Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Tahun baru semangat baru

Alhamdulillah, Kita telah ada dalam tahun yang baru, 1448 H. Karena itu hendaknya kita melakukan revolusi terhadap keimanan dan ketakwaan kita. Kita tingkatkan ibadah kita. Kita perdalam ilmu agama kita. Kita perbaiki akhlak dan muamalah kita, sehingga iman dan takwa tumbuh dan menghujam di dalam hati kita.

Kata Allah SWT: وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ pada ayat ini Allah memberi janji dan harapan bahwa barang siapa berhijrah di jalan Allah dengan niat hanya mengharap ridho Allah, niscaya akan mendapatkan tempat yang luas dan menemukan rezeki yang banyak.

Kita semua pasti ingin menjadi lebih baik. Kita ingin hidup lebih nyaman. Kita ingin meninggalkan dosa² masa lalu. Kita ingin menjadi pribadi yang lebih taat. Namun kenyataannya, berubah menjadi lebih baik tidaklah semudah yang kita bayangkan.

Karena itu petunjuk dari Allah jelas: إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ Ayat ini merupakan petunjuk bahwa perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Tidak ada perubahan tanpa kemauan untuk berubah. Tidak ada hijrah tanpa keberanian untuk melangkah, (tentu yang dimaksud adalah perubahan menuju kebaikan, bukan menuju keburukan).

Allah SWT berfirman: أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ، وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ، وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, satu lidah dan dua bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan" (QS. Al-Balad: 8-10)

Allah telah menunjukkan kepada manusia dua jalan; jalan kebaikan dan jalan keburukan. Tinggal manusia yang menentukan jalan mana yang akan dipilih. Namun memilih jalan kebaikan bukanlah perkara mudah. Allah mengibaratkannya sebagai jalan yang mendaki dan penuh perjuangan.

Allah berfirman: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ، فَكُّ رَقَبَةٍ، أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ، يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ، أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ، ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ "Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki itu? Yaitu memerdekakan budak, memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang sangat fakir, kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman serta saling berpesan dalam kesabaran dan kasih sayang" (QS. Al-Balad: 11-17)

Dari ayat ini Allah menggambarkan kepada kita bahwa jalan menuju kebaikan adalah sebagai jalan yang mendaki. Artinya, diperlukan Perjuangan, diperlukan Pengorbanan, diperlukan Kesabaran, dan diperlukan Keikhlasan. Karena itulah Allah memerintahkan kepada kita: وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (QS. Al-Baqarah: 45)

Lalu bagaimana caranya agar kita mampu berhijrah (melangkah) dengan istiqamah dalam perubahan?, Setidaknya ada Tiga cara yang dapat menguatkan langkah hijrah kita: Pertama: Do'a (Memohonlah Hidayah dan Pertolongan Allah). Perjuangan menegakkan kebenaran harus diiringi dengan sabar dan sholat, sehingga menjadi ringan segala kesukaran dan cobaan, karena Allah senantiasa beserta orang² yang sabar. Alloh akan menolong, menguatkan dan memenangkan orang² yang berjuang menegakkan kebenaran agamanya

Dalam setiap rakaat sholat kita selalu membaca: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (QS. Al-Fatihah: 6)

Mengapa setiap hari kita terus meminta hidayah? Karena hidayah adalah nikmat yang sangat mahal. Hidayah adalah pembeda antara jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Hidayah adalah pembeda antara surga dan neraka.

Manusia sekaliber Rosulullah SAW saja tidak mampu memberikan hidayah kepada orang yang paling beliau cintai, yaitu pamannya Abu Thalib. Allah berfirman: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al-Qashash: 56)

Karena itu jangan pernah berhenti berdo'a agar Allah membimbing hati kita. Jangan pernah merasa aman dari kesesatan. Mintalah hidayah setiap saat, setiap hari hingga akhir hayat.

Kedua: Bersungguh-Sungguh Dalam Berubah. Hidayah harus dibarengi dengan kesungguhan. Dalam bahasa Arab disebut mujahadah, yang artinya perjuangan melawan hawa nafsu dan rasa malas.

Allah berfirman: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ "Orang² yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan² Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang² yang berbuat baik" (QS. Al-Ankabut: 69)

Jangan hanya berkata ingin berubah, tetapi tidak ada usaha. Jangan hanya berkata ingin dekat kepada Allah, tetapi masih malas melaksanakan sholat. Jangan hanya berkata ingin hijrah, tetapi masih mempertahankan kebiasaan yang menjauhkan diri dari Allah.

Hijrah membutuhkan kesungguhan. Hijrah membutuhkan pengorbanan. Hijrah membutuhkan air mata penyesalan dan perjuangan yang continue dan konsisten.

Ketiga: Ikuti Orang Soleh. Perjalanan hijrah tidak bisa ditempuh sendiri. Kita membutuhkan lingkungan yang baik. Kita membutuhkan sahabat yang soleh. Kita membutuhkan guru yang dapat menasihati dan mengingatkan ketika mut ibadah kita mulai lemah.

Allah berfirman: اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ "Ikutlah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Yasin: 21)

Dekatilah orang² yang mengingatkan kita kepada Allah (Akhirat). Dekatilah majelis ilmu. Dekati para ulama dan orang² soleh. Sebab teman yang baik akan membantu kita tetap berada di jalan yang benar.

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan: مَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ "Barang siapa duduk (bergaul) bersama orang² soleh, maka Allah akan menambah keinginannya untuk melakukan ketaatan dan menjauhi hal² yang diharamkan" وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ "Dan barang siapa duduk (bergaul) bersama para ulama, maka Allah akan menambah ilmu dan sikap waro' (hati² dalam urusan yang syubhat dan haram)"

Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Tidak ada hijrah tanpa kemauan untuk berubah. Tidak ada perubahan tanpa kesungguhan, teruslah memohon hidayah dan pertolongan Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki diri dan Dekatilah orang² soleh agar mereka membimbing kita menuju jalan yang diridhai Allah.

Mudah²an Allah menjadikan kita sebagai hamba² yang terus memperbaiki diri, berhijrah menuju kebaikan, hingga kelak menghadap Allah dengan hati yang bersih dan amal yang diridhoi.

Amalan Arofah dan Malam Iedul Adha

Amalan Arofah dan Malam Iedul Adha

Sholat Arofah: Sholat sunah ini dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan waktunya diantara Zhuhur sampai Ashar sebanyak 4 Rakaat (dua kali salaman).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى يَوْمَ عَرَفَةَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ : فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ خَمْسِينَ مَرَّاتٍ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَرَفَعَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ وَيُزَوِّجُهُ اللهُ بِكُلِّ حَرْفٍ فِي الْقُرْآنِ حَوْرَاء Bahwa: Rasulullah S.A.W. bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah) waktunya diantara Zhuhur sampai Ashar sebanyak empat rakaat (dua salaman), setiap rakaatnya membaca: Surat Al-Fatihah (1 kali) dan Surat Al-Ikhlash (50 kali), maka Allah akan memberikan kepada orang tersebut sejuta kebaikan dan pada tiap-tiap hurufnya, Allah swt. akan mengangkat satu derajat untuk setiap huruf (yang ia baca) di dalam surga, dimana jarak antara derajat satu dengan yang lain sejauh perjalanan 500 tahun, dan Allah akan memberi tiap-tiap huruf al-Quran (yang dibaca) dengan imbalan bidadari."

Niat Sholat Arofah: أُصَلِّي سُنَّةً لِيَوْمِ عَرَفَةَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا / إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى Wirid dan Dzikir Setelah Sholat Arofah: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ × ۱۰۰ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ × ۱۰۰ سُوْرَةُ الْإِخْلَاصِ ×۱۰۰

Sholat Malam Idul Adha: Sholat sunnah ini dikerjakan dua rakaat dan dikerjakan pada malam Hari Raya Qurban (Idul Adhha). مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةِ: بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً؛ فَإِذَا سَلَّمَ قَرَأَ أَيَةَ الْكُرْسِيَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ الْعَظِيمَ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، جَعَلَ اللَّهُ إِسْمَهُ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ، وَغَفَرَ لَهُ ذُنُوبَ السِّرِّ وَذُنُوبَ الْعَلَانِيَةِ وَكَتَبَ لَهُ بِكُلِّ أَيَةٍ قَرَأَهَا حَجَّةً وَعُمْرَةً، وَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ سِتَّيْنَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَإِنْ مَاتَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ الْأُخْرَى مَاتَ شَهِيدًا "Barangsiapa yang mengerjakan shalat dua rakaat pada malam nahr (Idul Adiha) yang setiap rakaatnya membaca: Surat Al Fatihah (15 kali), Surat Al Ikhlash (15 kali), Surat Al Falaq (15 kali), Surat An Naas (15 kali) dan setelah salam membaca: Ayat Kursi (3 kali) dilanjutkan dengan Istighfar (15 kali). Maka Allah akan menjadikan nama orang tersebut sebagai golongan orang-orang penghuni surga, lalu Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang samar maupun dosa-dosa yang jelas, serta Allah mencatat pahala orang tersebut setiap ayat yang dibaca seperti pahala haji dan umroh, dan orang tersebut seperti memerdekakan 60 budak dari keturunan Nabi Ismail, dan apabila orang tersebut meninggal pada waktu antara melakukan salat tersebut sampai seminggu berikutnya, maka ia termasuk golongan orang yang mati syahid."

Niat Sholat Lailatun Nahri : أُصَلِّي سُنَّةً لِإِحْيَاءِ لَيْلَةِ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُومًا / إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Sunah mangisi malam hari raya dengan ibadah. Niat Sholat bisa dengan Sholat Mutlaq/ diisi dzikir/membaca Sholawat.


Sumber: kitab Al-Qiro li Qoshid Umm al-Quro, 406-424

Kebaikan yang tidak pernah putus

Hidup ini hanyalah sementara. Setiap kita pasti akan berangkat meninggalkan dunia dan menuju kehidupan kekal di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang cerdas adalah yang menyiapkan bekal yang terus mengalir pahalanya, meskipun telah tiada.

Suatu ketika Ibnu Umar Ra., berkata, Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshor (yatsrib) mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا Rasul bersabda, Yang paling baik akhlaknya. Kemudian bertanya lagi, فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? قَالَ Beliau bersabda, أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا Yang paling banyak mengingat kematian وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian, أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ Itulah orang² yang paling cerdas" (HR. Ibnu Majah).

Alloh SWT berfirman: أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ "Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang melata dan sebagian besar daripada manusia?" Al-Hajj ayat 18

  1. Seluruh alam tunduk kepada Allah: Semua makhluk baik yang hidup maupun benda langit seperti matahari dan bintang digambarkan “bersujud” kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan berada dalam aturan dan kehendak-Nya.
  2. Sujud bukan hanya manusia: “Sujud” di sini tidak selalu berarti sujud seperti manusia saat salat, tapi bisa bermakna ketaatan total terhadap hukum Allah (sunatullah) misalnya matahari terbit teratur, pohon tumbuh, dan hewan hidup sesuai nalurinya.
  3. Manusia punya pilihan: Ayat ini menyebut “banyak manusia” (bukan semua), artinya: Ada manusia yang taat dan bersujud kepada Allah. Ada juga yang tidak, karena manusia diberi kebebasan memilih.
  4. Untuk sadar dan tunduk: Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir: jika seluruh alam tunduk kepada Allah, maka manusia seharusnya lebih sadar untuk ikut tunduk dan beribadah.

Maka, Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian² luar biasa ketika masih di dunia.

Lalu apa yang musti kita siapkan mumpung masih berada di Dunia?

Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم) "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"

Hadits ini menjadi pedoman bagi kita untuk mencari amal yang pahalanya tidak terputus.

Pertama: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ Sedekah Jariyah; Seperti misalnya membangun Masjid, Pesantren, Madrasah, Fasilitas umum, dan Menanam pohon yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kita sering mengeluh tentang bencana, tapi jarang mau menanam solusi. Padahal satu langkah kecil akan bisa menjadi amal yang besar. Satu pohon yang kita tanam hari ini bisa menyelamatkan generasi di masa yg akan datang. Satu pohon yang tumbuh bisa menjadi saksi bahwa kita pernah berbuat sesuatu untuk bumi yang kita pijak ini.

Rasulullah bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan itu bisa datang dari hal sederhana tapi berdampak luas. Menanam itu bukan hanya kegiatan duniawi, tetapi adalah investasi akhirat. Selama ada makhluk yang mengambil manfaat dari apa yang kita tanam, selama itu pula pahala terus mengalir.

Disebutkan dalam kitab درة الناصحين karya Syaikh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, berkata, Bahwa: إِنَّ فِي الصَّدَقَاتِ خَمْسَ خِصَالٍ Sesungguhnya di dalam sedekah terdapat lima perkara اَلْأُولَى: تَزِيْدُهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ Menambah keberkahan pada harta merekaالثَّانِيَةُ: دَوَاءٌ لِلْمَرَضِ Menjadi obat bagi penyakit الثَّالِثَةُ: يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمُ الْبَلَاءَ Allah Ta’ala mengangkat bala (musibah) dari mereka الرَّابِعَةُ: يَمُرُّوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ Mereka melewati shirath (jembatan) seperti kilat yang menyambar الْخَامِسَةُ: يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ Mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kedua: أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ Ilmu yang Bermanfaat Mengajarkan ilmu agama, menulis, atau menyebarkan ilmu yang diamalkan oleh orang lain.

Maka, Mulailah dari hal kecil. Mengajarkan satu ayat, membantu sesama, atau mendidik anak dengan baik, semua itu bisa menjadi investasi akhirat yang tidak pernah putus.

Nabi SAW bersabda: كن عالماً أو متعلماً أو مستمعاً أو محباً ولا تكن الخامس فتهلك "Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengar, atau orang yang mencintai, dan jangan engkau menjadi orang yang kelima, (menolak) maka kamu celaka"

Ketiga: أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ Anak Sholeh yang Mendo'akan Orang Tuanya (Didikan yang baik akan melahirkan anak yang baik sehingga terus Mendo'akan orang tuanya setelah wafat).

Selain tiga hal tersebut, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan niat ikhlas juga dapat menjadi sebab pahala yang terus mengalir, selama manfaatnya dirasakan oleh orang lain.

Jangan sampai kita hanya sibuk mengumpulkan harta dunia, tetapi lupa menanam amal jariyah untuk akhirat. Harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan, tetapi amal kebaikan akan terus mengikuti kita.

Karenanya, Mari kita membangun tradisi mencintai ilmu dan gigih belajar agar kita berhasil dalam menjalani kehidupan, sehingga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

Kembalikan urusan pada Posisinya

Dalam kitab Syu'abul Iman, Sayyidina Ali bin Abi Tholib Ra. berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa: الدُّنْيَا حَلَالُهَا حِسَابٌ Dunia ini halalnya adalah hisab وَحَرَامُهَا عِقَابٌ dan haramnya adalah siksa" Artinya; Harta di dunia ini, yang halal saja akan dihisab, apalagi yang haram, jelas hisabnya dan jelas pula siksanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali diperhadapkan pada berbagai macam tantangan² yang memerlukan solusi agar cepat bisa keluar dari zona keterpurukan.

Bagaimana Caranya agar bisa keluar dari zona keterpurukan: Ada tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental (spiritual) yang kuat, dan Misi yang lurus (ikhlas). Tanpa ketiganya, semua cita-cita, niat dan rencana hanya akan berhenti sebagai mimpi. dalam kitab kitab Lathaiful Isyarat jilid 1 halaman 266: حَقُّ التَّقْوَى أَنْ يَكُونَ عَلَى وَفْقِ الْأَمْرِ لَا يَزِيدُ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ وَلَا يَنْقُصُ "Hakikat takwa adalah mengikuti perintah (Allah) tanpa menambah atau mengurangi sesuai dengan hawa nafsu sendiri."

Dan Ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi apakah tujuan hidup kita sudah benar dalam pandangan Alloh SWT? Karenanya: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Maka, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.

Artinya: Dalam hal dunia kita disuruh "Jalan", tapi untuk urusan akhirat Alloh menyuruh kita "Lari" didalam Al-Quran Alloh SWT sudah menginstruksikan hal ini lantaran Ada rahasia "kecepatan" yang selama ini kita abaikan.

Kita sering terbalik untuk kepentingan Dunia yang sudah dijamin وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا (هود: ٦) "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya"

Tapi kita sering Berlari (menghabiskan waktu) sampai burnout (lelah jiwa, raga, dan tekanan yang berkepanjangan) hingga lupa ibadah. Tapi untuk Allah (urusan akhirat) yang kita berharap mendapatkan ridha-Nya, kita justru jalan santai (tenang masih mudah, masih lama dlsb), menunda-nunda, dan sering telat.

Urusan Sholat: "bersegeralah" فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ "maka bersegeralah kamu mengingat Allah" (QS. Al-Jumu'ah: 9). Allah menggunakan kata فَاسْعَوْا artinya bukan jalan santai, tapi melangkah dengan serius, penuh niat, prioritas tinggi (kesusu, bergegas).

Urusan Rezeki (sandang, pangan, papan): "berjalanlah" فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا "Maka berjalanlah di segala penjurunya..." (QS. Al-Mulk: 15). Allah menggunakan kata فَامْشُوا yang artinya jalan santai. Sebab: Rezeki itu sudah dijamin. Cukup jemput dengan sewajarnya, jangan sampai lari lalu kemudian kehilangan arah.

Alloh SWT mengingatkan kita bahwa: اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۗ Allah melonggarkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yg dikehendaki وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ dan Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ padahal kehidupan Dunia dibanding dengan akhirat hanyalah kesenangan sesaat.

Maka Kembalikan Posisinya AKHIRAT (di hati) karena Al-Qur'an mendidik kita agar tidak meletakkan DUNIA di atas segalanya.

Dunia cukup di kaki (dijalani), akhirat harus di hati (dikejar). "Barangsiapa mengejar akhirat, dunia akan datang berlutut di kakinya."

Urusan Allah (Zakat, Qurban, Haji, sedekah dlsbg "Wajib/Sunnah) : "larilah!" فَفِرُّوا إِلَى اللهِ "Maka berlarilah kamu menuju Allah (QS. Adz-Dzariyat: 50).

Kata فَفِرُّوا Ini lari dengan level kecepatan tertinggi. yang berarti lari dengan kecepatan penuh (gass pool) seperti orang yang sedang dikejar bahaya dan mencari perlindungan paling aman.

Urusan Ampunan: "berlombah²lah" وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ "Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) menuju ampunan Tuhanmu..." (QS. Ali-Imran: 133).

Kata سَارِعُوا yang berarti bergegaslah dalam berkompetisi artinya Jangan mau kalah sama orang lain dalam urusan tobat dan surga, maka Kecepatannya musti naik lagi.

Alhasil: Dunia memiliki porsi Akhirat adalah hisab yang pasti, karenanya kembalikan seluruh urusan pada posisi yang dikehendaki Alloh SWT., sebagaimana sabdanya Nabi, اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا Kejarlah dunia secukupnya dan raihlah ridho Alloh seutuhnya.

Media Penghapus Dosa

Dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang luput dari dosa, maksiat dan kesalahan. Siang dan malam kita berbuat khilaf, baik sengaja maupun tidak, besar maupun kecil. Karena itu, Islam mengajarkan banyak jalan (waktu) untuk membersihkan dosa² kita.

Di antara sekian banyak amalan, ada tiga amalan istimewa yang erat dengan bulan (Harom) Dzulhijjah, yaitu: Puasa, Qurban dan Silaturahim, Ketiga amalan ini bukan hanya bernilai ibadah (vertikal dan horizontal), tetapi juga menjadi media penghapus dosa.

Puasa (Tarwiyah dan Arofah): Penghapus Dosa, Puasa Tarwiyah dan Arofah adalah kesempatan emas untuk merengkuh rahmatnya Alloh SWT. Ada riwayat yang menyatakan bahwa: صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ Puasa Tarwiyah menghapus dosa setahun, وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ dan Puasa Arofah menghapus dosa dua tahun (Al-Ishfahani dan Ibnu Najar).

Rosululloh bersabda: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ "Dengan berpuasa di Hari Arafah, saya berharap Allah akan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya" (s.muslim).

Maksud hadis tersebut dijelaskan oleh Syekh Ibnu Allan: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻐﻔﺮاﻥ ﻣﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ إﻣﺎ اﻟﻌﺼﻤﺔ ﻋﻦ ﻣﻼﺑﺴﺘﻪ ﺃﻭ ﻭﻗﻮﻋﻪ ﻣﻐﻔﻮﺭا ﺇﻥ ﻭﻗﻊ Yang dimaksud dengan ampunan dosa yang akan datang ada kalanya diberi perlindungan melakukan dosa tersebut atau orang tersebut mendapatkan ampunan jika melakukan dosa (Dalil Al-Falihin Syarah Riyadh As-Shalihin)

Tentu yang dimaksud ampunan dosa adalah dosa-dosa kecil. Sementara untuk dosa besar ada tata cara taubat tersendiri.

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hanya dengan satu atau dua hari puasa, Allah menjanjikan pengampunan Dosa.

Puasa Tarwiyah dan Arafah mengajarkan kepada kita tentang: menahan hawa nafsu, melatih kesabaran, memperbanyak dzikir dan doa, meningkatkan ketakwaan.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, لَيْسَ مِنْ الْجُوْع وَالْعَطْش tetapi juga menjaga lisan, menjaga hati, nafsu (amarah dan lawamah) dan menjaga perilaku.

Maka jangan sampai kita berpuasa, tetapi masih gemar menyakiti orang lain, memfitnah, atau bermusuhan. Karena hakikat puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Qurban: Bukti Ketaatan dan Keikhlasan, Ibadah qurban adalah syiar mulia yang mengajarkan pengorbanan dan keikhlasan. Kita diingatkan pada kisah Nabi Ibrahim As. yang rela mengorbankan putranya demi menaati perintah Allah SWT.

Ibrohim Berkata:, قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ Anakku, sesungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ Pikirkanlah apa pendapatmu? قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ Ismail menjawab: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang² sabar"

Qurban adalah latihan untuk mencintai sesama. Qurban adalah sarana untuk menumbuhkan empati. Qurban adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Allah SWT berfirman: اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (wamabikum min ni'matin faminalloh), فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!

Qurban bukan hanya menyembelih hewan. Yang paling penting adalah ketakwaan dan keikhlasan hati.

Allah SWT berfirman: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ "Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya" (QS. Al-Hajj: 37) Dari ayat ini kita menjadi tahu bahwa inti dari ibadah qurban adalah ketakwaan dan keikhlasan.

Melalui Qurban, kita belajar tentang: menghilangkan sifat cinta dunia yang berlebihan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan berbagi kebahagiaan (fakir, miskin, keluarga, tetangga dan kolega).

Saat daging qurban dibagikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, di situlah tumbuh rasa persaudaraan dan kasih sayang bersama masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda: ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ "Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi)

Dari Hadits ini kita menjadi tahu bahwa empati, berbagi, kepedulian adalah kunci untuk mendapatkan rahmat-Nya Allah SWT. Sekaligus menjadi penghapus dosa ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.

Silaturahim: Membuka Pintu Rahmat dan Ampunan, Banyak dosa terjadi karena rusaknya hubungan antar manusia: pertengkaran, dendam, iri hati, hasud dan memutus hubungan.

Rasulullah SAW bersabda: لايَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعَ رَحِمٍ "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim"

Silaturahim memiliki keutamaan yang sangat besar: memperpanjang umur, melapangkan rezeki, mendatangkan keberkahan, dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Dalam hadis disebutkan: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahim"

Kadang ada keluarga yang lama tidak saling menyapa. Ada saudara yang bermusuhan bertahun-tahun hanya karena masalah dunia. Maka momentum Idul Adha dan Dzulhijjah ini hendaknya menjadi kesempatan untuk saling memaafkan.

Jangan menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu. Jadilah orang yang memulai kebaikan.

Karena bisa jadi dosa kita kepada Allah lebih mudah diampuni daripada kesalahan kita kepada sesama manusia yang belum diselesaikan.

Mari kita manfaatkan hari² ini dengan memperbanyak amal soleh. Jadikan: Puasa (Tarwiyah dan Arofah) sebagai sarana membersihkan diri, Qurban sebagai bukti keikhlasan, empati dan ketulusan serta Silaturahim sebagai jalan mempererat ukhuwah, dengan itu, mudah-mudahan Alloh berkenan menghapus dosa kita.