Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Kebaikan yang tidak pernah putus

Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Setiap kita pasti akan meninggalkan dunia dan menuju kehidupan akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang cerdas adalah yang menyiapkan bekal yang terus mengalir pahalanya, meskipun telah meninggalkan dunia.

Suatu ketika Ibnu Umar Ra., berkata, Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshor (yatsrib) mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik? قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا Rasul bersabda, Yang paling baik akhlaknya. Kemudian bertanya lagi, فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? قَالَ Beliau bersabda, أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا Yang paling banyak mengingat kematian وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian, أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ Itulah orang² yang paling cerdas" (HR. Ibnu Majah).

Alloh SWT berfirman: أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ "Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?"

Maka, Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian² luar biasa ketika masih di dunia.

Rasulullah SAW bersabda: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم) "Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya"

Hadits ini menjadi pedoman bagi kita untuk mencari amal yang pahalanya tidak terputus.

Pertama: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ Sedekah Jariyah; Seperti misalnya membangun Masjid, Pesantren, Fasilitas umum, menanam pohon yang bermanfaat bagi masyarakat.

Rasulullah bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ "Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan bisa datang dari hal sederhana dan berdampak luas. Menanam bukan hanya kegiatan duniawi, tetapi juga investasi akhirat. Selama ada makhluk yang mengambil manfaat dari apa yang kita tanam, selama itu pula pahala terus mengalir.

Disebutkan dalam kitab درة الناصحين Bahwa: إِنَّ فِي الصَّدَقَاتِ خَمْسَ خِصَالٍ Sesungguhnya di dalam sedekah terdapat lima perkaraاَلْأُولَى : تَزِيْدُهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ Menambah keberkahan pada harta merekaالثَّانِيَةُ: دَوَاءٌ لِلْمَرَضِ Menjadi obat bagi penyakit الثَّالِثَةُ: يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمُ الْبَلَاءَ Allah Ta’ala mengangkat bala (musibah) dari mereka الرَّابِعَةُ: يَمُرُّوْنَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ Mereka melewati shirath (jembatan) seperti kilat yang menyambar الْخَامِسَةُ: يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ Mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Kedua: أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ Ilmu yang Bermanfaat Mengajarkan ilmu agama, menulis, atau menyebarkan ilmu yang diamalkan oleh orang lain.

Maka, Mulailah dari hal kecil. Mengajarkan satu ayat, membantu sesama, atau mendidik anak dengan baik, semua itu bisa menjadi investasi akhirat yang tidak pernah putus.

Nabi SAW berpesan untuk kita: كن عالما Jadilah kamu orang yang berilmu, أو متعلما atau orang yang belajar, أو مستمعا atau orang yang mendengar, أو محبا atau orang orang yang mencintai ilmu. و لا تكن خامسا فتهلك Dan jangan jadi yang kelima maka engkau akan celaka!". Yaitu yang tidak berilmu, tidak juga mau belajar, tidak mau mendengar bahkan tidak mau sekedar mencintai ilmu dan orang berilmu.

Ketiga: أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ Anak Sholeh yang Mendo'akan Orang Tuanya (Didikan yang baik akan melahirkan anak yang baik sehingga terus Mendo'akan orang tuanya setelah wafat).

Selain tiga hal tersebut, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan niat ikhlas juga dapat menjadi sebab pahala yang terus mengalir, selama manfaatnya dirasakan oleh orang lain.

Jangan sampai kita hanya sibuk mengumpulkan harta dunia, tetapi lupa menanam amal jariyah untuk akhirat. Harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan, tetapi amal kebaikan akan terus mengikuti kita.

Karenanya, Mari kita membangun tradisi mencintai ilmu dan gigih belajar agar kita berhasil dalam menjalani kehidupan, sehingga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

Jangan lupakan Tuhan meski hidup sedang sulit sulitnya

Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika rezeki kita terasa sempit, kebutuhan kita meningkat, sementara pada saat yang bersamaan kemampuan kita terasa terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian dari kita bisa saja tergoda untuk mencari jalan pintas (mencuri, merampas dan bahkan sampai mengambil haknya Allah SWT) Apa yang sebelumnya kita anggap salah, Harom dan subhat, perlahan mulai terlihat (masuk akal) karena tekanan keadaan.

Alloh SWT berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar"

Ibnu Mas'ud berkata: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ اقْتَنَاهُ لِنَفْسِهِ وَلَمْ يُشْغِلْهُ بِزَوْجَةٍ وَلَا وَلَدٍه Jika Allah mencintai hamba-nya, Dia akan menyibukkan diri (waktu) kita untuk-Nya dan tidak akan menghabiskan diri dengan istri, anak-anak dan keluarganya:

Nabi SAW bersabda: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ هَلَاكُ الرَّجُلِ عَلَى يَدِ زَوْجَتِهِ وَأَبَوَيْهِ وَوَلَدِهِ، يُعَيِّرُونَهُ بِالْفَقْرِ Akan datang suatu masa pada (kehancuran) seorang lelaki (suami) dihina (bullying) oleh istrinya, orang tuanya, saudaranya, dan bahkan oleh anak-anaknya karena kemiskinannya. وَيُكَلِّفُونَهُ مَا لَا يُطِيقُ، فَيَدْخُلُ الْمَدَاخِلَ الَّتِي يَذْهَبُ فِيهَا دِينُهُ فَيَهْلِكُ Lalu kemudian sang suami terperdaya (menghabiskan waktunya untuk kerja-kerja) dan harus kerja siang malam hingga lupa jalan pulang, lupa semua, lupa Agamanya sehingga dia binasa.

Karenanya kita yang kebetulan sebagai suami/istri (suami bekerjalah dan istri janganlah banyak² tuntutan) pahamilah posisi, lalu dekatkanlah keluargamu dengan agama (Pendidikan) supaya nggak lupa jalan pulang.

Alloh SWT berfirman: وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا .Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا Dan kami menjadikan malam sebagai pakaian وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.

Inilah relevansi dari ayat yang disampaikan oleh Alloh SWT: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ فِتْنَةٌ "wahai orang-orang yang beriman sungguh istri-istri-mu anakmu adalah fitnah, (karena bimbinglah mereka kepada agama yang benar dan berikan kasihsayang kepada mereka).

Maka, Jika ada orang kog lupa sama Alloh menghabiskan waktunya untuk kepentingan duniaanya, (Lupa kebutuhan rohani, jasmani, sosial, ekonomi dan budaya) saya pastikan kehidupannya bakal tidak menyenangkan dan tidak baik-baik saja: وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta" QS ToHa: 124.

Sebaliknya jika ada orang kog menyibukkan waktunya untuk Alloh SWT, mengetahui keutamaan (Fadhilah) dari setiap ibadah. Misalnya, dalam hal sedekah, maka Allah menjanjikan balasan yang besar. Allah SWT berfirman: قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ "Katakanlah (Nabi Muhammad), Sesungguhnya Tuhan melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS Saba' 39).

Bahkan lebih dalam lagi, jika ada manusia kog Pada titik yang lebih jauh, sampai berani merampas hak dan harta orang lain untuk kepentingan Pribadi dan keluarganya, seolah-olah keadaan dapat membenarkan tindakan yang keliru: وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil"

Maka, Ancamannya sangat jelas, Rasulullah SAW bersabda: مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ Siapa saja yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya secara tidak benar فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ maka Allah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan baginya surga فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ Lalu ada seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu meski sesuatu yang sedikit? قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكِ Beliau menjawab, "Meskipun hanya sebatang kayu dari pohon kayu siwak).

Jibril As. Berkata عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ

Alhasil: Jangan mengeluh kalo Tuhan tidak memberi kehidupan seperti yang kita inginkan, karena kita juga hidup tidak seperti yang Tuhan Inginkan. Maka, Jika hidup kita mulai berantakan, coba ibadah kita mulai di rapihkan.

Solusi menjalani kehidupan dengan Do'a

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai macam tantangan yang memerlukan bimbingan dan pertolongan dari Allah. Karenanya Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada kita Do'a berikut: اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ "Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi pelindung urusanku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya ada kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat dari segala keburukan" (HR Muslim).

Do'a ini mengandung beberapa elemen penting yang mencerminkan kebutuhan manusia dalam menjalani kehidupan dunia dan persiapan menuju akhirat.

1. Memohon Kebaikan dalam Urusan Agama

2. Memohon Kebaikan dalam Urusan Dunia

3. Memohon Kebaikan dalam Urusan Akhirat

4. Memohon Hidup sebagai ladang Kebaikan

5. Memohon Kematian sebagai Istirahat dari Keburukan.

Do'a ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Seringkali, kita terlalu fokus pada salah satu aspek dan melupakan yang lainnya. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala hal.

Do'a ini sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dalam urusan agama, dunia, maupun persiapan untuk akhirat.

Bahwa Do'a adalah manifestasi dari pengakuan kita sebagai hamba-nya Allah yang lemah dan membutuhkan petunjuk dari-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan mengamalkan Do'a ini, kita diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, tidak hanya di dunia tetapi juga dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal di akhirat.

Bahwa hidup bukan sekadar tentang durasi, tapi tentang di mana kita berdiri. Apakah kita menjadi Manusia yang bermanfaat, Manusia yang sekadar 'ada', atau justru yang merugikan?

Dunia ini hanya panggung transit, maka pastikan kita tidak salah memilih peran.

Menjadi pribadi yang hebat

Untuk Menjadi pribadi yang hebat tidak harus menunggu kita memiliki harta dan jabatan. Kita bisa mulai dari tiga hal sederhana:

Pertama, Karakter. Orang hebat bukan yang paling pintar bicara, tapi yang paling bisa dipercaya. وَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ (Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil) Integritas (kejujuran) adalah fondasi. Jika kita jujur dan bertanggung jawab pada hal-hal kecil, maka sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju hal-hal yang besar. خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

Kedua, Kwalitas. Jangan pernah berhenti menjadi gelas kosong yang siap diisi ilmu baru. لَا تَكُفَّ اَبَدًا عَنِ التَّعَلُّمِ، لَاَنَّ اَلْحَيَاةَ لَا تَكُفُّ عَنِ اِعْطَاءِ اَلدُّرُوسِ Pribadi hebat selalu penasaran dan haus akan perkembangan. Jangan biarkan hari ini berlalu tanpa kita mempelajari satu hal baru (Ilmu adalah bekal yang tak pernah habis, semakin digali semakin berharga). Imam boleh naik dan turun tapi Al-Qur'an jangan pernah ditinggalkan.

Ketiga, BerKontribusi. Percuma kita pintar dan sukses jika itu hanya untuk diri sendiri, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Seberapa hebatnya kita, sebenarnya terlihat dari seberapa (manfaat) banyak orang yang terbantu karena kehadiran kita. Maka Jadilah solusi, bukan penambah beban masalah. Karena: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, yang dilakukan dengan itqon (profesional dan sempurna)" (HR. Thabrani).

Karenanya Mari kita niatkan mulai hari ini, untuk setahap demi setahap memperbaiki diri. Jika akhlak kita adalah cerminan Al-Qur'an, sebagaimana Akhlaknya Rasulullah SAW, maka InsyaAllah, kita akan menjadi pribadi yang benar-benar hebat, pribadi yang membawa perubahan dan keberkahan di manapun kita berada.

Bahagia dengan Memafkan

Coba kita jujur sejenak pada diri sendiri. Pernahkah kita merasa ada beban berat di hati? Bukan beban utang cicilan rumah atau tagihan listrik yang telat, tapi beban yang lebih 'nggak kelihatan' tapi rasanya kok lebih menyesakkan. Beban itu adalah dendam, sakit hati, atau rasa kecewa yang belum kita maafkan. Nah, kadang kita ini suka menyimpan "koleksi" dendam, ibaratnya kayak koleksi perangko, makin banyak makin merasa "wah". Padahal, di mata Allah, makin banyak dendam, makin jauh dari cahaya kebahagiaan.

Saya yakin, semua yang staytoon ini pasti pernah merasa disakiti, dikhianati, digosipkan, atau bahkan difitnah. Nah, ketika itu terjadi, ada dua pilihan: Mau jadi "collector" dendam atau jadi "donatur" maaf? tanpa kita sadari Biasanya, kebanyakan dari kita maunya jadi collector. "Enak saja dia nyakitin saya kok!!!, nggak akan saya maafkan biarpun sampai Lebaran monyet!" (Bang toyib)

Jangan begitu, hari-hari ini adalah hari baik, Iedul Fitri adalah يوم أَكْمَلَ لَنَا عِدَّةَ رَمَضَانَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْإِيْمَانِ dan Alloh SWT berfirman: وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ "dan maafkanlah manusia sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik" dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan bahwa Ada lima perkara, yang barangsiapa merutinkan menjaganya (memaafkan sebelum dimintai dan bersilaturahim), maka kebaikannya akan ditambah seperti gunung-gunung yang kokoh, dan Allah akan meluaskan rezekinya.

Dendam itu ibarat kita yang minum racun sendiri, tapi berharap orang lain yang mati. Karenanya berhentilah mengoleksi dan menimbun racun, karena Hati akan menjadi keras, pikiran jadi sempit, wajah menjadi jelek. Setiap kali melihat atau mendengar nama orang yang kita benci, langsung darah mendidih, ulu hati sakit. Padahal yang menyakiti kita sudah lupa, sudah tidur nyenyak, sudah ketawa ketiwi. Lah kita? Masih saja guling-guling di kasur mikirin dendam. Siapa yang Rugi? collector/donatur.

Allah SWT adalah Dzat yang memiliki seluruh kekuasaan, yang Maha Adil, Maha Kuat, juga Maha Pengampun dan Maha Penyayang (sifat Allah).

Allah SWT berfirman: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat Ini bukan sekadar perintah, tapi juga bujukan yang sangat manis dari Allah. "Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" Kalimat ini menyentuh hati terdalam kita. Kita semua mendambakan ampunan Allah. Kita semua punya dosa, punya khilaf. Kalau kita ingin diampuni oleh Allah, maka salah satu kuncinya adalah lapang dada (besarkan wadah) dan mau memaafkan sesama hamba-Nya. Ini adalah jembatan menuju ampunan Allah.

Belajarlah dari tanah: "meski diinjak-injak, dia tetap diam, namun nilainya terus naik" Bahkan orang yang menginjaknya pun perlahan masuk dan menyatu dengannya.

Nabi SAW bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ "Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim)

Bahwa Allah menjamin, orang yang pemaaf tidak akan rugi, bahkan akan ditambah kemuliaannya. Memaafkan itu investasi kemuliaan. Jangan khawatir kita dianggap lemah, diinjak-injak. Justru sebaliknya, Allah akan mengangkat derajat kita. Ini janji Allah, janji Rasulullah, pasti benar

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa memaafkan dengan tulus? Jangan-jangan cuma di mulut saja maaf, tapi di hati masih ngebet pengen (nyantet)? Kaum muslimin pendengar yra., Memaafkan itu memang butuh proses, butuh latihan, dan butuh mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) melawan ego dan bisikan setan.

Pertama: Niatkan karena Allah. Kedua: Coba renungkan dosa² kita. Ketiga: Pisahkan antara perbuatan dan pelaku. (Terkadang kita sulit memaafkan karena kita terlalu fokus pada perbuatan buruknya dan lupa kebaikannya). Keempat: Cobalah melihat dari sudut pandang orang yang menyakiti dan yang kamu sakiti. ان من جزاء الحسنات الحسنات بعتها ومن عقوبات السيئات سيئه بعدها Kelima: Pahami bahwa memaafkan itu bukan berarti melupakan. Seringkali orang berkata, "Saya sudah maafkan, tapi saya tidak bisa lupa." Tentu saja! Ingatan manusia itu anugerah. Kejadian pahit itu pelajaran berharga. Memaafkan itu bukan berarti amnesia, tetapi juga bukan berarti kita harus akrab kembali seperti sedia kala (pribadi toxic). Memaafkan itu artinya kita melepaskan 'ikatan' emosi negatif yang selama ini mengikat kita pada kejadian tersebut. Kita bebas dari belenggu dendam, walau ingatan tentang kejadian itu masih ada sebagai pengingat agar kita lebih berhati-hati di kemudian hari.

Ustadz, saya sudah coba memaafkan, tapi kok masih saja teringat dan sakit hati?" Itu wajar. Memaafkan adalah proses, bukan tombol "on-off" yang langsung instan. Butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh terus berdo'a kepada Allah. Setiap kali rasa sakit hati itu muncul, ingatkan diri kita, "Saya memaafkan karena Allah. Saya ingin kebahagiaan. Saya tidak mau lagi membawa beban ini." Istighfar dan mohon kekuatan dari Allah.

Kisah: Nabi Yusuf As., Beliau disakiti oleh saudara²-nya, dibuang ke sumur, dijual menjadi budak. Tapi ketika beliau menjadi penguasa Mesir dan bertemu kembali dengan saudara²-Nya: قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ "Dia (Yusuf) berkata, 'Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian, semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.'" (QS. Yusuf: 92)

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa puncak kemuliaan adalah akhlak, memaafkan karena memahami bahwa di balik pesakitan yang kita alami, ada rencana Allah yang lebih besar.

Memaafkan itu terapi untuk hati dan jiwa kita. Ketika kita memaafkan, kita melepaskan beban yang selama ini kita pikul. Hasilnya? Hati menjadi lapang, pikiran menjadi jernih, tidur lebih nyenyak, dan wajah jadi lebih berseri-seri. Bawaannya senyum terus, seperti mendapat THR 😅. Ini bukan cuma klaim saya, ini sudah dibuktikan secara ilmiah juga, banyak penelitian yang menunjukkan korelasi antara memaafkan dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik

Manfaat lain dari memaafkan adalah kita membuka pintu rezeki dan keberkahan dari Allah. Kok bisa? Iya, karena hati yang bersih, jiwa yang tenang, akan lebih mudah menerima hidayah dan rahmat Allah. Energi positif yang terpancar dari diri kita akan menarik hal-hal positif lainnya. Allah akan memberikan kemudahan dalam urusan kita, mengangkat derajat kita, dan mengganti apa yang hilang dari kita dengan sesuatu yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه) "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim"

Maka dalam kesempatan yang baik ini gunakan untuk mendatangi orang yang lebih tua dengan hormat. Rangkul yang lebih muda dengan kasih sayang. Sapa tetangga dengan senyum dan salam. Jangan sampai ada saudara yang sengaja kita hindari hanya karena kesalahpahaman remeh. Jangan sampai ada keluarga yang kita jauhi karena ego. Idul Fitri adalah hari untuk merendahkan hati, bukan meninggikan diri.

Memaafkan memang kadang berat di awal, tapi percayalah, kebahagiaan yang kita dapat setelahnya jauh lebih besar dan lebih berharga dari sekadar kepuasan sesaat (membalas). Hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan kedekatan dengan Allah adalah kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan harta.


Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi pribadi pemaaf, pribadi yang lapang dada, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat.