Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Ayat Penyembuh dalam Al-Qur'an

 Imam Abu Qosim Qushairi ra menemukan enam ayat Syifa’ di dalam al-Qur’an. Berikut enam ayat syifa’ tsb:


وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

Dan (Allah ) akan melegakan hati orang-orang yang beriman [At-Taubah 9: 14]


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai Manusia, sesunguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit2 (yg berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang2 yg beriman. [Yunus 10: 57]


يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yg bermacam2 warnanya di dalamnya terdapat obat yg menyembuhkan bagi manusia. [An-Nahl 16: 69]


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yg menjadi penawar dan rahmat bagi orang2 yg beriman. [Bani Israil (Al-Israa) 17: 82]


وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit, Dialah Yg menyembuhkan aku [Do’a Nabi Ibrahim dalam Surat Asy-Syu’raa’ 26:80]


قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Dan katakanlah (wahai Muhammad ) bahwa (Qur’an) itu adalah petunjuk dan menyembuhkan bagi orang2 yg beriman. [Fushshilat 41:44]


Maka Imam al-Qusyairiy berkata:

“Kemudian aku menuliskan ayat2 tsb di atas satu lembar kertas lalu aku membasuh kertas itu di atas mangkuk dgn air dan air itu aku berikan minum kepada putraku. Dengan izin Allah Taala ujug2 datang kesembuhan bagi putraku. Sehingga ia sadar dan kembali sehat afiat seakan2 baru terlepas dari ikatan yang mengikatnya.”

Santri Patuh

Seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub..

Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya.. "Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..

"Tidak tahu". Jawab si Santri..

"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!". Perintah sang Kyai.

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..

Kemudian kembali menghadap sang Kyai. .

"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai. 

"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap..

"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi..

"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..

"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai..

"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu..

"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi..

"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa ia menawar ikannya?"

"50 juta Rupiah Kyai"

Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbed-beda..

"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat..".

"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu.. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu..".

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.


وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.


وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.


وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.


لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.


يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.


وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah .

Qasidah Fadhoilul Qur'an

Qasidah Fadhoilul Qur'an

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

Dengarkanlah kata Nabi, perintahnya kita turuti

Sebaik-baik seorang abdi, belajar mengajar kitab suci

Jika Anda akan membaca, ayat qur’an kapan saja

Baca ta’awudz terlebih dulu, jangan biarkan itu berlalu

Bacalah slalu bismillah, jika dari awal surah

Selain Surah Baroah, karena tak ada sunnah

Bacalah Qur’an dengan tartil, bacanya pelan sambil memikir

Akan datang Malaikat Jibril, membawa rahmat bagi pedzikir

Jika ada yang baca Qur’an, marilah sama mendengarkan

Jika kita sama membaca, janganlah kita saling mencerca

Orang mahir baca Al-qur’an, sama malaikatur-Rahman

Orang sulit baca Al-qur’an, akan dapat dua ganjaran

Siapa senang membaca Qur’an, pastilah dia dapat ganjaran

Siapa senang bersimaan, dapat rahmat dari yang Rahman

Barang siapa yang hafal Qur’an, nilai-nilainya diamalkan

Orang tuanya disematkan, mahkota indah yang berkilauan

Jika selesai mengaji, tutuplah mushaf yang suci

Benarkanlah sang Ilahi, tanda cinta yang abadi

Itulah syair tentang Al-qur’an, kitab suci kita muliakan

Meminta Allah Yang Maha Rahman, dapat syafa’atnya Al-qur’an

Sholatullahi wa salam, ‘ala man uhiyal qur’an    2x

Wa ahli baitihil kiram, wa shohbihi dzawil qur’an   2x

Dualisme makhluk Alloh

Allah berkata kepada Malaikat: “Aku akan ciptakan manusia sebagai pemimpin di bumi.” “Apakah Tuhan akan menciptakan manusia yang kerjanya hanya berperang saling menumpahkan darah?” (malaikat keberatan) “Wahai malaikat, coba sebutkan nama-nama benda-benda itu semua!” (perintah Tuhan). “Maha Suci Engkau Tuhan… Kami tidak mengetahui apa pun kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan,” para malaikat mengakui kesalahan dan kelemahannya. “Hai Adam-, coba kau sebutkan nama-nama benda-benda itu semua,” (ucap Allah SWT).
Dengan lancarnya, Adam menyebutkan semua nama-nama benda tersebut. Kemudian Tuhan memerintahkan para penghuni surga untuk memberi penghormatan kepada Adam dengan bersujud. Para malaikatpun segera bersujud dan menghormat kepada Adam. Iblispun berargumentasi; “Kami tidak mau bersujud kepada Adam. Karena Engkau d?ciptakan Adam dari tanah. Sedangkan Engkau ciptakan kami dari api.” Argumentasi iblis memang benar.
Mereka tercipta dari api sedang Adam tercipta dari tanah. Iblis berpikir bahwa api lebih mulia dari tanah. Seharusnya Adam yang bersujud kepada iblis bukan sebaliknya, Iblis tetap membanggakan diri dengan dalih tercipta dari api. iblispun harus terusir dari surga dan tetap bersikap sombong.
Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah di atas. Bagi saya, pelajaran yang:
Pertama adalah malaikat saja bisa salah apa lagi kita manusia. Tetapi kehebatan malaikat, mereka mau segera memperbaiki kesalahannya itu.
Pelajaran kedua, kebenaran tidak sepantasnya mengarah kepada kesombongan. Iblis sendiri benar dengan argumennya bahwa ia tercipta dari api. Tetapi kesombongan iblis membuatnya terjerumus kepada tindakan yang salah, tidak menghormati Adam.
Pelajaran ketiga, kesalahan dapat terjadi sewaktu-waktu dan berlaku bagi siapa saja.
Ketika sadar bahwa hal itu salah maka segeralah memperbaiki diri dan istighfar, jangan lantas mengumbar argumen sebagaimana iblis. Tuhan, Bagaimana pun kami berlindung kepada Tuhan dari tindakan sombong sebagaimana kesombongan iblis.
Semoga kita dapat saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. “Tuhan…lindungilah kami dari tindakan-tindakan yang tidak terpuji.”

Pilar Penopang Kehidupan

Saat ini kita menyaksikan ketidakteraturan di berbagai lini kehidupan; Krisis ekonomi, ketimpangan sosial, hingga hilangnya adab. Lantas kitapun bertanya: "Sesungguhnya Apa yang salah dengan tatanan dunia kita?"

Fenomena hari ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Banyak orang merasa nyaman karena dunia bisa diatur dengan teknologi, modal finansial. Namun, sebagai orang yang beriman, kita meyakini adanya tatanan spiritual dan sosial yang bersifat tawazun (seimbang). Bahwa sebagus apapun zaman dan teknologinya, hukum Allah jelas: jika Baik ya Halal jika Buruk ya Harom, maka jangan tinggalkan yang Wajib-Ain untuk mengejar yang sunnah. (Gus baha).

Bahwa Dunia ini tetap akan eksis, dan barokah bukan karena kecanggihan teknologi dan kekuatan finansial, namun lebih pada karena keberadaan empat golongan manusia yang menjalankan fungsinya. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW.: قِوَامُ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءِ. أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ "tegaknya dunia karena Empat pilar, yaitu: Ilmunya ulama, Adilnya para pemimpin, Kedermawanan orang² kaya dan Do'a-nya orang² miskin"

Jika salah satu dari empat pilar ini rapuh, maka kehidupan akan pincang. Jika semua pilar runtuh, maka kehancuran akan semakin meluas.

Berikut yang bisa kami rincikan:

Pilar Pertama: أَوَّلُهَا بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ Ilmunya Ulama Ulama adalah pelita umat. Tanpa ilmu, manusia mudah tersesat meskipun niatnya baik. Allah SWT., berfirman: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (سورة المجادلة: ١١) “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ilmu ulama bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk membimbing umat, meluruskan yang menyimpang, menenangkan yang gelisah, dan menghidupkan hati yang mati. Rasulullah SAW., bersabda: اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” Jika ulama diam dari kebenaran, enggan mengingatkan keluarganya, para pemimpin atau ilmunya tidak diamalkan, maka masyarakat akan dis orientasi, kehilangan arah.

Pilar Kedua: وَالثَّانِي بِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ Adilnya Pemimpin. Pemimpin yang adil adalah nikmat besar dari Allah. Dengan keadilan, keamanan terjaga, hak terlindungi, dan rakyat merasa tentram.

Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَىٰ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ “Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya.” Adil bukan berarti menyenangkan semua pihak, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya, meskipun berat dan berisiko. Keadilan pemimpin mampu menahan murka Allah, sedangkan kezaliman pemimpin dapat mendatangkan azab yang meluas.

Pilar Ketiga: وَالثَّالِثُ بِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ Kedermawanan Orang Kaya. Harta bukanlah milik mutlak manusia, tetapi titipan Allah. Orang kaya diuji dengan bagaimana hartanya dibelanjakan.

Allah SWT., berfirman: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا (سورة التوبة: ١٠٣) "Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka"

Kedermawanan orang kaya: mengurangi kesenjangan sosial, menguatkan ukhuwah, mendatangkan keberkahan harta. Rasulullah SAW., bersabda: مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ "Harta tidak akan berkurang karena sedekah" Nabi SAW., bersabda: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ "Sungguh semua umatku akan didatangi cobaan dan fitnah dan di antara fitnah bagi umatku adalah hartanya" (HR. Imam Bukhari).

Pilar Keempat: وَالرَّابِعُ بِدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ Do'a-nya Orang Miskin Sering diremehkan, padahal do'a orang miskin adalah senjata yang dahsyat. Mereka yang tidak memiliki apa-apa di dunia, seringkali memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT.

Rasulullah SAW., bersabda: هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ "Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang² lemah di antara kalian?"

Pengemis jalanan adalah orang mampu dan kuat yang hanya malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya. Rasulullah SAW., bersabda: لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا "Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).

Do'a orang miskin tidak ada hijab antara dia dan Allah. Nabi SAW., bersabda: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang² lemah (miskin) mereka di antara mereka, yaitu dengan Do'a, Shalat, dan Keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178.

Karenanya Empat pilar ini harus berjalan bersama. Ilmu tanpa keadilan akan kering. Kekuasaan tanpa kedermawanan akan zalim. Kekayaan tanpa kepedulian akan membawa murka. Dan masyarakat yang meremehkan orang miskin akan kehilangan keberkahan.

Setiap kita memiliki peran penting dalam menegakkan pilar kehidupan di dunia ini sesuai posisi dan porsinya masing-masing, karenanya kita musti segera sadar bahwa, وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ dan setiap hamba dalam hidupnya di dunia tidak luput dari pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya. Mulai dari aktivitasnya, kegiatannya, pekerjaannya, pergaulannya, termasuk anggota badannya terhadap apa yang mereka perbuat. Rosululloh Muhammad SAW, bersabda: لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) "Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya mengenai empat perkara: (1) Umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) Jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) Ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) Hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan" (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Pertama yang akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat kelak adalah umur kita عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ Sejak kita menginjak usia baligh, seluruh apa yang kita yakini, kita ucapkan dan kita perbuat, akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Jika kita telah melakukan seluruh kewajiban dan menjauhkan diri kita dari semua yang diharamkan, maka kita akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, jika tidak, maka kita akan binasa dan merana.

Kedua, kita akan ditanya mengenai jasad kita وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ Jika seluruh anggota badan kita gunakan untuk berbuat ketaatan kepada Allah, maka kita akan senang dan beruntung. Sebaliknya, jika kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita akan rugi dan buntung.

Ketiga, kita akan ditanya mengenai ilmu kita وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ Kita akan ditanya, apakah kita telah mempelajari bagian ilmu agama yang fardlu ain untuk kita pelajari atau tidak. Dan jika kita telah mempelajarinya, apakah sudah kita amalkan ataukah tidak. Ilmu agama yang hukum mempelajarinya fardlu ain adalah seperti dasar-dasar ilmu syari'at (aqidah, fiqih "hukum dasar terkait bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, maksiat-maksiat anggota badan dan lain sebagainya). Dalam sebuah hadits diriwayatkan: وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ“Sungguh sangat celaka orang yang tidak belajar (ilmu agama yang fardlu ain), وَوَيْلٌ لِمَنْ عَلِمَ ثُمَّ لَا يَعْمَلُ dan sungguh sangat celaka orang yang mempelajarinya tetapi tidak mengamalkannya.”

Keempat, kita akan ditanya mengenai harta وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ dari mana kita memperolehnya dan untuk apa kita belanjakan. Dalam masalah harta, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua celaka dan satu yang selamat. Dua golongan yang celaka pada hari kiamat adalah mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram atau dari sumber yang haram, dan mereka yang mengumpulkan harta dengan cara yang halal tapi membelanjakannya untuk hal-hal yang diharamkan, sementara golongan yang selamat adalah golongan manusia kaya yang cara dapat dan penggunaannya halal. Rosullullah SAW bersabda: نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ) “Sebaik-baik harta adalah harta milik orang yang sholeh.” (HR Ahmad dalam al-Musnad).

Kesimpulan: Ulama' kita, guru-guru kita senantiasa wewanti-wanti kita agar menggunakan kesempatan hidup ini untuk ikut berjuang sesuai hadist Rosululloh: مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِمَالِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِقُوَّتِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِعِلْمِهِ "Barangsiapa memiliki harta, maka sedekahlah dengan hartanya. Barangsiapa memiliki kekuasaan (kekuatan), maka sedekahlah dengan kekuatannya. dan Barangsiapa memiliki ilmu, maka sedekahlah dengan ilmunya"

Demikian, semoga manfaat.