Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Menjadi pribadi yang hebat

Untuk Menjadi pribadi yang hebat tidak harus menunggu kita memiliki harta dan jabatan. Kita bisa mulai dari tiga hal sederhana:

Pertama, Karakter. Orang hebat bukan yang paling pintar bicara, tapi yang paling bisa dipercaya. وَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ (Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil) Integritas (kejujuran) adalah fondasi. Jika kita jujur dan bertanggung jawab pada hal-hal kecil, maka sesungguhnya kita sedang membangun jalan menuju hal-hal yang besar. خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

Kedua, Kwalitas. Jangan pernah berhenti menjadi gelas kosong yang siap diisi ilmu baru. لَا تَكُفَّ اَبَدًا عَنِ التَّعَلُّمِ، لَاَنَّ اَلْحَيَاةَ لَا تَكُفُّ عَنِ اِعْطَاءِ اَلدُّرُوسِ Pribadi hebat selalu penasaran dan haus akan perkembangan. Jangan biarkan hari ini berlalu tanpa kita mempelajari satu hal baru (Ilmu adalah bekal yang tak pernah habis, semakin digali semakin berharga). Imam boleh naik dan turun tapi Al-Qur'an jangan pernah ditinggalkan.

Ketiga, BerKontribusi. Percuma kita pintar dan sukses jika itu hanya untuk diri sendiri, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Seberapa hebatnya kita, sebenarnya terlihat dari seberapa (manfaat) banyak orang yang terbantu karena kehadiran kita. Maka Jadilah solusi, bukan penambah beban masalah. Karena: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, yang dilakukan dengan itqon (profesional dan sempurna)" (HR. Thabrani).

Karenanya Mari kita niatkan mulai hari ini, untuk setahap demi setahap memperbaiki diri. Jika akhlak kita adalah cerminan Al-Qur'an, sebagaimana Akhlaknya Rasulullah SAW, maka InsyaAllah, kita akan menjadi pribadi yang benar-benar hebat, pribadi yang membawa perubahan dan keberkahan di manapun kita berada.

Bahagia dengan Memafkan

Coba kita jujur sejenak pada diri sendiri. Pernahkah kita merasa ada beban berat di hati? Bukan beban utang cicilan rumah atau tagihan listrik yang telat, tapi beban yang lebih 'nggak kelihatan' tapi rasanya kok lebih menyesakkan. Beban itu adalah dendam, sakit hati, atau rasa kecewa yang belum kita maafkan. Nah, kadang kita ini suka menyimpan "koleksi" dendam, ibaratnya kayak koleksi perangko, makin banyak makin merasa "wah". Padahal, di mata Allah, makin banyak dendam, makin jauh dari cahaya kebahagiaan.

Saya yakin, semua yang staytoon ini pasti pernah merasa disakiti, dikhianati, digosipkan, atau bahkan difitnah. Nah, ketika itu terjadi, ada dua pilihan: Mau jadi "collector" dendam atau jadi "donatur" maaf? tanpa kita sadari Biasanya, kebanyakan dari kita maunya jadi collector. "Enak saja dia nyakitin saya kok!!!, nggak akan saya maafkan biarpun sampai Lebaran monyet!" (Bang toyib)

Jangan begitu, hari-hari ini adalah hari baik, Iedul Fitri adalah يوم أَكْمَلَ لَنَا عِدَّةَ رَمَضَانَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْإِيْمَانِ dan Alloh SWT berfirman: وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ "dan maafkanlah manusia sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik" dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan bahwa Ada lima perkara, yang barangsiapa merutinkan menjaganya (memaafkan sebelum dimintai dan bersilaturahim), maka kebaikannya akan ditambah seperti gunung-gunung yang kokoh, dan Allah akan meluaskan rezekinya.

Dendam itu ibarat kita yang minum racun sendiri, tapi berharap orang lain yang mati. Karenanya berhentilah mengoleksi dan menimbun racun, karena Hati akan menjadi keras, pikiran jadi sempit, wajah menjadi jelek. Setiap kali melihat atau mendengar nama orang yang kita benci, langsung darah mendidih, ulu hati sakit. Padahal yang menyakiti kita sudah lupa, sudah tidur nyenyak, sudah ketawa ketiwi. Lah kita? Masih saja guling-guling di kasur mikirin dendam. Siapa yang Rugi? collector/donatur.

Allah SWT adalah Dzat yang memiliki seluruh kekuasaan, yang Maha Adil, Maha Kuat, juga Maha Pengampun dan Maha Penyayang (sifat Allah).

Allah SWT berfirman: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat Ini bukan sekadar perintah, tapi juga bujukan yang sangat manis dari Allah. "Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" Kalimat ini menyentuh hati terdalam kita. Kita semua mendambakan ampunan Allah. Kita semua punya dosa, punya khilaf. Kalau kita ingin diampuni oleh Allah, maka salah satu kuncinya adalah lapang dada (besarkan wadah) dan mau memaafkan sesama hamba-Nya. Ini adalah jembatan menuju ampunan Allah.

Belajarlah dari tanah: "meski diinjak-injak, dia tetap diam, namun nilainya terus naik" Bahkan orang yang menginjaknya pun perlahan masuk dan menyatu dengannya.

Nabi SAW bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ "Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim)

Bahwa Allah menjamin, orang yang pemaaf tidak akan rugi, bahkan akan ditambah kemuliaannya. Memaafkan itu investasi kemuliaan. Jangan khawatir kita dianggap lemah, diinjak-injak. Justru sebaliknya, Allah akan mengangkat derajat kita. Ini janji Allah, janji Rasulullah, pasti benar

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa memaafkan dengan tulus? Jangan-jangan cuma di mulut saja maaf, tapi di hati masih ngebet pengen (nyantet)? Kaum muslimin pendengar yra., Memaafkan itu memang butuh proses, butuh latihan, dan butuh mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) melawan ego dan bisikan setan.

Pertama: Niatkan karena Allah. Kedua: Coba renungkan dosa² kita. Ketiga: Pisahkan antara perbuatan dan pelaku. (Terkadang kita sulit memaafkan karena kita terlalu fokus pada perbuatan buruknya dan lupa kebaikannya). Keempat: Cobalah melihat dari sudut pandang orang yang menyakiti dan yang kamu sakiti. ان من جزاء الحسنات الحسنات بعتها ومن عقوبات السيئات سيئه بعدها Kelima: Pahami bahwa memaafkan itu bukan berarti melupakan. Seringkali orang berkata, "Saya sudah maafkan, tapi saya tidak bisa lupa." Tentu saja! Ingatan manusia itu anugerah. Kejadian pahit itu pelajaran berharga. Memaafkan itu bukan berarti amnesia, tetapi juga bukan berarti kita harus akrab kembali seperti sedia kala (pribadi toxic). Memaafkan itu artinya kita melepaskan 'ikatan' emosi negatif yang selama ini mengikat kita pada kejadian tersebut. Kita bebas dari belenggu dendam, walau ingatan tentang kejadian itu masih ada sebagai pengingat agar kita lebih berhati-hati di kemudian hari.

Ustadz, saya sudah coba memaafkan, tapi kok masih saja teringat dan sakit hati?" Itu wajar. Memaafkan adalah proses, bukan tombol "on-off" yang langsung instan. Butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh terus berdo'a kepada Allah. Setiap kali rasa sakit hati itu muncul, ingatkan diri kita, "Saya memaafkan karena Allah. Saya ingin kebahagiaan. Saya tidak mau lagi membawa beban ini." Istighfar dan mohon kekuatan dari Allah.

Kisah: Nabi Yusuf As., Beliau disakiti oleh saudara²-nya, dibuang ke sumur, dijual menjadi budak. Tapi ketika beliau menjadi penguasa Mesir dan bertemu kembali dengan saudara²-Nya: قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ "Dia (Yusuf) berkata, 'Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian, semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.'" (QS. Yusuf: 92)

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa puncak kemuliaan adalah akhlak, memaafkan karena memahami bahwa di balik pesakitan yang kita alami, ada rencana Allah yang lebih besar.

Memaafkan itu terapi untuk hati dan jiwa kita. Ketika kita memaafkan, kita melepaskan beban yang selama ini kita pikul. Hasilnya? Hati menjadi lapang, pikiran menjadi jernih, tidur lebih nyenyak, dan wajah jadi lebih berseri-seri. Bawaannya senyum terus, seperti mendapat THR 😅. Ini bukan cuma klaim saya, ini sudah dibuktikan secara ilmiah juga, banyak penelitian yang menunjukkan korelasi antara memaafkan dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik

Manfaat lain dari memaafkan adalah kita membuka pintu rezeki dan keberkahan dari Allah. Kok bisa? Iya, karena hati yang bersih, jiwa yang tenang, akan lebih mudah menerima hidayah dan rahmat Allah. Energi positif yang terpancar dari diri kita akan menarik hal-hal positif lainnya. Allah akan memberikan kemudahan dalam urusan kita, mengangkat derajat kita, dan mengganti apa yang hilang dari kita dengan sesuatu yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه) "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim"

Maka dalam kesempatan yang baik ini gunakan untuk mendatangi orang yang lebih tua dengan hormat. Rangkul yang lebih muda dengan kasih sayang. Sapa tetangga dengan senyum dan salam. Jangan sampai ada saudara yang sengaja kita hindari hanya karena kesalahpahaman remeh. Jangan sampai ada keluarga yang kita jauhi karena ego. Idul Fitri adalah hari untuk merendahkan hati, bukan meninggikan diri.

Memaafkan memang kadang berat di awal, tapi percayalah, kebahagiaan yang kita dapat setelahnya jauh lebih besar dan lebih berharga dari sekadar kepuasan sesaat (membalas). Hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan kedekatan dengan Allah adalah kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan harta.


Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi pribadi pemaaf, pribadi yang lapang dada, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat.

Romadhon dan Pembebasan dari Api neraka

Di antara karunia Allah yang sangat besar untuk kita (umat Islam) adalah diberikannya Romadhon, bulan yang syarat dengan rahmat, kebahagiaan, keberkahan, dan ampunan. Pintu surga sengaja dibuka lebar oleh Alloh SWT sebagai simbol kemudahan akses dan sarana beribadah, sekaligus menjadi tanda bahwa amal kesolehan diterima dan dilipat gandakan pahalanya.
Romadhon bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan keselamatan, bulan di mana Alloh memberikan kesempatan kepada hamba-Nya agar terbebas dari siksa api neraka. Rasulullah SAW bersabda: إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ "Apabila datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu"
Dari Hadits ini dapat kita pahami bahwa Romadhon adalah bulan yang sangat istimewa. Alloh SWT memberikan kesempatan yang luas kepada hamba-Nya untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi dosa, suasana spiritual bulan Romadhon di desain oleh Allah SWT agar manusia lebih mudah berbuat baik dan sulit untuk berbuat maksiat, karenanya. Rasulullah SAW bersabda: لِلّٰهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذٰلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ "Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka, dan itu terjadi pada setiap malam di bulan Romadhon"
Jika dipikir-pikir Betapa besarnya kasih sayangnya Allah SWT kepada kita, setiap malam di bulan Romadhon, Alloh membebaskan sebagian hamba-Nya dari api neraka.
Ada banyak riwayat yang membahas tentang golongan manusia yang kelak masuk ke dalam surganya Allah SWT., meskipun kita semua tahu bahwa Surga adalah bagian dari fadholnya (ridho) Alloh SWT.
Rosululloh SAW., bersabda: كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى "Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?' beliau menjawab, "Siapa yang mentaatiku ia masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku suggu ia telah enggan masuk surga." (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah Ra.).
Dari hadist ini mengabarkan kepada kita bahwa mentauhidkan Alloh SWT dan ketaatan kepada Rosululloh serta istiqomah diatas syari'atNya, (solat, zakat, puasa dibulan ramadhan, berbakti kepada kedua orang tua) menjadi sebab terbukanya pintu surga. Karenanya patuhi segala yang disyariatkan.
Pertanyaannya kemudian adalah: siapakah golongan manusia yang berhak mendapatkan pembebasan dari api neraka dan dirindukan oleh surga?
Tentu mereka adalah golongan manusia yang benar-benar memanfaatkan Romadhon dengan إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا (penuh keimanan, kesadaran, kesungguhan dan keikhlasan) dalam menjalankan Siyam dan Qiyam.
Sebagaimana yang nabi SAW sampaikan atas hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA: الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَا لِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ. رواه أبوداود والترمذي عن ابن عباس "Surga itu merindukan 4 golongan manusia: orang yang membaca Al Quran, orang yang menjaga lidah, orang yang memberi makan orang yang sedang kelaparan, dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Romadhon.
Golongan manusia yang dirindukan oleh surga dengan sebab menjalankan rangkaian Ibadah didalamnya kemudian mendapatkan pembebasan dari api neraka diantaranya adalah:
Pertama adalah Golongan yang lisannya senantiasa sibuk membaca kalamulloh dalam setiap waktu dan kesempatan (saat lapang maupun sempit).
Romadhon adalah bulan Al-Qur’an: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ (البقرة:18) "Bulan Romadhon adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia" Maka sangat pantas jika seorang muslim memperbanyak membaca, memahami serta mengamalkan Al-Qur’an pada bulan ini.
Kedua Orang yang selalu menjaga lisannya dari berkata kotor, mencaci-maki, menghujat, ghibah, fitnah, dusta, namimah, atau ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain. Rasulullah bersabda: مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ “Barang siapa yang beriman kepada Allah dari hari akhir hendaklah dia berkata yang baik, atau diam.
Menjaga lisan adalah bagian penting dari kesempurnaan iman karena lisan yang tidak terkontrol dapat menjadi sumber petaka, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري) "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum"
Golongan Ketiga adalah orang yang memberi makan orang yang kelaparan. Dalam Kitab Qalaid Al-Jawahir fi Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, karya Muhammad ibn Yahya at-Tadzi dan Kitab Tarikh al-Islam, karya Adz-Dzahabi beliau berkata: فَتَشْتُ الْأَعْمَالَ كُلَّهَا، فَمَا وَجَدْتُ فِيهَا أَفْضَلَ مِنْ إطْعَامِ الطَّعَامِ، أُودُّ لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا بِيَدِي فَأَطْعِمُهَا الْجِيَاعَ (Aku telah meneliti seluruh amal kesholehan, Aku tidak temukan di dalamnya yang lebih baik daripada memberi makan. Suatu kebahagiaan jika dunia berada di tanganku, lalu kuberikan makan orang-orang yang lapar) لَقْمَةٌ فِي بَطْنِ جَائِعٍ خَيْرٌ مِنْ بِنَاءِ أَلْفِ جَامِعٍ، وَخَيْرٌ مِمَّنْ كَسَا الْكَعْبَةَ وَأَلْبَسَهَا الْبَرَاقِعَ، وَخَيْرٌ مِمَّنْ قَامَ لِلَّهِ بَيْنَ سَاجِدٍ وَرَاكِعٍ، وَخَيْرٌ مِمَّنْ جَاهَدَ لِلْكُفْرِ بِسَيْفٍ مُهَنَّدٍ قَاطِعٍ، وَخَيْرٌ مِمَّنْ صَامَ الدَّهْرَ وَالْحَرُّ وَاقِعٌ، فَيَا بُشْرَى لِمَنْ أَطْعَمَ الْجَائِعَ "Sepotong makanan di perut orang yang lapar lebih baik daripada membangun seribu masjid, lebih baik daripada menutupi Ka'bah dengan kain dan menghiasinya dengan kerudung, lebih baik daripada bersujud dan membungkuk di hadapan Allah, lebih baik daripada orang yang memerangi kekafiran dengan pedang yang tajam, lebih baik daripada orang yang berpuasa terus-menerus di bawah terik matahari. Maka, berbahagialah orang yang memberi makan orang yang lapar!"
Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ini menekankan bahwa memenuhi kebutuhan dasar orang yang kelaparan memiliki pahala yang sangat besar, bahkan lebih besar dari ibadah-ibadah besar lainnya, karena makanan yang masuk kedalam perut orang lapar itu akan menjadi cahaya.
Maka dalam konteks bulan Romadhon sebagaimana hadits yang sering kita dengar bahwa مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا "Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun"
Artinya Dengan banyak berderma melalui memberi makan kepada orang (Lapar) berbuka puasa yang dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Apalagi di bulan puasa ini pahala akan dilipatgandakan Allah SWT. (Tetapi hal ini "bagi-bagi takjil" harus dilakukan dengan ilmu dan profesionalisme "jangan di jalan umum yang kemudian menggangu mobilitas sosial" agar amal yang di kerjakan tidak sia-sia) Karena Rosululloh SAW bersabda: وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ • أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ "Dan setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak, tidak diterima" Sebab amal ibadah harus didasarkan dengan ilmu. Kecuali 1 ibadah tanpa ilmu tetap akan diterima. Amal apakah itu? Yaitu nikah. Meskipun tidak tahu caranya tetap membuahkan hasil.
Golongan terakhir yang dirindukan surga adalah orang yang berpuasa di bulan Romadhon dengan إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا (dengan iman dan keikhlasan) di bulan Romadhon.
Allah SWT., memberikan balasan pintu khusus, bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa. Rosululloh SAW bersabda: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ "Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain mereka. Lalu dikatakan, ‘Dimana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak seorang pun masuk lagi," (HR. Bukhari dan Muslim).
Itulah Empat Golongan yang di rindukan oleh surga, karenanya Romadhon adalah kesempatan yang sangat berharga dan istimewa, kesempatan ini tidak datang setiap saat. Dan jangan sampai kita termasuk orang yang rugi dan celaka. Rasulullah SAW bersabda: رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ (رواه الترمذي) "Hina seseorang, yang bulan Romadhon mendatanginya, kemudian pergi, namun dosanya tidak diampuni"
Pelajaran dari hadits ini adalah, Celaka kiranya jika kemudian romadhon tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya sebagai sarana untuk mendapatkan ampunan dan surga, karena itu kata Alloh SWT: فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ "maka bertakwalah kamu sesuai kesanggupanmu"
Penutup: manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk melakukan hal-hal yang positif seperti: Menjaga Lisan dengan Dzikir, Upayakan mentadaburi Al-Qur'an, Perbanyak sedekah selain kewajiban Zakat, dan Lakukan puasa ini dengan keyakinan dan keikhlasan penuh semata-mata mengharap ridhonya Alloh SWT. Dengan begitu insyaAlloh kita semua tergolong sebagai manusia manusia yang bebas api neraka dan yang dirindukan oleh surganya Allah SWT.

Terus semangat jangan kendor

Bulan Romadhon adalah ajang perlombaan untuk berupaya meningkatkan ketaatan شَهْرَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِلتَّسَابُقِ فِي الطَّاعَاتِ bulan romadhon adalah musimnya untuk menyucikan jiwa dan meningkatkan kedudukan وَمَوْسِمًا لِتَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَرَفْعِ الدَّرَجَاتِ karenanya istimewakan keberadaannya, sebagaimana kita yang juga ingin di istimewakan oleh Alloh SWT.

Ibnu Rojab dalam kitab Lathoiful Ma’arif, hal. 306 menjelaskan: اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه Ketahuilah sesungguhnya seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Romadhon جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام، Jihad di siang hari dengan berpuasa وجهادٌ باللَّيل على القِيام jihad di malam hari dengan sholat malam فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن، maka barang siapa yang melakukan dua jihad ووَفَّى بحُقُوقهما dan menunaikan hak-hak yang berkaitan dengan keduanya وصَبَر عليهما lalu terus bersabar ketika melakukan "jihad" nya وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ maka ia (jihadis) akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa ukuran.

Kita sering lupa atau tidak ingat bahkan tidak tahu, bahwa: Bulan romadhon itu memiliki 3 dimensi ibadah: Pertama Jihad atau perjuangan karena lapar, haus, capek dan letih semua itu membutuhkan perjuangan, وجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ "dan berjihadlah dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu" "Perang Badar"). Kedua Ijtihad, yaitu pendalaman dalam pelaksanaan ibadah Romadhon, sembari menambah ilmu pengetahuan (Agama) yang bermanfaat untuk kepentingan Dunia dan Akhirat, Qiyam dan Siyam akan lebih membawa keberkahan ketika dilakukan dengan ilmu, وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ"dan Setiap orang yang beramal atau melakukan perbuatan dengan tanpa ilmu, أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ maka segala amalnya "berpotensi" ditolak dan tidak terima. Ketiga Mujahadah yang berarti menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kebutuhan mental spiritualitas kita, membangun kedekatan dengan Allah SWT melalui sarana yang diberikan oleh Alloh SWT., (malam-malam Lailatul Qodar) dengan kegiatan-kegiatan Kontemplasi, (Dzikir, Qiyamullail, Tadarus) yang sungguh-sungguh. اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ "Bersungguh²lah, jangan bermalas-malasan dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu hanya menimpa orang-orang yang malas.

Karenanya di bulan Romadhon yang istimewa ini kita musti memaksa diri kita untuk tetap semangat, seperti ketika berada di awal bulan kemaren, hati kita terasa ringan, masjid, mushola penuh lantaran semangat menyambut bahagia kehadirannya.

Rosululloh SAW ketika memerintahkan muad bin Jabal berangkat ke Yaman,اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (Bertakwalah kepada Allah SWT., di manapun engkau berada. Iringilah kejelekan "kemalasan" itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapus (kejelekan,malas,putus asa). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. Hadist ini kemudian direspon oleh Alloh SWT وقوله: (واتقوا الله) أي: في جميع أموركم وأحوالكم، ( لعلكم تفلحون ) أي: في الدنيا والآخرة 

Seiring berjalannya hari, sering kali semangat itu kendor dan mulai melemah. Capek, lelah, malas, Ibadah terasa berat yang kemudian menyita fokus perhatian kita, Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً (رواه أحمد) (Setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada masa lemahnya). Hadits ini sangat manusiawi. Islam memahami bahwa iman kita bisa naik dan bisa turun. Tetapi yang berbahaya adalah bukan turunnya semangat, melainkan berhentinya mental beramal kita.

Inilah ujian sesungguhnya. Bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita terus bertahan. Karenanya, kata Alloh: فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ (Maka tetaplah engkau "Muhammad" di jalan yang benar sebagaimana yang diperintahkan).

Istiqomah itu tidak mudah. Bahkan Rasulullah SAW yang maksum pun diperintahkan untuk istiqomah. Apalagi kita yang penuh kekurangan.

Semangat beribadah itu seperti api. Jika tidak dijaga, ia akan redup. Jika tidak diberi bahan bakar, ia akan cepat padam.

Romadhon hanya sebulan. Sangat singkat dibanding sebelas bulan lainnya. Maka jangan biarkan Romadhon berlalu tanpa kesungguhan, (Bayangkan jika Romadhon ini adalah yang terakhir bagi kita. Apakah kita masih ingin menunda taubat? dan Apakah kita serius ingin mengurangi ibadah?) jawabannya semua ada dalam sanubari kita.

Allah SWT., berfirman: وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ (Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu). Bersegera berarti jangan menunggu nanti. Jangan menunggu saat hati lebih siap. Jangan menunggu saat waktu lebih longgar. Karena waktu ini sesungguhnya tidak pernah benar-benar longgar.

Lalau bagaimana caranya agar tetap stabil dalam melaksanakan tugas ibadah ini ustadz? Caranya adalah: Kalau capek, lelah, ingatlah pahala. Kalau bosan, ingatlah surga. Kalau malas, ingatlah dosa-dosa yg ingin kita bersihkan. Kemudian dekatkan diri kita dengan lingkungan yang baik. Seringlah datang ke masjid, mushola, temui orang-orang soleh di majelis Dzikir dan Ta'lim. Perbanyak baca Al-Qur’an, dan Kurangi hal-hal yang melalaikan Akhirat dan Tuhan.

Jangan biarkan waktu habis untuk hal-hal yang tidak bernilai akhirat. Jangan biarkan Romadhon berlalu hanya dengan rutinitas tanpa ruh, dan yang juga tidak kalah pentingnya, mohonlah kepada Alloh SWT agar diberi kesehatan dan kekuatan. Karena tanpa pertolongan Alloh, kita tidak akan mampu.

Teruslah beDo'a sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Alhasil: Betapa besar hadiah yang Allah siapkan untuk kita, dengan bekal Siyam dan Qiyam Romadhon yang إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا InsyaaAlloh, kita akan menjadi manusia manusia yang paripurna; lebih sabar, lebih jujur dan lebih bertawakkal, sehingga kita mendapatkan derajat yang غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Penutup: Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya semangat di awal, tetapi semangat dan kuat hingga akhir. Yang tidak hanya ramai di permulaan, tetapi istiqomah sampai penutupan. Karena yang dinilai Alloh bukan hanya awal kita, tetapi adalah akhir kita.

Mari kita berdo'a: اللَّهُمَّ قَوِّ إِيمَانَنَا، وَجَدِّدْ نِيَّاتِنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ, اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ فَتَرَ فَتَرَكَ، وَلَا مِمَّنْ ضَعُفَ فَانْقَطَعَ، بَلِ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ حَتَّى نَلْقَاكَ

Karakter Puasa Romadhon

Bagi umat Islam, Puasa Romadhon tidaklah sekadar kewajiban, tetapi sudah menjadi aktivitas sosial dan budaya. Puasa romadhon adalah merupakan bentuk pengorbanan kita untuk Alloh SWT., yang melibatkan pengendalian diri dari segala sesuatu yang kita cintai demi cinta yang hakiki kita untuk Allah SWT.

Secara literatur, kata Ash-Shaum dan Ash-Shiyam berasal dari kata/wazan صام يصوم صوما وصياما yang artinya imsak (menahan, mengekang, mencegah). Namun secara Istilah, kata صوم para ulama' berbeda pandangan. Dalam kita asrorus shoum disebutkan Bahwa Kata صوم terbentuk dari tiga karakter huruf yakni Shod, Wau dan Mim.

Pertama: صاده): تشير إلى الصبر yang berarti kesabaran, Sabar itu bukan diam tapi keteguhan dalam menerima ketentuan Alloh dengan terus berikhtiar sampai menemukan solusi. إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابِ

Kedua: واوه): يشير إلى الورع: ترك الشبهات خوفا عن الوقائي yang berarti kehati-hatian (mencegah): meninggalkan perkara yang samar mencegah perkara yang haram.

Ketiga: والميم): إشارة إلى محسن، أى صاحب الإحسان الذي هو أمر جامع لكل خير memiliki arti kedermawanan, maksudnya siapapun yang mendapati bulan romadhon lalu kemudian dia banyak memberi kemanfaatan untuk orang lain maka baginya seluruh kebaikan.

Dari ketiga definisi karakter صوم ini dapat kita pahami bahwa Bersabar dalam ketaatan (menjalankan puasa) yang diikuti dengan Kehati-hatian dalam berucap dan bertindak serta berbuat kebaikan yang dilakukan dengan إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا secara continue (terus-menerus) yang disertai komitmen (Istiqomah) maka insyaAllah Amaliah Romadhon yang kita tunaikan ini tidak hanya sekedar bernilai pengampunan tetapi ridhonya Alloh SWT.

Sebab Puasa adalah cinta. Maka berpuasalah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi keindahan antara hamba dan Tuhannya, saat jiwa belajar diam, hati belajar rindu, dan setiap lapar menjadi bahasa halus yang mengantarkan kita semakin dekat kepada-Nya dan memahami arti kemanusiaan. فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ inilah kemesraan dan indah yang disampaikan oleh Alloh SWT untuk kita.

Selanjutnya, Kata "رمضان" jika merujuk pada penjelasan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq Azza wa Jalla. Beliau menjelaskan bahwa رمضان setiap hurufnya memiliki makna masing².! Kata "رمضان ” tersusun dari lima huruf hijaiyyah, yakni : ر م ض ا ن

الراء : رضوان الله

١ - Kehendak Allah. Artinya bahwa, siapapun yang pada bulan mulia ini, yang senantiasa memperbanyak ibadah dan melakukan amal-amal kesalehan dengan iman, niat tulus dan ikhlas akan mampu menyampaikan dirinya pada pengampunan Alloh SWT.


الميم : محاباة الله عن العصاة

٢ - Keberpihakan Alloh SWT kepada orang yang berdosa (bagi mereka yang Condong pada ketaatan). Pada bulan yang suci mulia ini, umat Islam yang menyibukkan diri, menghidupkan hari-harinya dengan ibadah dan amal kebaikan akan mudah untuk mendapatkan cintanya Alloh SWT.


الضاد : ضمان الله

٣ - Jaminan Allah SWT., Tidak terhitung Jaminan Pahala bagi mereka yang gemar untuk berbuat ketaatan. كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ


الألف : ألفة الله

٤ - Kasih sayang Allah SWT., Harmoni-Nya. Kasih-Nya melimpah pada bulan ini. Seluruh Amaliah di lipat gandakan, keberkahan diberikan. كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ. وَ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ


النون : نور الله

٥ - Cahaya Allah SWT. Cahaya Allah SWT., akan memantul dalam setiap jiwa yang dibarengi ketakwaan.


Romadhon adalah tempat bagi setiap jiwa untuk kembali pulang kepada pemilik kehidupan, Oleh karenanya, sebagai bentuk aktualisasi karakter huruf صوم dan رمضان Melalui puasa, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, lebih peduli terhadap sesama, serta lebih taat kepada Allah SWT.


Dan bentuk ketaatan kita kepada Alloh SWT sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah melaksanakan puasa dan membaca Al-Qur'an: اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ "Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari” dan Al-Qur’an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat (HR Ahmad).


Sehingga dengan Puasa Romadhon satu bulan penuh, Sholat Tarowih tiap malam, membaca Al-Qur'an setiap waktu, Ibadah-ibadah mahdho dan ghoiru mahdo lainnya, kita akan mendapatkan pengampunan, keberkahan, kesejahteraan serta mahabbah dari Alloh SWT.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

مَنْ صام رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Alhasil: Dari dua Hadis ini mengingatkan kepada kita bahwa Siyam dan Qiyam yang kita kerjakan pada bulan Romadhon dengan disertai Niat yang Tulus ايمانا dan Ikhlas واحتسابا insyaAllah akan mengantarkan kita semua pada Ridhoan-Nya Alloh SWT.