Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Prinsip kepemimpinan

Pelajaran dari Al Qur'an An Naml 18: حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ "Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya."

  1. Nabi Sulaiman menghentikan tentaranya ketika mendengar suara Ratu semut, Begitulah seoorang pemimpin yang bijak, ia mendengarkan keluhan sayup dari rakyatnya yang lemah, yang tinggal di daerah-daerah terpencil.
  2. Nasihat dari seekor semut kecil bisa menjadi sebab keselamatan bangsanya, Jangan pernah meremehkan nasihat dari orang kecil, karena ia bisa menjadi penentu keselamatan sebuah bangsa.
  3. Meskipun bahaya sedang mengancam koloni semut, Ratu semut tetap memberi udzur kepada tentara Sulaiman bahwa para tentara tidak meyadari keberadaan koloni mereka, begitulah pemimpin yang berjiwa besar, ia akan selalu mencari pembenaran dan berprasangka baik terhadap orang lain.

Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Islam mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian. Keadilan dan kepastian hukum menjadi landasan utama dalam sistem pemerintahan Islam, yang mengatur hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Selain itu, kesejahteraan dan keseimbangan sosial juga menjadi tujuan utama dalam kepemimpinan Islam. Negara dalam Islam memiliki fungsi utama dalam melindungi dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Selain itu, negara juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan ibadah dan pendidikan, serta pembinaan kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Umat Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membangun negara yang baik menurut Islam. Mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berpartisipasi aktif dalam pembangunan, dan menegakkan keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat.

Beberapa contoh negara yang dianggap baik menurut Islam adalah Kerajaan Islam Madinah di zaman Rasulullah SAW, model pemerintahan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, dan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam kerajaan Islam Andalusia. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam yang dapat di implementasikan secara efektif dalam pembangunan negara.

  1. Kerajaan Islam Madinah pada Zaman Rasulullah SAW: Pada zaman Rasulullah SAW, terbentuklah sebuah negara Islam pertama, yaitu Kerajaan Islam Madinah. Negara ini didirikan atas dasar prinsip-prinsip Islam yang kuat, dengan Rasulullah SAW sebagai pemimpinnya. Madinah menjadi pusat pengembangan Islam dan pusat pemerintahan yang berbasis syariah. Contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah penetapan Konstitusi Madinah, yang menjadi landasan bagi hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim, serta antara suku-suku yang ada di Madinah. Konstitusi ini menjamin kebebasan beragama, keadilan sosial, dan kerjasama antarwarga Madinah. Rasulullah SAW juga mengatur sistem keuangan yang adil, di mana zakat dan wakaf digunakan untuk membantu kaum miskin dan membangun infrastruktur. Prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan menjadi landasan utama dalam pembangunan negara ini.
  2. Model Pemerintahan di Zaman Khalifah Umar bin Khattab: Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu pemimpin yang adil dan tegas dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinannya, negara Islam berkembang pesat dan mencapai kejayaan yang gemilang. Khalifah Umar mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan negara. Salah satu contoh konkret dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah penetapan sistem pengadilan yang adil dan transparan. Beliau memastikan bahwa hukum-hukum Islam ditegakkan dengan adil bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial atau suku bangsa. Selain itu, Khalifah Umar juga mengatur sistem distribusi kekayaan yang merata, dengan mengimplementasikan zakat dan wakaf secara efektif. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan bahwa semua warga negara mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
  3. Prinsip-prinsip Kepemimpinan dalam Kerajaan Islam Andalusia: Kerajaan Islam Andalusia di Spanyol merupakan salah satu contoh negara Islam yang dianggap baik dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Andalusia menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan yang makmur. Salah satu contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah pengembangan sistem pendidikan yang canggih. Pemerintah memberikan dukungan penuh bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang membuat Andalusia menjadi pusat pembelajaran yang terkenal di dunia. Selain itu, kerajaan ini juga dikenal karena menghormati dan melindungi hak-hak minoritas agama, seperti Yahudi dan Kristen. Hal ini mencerminkan prinsip-prinsip toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang dijunjung tinggi dalam Islam.

Ketiga contoh di atas menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diimplementasikan secara efektif dalam pembangunan negara. Keadilan, keadilan, dan kesejahteraan menjadi landasan utama dalam membangun negara yang baik menurut Islam.

Dalam Islam, negara yang baik adalah negara yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Penting bagi umat Islam untuk terus berusaha membangun negara yang adil, sejahtera, dan berkeadilan sesuai dengan ajaran Islam.

Apakah Ada (tiga) kriteria pemimpin yang dapat mewujudkan kemaslahatan bernegara? (selain sifawajib nabi: Sodiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah) adalah:

  1. Memiliki kompetensi pengetahuan yang luas, sehingga mampu menghadirkan, menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam program-program positif yang membawa dampak baik yang bersifat keberlanjutan.
  2. Memiliki sifat Adil, terbuka, bijak dan tentu pemimpin yang mau bekerjasamaاَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ "Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada taqwa"
  3. Memahami ilmu fiqih siyasah sehingga dengan ilmu ini, pemimpin akan dapat memanfaatkan peta politik untuk kemaslahatan bangsa dan negara secara berkelanjutan.

Didalam QS. Al-Fath ayat 18: لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ “Sungguh, Allah telah meridhoi orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,”

Perjanjian tersebut dilakukan di Hudaibiyah, mereka melakukan bai'at kepada Nabi untuk setia dan tidak lari dari peperangan. Yang dimaksud dengan isi hati mereka adalah rasa kejujuran dan kesetiaan.

Dalam konteks politik, ayat ini menunjukkan persetujuan dan keridhoan Allah terhadap kesepakatan yang dibuat Nabi SAW dengan musuh-musuhnya. Ayat ini mengajarkan pentingnya kesetiaan dan kepercayaan dalam politik, serta keyakinan bahwa kesetiaan kepada Allah SWT akan membawa kemenangan dalam jangka panjang. (tapi kalau pemimpin jauh dari Alloh jauh dari agama jauh dari nasihat ulama' ya tunggu saja rusaknya).

Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam karya monumentalnya beliau telah mengingatkan kepada kita semua bahwa: Rusaknya rakyat bergantung pada para pemimpinnya ففساد الرعيه بفاساد الملك maka pemerintah dalam hal ini pemimpin tidak boleh jauh dari nasihat (agama dan ulama').

Menyambut bahagia awal Dzulhijjah

Hari ini adalah awal dari bulan Dzulhijjah, bulan yang istimewa, agung, bulan yang mulia, bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan.

Pergantian bulan bagi orang beriman bukan sekadar pergantian angka. Tetapi menjadi pengingat bahwa umur kita terus berjalan, tanpa terasa, usia kita semakin dekat kepada akhir perjalanan.

Imam Hasan Al-Bashri (Hilyatul Awliya’) mengatakan: ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ "Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu" (manfaatkan waktu sebaik mungkin)

Karena itu para salafusoleh sangat memperhatikan datang dan perginya waktu, Sebab mereka sadar bahwa waktu adl kehidupan.

Dzulqa'dah dan Dzulhijjah adalah termasuk bagian dari Asyhurul Hurum, yaitu bulan² yang dimuliakan Allah. إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).

Disebut bulan haram karena bulan² ini memiliki kehormatan dan kemuliaan di sisi Allah. Pada bulan² ini, amal soleh lebih dicintai Allah, dan dosa serta kedholiman lebih besar akibatnya. Karena itu Allah melanjutkan firman-Nya: فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ "Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu"

Artinya jangan kotori bulan mulia ini dengan laku maksiat dan dosa, Jangan biasakan lisan dengan menghasut, ghibah dan fitnah. (toxic menimbulkan permusuhan, kebencian, sehingga dapat mengakibatkan putusnya ikatan silaturahim) لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ Tuhan tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang. Dan Jangan biasakan remehkan sholat, Jangan gampang gampang menyakiti sesama. Karena hati yang terus dibiasakan dengan dosa akan perlahan kehilangan kepekaan.

Awalnya dosa terasa berat. Lama-lama menjadi biasa. Awalnya meninggalkan sholat terasa menyesal. Lama-lama hati tidak lagi merasa bersalah. Inilah yang harus ditakutkan oleh seorang mukmin.

Dzulhijjah adalah Bulan yang memiliki banyak keutamaan (Kanzu an-Najah wa as-Surur), ada sebuah riwayat bahwa Abu Utsman pernah berkata: كَانُوا يُفَضِّلُونَ ثَلَاثَ عَشَرَاتٍ: العَشْرَ الأول مِنْ ذِي الحِجَّةِ، وَالعَشْرَ الأول مِنَ المُحَرَّمِ، وَالعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ "Mereka (orang² saleh) lebih mengutamakan tiga macam sepuluh hari: sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sepuluh hari pertama Muharram, dan sepuluh hari terakhir Ramadan"

Bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan yang lebih besar daripada dua waktu mulia lainnya. Sebab, di dalamnya terdapat Hari Tarwiyah, Hari Arafah, dan Hari Nahr atau Iduladha.

Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah haji, salah satu rukun Islam terbesar. Bulan yang di dalamnya terdapat hari Tarwiyah (merupakan hari ke8 Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan"nabi Adam disuruh membangun rumah,-mimpinya nabi Ibrohim"), Arofah, (Arofah berasal dari kata i’tiraf "pengetahuan") hari pembebasan dari api neraka يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَها لَهُمْ Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan: bahwa orang² yang berdosa ketika bertobat di tanah Arafah, mereka telah terlepas dari kotoran² dosa, dan berusaha dengan (ibadah)nya di sisi Allah sehingga akan menjadi jiwa yang harum (terbebas dari dosa dan kesalahan).

Bulan yang di dalamnya terdapat ibadah Qurban sebagai syiar tauhid dan penghambaan kepada Allah. Dan istimewanya lagi bahwa di dalam Dzulhijjah terdapat sepuluh hari pertama yang merupakan hari² terbaik sepanjang tahun. Rasulullah SAW bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ "Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini" (HR. Bukhari) Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?" Nabi SAW menjawab: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun" (HR. Bukhari)

Dari Hadis ini kita bisa memahami bahwa betapa istimewanya sepuluh hari pertama Zulhijjah. Sampai-sampai amal soleh pada hari-hari itu lebih utama daripada jihad fi sabilillah. Padahal jihad adalah amal yang sangat mulia dalam Islam, Amal yang membutuhkan pengorbanan jiwa, harta, tenaga, bahkan nyawa. Namun Rasulullah SAW menjelaskan bahwa keutamaan amal pada sepuluh hari Dzulhijjah tidak dapat dikalahkan oleh amal apa pun, kecuali jihadnya seorang mujahid yang keluar membawa jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali pulang karena gugur syahid di jalan Allah.

Hari-hari yang di dalamnya pahala dilipatgandakan. Hari-hari yang dipenuhi dzikir, takbir, ibadah, sedekah dan amal saleh. Karena itu para ulama menganjurkan agar setiap muslim mempersiapkan dirinya untuk: Mulailah dengan memperbaiki sholat. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Perbanyaklah istighfar dan taubat. Perbanyak sedekah dan amal kebaikan. Maka Hidupkan malam²nya dengan Tahajjud, Qiyamullail, Sholat malam dan ditutup dengan witir. Hiasi siang harinya dengan puasa. Hidupkan rumah-rumah kita dengan Takbir, Tahmid dan Tahlil. Karena takbir adalah syiar pengagungan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda: فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ "Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid" (HR. Ahmad)

Dan amalan yang paling istimewa di bulan Dzulhijjah adalah puasa Arofah. Rasulullah SAW bersabda: أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ "Aku berharap kepada Allah agar puasa Arofah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang" (HR. Muslim)

Maka jangan sia-siakan kesempatan besar ini, bila Allah memberikan kelapangan rezeki, maka berqurbanlah. Karena hakekat Qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Tetapi sebagai bentuk ketundukan, kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah.

Allah SWT berfirman: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ "Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya" (QS. Al-Hajj: 37)

Boleh jadi ini Dzulhijjah terakhir dalam hidup kita. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu apakah tahun depan masih bisa kembali bertemu dengan hari-hari mulia seperti ini. Rasulullah SAW: اَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : اَلْمَوْتِ

Karena itu jangan tunda taubat. Jangan tunda memperbaiki diri. Jangan tunda untuk mendekat kepada Allah. Jangan tunda berbuat kebaikan Sebab orang yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling siap bekalnya untuk akhirat.

Rosulullah juga mengingatkan kita bahwa: ٱلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ "Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengendalikan/introspeksi) dirinya untuk kehidupan setelah kematian"

Hadist ini yang mengajarkan pentingnya muhasabah (introspeksi). Maksudnya, orang yang benar-benar cerdas bukan hanya pintar dalam urusan dunia, tetapi juga mampu: mengevaluasi diri, menahan hawa nafsu, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah dunia.

Hidup di dunia ini sifatnya sementara, Kita harus mempersiapkan bekal akhirat, Kecerdasan sejati adalah kecerdasan spiritual dan moral, bukan sekadar kecerdasan duniawi, karena ان الدنيا حلالها حساب وحرامها عقاب

Bahaya hati yang jauh dari Alloh SWT

Al-An'am 110 وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ "Alloh SWT akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Alloh membiarkan mereka bingung dalam kesesatan"

Hati yang jauh dari Allah SWT., itu seperti tanah yang kering dan tandus, tidak ada kesuburan dan kehidupan di dalamnya. Sama halnya hati kita ketika jauh dari Alloh, maka kita akan rentan terhadap godaan hawa nafsu dan tipu daya setan, sehingga kita mudah melakukan perbuatan² tercela dan terjerumus dalam kehinaan.

Syekh Abi Bakr Syatto' dalam Kifayatul Atqiya, mengatakan: ‎لَا يَنَالُ خَيْرًا عَاجِلًا وَلَا آجِلًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَلَا يُدْفَعُ شَرٌّ عَاجِلًا وَلَا آجِلًا ظَاهِرًا وَلَا بَاطِنًا إِلَّا بِالتَّقْوَى وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلأَوَّلِينَ وَالأَخِرِينَ "Tidaklah seseorang memperoleh kebaikan yang segera maupun yang akan datang kecuali dengan takwa. Dan tidaklah seseorang dapat menolak kejahatan yang segera maupun yang akan datang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, kecuali dengan takwa. Takwa adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang."

Karena itu dalam pandangan ulama' takwa itu terbagi menjadi dua bagian.

Pertama Takwa Lahir, yaitu taqwa yang mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT yang tampak secara lahiriah, seperti shalat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai bentuk amalan lainnya. Termasuk juga menjauhi larangan-larangan Allah SWT., seperti meninggalkan zina, menjauhi minuman beralkohol, judi, korupsi, serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Kedua Takwa batin. adalah upaya menjaga kebersihan, kesucian dan kemurnian hati melalui amalan-amalan hati, yang mencakup perkara-perkara perintah syariat, seperti ikhlas, ridho, sabar, syukur, dan sifat-sifat terpuji lainnya, yang mencakup perkara-perkara larangan syariat, seperti berburuk sangka, iri, dengki, dendam, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ada Empat Ciri Orang yang Telah berTaubat sebagaimana disebutkan dalam Tanbihul Ghofilin: وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ إِنَّمَا تُعْرَفُ تَوْبَةُ الرَّجُلِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا أَنْ يُمْسِكَ لِسَانَهُ مِنَ الْفُضُولِ وَالْغِيبَةِ وَالْكَذِبِ. وَالثَّانِي أَنْ لَا يَرَى لِأَحَدٍ فِي قَلْبِهِ حَسَدًا وَلَا عَدَاوَةً. وَالثَّالِثُ: أَنْ يُفَارِقَ أَصْحَابَ السُّوءِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ مُسْتَعِدًّا لِلْمَوْتِ نَادِمًا مُسْتَغْفِرًا لِمَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِهِ مُجْتَهِدًا عَلَى طَاعَةِ رَبِّهِ.

Pertama, ia menahan mulutnya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dari ghibah, dan dari kebohongan. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ Al ahzab

Kedua, di dalam hatinya tidak ada hasud dan permusuhan terhadap siapa pun.

Ketiga, ia meninggalkan teman-teman yang buruk (toxic) yang beracun, merusak, atau memberikan efek negatif lainnya.

Keempat, ia selalu siap menghadapi kematian, Allah akan menjaganya dari rasa takut sampai ia meninggal dunia, sebagaimana firman Alloh: تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ "Akan diturunkan malaikat² kepada mereka (seraya berkata), "Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fussilat: 30).

Dalam praktek sehari-hari kita lebih sering mementingkan ibadah² atau amalan² yang bersifat ceremony (perayaan) dan amalan lahiriah saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi amalan hati (batin) yang sejatinya tidak kalah penting, sebagaimana sabda Rasulullah: ‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian,” (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa penilaian Alloh tertuju pada hal-hal yang lebih dalam daripada sekadar yang tampak dari tubuh yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Bukan kesempurnaan fisik maupun kekayaan harta bendanya, tetapi pada kualitas hati dan mutu perbuatan hamba-Nya. عز الدنيا بالمال واعز الاخره بي عمل صالح

Imam Thabroni meriwayatkan dari hadist nabi: فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian adalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Ath-Thabrani).

Dari hadits ini bisa kita simpulkan bahwa hati merupakan satu elemen penting bagi kehidupan orang mukmin. Di hati inilah tempat Alloh SWT., melihat baik dan buruknya kita, di hati ini juga menjadi tempat komando bagi anggota tubuh yang lainnya. Maka penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesucian hati, اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ agar hati kita dipenuhi dengan ketakwaan. Jangan sampai hati kita kering, kotor dan dipenuhi dengan noda-noda kemaksiatan, sehingga hati kita merasakan jauh dari Alloh SWT., dan tidak dapat merasakan kehadiran-Nya dalam ketenangan dan kesejahteraan.

Hati yang mati, kering, gersang adalah merupakan masalah yang serius, menyebabkan hina dunia dan akhirat. Di antaranya:

Pertama adalah hilangnya rasa malu. Sebab utama hilangnya perasaan malu dari hati adalah hilangnya perasaan diawasi oleh Allah SWT.

Kedua hilangnya ketenangan dan kedamaian di hati. Sebab hati yang tidak ada Alloh di dalamnya tidak akan merasa tenang. Sebab Alloh SWT., lah yang maha memberi ketenangan dan kedamaian dalam hati. Hal ini akan sangat berdampak pada kehidupan seseorang, dia akan mencari ketenangan dan kedamaian di tempat yang salah dengan melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat.

Ketiga tidak terkabulkannya Do'a ‎وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ “Ketahuilah kalian semua, sesungguhnya Alloh tidak akan mengabulkan do'a dari orang yang hatinya lalai.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat hati menjadi sulit menerima kebenaran. Hati yang mati maka akan sulit menerima nasihat kebenaran, hal ini disebabkan karena sejatinya hati adalah tempat cahaya ilahi bersemayam, apabila cahaya ilahi tersebut padam maka orang yang hatinya keras dan lalai dari Alloh SWT tidak akan mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Itulah empat rambu-rambu gelapnya hati, semoga Alloh SWT menjadikan hati kita senantiasa hidup, penuh cahaya kebaikan, keimanan dan ketakwaan, Rosulullah SAW bersabda: ‎أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”(HR Bukhari).

Kisah pequrban yang tua

Dikisahkan dari Ahmad bin Ishaq, ia berkata: كَانَ لِي أَخٌ فَقِيرٌ، وَكَانَ مَعَ فَقْرِهِ يُضَحِّي كُلَّ سَنَةٍ بِشَاةٍ "Aku memiliki saudara yang miskin, namun meski dalam keadaan kekurangan ia tetap berkurban seekor kambing setiap tahun"

Setelah saudaranya wafat, ia berkata: "Aku sholat dua rakaat lalu kemudian berdo'a: (Ya Alloh, perlihatkan kepadaku keadaan saudaraku dalam mimpi)"

Kemudian ia bermimpi melihat hari kiamat telah terjadi, manusia dibangkitkan dari kuburnya.

Tiba-tiba ia melihat saudaranya menunggang kuda berwarna putih, sementara di depannya ada banyak unta tunggangan.

Ia bertanya: يَا أَخِي مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ "Wahai saudaraku, bagaimana perlakuan Alloh kepadamu?"

Saudaranya menjawab: غَفَرَ لِي "Alloh telah mengampuniku"

Ia bertanya lagi: بِمَ "Karena apa?"

Saudaranya menjawab: بِسَبَبِ دِرْهَمٍ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَى امْرَأَةٍ عَجُوزٍ فَقِيرَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "Karena satu dirham yang pernah aku sedekahkan kepada seorang wanita tua miskin di jalan Alloh.”

Lalu ia bertanya tentang tunggangan-tunggangan itu: مَا هَذِهِ النَّجَائِبُ؟ "Apa semua tunggangan ini?"

Saudaranya menjawab: ضَحَايَايَ فِي الدُّنْيَا "Itulah hewan-hewan kurbanku ketika di dunia"

Kemudian ia berkata: وَالَّتِي أَرْكَبُهَا أَوَّلُ أُضْحِيَّتِي "Dan yang sedang aku tunggangi ini adalah kurbanku yang pertama"

Saat ditanya hendak ke mana, ia menjawab: إِلَى الْجَنَّةِ "Menuju surga"

Lalu ia pun menghilang dari pandangan.

Kitab: Durratun Nasihin 

Tiga jenis Manusia

Tiga jenis Manusia

عَلَّمَتْنِي الْحَيَاةُ أَنَّ أَنْوَاعَ النَّاسِ ثَلَاثَةٌ:

نَاسٌ كَالْهَوَاءِ لَا يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهُمْ،

وَنَاسٌ كَالدَّوَاءِ نَحْتَاجُ إِلَيْهِمْ أَحْيَانًا،

وَنَاسٌ كَالدَّاءِ لَا نَرْغَبُ فِي وُجُودِهِمْ أَبَدًا.

فَاخْتَرْ مَنْ يَكُونُ فِي حَيَاتِكَ، فَبَعْضُ الْبُعْدِ رَاحَةٌ لَا تُعَوَّضُ

“Hidup telah mengajarkanku bahwa manusia itu ada tiga macam:

1. Ada orang seperti udara, yang tidak mungkin kita hidup tanpa mereka.

2. Ada orang seperti obat, yang kadang-kadang kita butuhkan.

3. Ada pula orang seperti penyakit, yang sama sekali tidak kita inginkan kehadirannya.

Maka pilihlah siapa yang ada dalam hidupmu, karena sebagian bentuk menjauh itu adalah ketenangan yang tidak tergantikan.”

Kalimat nasihat di atas ini adalah nasihat tentang pentingnya memilih lingkungan dan pergaulan dalam hidup.

1. Orang seperti udara

Maksudnya adalah orang-orang yang sangat berharga dalam hidup kita:

1. keluarga yang tulus,

2. sahabat sejati,

3. guru yang membimbing,

4. atau pasangan yang membawa ketenangan.

Mereka diibaratkan seperti udara karena keberadaan mereka sangat penting dan sulit digantikan.


2. Orang seperti obat

Mereka adalah orang yang dibutuhkan hanya pada kondisi tertentu:

1. teman kerja,

2. kenalan,

3. atau orang yang membantu ketika ada kepentingan tertentu.

Seperti obat, mereka bermanfaat tetapi tidak selalu harus ada setiap saat.


3. Orang seperti penyakit

Ini menggambarkan orang-orang yang membawa:

1. masalah,

2. pengaruh buruk,

3. fitnah,

4. iri hati,

5. atau energi negatif.

Karena itu, kalimat ini mengingatkan agar menjaga jarak dari orang yang merusak ketenangan hidup.


Sebagai penutup: فَبَعْضُ الْبُعْدِ رَاحَةٌ لَا تُعَوَّضُ “Sebagian bentuk menjauh adalah ketenangan yang tak tergantikan.”

Artinya bahwa Kadang menjaga jarak dari orang tertentu bukanlah kebencian, tetapi cara menjaga ketenangan hati, pikiran, dan kehidupan.