. Beberapa jenis penyakit ruhani itu antara lain:
sifat dengki, iri hati, suka menyombongkan diri (takabbur), kufur nikmat,
pendendam, keras kepala, individualistik, tidak toleran dan lain-lain.
Pendidikan di UIN Malang diarahkan untuk menjadikan seluruh mahasiswanya: (1)
berilmu pengetahuan yang luas, (2) mampu melihat/membaca fenomena alam dan
sosial secara tepat, (3) Memiliki otak yang cerdas, (4) berhati lembut dan (5)
bersemangat juang tinggi karena Allah sebagai pengejawantahan amal shaleh. Jika
kelima kekuatan ini berhasil dimiliki oleh siapa saja yang belajar di kampus
ini, artinya pendidikan Ulul al-Albab sudah dipandang berhasil. Sebab, dengan ciri-ciri itu
seseorang diharapkan akan memiliki kekokohan akidah dan kedalaman spiritual,
keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional.
Orientasi Tarbiyah Ulul
al-Albab
Arah Pendidikan Ulul
al-Albab
dirumuskan dalam bentuk perintah sebagai berikut: k�n� ul�
al-`ilmi, k�n� ul� an-nuh�, k�n� ul� al-absh�r, k�n� Ulul al-Albab, wa jhid�
fi Allah
haqqa jih�dih.
Betapa pentingnya rumusan tujuan ini bagi pendidikan ul� al-alb�b agar dapat dihayati oleh semua
warga kampus UIN Malang, maka ditulis di atas batu besar sebagai sebuah
prasasti yang diletakkan persis di depan ma'had dalam kampus. Tulisan pada prasasti tersebut sekaligus
dimaksudkan untuk memberikan kepastian bahwa pendidikan di kampus ini tidak
akan mengarahkan para lulusannya untuk menempati posisi atau jabatan atau jenis
pekerjaan tertentu di masyarakat. Pendidikan Ulul al-Albab memberikan piranti yang dipandang kukuh dan strategis agar
seseorang dapat menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana yang diisyaratkan Allah swt.
melalui kitab suci al-Qur'an.
Pendidikan Ulul
al-Albab
berkeyakinan bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan bagi komunitas kampus
semata-mata dimaksudkan sebagai upaya mendekatkan diri dan memperoleh ridha
Allah swt. Akan tetapi, pendidikan Ulul al-Albab juga tidak menafikan arti pentingnya pekerjaan sebagai
sumber rizki. Ulul
al-Albab
berpandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan, cerdas,
berpandangan luas dan berhati yang lembut serta mau berjuang di jalan Allah,
insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan
sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau profesional. Amal shaleh bagi Ulul al-Albab adalah merupakan keharusan bagi
komunitas kampus dan alumninya. Sebab, amal shaleh adalah jalan menuju ridha
Allah swt.
Pendekatan Tarbiyah Ulul
al-Albab
Dzikr, fikr, dan amal shaleh dipandang sebagai satu kesatuan utuh yang
dikembangkan oleh tarbiyah Ulul al-Albab. Dzikr dilakukan secara pribadi maupun (diutamakan)
berjama'ah,
langsung di bawah bimbingan dosen/guru. Bentuk kegiatannya berupa shalat
berjama'ah,
khatmul Qur'an,
puasa wajib maupun sunnah, memperbanyak membaca kalimah thayyibah, tasbih, takbir, tahmid dan shalawat. Kegiatan semacam itu dilakukan di
masjid atau ma'had,
pada setiap waktu. Pendidikan fikr dilakukan untuk mempertajam nalar atau
pikiran. Pendekatan yang dikembangkan lebih berupa pemberian tanggung jawab
kepada mahasiswa untuk mengembangkan keilmuannya secara mandiri ---proses
mencari sendiri lebih diutamakan. Prestasi atau kemajuan belajar diukur dari
seberapa banyak dan kualitas temuan yang dihasilkan oleh mahasiswa selama
belajar. Pendidikan Ulul
al-Albab
lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen daripada berbentuk kuliah
sebagaimana lazimnya dilakukan di perguruan tinggi. Dasar pikiran yang
dijadikan acuan pengembangan pendekatan adalah formula dan juga kisah-kisah
dalam al-Qur'an
serta evaluasi terhadap hasil yang dilakukan lewat pendekatan kuliah selama
ini.
Ayat-ayat al-Qur'an
banyak sekali menggunakan formula kalimat bertanya dan perintah untuk mencari
sendiri, seperti: Apakah tidak kau pikirkan? Apakah tidak kau perhatikan?
Apakah tidak kau lihat? dan sebagainya. Formula kalimat bertanya semacam itu
melahirkan inspirasi dan pemahaman bahwa memikirkan, memperhatikan dan melihat
sendiri, seharusnya dijadikan kata kunci dalam pilihan pendekatan belajar untuk
memperluas ilmu pengetahuan. Selain itu, masih bersumberkan al-Qur'an, diambil dari kisah nabi Ibrahim
dalam mencari Tuhan dilakukan dengan cara membangun hipotesis dan mengujinya
sendiri dengan logika dan data empirik yang ditemukan. Melalui proses panjang,
akhirnya Tuhan memberikan petunjuk dengan bersabda: aslim (ber-Islam-lah) maka
Ibrahim-pun mengatakan aslamtu (saya ber-Islam dan berserah diri). Kisah ini
pula memberikan inspirasi bahwa jika mencari Tuhan saja Ibrahim diberi peluang
untuk mencari sendiri, maka selayaknyalah manusia seperti halnya mahasiswa
seyogyanya diberi kebebasan seluas-luasnya mencari sendiri dan bukan dituntun
dan selalu diberi petunjuk. Dosen dalam tarbiyah Ulul al-Albab berperan sebagai pemberi petunjuk
atau kata putus terakhir setelah mahasiswa sebelumnya melakukan pencaharian
sendiri. Dasar pertimbangan yang lain ialah bahwa ternyata pendekatan kuliah
selama ini tidak memberi peluang mahasiswa mengasah kekuatan nalarnya lewat
tantangan yang harus dihadapi. Itu semua dapat diduga sebagai sumber kelemahan
pendekatan pendidikan yang selama ini dikembangkan.
Amal shaleh sedikitnya merangkum tiga dimensi. Pertama, profesionalitas; kedua,
transendensi berupa pengabdian dan keikhlasan; dan ketiga, kemaslahatan bagi
kehidupan pada umumnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh peserta didik Ulul al-Albab harus didasarkan pada keahlian dan
rasa tanggung jawab yang tinggi. Apalagi, amal shaleh selalu terkait dengan
dimensi keumatan dan transendensi, maka harus dilakukan dengan kualitas
setinggi-tingginya. Tarbiyah Ulul al-Albab menanamkan nilai, sikap dan pandangan bahwa dalam memberikan
layanan kepada umat manusia di mana, kapan dan dalam suasana apapun harus
dilakukan yang terbaik (amal shaleh).
Selain itu, dalam mengembangkan budaya amal shaleh harus dilakukan dengan cara
ibdah
bi nafsika: mulai dari diri sendiri. Sebaliknya, hal yang menyangkut
pengembangan pemikiran dilakukan dengan pendekatan kebebasan, keterbukaan dan
mengedepankan keberanian yang bertanggung jawab. Bebas artinya siapa saja,
dengan tidak melihat oleh dan dari mana pikiran itu berasal, dihargai asal
pikiran itu kukuh, baik dari nalar maupun data yang diajukan. Prinsip terbuka
berarti memberikan peluang kepada siapa saja untuk mengajukan nalar dan daya
kritisnya. Kebenaran bagi tarbiyah Ulul al-Albab, tidak mengenal final, artinya masih diberi ruang untuk
dikritisi, kecuali menyangkut akidah atau tauhid. Sedangkan keberanian
ditumbuh-kembangkan, oleh karena sifat ini dipandang sebagai modal dan bahkan
pintu masuk lahirnya keterbukaan dan kebebasan sebagai pilar penyangga
tumbuhnya iklim akademik.
Budaya Pendidikan
Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat dilihat
dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau
penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik
seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya.
Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi
dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut pola hubungan antarsesama, cara
menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki baik
kekurangan maupun kelebihannya, dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang
dianggap bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya
juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya
rendah, sedang dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga
berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat.
Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari
sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut
berbudaya tinggi, dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun
penampilan wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan
itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai
sarana pendidikan yang mencukupi �baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu
menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih,
rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat, dan
sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita,
pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain
atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan
mengembangkan ilmu dan hikmah. Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat
pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interrelasi di antara
komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai
aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.
Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama serta saling menghargai
senantiasa menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah
kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya,
komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, su' al-zhann, tidak saling menghargai
di antara sesama, kufur, akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana
stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan
atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan
hubungan-hubungan transaksional yang akan berakibat memperlemah kehidupan
organisasi kampus itu sendiri. Tarbiyah Ulul al-Albab harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab,
sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung serta setinggi
apapun kualitas tenaga pengajar, jika lembaga pendidikan tersebut tak mampu
mengembangkan budaya tinggi, maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang
berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun budaya
lahiriah tak berkategori tinggi, tetapi jika budaya batiniah dapat dikembangkan
setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya.
Tarbiyah Ulul
al-Albab
dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah
dan batiniah secara padu, simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan
kekuatan yang ada.
Struktur Keilmuan
Ilmu yang dikembangkan di UIN Malang bersumber dari al-Qur'an dan hadis nabi. Petunjuk al-Qur'an dan hadis yang masih bersifat
konseptual selanjutnya dikembangkan lewat kegiatan eksperimen, observasi dan
pendekatan ilmiah lainnya. Ilmu pengetahuan yang berbasis pada al-Qur'an dan al-Sunnah itulah yang
dikembangkan oleh UIN Malang. Jika menggunakan bahasa kontemporer UIN Malang
berusaha menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan. UIN Malang
sesungguhnya tidak sepaham dengan siapa saja yang mengkategorisasikan ilmu
agama dan ilmu umum. Sebab kategorisasi itu terasa janggal dan/atau rancu.
Istilah umum adalah lawan kata dari khusus. Sedangkan agama, khususnya Islam
tidak tepat dikategorikan sebagai ajaran yang bersifat khusus. Sebab, lingkup
ajarannya begitu luas dan bersifat universal, menyangkut berbagai aspek
kehidupan. Jika keduanya dipandang sebagai ilmu, maka agama adalah ilmu yang
bersumber dari wahyu, sedang ilmu umum berasal dari manusia.
Kedua jenis ilmu yang berasal dari sumber yang berbeda itu harus dikaji secara
bersama-sama dan simultan. Perbedaan di antara keduanya, ialah bahwa mendalami
ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan hadis hukumnya wajib ain bagi mahasiswa UIN Malang. Sedangkan, mendalami ilmu
yang bersumber dari manusia hukumnya wajib kifayah. Artinya, terhadap jenis
ilmu yang disebutkan terakhir ini, mahasiswa diperkenankan memilih salah satu
cabang disiplin ilmu yang diminati. Penguasaan salah satu cabang ilmu dianggap
telah gugur atas kewajiban mengembangkan disiplin ilmu lainnya.
Dalam perspektif bangunan kurikulum, struktur keilmuan yang dikembangkan UIN
Malang menggunakan metafora sebuah pohon yang kukuh dan rindang. Sebagaimana
layaknya sebuah pohon menjadi kukuh, berdiri tegak dan tak mudah roboh dihempas
angin jika memiliki akar yang kukuh dan menghunjam ke bumi. Pohon yang berakar
kuat itu akan melahirkan batang yang kukuh pula. Batang yang kukuh akan
melahirkan cabang dan ranting yang kuat serta daun dan buah yang sehat dan
segar. Pohon dengan ciri-ciri seperti itulah yang dijadikan perumpamaan ilmu
yang dikembangkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Akar yang kukuh menghunjam ke bumi itu digunakan untuk menggambarkan kemampuan
berbahasa asing (Arab dan Inggris), logika dan filsafat, ilmu-ilmu alam dan
ilmu-ilmu sosial. Bahasa Asing Arab dan Inggris, harus dikuasai oleh setiap mahasiswa.
Bahasa Arab digunakan sebagai piranti mendalami ilmu-ilmu yang bersumber dari
al-Qur'an
dan hadis nabi serta kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Sudah menjadi
keyakinan bagi UIN Malang bahwa mengkaji Islam pada level perguruan tinggi
harus menggunakan sumber asli. Mempelajari Islam hanya menggunakan buku
terjemah dipandang tidak mencukupi. Penggunaan Bahasa Inggris dipandang penting
sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahasa pergaulan
internasional. Selanjutnya, pendalaman terhadap Pancasila sebagai pandangan
hidup bangsa, kemampuan logika/filsafat, ilmu alam dan ilmu sosial perlu
dikuasai oleh setiap mahasiswa agar dijadikan bekal dan instrumen dalam
menganalisis dan memahami isi al-Qur'an, hadis maupun fenomena alam dan sosial yang dijadikan
obyek kajian-kajian selanjutnya. Jika hal-hal tersebut dikuasai secara baik,
maka mahasiswa akan dapat mengikuti kajian keilmuan selanjutnya secara mudah.
Sebaliknya, jika mahasiswa gagal mendalami ilmu alat tersebut dipastikan akan
mengalami kesulitan dan bisa jadi akan mengalami kegagalan dalam studinya.
Batang yang kukuh digunakan untuk menggambarkan ilmu-ilmu yang terkait dan
bersumber langsung dari al-Qur'an dan hadis Nabi. Yaitu, studi al-Qur'an, studi hadis, Pemikiran Islam dan
sirah Nabawiyah. Ilmu semacam ini hanya dapat dikaji dan dipahami secara baik
oleh mereka yang telah memiliki kemahiran Bahasa Arab, logika, ilmu alam dan
ilmu Sosial.
Dahan dan ranting dari pohon yang kukuh dan rindang tersebut digunakan untuk
menggambarkan disiplin ilmu modern yang dipilih oleh setiap mahasiswa.
Disipilin ilmu ini bertujuan untuk mengembangkan aspek keahlian dan
profesionalismenya. Disiplin ilmu modern itu misalnya: ilmu kedokteran,
filsafat, psikologi, ekonomi, sosiologi, teknik serta cabang-cabang ilmu
lainnya. Lebih lanjut, jika metafora berupa pohon dikembangkan, dan harus
menyebut buah pohon tersebut, maka buah itu adalah ilmu, iman, amal shaleh, dan
akhlaq al-karimah. Keempat kata: ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah
sengaja ditulis dengan huruf tebal untuk menunjukkan betapa pentingnya hal itu
dalam kehidupan di alam ini. Ridha Allah swt., tergantung pada kadar iman, amal
shaleh, dan akhlaq al-karimah seseorang. Iman, amal shaleh, dan akhlaq
al-karimah lahir dari hidayah dan kekayaan ilmu pengetahuan. Seseorang yang
memiliki ilmu, iman, amal shaleh, dan akhlaq al-karimah yang dihasilkan oleh
kampus ini disebut: ulama'
yang intelek profesional dan/atau intelek profesional yang ulama. UIN Malang
hadir bertujuan melahirkan manusia yang berilmu, beriman, beramal shaleh, dan
ber-akhlaq al-karimah itu.
Dosen, Mahasiswa dan Karyawan.
Ketiga komponen pendidikan dosen, karyawan dan mahasiswa bekerja di kampus ini harus dilandasi oleh niat memenuhi
kewajiban dan agar menjadi dekat dan memperoleh ridha Allah swt. Niat secara
tegas seperti itu dikedepankan, sebab bagi setiap muslim dan muslimat, thalab
al-`ilm hukumnya adalah wajib, bahkan berlangsung sepanjang hayat: min al-mahd
ila al-lahd.
Kesamaan tujuan berupa sama-sama menggapai ridha Allah itu harus melahirkan
hubungan yang saling mencintai dan menghargai di antara seluruh komunitas
kampus. Sekalipun pada intinya lingkup pendidikan, tak terkecuali pendidikan di
perguruan tinggi, secara langsung hanya sebatas hubungan antara dosen dan
mahasiswa, tetapi tidak terpuji jika mengabaikan peran-peran pihak lain
seperti, karyawan. Tata krama pendidikan Islam mengajarkan bahwa siapapun yang
memudahkan jalan bagi pengembangan ilmu harus dihargai. Bahkan, Allah swt.
dalam salah satu hadis Nabi berjanji akan memberikan balasan berupa surga.
Eratnya hubungan antara dosen dan mahasiswa harus ditunjukkan sebagaimana
hubungan antara orang tua dan anaknya, antara petani dan tanamannya, atau
antara gembala dengan binatang peliharaannya. Kedua belah pihak, antara dosen
dan mahasiswa, harus ada nuansa kasih sayang yang mendalam. Perasaan sukses
bagi dosen bukan tatkala menerima reward atau ma'syah pada setiap bulannya, tetapi justru tatkala
mahasiswanya mengalami kemajuan. Lebih dari itu, kegembiraan lebih terasa
tatkala melihat dan/atau mendengar bahwa mahasiswanya telah mampu dan berhasil
melakukan sesuatu amal shaleh di tengah masyarakat. Sebaliknya, dosen akan
merasa susah tatkala menyaksikan mahasiswanya tak mengalami kemajuan yang
berarti. Dosen sebagaimana petani ataupun penggembala, bergembira ria tatkala
tanaman dan ternaknya tumbuh subur dan berkembang biak dengan baik. Itulah
gambaran dan metafora hubungan dosen dan mahasiswa di kampus yang beridentitas
Islam ini. Hubungan dosen dan mahasiswa tidak cukup diikat oleh peraturan atau
perundang-undangan yang tertulis, hubungan itu diikat oleh suasana batin, rasa dan
kasih sayang yang mendalam.
Agar terjadi jalinan hubungan yang erat dan kukuh antara semua komponen
perguruan tinggi ini harus dikembangkan ta`aruf atau keterbukaan. Ta`aruf akan melahirkan tafhum. Saling memahami akan melahirkan tadhmun atau saling menghargai. Tadhmun akan memunculkan tardhum dan akhirnya terjadilah suasana
ta`awun
di antara semua warga kampus. Hubungan seperti ini, bagi kaum muslimin dijamin
tak akan membunuh daya kritis, sebab dalam Islam juga harus ditumbuh-kembangkan
suasana tawashaw
bi al-haqq wa tawashaw
bi ash-shabr. Hubungan dosen dan mahasiswa diikat oleh suasana kasih sayang dan
bukan yang lain, yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak.
Sikap dan perilaku buruk dan tidak terpuji, harus dihindari oleh semua pihak.
Hubungan dosen dan mahasiswa harus dijauhkan dari nuansa transaksional,
hegemonik dan kooptatik. Mereka yang merasa memiliki kelebihan tidak sombong
karena kelebihannya, dan yang berkekurangan tidak boleh direndahkan dan merasa
rendah diri. Hubungan antar-warga kampus harus mencerminkan sebagai masyarakat
yang berbudaya tinggi, memperoleh sinar ilahi (nur ilahi)
dan menyandang budaya adiluhung yaitu budaya orang-orang yang berpendidikan
tinggi Islam.
Identitas dan Bahasa Pergaulan Warga Kampus
Peribahasa Jawa mengatakan: �ajining diri songko lathi, ajining rogo songko busono.� Artinya, cara berbicara dan cara
berbusana (berpakaian) akan selalu dijadikan dasar pemberian penghormatan
kepada seseorang. Dari peribahasa Jawa itu dapat diambil pengertian secara
lugas bahwa jika seseorang ingin dihormati orang lain, maka hargailah orang
lain dengan cara berbicara dan berbusana yang baik atau sopan. Cara bicara dan
berbusana menjadi cermin kehormatan seseorang.
Warga kampus dosen,
mahasiswa dan karyawan baik
secara individual maupun kolektif adalah representasi atau cermin kebesaran dan
kewibawaan UIN Malang, lembaga pendidikan tinggi Islam di mana semua warga
kampus bekerja dan belajar harus dijunjung dan dimuliakan namanya. Siapa yang
merusak nama baik almamater atau kampus Islam ini harus mempertanggung-jawabkan
kepada seluruh komponen kampus ini.
Semua dosen, mahasiswa dan karyawan UIN Malang di mana dan kapan saja harus
berbusana dan menggunakan bahasa yang mencerminkan harkat dan derajat Islam
yang amat agung dan tinggi. Menyangkut cara berpakaian, Islam sudah memberikan
tuntunan yang jelas, wajib menutup aurat. Dosen, mahasiswa dan karyawan boleh
menggunakan mode yang disenangi, tetapi selalu dilarang menyimpang dari norma
yang digariskan oleh ajaran Islam. Menampakkan aurat, baik secara
terang-terangan atau tersamar (berpakaian terlalu ketat), harus dihindari oleh
seluruh komunitas kampus Islam ini.
Secara lebih detil perlu dikemukakan bahwa semua mahasiswa di kampus harus
bersepatu, laki-laki tidak diperkenankan memakai kaos, giwang, kalung dan
berambut panjang. Perempuan harus mengenakan pakaian yang menutup aurat wanita
secara sempurna.
Menyangkut bahasa pergaulan sehari-hari, cepat atau lambat, atau paling tidak
secara bertahap menggunakan Bahasa Arab dan/atau Inggris. Penggunaan bahasa
asing bukan semata-mata menyesuaikan tuntutan zaman sehubungan dibukanya dunia
perdagangan bebas, lebih dari itu ialah dimaksudkan sebagai upaya membangun
identitas atau citra kampus Islam yang seharusnya memiliki kelebihan dibanding
kampus-kampus lainnya. Alasan strategis lainnya, bahwa sebagai kampus yang
melakukan kajian berbagai ilmu yang bersumber dari literatur asing (Arab dan
Inggris) maka kedua bahasa tersebut harus dikuasai secara baik dan oleh karena
itu berbahasa asing tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kampus ini.
Manajemen Pengelolaan dan Pengembangan Kampus
Al-Qur'an
bagi umat Islam adalah petunjuk segala kehidupan, tak terkecuali dalam
mengembangkan organisasi pendidikan yang melibatkan orang banyak. Membangun
kampus sama artinya dengan membangun orang, baik dari sisi karakter, perilaku,
keilmuan maupun ketrampilan.
Mengatur orang banyak dengan berbagai sifatnya harus menggunakan pendekatan
kemanusiaan. Sebab, manusia selain memiliki potensi maslahah, sekaligus juga
menyandang potensi sifat-sifat mafsadah. Kedua sifat yang berlawanan itu tidak
akan dapat dihilangkan, oleh karena itu harus disalurkan pada hal yang
menguntungkan.
Selanjutnya harus dibedakan antara manajemen pengelolaan kampus dan manajemen
pengembangan kampus. Manajemen pengelolaan kampus lebih tertuju pada penataan
atau pengaturan terhadap seluruh kegiatan pelayanan pendidikan. Sedangkan
manajemen pengembangan kampus lebih diarahkan pada upaya menumbuh-kembangkan
kampus agar tahap demi tahap mengalami kemajuan. Kedua jenis manajemen tersebut
diuraikan secara garis besar.
1. Manajemen Pengelolaan Kampus
Manajemen yang dikembangkan agar
lembaga ini tumbuh secara wajar, dinamis, inovatif dan terhindar dari hambatan
psikologis harus selalu menumbuh-kembangkan suasana kebersamaan, keterbukaan,
tanggung jawab, amanah dan profesional. Sebagai lembaga pendidikan, kampus ini
memiliki peran dan tanggung jawab menumbuh -kembangkan anak-anak muda yang
penuh harap agar kelak menjadi manusia Ulul al-Albab.
Lembaga ini tak ubahnya sebidang persemaian anak manusia yang harus tumbuh
secara wajar, sehat dan sempurna. Sedemikian berat peran yang harus diemban
oleh lembaga pendidikan tinggi ini. Oleh karena itu, lembaga ini harus disangga
oleh orang banyak, dan bukan justru saling memperebutkan amanah. Perebutan yang
berlebihan hanya akan memperlemah kekuatan yang diperlukan untuk menyangga
beban berat tersebut.
Sebagai langkah antisipatif untuk menjaga kebersamaan yang kukuh kampus ini
harus menjauhkan diri dari atmosfir politik. Sebab, kampus bukan lembaga
politik, melainkan lembaga akademik. Selain itu untuk menjaga keutuhan bersama
maka harus selalu diwaspadai, jika muncul gejala seseorang atau sekelompok
orang merasa terpinggirkan, maka harus segera dihimpun. Keutuhan dan
kebersamaan dalam kampus ini harus ditempatkan pada posisi strategis yang tak
boleh diabaikan.
Partisipasi semua pihak, sebagai syarat agar organisasi dapat tumbuh sehat,
harus didasarkan atas profesionalisme. Penetapan seseorang menduduki jabatan
tertentu harus dipilih secara fair, objektif dan demokratis. Penempatan
seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang hanya didasarkan pada
pertimbangan kedekatan hubungan kelompok atau primordial akan meruntuhkan
semangat partisipasi. Profesionalisme menuntut rasionalisme yang merupakan ciri
khas perguruan tinggi.
Hal lain yang tidak boleh dilanggar adalah tumbuhnya rasa ketidak-adilan,
termasuk dalam pembagian informasi. Perasaan tidak adil akan melahirkan
friksi-friksi yang mengakibatkan lembaga menjadi tidak sehat. Siapa saja akan
ikhlas mendarmabaktikan apa saja yang dimiliki, jika mereka merasa diberlakukan
secara adil dan jujur. Sikap tidak fair, tidak jujur dan tidak adil, selalu
dibenci oleh semua orang. Relevan dengan itu, tepatlah rumusan sebuah prinsip
manajemen kontemporer yang mengatakan bahwa pemimpin harus cerdik, tetapi
sekali-kali jangan mencoba-coba menggunakan kecerdikannya untuk menipu orang
lain. Di sini suasana keterbukaan lagi-lagi penting untuk menghindari lahirnya
s��
al-zhann atau saling tidak mempercayai yang akan berdampak negatif pada
pertumbuhan organisasi.
Polarisasi warga kampus atas dasar perbedaan paham keagamaan, etnis atau asal
daerah diberi toleransi, dan bahkan dikembangkan sepanjang tidak mengganggu
keutuhan warga kampus secara keseluruhan. Perbedaan yang melahirkan polarisasi
itu suatu ketika menjadi penting jika dengan polarisasi itu dapat
ditumbuh-kembangkan suasana fastabiq al-khairat, sehingga dapat memacu pertumbuhan dan dinamika
kampus.
2. Manajemen Pengembangan Kampus.
Dalam al-Qur'an terdapat petunjuk bagaimana
mengembangkan komunitas manusia. Beberapa ayat yang dikenal sebagai awal
turunnya al-Qur'an,
yakni awal surat al-`Alaq dan awal surat al-Muddatstsir, memberikan inspirasi
bagaimana sebuah gerakan membangun masyarakat seharusnya dilakukan. Surat
al-`Alaq diawali dengan kata qir'ah atau iqra', yaitu perintah membaca. Kemudian pada ayat pertama surat
al Muddatstsir, yang selama ini dikenal sebagai ayat-ayat yang turun
setelahnya, berisi seruan pada kaum berselimut (muddatstsir), mereka diperintah
untuk qiyam
atau bangkit. Perintah selanjutnya adalah melakukan bersuci (thaharah). Dalam konteks bersuci terdapat
ayat perintah meninggalkan angkara murka dan larangan terhadap orang yang
berharap/mengangan-angankan sesuatu yang mustahil terjadi atau memberi sesuatu
yang jumlahnya sedikit agar memperoleh sesuatu yang jumlahnya lebih banyak.(wa
ar-rujza fahjur, wa la
tamnun tastaktsir). Ada dua ayat lagi, yang penting sekali kaitannya dengan
perjuangan atau berjihad. Berjuang harus dimaksudkan untuk mengagungkan asma
Allah (wa rabbaka fakabbir). Selain itu harus bersabar (wa li rabbika fashbir).
Sebagai makhluk beriman maka seluruh rangkaian amal dan pengabdiannya harus
diarahkan pada tujuan tunggal, yaitu menggapai ridha Allah swt.
Seharusnya pengembangan lembaga pendidikan tinggi Islam mengacu pada petunjuk
ayat-ayat al-Qur'an
ini. Pertama dimulai dari membaca (qir'ah) kondisi internal maupun eksternal kampus, meliputi:
potensi, tantangan, maupun peluangnya. Pemahaman terhadap hal itu semua
melahirkan kesadaran. Muddatsir adalah gambaran orang yang lagi pasif
(berselimut), maka hal itu merupakan sebuah seruan untuk melahirkan kesadaran
agar berlanjut terjadi qiyam atau kebangkitan. Kesadaran akan menjadi sebuah kekuatan
pendorong terjadinya kebangkitan. Perguruan tinggi Islam harus bangkit. Mereka
seharusnya bertekad tak mau diungguli oleh perguruan tinggi manapun dan di
manapun. Munculnya semangat itulah yang disebut telah lahirnya kebangkitan.
Selanjutnya, UIN Malang sebagai perguruan tinggi yang ingin menjadikan Islam
sebagai pegangan dan pedoman hidup harus menjauhkan diri dari hal apa saja yang
bersifat merugikan diri maupun pihak lain (kemungkaran dan bersikap subjektif).
UIN Malang harus dikembangkan dalam konteks berjuang (jihad) mengagungkan asma Allah. Oleh
karena itu, diperlukan kesabaran, kesungguhan, kebersamaan dan pengorbanan. Itu
semua dilakukan sebagai bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri serta
menggapai ridha Allah swt.
Selain ber-iqra'
(membaca) secara terus menerus untuk melahirkan inspirasi dan kekuatan
penggerak seluruh komponen yang ada, dibutuhkan pula rumusan visi, misi, core
of value dan core of belief secara jelas. Sejak 1998 STAIN Malang yang saat ini
berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah berhasil merumuskan
Visi, Misi dan Tradisinya. Rumusan ini penting artinya untuk selanjutnya
dijadikan sebagai dasar menyusun strategi pengembangan yang di dalamnya termasuk
susunan skala perioritasnya.
Selain itu, UIN Malang telah berhasil menyusun strategi pengembangan sehingga
melahirkan konsep yang disebut dengan Rukun al- Jami`ah yang terdiri atas sembilan macam komponen yang
meliputi : (1) sumber daya manusia yang handal (dosen, karyawan, dan
mahasiswa), (2) masjid, (3) ma'had, (4) perpustakaan, (5) laboratorium, (6) ruang
belajar/kuliah, (7) perkantoran sebagai pusat pelayanan, (8) pusat pengembangan
seni dan olah raga, dan (9) sumber-sumber pendanaan yang luas dan kuat.
Kesembilan komponen itu, merupakan satu kesatuan utuh yang harus diadakan
sebagai karasteristik perguruan tinggi Islam, yang diharapkan mampu
mengantarkan mahasiswa memiliki empat kekuatan sekaligus, yaitu: (1) Kekokohan akidah
dan kedalaman spiritual, (2) keagungan akhlak, (3) keluasan ilmu dan (4)
kematangan profesional. Walhasil, semua usaha-usaha itu dimaksudkan sebagai
upaya mendekatkan diri dan ridha Allah swt.
Penutup
Sebagai sebuah konsep awal, Tarbiyah Ulul al-Albab ini masih memerlukan pengujian yang seksama. Sebab, konsep
ini disusun semata-mata didasarkan atas pandangan-pandangan yang lebih bersifat
idealis, yang bisa jadi jauh dari kebutuhan nyata atau aspirasi masyarakat yang
sedang berkembang. Sebuah konsep dapat dijalankan dengan baik dan maksimal jika
ada kesesuaian dengan kekuatan dan kenyataan di lapangan. Sementara dalam
realitasnya akhir-akhir ini masyarakat sedang dilanda oleh budaya ekonomi
kapitalistik yang serba menuntut keuntungan besar dan cepat dari usaha dan
modal yang serendah-rendahnya. Jika ungkapan tersebut betul, maka konsep ini
sangat kontradiktif dengan budaya masyarakat yang berkembang saat ini.
Akan tetapi, sadar akan fenomena kualitas pendidikan yang semakin hari tidak
menunjukkan kemajuan, bahkan cenderung merosot, maka konsep ini diharapkan,
sekalipun mungkin dinilai bersifat utopis, menjadi bukti bahwa ternyata masih
ada sebagian masyarakat yang benar-benar menaruh keprihatinan terhadap kualitas
pendidikan. Atas dasar keprihatinan yang amat mendalam tentang pendidikan kita
selama ini, konsep ini disusun.
Mudah-mudahan konsep Tarbiyah Ulul al-Albab membawa manfaat bagi upaya-upaya mencari jalan keluar
untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan semoga Allah swt. selalu melimpahkan
petunjuk, berkah, pertolongan dan ridha-Nya. Amin.
Oleh,
Prof. Imam Suprayogo( Guru Besar UIN Malang )