Pelajaran dari Al Qur'an An Naml 18: حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ "Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya."
- Nabi Sulaiman menghentikan tentaranya ketika mendengar suara Ratu semut, Begitulah seoorang pemimpin yang bijak, ia mendengarkan keluhan sayup dari rakyatnya yang lemah, yang tinggal di daerah-daerah terpencil.
- Nasihat dari seekor semut kecil bisa menjadi sebab keselamatan bangsanya, Jangan pernah meremehkan nasihat dari orang kecil, karena ia bisa menjadi penentu keselamatan sebuah bangsa.
- Meskipun bahaya sedang mengancam koloni semut, Ratu semut tetap memberi udzur kepada tentara Sulaiman bahwa para tentara tidak meyadari keberadaan koloni mereka, begitulah pemimpin yang berjiwa besar, ia akan selalu mencari pembenaran dan berprasangka baik terhadap orang lain.
Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Islam mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian. Keadilan dan kepastian hukum menjadi landasan utama dalam sistem pemerintahan Islam, yang mengatur hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Selain itu, kesejahteraan dan keseimbangan sosial juga menjadi tujuan utama dalam kepemimpinan Islam. Negara dalam Islam memiliki fungsi utama dalam melindungi dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Selain itu, negara juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan ibadah dan pendidikan, serta pembinaan kesejahteraan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.
Umat Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membangun negara yang baik menurut Islam. Mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, berpartisipasi aktif dalam pembangunan, dan menegakkan keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat.
Beberapa contoh negara yang dianggap baik menurut Islam adalah Kerajaan Islam Madinah di zaman Rasulullah SAW, model pemerintahan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, dan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam kerajaan Islam Andalusia. Ketiga contoh tersebut menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam yang dapat di implementasikan secara efektif dalam pembangunan negara.
- Kerajaan Islam Madinah pada Zaman Rasulullah SAW: Pada zaman Rasulullah SAW, terbentuklah sebuah negara Islam pertama, yaitu Kerajaan Islam Madinah. Negara ini didirikan atas dasar prinsip-prinsip Islam yang kuat, dengan Rasulullah SAW sebagai pemimpinnya. Madinah menjadi pusat pengembangan Islam dan pusat pemerintahan yang berbasis syariah. Contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah penetapan Konstitusi Madinah, yang menjadi landasan bagi hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim, serta antara suku-suku yang ada di Madinah. Konstitusi ini menjamin kebebasan beragama, keadilan sosial, dan kerjasama antarwarga Madinah. Rasulullah SAW juga mengatur sistem keuangan yang adil, di mana zakat dan wakaf digunakan untuk membantu kaum miskin dan membangun infrastruktur. Prinsip-prinsip keadilan dan kebersamaan menjadi landasan utama dalam pembangunan negara ini.
- Model Pemerintahan di Zaman Khalifah Umar bin Khattab: Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu pemimpin yang adil dan tegas dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinannya, negara Islam berkembang pesat dan mencapai kejayaan yang gemilang. Khalifah Umar mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan negara. Salah satu contoh konkret dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah penetapan sistem pengadilan yang adil dan transparan. Beliau memastikan bahwa hukum-hukum Islam ditegakkan dengan adil bagi seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial atau suku bangsa. Selain itu, Khalifah Umar juga mengatur sistem distribusi kekayaan yang merata, dengan mengimplementasikan zakat dan wakaf secara efektif. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memastikan bahwa semua warga negara mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
- Prinsip-prinsip Kepemimpinan dalam Kerajaan Islam Andalusia: Kerajaan Islam Andalusia di Spanyol merupakan salah satu contoh negara Islam yang dianggap baik dalam sejarah Islam. Di bawah kepemimpinan Dinasti Umayyah, Andalusia menjadi pusat kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan yang makmur. Salah satu contoh konkret dari kebaikan negara ini adalah pengembangan sistem pendidikan yang canggih. Pemerintah memberikan dukungan penuh bagi pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang membuat Andalusia menjadi pusat pembelajaran yang terkenal di dunia. Selain itu, kerajaan ini juga dikenal karena menghormati dan melindungi hak-hak minoritas agama, seperti Yahudi dan Kristen. Hal ini mencerminkan prinsip-prinsip toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang dijunjung tinggi dalam Islam.
Ketiga contoh di atas menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diimplementasikan secara efektif dalam pembangunan negara. Keadilan, keadilan, dan kesejahteraan menjadi landasan utama dalam membangun negara yang baik menurut Islam.
Dalam Islam, negara yang baik adalah negara yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Penting bagi umat Islam untuk terus berusaha membangun negara yang adil, sejahtera, dan berkeadilan sesuai dengan ajaran Islam.
Apakah Ada (tiga) kriteria pemimpin yang dapat mewujudkan kemaslahatan bernegara? (selain sifawajib nabi: Sodiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah) adalah:
- Memiliki kompetensi pengetahuan yang luas, sehingga mampu menghadirkan, menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam program-program positif yang membawa dampak baik yang bersifat keberlanjutan.
- Memiliki sifat Adil, terbuka, bijak dan tentu pemimpin yang mau bekerjasamaاَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ "Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada taqwa"
- Memahami ilmu fiqih siyasah sehingga dengan ilmu ini, pemimpin akan dapat memanfaatkan peta politik untuk kemaslahatan bangsa dan negara secara berkelanjutan.
Didalam QS. Al-Fath ayat 18: لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ “Sungguh, Allah telah meridhoi orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,”
Perjanjian tersebut dilakukan di Hudaibiyah, mereka melakukan bai'at kepada Nabi untuk setia dan tidak lari dari peperangan. Yang dimaksud dengan isi hati mereka adalah rasa kejujuran dan kesetiaan.
Dalam konteks politik, ayat ini menunjukkan persetujuan dan keridhoan Allah terhadap kesepakatan yang dibuat Nabi SAW dengan musuh-musuhnya. Ayat ini mengajarkan pentingnya kesetiaan dan kepercayaan dalam politik, serta keyakinan bahwa kesetiaan kepada Allah SWT akan membawa kemenangan dalam jangka panjang. (tapi kalau pemimpin jauh dari Alloh jauh dari agama jauh dari nasihat ulama' ya tunggu saja rusaknya).
Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam karya monumentalnya beliau telah mengingatkan kepada kita semua bahwa: Rusaknya rakyat bergantung pada para pemimpinnya ففساد الرعيه بفاساد الملك maka pemerintah dalam hal ini pemimpin tidak boleh jauh dari nasihat (agama dan ulama').










