Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Jenis hati dan sifat-sifatnya

Dalam Al-Qur'an, disebutkan berbagai jenis hati dengan sifat-sifatnya yang menunjukkan kedekatan atau jauhnya seseorang dari Allah.

1. Hati yang Selamat (القلب السليم)

Hati yang tulus kepada Allah, bersih dari kekufuran, kemunafikan, dan dosa: إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (QS. Asy-Syu'ara: 89).

2. Hati yang Bertobat (القلب المنيب)

Hati yang selalu kembali kepada Allah, penuh taubat, dan patuh kepada-Nya: مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (QS. Qaf: 33).

3. Hati yang Tunduk (القلب المخبت)

Hati yang khusyuk, tenang, dan patuh kepada Allah: فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Hajj: 54).

4. Hati yang Takut (القلب الوجل)

Hati yang khawatir jika amalannya tidak diterima dan takut akan azab Allah: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (QS. Al-Mu'minun: 60).

5. Hati yang Bertakwa (القلب التقي)

Hati yang menghormati dan memuliakan syiar-syiar Allah: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (QS. Al-Hajj: 32).

6. Hati yang Diberi Petunjuk (القلب المهدي)

Hati yang ridha dengan takdir Allah dan berserah kepada-Nya: وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ (QS. At-Taghabun: 11).

7. Hati yang Tenang (القلب المطمئن)

Hati yang merasa damai dengan mengingat Allah: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (QS. Ar-Ra'd: 28).

8. Hati yang Hidup (القلب الحي)

Hati yang memahami dan mengambil pelajaran dari peringatan Allah: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ (QS. Qaf: 37).

9. Hati yang Sakit (القلب المريض)

Hati yang dihinggapi penyakit seperti keraguan, kemunafikan, atau cinta pada maksiat: فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ (QS. Al-Ahzab: 32).

10. Hati yang Buta (القلب الأعمى)

Hati yang tidak dapat melihat kebenaran atau mengambil pelajaran: وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (QS. Al-Hajj: 46).

11. Hati yang Lalai (القلب اللاهي)

Hati yang lalai dari Al-Qur'an dan sibuk dengan urusan duniawi: لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ (QS. Al-Anbiya: 3).

12. Hati yang Berdosa (القلب الآثم)

Hati yang menyembunyikan kebenaran dan menolak menyampaikan kesaksian yang benar: وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ (QS. Al-Baqarah: 283).

13. Hati yang Sombong (القلب المتكبر)

Hati yang tinggi hati, tidak mau tunduk kepada kebenaran, dan sering berlaku zalim: قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (QS. Ghafir: 35).

14. Hati yang Keras (القلب الغليظ)

Hati yang tidak memiliki kasih sayang atau kelembutan: وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ (QS. Ali Imran: 159).

15. Hati yang Tertutup (القلب المختوم)

Hati yang tidak bisa menerima petunjuk dan tertutup dari hidayah: خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ (QS. Al-Baqarah: 7).

16. Hati yang Keras Membatu (القلب القاسي)

Hati yang tidak terpengaruh oleh peringatan atau kebenaran: وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً (QS. Al-Ma'idah: 13).

17. Hati yang Lalai (القلب الغافل)

Hati yang berpaling dari mengingat Allah dan lebih memilih hawa nafsu: وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا (QS. Al-Kahf: 28).

18. Hati yang Tertutup Rapat (القلب الأغلف)

Hati yang tertutup dan tidak dapat menerima nasihat atau kebenaran: وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ (QS. Al-Baqarah: 88).

19. Hati yang Menyimpang (القلب الزائغ)

Hati yang condong kepada kebatilan dan menjauh dari kebenaran: فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ (QS. Ali Imran: 7).

20. Hati yang Ragu (القلب المريب)

Hati yang diliputi keraguan dan kebimbangan: وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ (QS. At-Taubah: 45).

Itulah dua puluh macam hati yang disebutkan di dalam Al Qur'an, dan marilah kita berdo'a dengan Do'a berikut: اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا سَلِيمَةً مُطْمَئِنَّةً، وَامْلَأْهَا بِالإِيمَانِ وَالْيَقِينِ. اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Ciri Wali Allah dalam Al Qur'an

Ciri-ciri Wali Allah dalam Al Qur'an:

  1. Tidak pernah merasa khawatir dan tidak pernah merasa susah أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ "Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati" (QS. Yunus: 62)
  2. Menetapi keimanan dan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa" (QS. Yunus: 63)
  3. Selalu Istiqomah dan ikhlas dalam ketaatan dan mengikuti tuntunan Nabi إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushshilat : 30)
  4. Lebih memilih kematian dari pada kehidupan إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ "Jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar" (QS. Al Jumuah: 6)

Nasihat Sunan Kalijaga

DASA PITUTUR (10 Nasihat Sunan Kalijaga)

  1. Urip Iku Urub. Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara. Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
  4. Ngluruk tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake, Sekti tanpa Aji-Aji, Sugih tanpa Bandha. Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan. Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri! Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu!
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. Jangan mudah terheran-heran! Jangan mudah menyesal! Jangan mudah terkejut-kejut! Jangan mudah kolokan atau manja!
  7. Aja Kethungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi!
  8. Aja Kuminter Mundhak Keblinger, Aja Cidra Mundhak Cilaka. Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah! Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka!
  9. Aja Melik Barang kang Melok, Aja Mangro Mundhak Kendho. Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah! Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat!
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna. Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti!

Membersihkan Kuburan

Sebagai anak tetap dapat berbakti kepada orang tua sepeninggal mereka. Anak2 itu dapat menziarahi makam kedua orang tua. Ziarah ke makam kedua orang tua memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana riwayat berikut ini.

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ 

Artinya, “Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dgn keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yg berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, kitab Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573). .

Kedatangan anak dgn ziarah ke makam kedua orang tua saja sudah cukup. Alangkah baiknya di sana mereka mengkhatamkan Al-Qur’an atau membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an sebagaimana riwayat berikut ini.

وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يَس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً وَحَرْفًا وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ كَحَجَّةٍ

Dan dalam satu riwayat, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka setiap hari Jumat dan membaca Surah Ya-Sin dan Al-Qur'an di sana, dia akan diampuni untuk setiap ayat dan huruf yang dibacanya. Dan dalam riwayat lain, siapa pun yang mengunjungi kuburan orang tuanya atau salah satu dari mereka pada hari Jumat, itu seperti dia telah melaksanakan ibadah haji.

Membersihkan kotoran, sampah, daun2 kering atau merapikan rerumputan yg tumbuh secara berlebihan, atau menghilangkan rerumputan yg sudah mati yg ada di areal makam adalah sesuatu yg sudah diketahui kebaikan atau kemaslahatannya. 

Hal itu sesuai dengan keindahan yg disukai Allah dan rasul-Nya, dan bagian dari pengamalan hadits “kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. 

Namun ada satu riwayat dalam kitab I’anah at Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatho ad Dimyathi (1849-1892 M) yang mengatakan:

ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار

Dalam redaksi kitab di atas, Imam Abu Bakar Muhammad Syatho ad Dimyathi mempunyai pendapat bahwa tidak boleh mencabut rumput yg masih segar. Namun, kalau hanya merapikan masih boleh misalkan rumputnya terlalu rimbun atau sudah mati. Karena tumbuh2an tersebutlah yg mendoakan si mayit.

Jadi sebaiknya, kita sapu kotoran sampah area makam, kita rapikan saja rumput2 itu dgn gunting, arit, atau benda tajam lainnya. Yang masih segar biarkan, karena yg penting adalah merapikan, karena kebersihan dan kerapian adalah sebuah bentuk kemaslahatan.

Oleh karena itu, tradisi ini baik untuk dilakukan kapan saja seperti tradisi yang berkembang di masyarakat. Oleh karenanya perbuatan tsb kembali pada hukum asal; yakni mubah (boleh). Lebih2 bila dalam membersihkan kuburan tersebut ada manfaat.

Prinsip kepemimpinan

Pelajaran dari Al Qur'an An Naml 18: حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ "Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya."

  1. Nabi Sulaiman menghentikan tentaranya ketika mendengar suara Ratu semut, Begitulah seoorang pemimpin yang bijak, ia mendengarkan keluhan sayup dari rakyatnya yang lemah, yang tinggal di daerah-daerah terpencil.
  2. Nasihat dari seekor semut kecil bisa menjadi sebab keselamatan bangsanya, Jangan pernah meremehkan nasihat dari orang kecil, karena ia bisa menjadi penentu keselamatan sebuah bangsa.
  3. Meskipun bahaya sedang mengancam koloni semut, Ratu semut tetap memberi udzur kepada tentara Sulaiman bahwa para tentara tidak meyadari keberadaan koloni mereka, begitulah pemimpin yang berjiwa besar, ia akan selalu mencari pembenaran dan berprasangka baik terhadap orang lain.

Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Islam mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian. Keadilan dan kepastian hukum menjadi landasan utama dalam sistem pemerintahan Islam, yang mengatur hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Selain itu, kesejahteraan dan keseimbangan sosial juga menjadi tujuan utama dalam kepemimpinan Islam. Negara dalam Islam memiliki fungsi utama dalam melindungi dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Selain itu, negara juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan ibadah dan pendidikan, serta pembinaan kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Umat Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membangun negara yang baik menurut Islam. Mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berpartisipasi aktif dalam pembangunan, dan menegakkan keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat.

Beberapa contoh negara yang dianggap baik menurut Islam adalah Kerajaan Islam Madinah di zaman Rasulullah SAW, model pemerintahan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, dan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam kerajaan Islam Andalusia. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam yang dapat di implementasikan secara efektif dalam pembangunan negara.

  1. Kerajaan Islam Madinah pada Zaman Rasulullah SAW: Pada zaman Rasulullah SAW, terbentuklah sebuah negara Islam pertama, yaitu Kerajaan Islam Madinah. Negara ini didirikan atas dasar prinsip-prinsip Islam yang kuat, dengan Rasulullah SAW sebagai pemimpinnya. Madinah menjadi pusat pengembangan Islam dan pusat pemerintahan yang berbasis syariah. Contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah penetapan Konstitusi Madinah, yang menjadi landasan bagi hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim, serta antara suku-suku yang ada di Madinah. Konstitusi ini menjamin kebebasan beragama, keadilan sosial, dan kerjasama antarwarga Madinah. Rasulullah SAW juga mengatur sistem keuangan yang adil, di mana zakat dan wakaf digunakan untuk membantu kaum miskin dan membangun infrastruktur. Prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan menjadi landasan utama dalam pembangunan negara ini.
  2. Model Pemerintahan di Zaman Khalifah Umar bin Khattab: Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu pemimpin yang adil dan tegas dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinannya, negara Islam berkembang pesat dan mencapai kejayaan yang gemilang. Khalifah Umar mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan negara. Salah satu contoh konkret dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah penetapan sistem pengadilan yang adil dan transparan. Beliau memastikan bahwa hukum-hukum Islam ditegakkan dengan adil bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial atau suku bangsa. Selain itu, Khalifah Umar juga mengatur sistem distribusi kekayaan yang merata, dengan mengimplementasikan zakat dan wakaf secara efektif. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan bahwa semua warga negara mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
  3. Prinsip-prinsip Kepemimpinan dalam Kerajaan Islam Andalusia: Kerajaan Islam Andalusia di Spanyol merupakan salah satu contoh negara Islam yang dianggap baik dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Andalusia menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan yang makmur. Salah satu contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah pengembangan sistem pendidikan yang canggih. Pemerintah memberikan dukungan penuh bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang membuat Andalusia menjadi pusat pembelajaran yang terkenal di dunia. Selain itu, kerajaan ini juga dikenal karena menghormati dan melindungi hak-hak minoritas agama, seperti Yahudi dan Kristen. Hal ini mencerminkan prinsip-prinsip toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang dijunjung tinggi dalam Islam.

Ketiga contoh di atas menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diimplementasikan secara efektif dalam pembangunan negara. Keadilan, keadilan, dan kesejahteraan menjadi landasan utama dalam membangun negara yang baik menurut Islam.

Dalam Islam, negara yang baik adalah negara yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Penting bagi umat Islam untuk terus berusaha membangun negara yang adil, sejahtera, dan berkeadilan sesuai dengan ajaran Islam.

Apakah Ada (tiga) kriteria pemimpin yang dapat mewujudkan kemaslahatan bernegara? (selain sifawajib nabi: Sodiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah) adalah:

  1. Memiliki kompetensi pengetahuan yang luas, sehingga mampu menghadirkan, menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam program-program positif yang membawa dampak baik yang bersifat keberlanjutan.
  2. Memiliki sifat Adil, terbuka, bijak dan tentu pemimpin yang mau bekerjasamaاَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ "Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada taqwa"
  3. Memahami ilmu fiqih siyasah sehingga dengan ilmu ini, pemimpin akan dapat memanfaatkan peta politik untuk kemaslahatan bangsa dan negara secara berkelanjutan.

Didalam QS. Al-Fath ayat 18: لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ “Sungguh, Allah telah meridhoi orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,”

Perjanjian tersebut dilakukan di Hudaibiyah, mereka melakukan bai'at kepada Nabi untuk setia dan tidak lari dari peperangan. Yang dimaksud dengan isi hati mereka adalah rasa kejujuran dan kesetiaan.

Dalam konteks politik, ayat ini menunjukkan persetujuan dan keridhoan Allah terhadap kesepakatan yang dibuat Nabi SAW dengan musuh-musuhnya. Ayat ini mengajarkan pentingnya kesetiaan dan kepercayaan dalam politik, serta keyakinan bahwa kesetiaan kepada Allah SWT akan membawa kemenangan dalam jangka panjang. (tapi kalau pemimpin jauh dari Alloh jauh dari agama jauh dari nasihat ulama' ya tunggu saja rusaknya).

Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam karya monumentalnya beliau telah mengingatkan kepada kita semua bahwa: Rusaknya rakyat bergantung pada para pemimpinnya ففساد الرعيه بفاساد الملك maka pemerintah dalam hal ini pemimpin tidak boleh jauh dari nasihat (agama dan ulama').