Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Rahasia mengubah sudut pandang

Hidup ini menyenangkan kalau kita melihat dengan sudut pandang yang benar. "Bahagia akan menjadi tidak sederhana kalau kita memiliki ekspektasi melampaui reality" Ketika kehidupan memberi kita episode yang menyakitkan, jangan khawatir, karena kita tidak akan selamanya dalam episode terluka, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ "Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ "Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" Dengan begitu, setiap amal menjadi ibadah, setiap gerak menjadi pengabdian.

Sudut pandang adalah "kacamata, sudut pandang atau perspektif yang kita gunakan untuk melihat kenyataan. Jika kacamatanya kotor, maka dunia akan terlihat suram, kabur, kumuh dan buruk. Sebaliknya, jika kacamata itu jernih, maka perkara yang pahit dan pelik bisa terlihat baik, menyenangkan dan istimewa.

Para ulama' kita mengistilahkan Sudut pandang dengan kata "Wijhatun nadhor" (وجهة النظر) Secara harfiah, kata wijhatun (وجهة) berarti "tujuan", "arah", "muka", atau "kiblat", Sementara kata nadzhor (نَظَرَ ) berasal dari akar kata yang berkaitan dengan "melihat" atau "memandang". seperti yang disebutkan dalam QS Al-Baqarah 148: وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ "Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada,

Karena itu kita musti mengambil inisiatif untuk memperbaiki situasi, bukan hanya pasif dalam keluhan dan keterpurukan: اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ Bahwa Alloh tidak akan mengubah keadaan kita sampai kita sendiri yang mau berubah.

Lantas, bagaimana cara mengubah sudut pandang agar hidup kita lebih tenang?

Pertama: Ganti Keluhan dengan Perilaku Sabar dan Sholat.

Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa dalam menghadapi masalah, manusia diperintahkan untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar" (Ceritakan Peristiwa Sebelum Isro' Mi'roj).

Sikap: Menahan diri dari mengeluh, memperkuat iman, dan menjadikan sholat sebagai sarana komunikasi dan ketenangan hati. 

Kedua: Ubah Keluhan dengan Rasa Syukur.

Keluhan sering kali muncul karena kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim 7: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ Dari ayat ini sesungguhnya kita di ajarkan untuk melihat apa yang sudah ada, bukan apa yang tidak ada.

Karena itu, pembiasaan untuk bersyukur adalah cara paling efektif untuk mengubah pola pikir yang negatif menjadi pola pikir yang positif. Misalnya: Jika hari ini turun hujan, jangan hanya melihat beceknya, tapi lihatlah kesegaran untuk bumi dan penghuninya sebagai akibat dari hujan.

Alloh SWT. berfirman: وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ Karena itu guru-guru kita mengajak kita untuk ينظر بعين الرحمة memandang segala sesuatu dengan tatapan rahmat (kasih sayang) sehingga kita tidak mudah untuk bersu'udzon kepada apapun yang terjadi pada kita.

Seringkali kita merasa terpuruk karena memandang ujian sebagai Punishment, Padahal tidak seperti itu konsep seharusnya, Dalam Hadis Qudsi, Rasulullah SAW., bersabda: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku" dan Rahasianya sederhana: Jika kita memandang ujian sebagai bentuk kasih sayang dan penghapus dosa, maka Allah akan memberikan ketenangan dan jalan keluar. وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ Namun, jika kita berprasangka buruk, maka kesempitan yang akan kita rasakan. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ 

Sikap: Fokus pada Ni'mat yang ada, bukan pada kekurangan, untuk menarik lebih banyak kebaikan dalam hidup.

Ketiga: Ganti Keluhan dengan Keyakinan akan datang Kemudahan.

Al-Qur'an memberikan jaminan bahwa setiap kesulitan pasti akan diikuti oleh kemudahan, yang seharusnya menghilangkan keputusasaan dan keluhan. Alloh SWT., berfirman: فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ "sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan" اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ "Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan".

Sikap: Optimis, percaya akan janji Allah, dan tidak berputus asa saat menghadapi ujian ان الله لا يخلف الميعاد

Al-Qur'an memandang bahwa berkeluh kesah adalah sikap yang bertentangan dengan iman, maka dengan peristiwa Isro' dan Mi'roj kita harus terdorong untuk memiliki sudut pandang dan tindakan positif, bersabar dalam semua hal dan keadaan, senantiasa bersyukur, dan jangan lupakan Sholat sebagai perwujudan dari meneladani hikmah dani Isro' Mi'roj.

Perubahan nasib di mulai dari perubahan diri sendiri, termasuk cara kita berpikir, maka mulai hari ini, kita ganti lensa negatif kita dengan lensa penuh harapan dan husnudzon (berprasangka baik), kepada Allah, meyakini bahwa setiap satu kesulitan akan diiringi oleh dua kemudahan فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا karena itu beranilah mengubah "pola pikir" agar Allah SWT., mengubah "pola hidup" kita.


Teruslah berbenah menjadi lebih baik

Betapa banyak nikmat yang Alloh curahkan, tapi sering kita lalai untuk bersyukur, Betapa banyak dosa dan kekhilafan yang kita lakukan, namun Alloh masih memberi kita kesempatan hidup hingga hari ini.

Karena itu, diawal tahun ini mari kita awali dengan semangat baru berupaya maksimal meningkatkan dan menguatkan keimanan kita.: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak²nya.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Dengan dzikir, hati yang gelisah menjadi tenang, dosa kemaren diampuni, dan hidup kedepan diarahkan kepada tujuan yang hakiki: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Siapa sih yang tidak mau menjadi orang yang lebih baik? Kita semua pasti ingin terus berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Tapi, bagaimana caranya.

Langkah pertama untuk menjadi orang yang lebih baik adalah dengan mengenali diri sendiri. Apa kelebihan dan kekurangan kita?

Kenali Diri Sendiri. من عرف نفسه فقد عرف ربه

Al-Qur'an sering kali mengajak kita untuk merenung dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya, dalam QS. Adz-Dzariyat 20-21, Allah berfirman: وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ dan (juga) pada dirimu sendiri, Apakah kamu tidak memperhatikan?"

Ayat ini menekankan pentingnya memperhatikan diri sendiri sebagai bagian dari penciptaan Allah yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Manusia Diciptakan dalam Bentuk yang Sebaik-Baiknya, QS. At-Tin 4: لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan dengan potensi dan keistimewaan yang unik, yang merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah.

Al-Qur'an juga mengajarkan pentingnya kesadaran akan kelemahan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna: يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا "Alloh hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa 28).

Sadar akan kelemahan seharusnya mendorong kita untuk selalu bergantung kepada Allah dan mencari kekuatan dalam iman dan takwa.

Setelah kita paham kelebihan dan kekurangan, selanjutnya kita musti paham tujuan hidup yang ingin kita capai.

Tetapkan Tujuan yang Jelas.

Bahwa tujuan hidup manusia tiada lain adalah menunaikan penghambaan dan pengabdian وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ sehingga dalam penghambaan dan pengabdian itu kita diharapkan melaksanakannya dengan bahagia (karena Rahmat) قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ karena Apa pun yang kita lakukan dalam hidup, tujuan utamanya adalah membuat kita bahagia pada akhirnya, karena هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Setelah tahu bahwa tujuan hidup itu penting, kita juga perlu membuat rencana bagaimana caranya mencapai tujuan.

Buatlah Rencana dan Ambil Tindakan.

Kita perlu membuat langkah² kecil yang konkret dan realistis, karena Menjadi orang yang lebih baik bukan hanya tentang pengembangan diri, tapi juga tentang meningkatkan kompetensi dan memaksimalkan potensi diri.

Lalu Bagaimana caranya? Belajar belajar dan belajar., sebagaimana sabda Rasulullah SAW., مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ "barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Alloh SWT akan memberi pemahaman dalam agama" dan Teruslah semangat dan Jangan hanya berdiam diri! Ambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan, Lakukan langkah-langkah kecil yang sudah kita rencanakan.

Lakukan Evaluasi diri sembari terus Berbenah.

Setiap langkah yang kita ambil adalah proses belajar, untuk mengukur keimanan dan ketaqwaan, yang mencakup ranah kognitif (ilmu), afektif (sikap dan perasaan “kesabaran, syukur”), dan psikomotorik (Perbuatan nyata, Amal), dengan tujuan utama agar manusia memperbaiki diri menuju ketakwaan.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata: وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا “dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak. Mengapa? Karena dengan mengevaluasi diri sendiri secara berkala manusia akan mengenali kekurangan²nya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan.

Jangan Mudah Menyerah.

Menjadi orang yang lebih baik itu bukan proses yang mudah. Akan ada banyak tantangan dan rintangan yang harus kita lalui. وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ Jangan mudah menyerah! Teruslah berjuang dan pantang putus asa.

Bersabar dan teruslah Bersyukur.

Bersyukurlah atas setiap kemajuan yang kamu capai, sekecil apapun itu. Bersabarlah dalam prosesnya. Menjadi orang yang lebih baik membutuhkan waktu dan usaha. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dari QS Ali Imron/200 ini sesungguhnya kita telah diajarkan tentang: اصْبِرُوا Bersabar: Sabar dalam menjalankan perintah Allah (taat) dan menjauhi larangan-Nya (meninggalkan maksiat), serta sabar menghadapi cobaan dan musibah. صَابِرُوا Kuatkan Kesabaran: Tidak hanya bersabar, tapi juga memperkuat kualitas kesabaran, bahkan berlomba dengan musuh dalam kesabaran agar tidak kalah. رَابِطُوا Tetap Siap Siaga: Siap siaga untuk berjihad dan menjaga agama, juga dapat diartikan sebagai waktu menunggu sholat. وَاتَّقُوا Bertaqwa: Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam segala keadaan. Yang tujuanya adalah لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Agar Beruntung: Hasil dari melaksanakan perintah adalah keberuntungan, yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (surga).

Saudaraku, teruslah berbenah, Jangan menjadikan kesempatan Hidup kita ini untuk hal² yang tak membawa manfaat (memutar-mutar urusan orang lain tanpa sebab sesuai syari'at): وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ "Allah SWT senantiasa menolong hamba-nya selama hamba itu mau menolong saudaranya"

Maka gunakanlah tangan dan kesempatan kita untuk Terus berbenah menjadi lebih baik, menolong saudara² kita sehingga Alloh menjadikan kita sebagai orang-orang yang terus beruntung أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Antara Ni'mat dan Musibah

Tidak terasa, 2025 telah usai kita lewati dan saat ini kita berada pada periode awal 2026, Rosululloh Muhammad SAW bersabda;

لا تقومُ السَّاعةُ حتَّى يتقارَبَ الزَّمانُ ، فتَكونُ السَّنةُ كالشَّهرِ، والشَّهرُ كالجُمُعةِ ، وتَكونُ الجمعةُ كاليَومِ، ويَكونُ اليومُ كالسَّاعةِ،

.... وَتَتَقاَرَبُ الأَسْوَاقُ .....

Maka kita patut untuk terus bersyukur atas segala anugerah, Karunia dan Ni'mat dari Tuhan yang ada di setiap episode kehidupan kita.

Alloh SWT berfirman: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Bagi sebagian kita, menganggap bahwa Rizki, kehidupan duniawi ini sangat mengasyikkan, sehingga sebagian dari kita mengingkari hari kebangkitan dan hari pembalasan. Coba lihat (anak kecil yang tengah bermain hingga lupa waktu).

Artinya semakin kita terlena atas An-ni'mat, maka semakin banyak pula kepuasan dan kesenangan yang kita peroleh. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan apapun dari yang kita lakukan.

Oleh karenanya semakin dewasa, kita musti bisa membedakan antara An-ni'mat (النعمة) dan an-niqmah (النقمة), dua kata (mirip dalam sebutan) tetapi dalam bahasa Arab yang memiliki makna yang berlawanan.

An-ni'mah (النعمة) berarti (nikmat, karunia, atau kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia). Sementara An-niqmah (النقمة) berarti (petaka, siksa, hukuman, atau musibah yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai balasan atas kesalahan atau dosa).

Lalu!!! Apakah rezeki yang sejauh ini kita gunakan bukan merupakan nikmat (sebaliknya) petaka?, tentu kesemuanya bergantung pada dampak yang ditimbulkan terhadap orang yang menerima rezeki itu. (Apakah dengan rezeki itu lantas bisa tetap bersyukur? -khidmah, taat, ibadah).

Alloh SWT berfirman: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."

Syekh asy-Sya'rawi (Tilkal Hiya Al-Arzaq) menjelaskan¹:

الْمَالُ إِذَا جَاءَ لِيُطْغِيَكَ فَيَكُونُ نِقْمَةً وَلَيْسَ نِعْمَةً، وَإِذَا كَانَتْ قِلَّةُ الْمَالِ تَمْنَعُ طُغْيَانَكَ فَهِيَ نِعْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِقْمَةً، وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (كلا إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى)

Jika harta datang untuk membuatmu melampaui batas (dengan maksiat), maka itu adalah bencana dan bukan nikmat. Dan jika sedikitnya harta dapat mencegahmu dari perkara buruk (dalam agama), maka itu adalah nikmat, bukan bencana. Sebab itulah Allah SWT berfirman: كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ، أَن رَّآهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS. Al 'Alaq [96]:6–7)

Jadi, ketika rezeki dapat membawa kepada kebaikan, maka itulah sebenar-benarnya nikmat. Sebaliknya, bila suatu rezeki justru menjerumuskan seseorang pada keburukan, itulah hakikat dari petaka (istidroj-jebakan).

Allah SWT mengingatkan kita: سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ “akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-‘Araf 182-183).

Banyak orang yang terjebak dalam istidraj karena mereka merasa bahwa kenikmatan yang mereka dapatkan adalah anugerah yang memuliakan. Padahal, sebenarnya kenikmatan tersebut adalah sebuah ujian yang harus dihadapi. Istidraj bisa membuat manusia lupa kepada Allah SWT dan merasa bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya lagi. Istidraj seringkali menipu manusia dengan mengalihkan perhatian mereka dari kebenaran yang sebenarnya dan membutakan mereka terhadap bahaya yang mengintai di balik kenikmatan yang mereka rasakan. Contoh dari Istidraj dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang yang gemar melakukan maksiat, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan.

Asy-Sya'rawi melanjutkan penjelasannya: وَاللَّهُ لَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ مِنَ الْمَالِ مَا تَحْسَبُهُ أَنَّهُ أَغْنَاكَ عَنِ اللَّهِ فَتَطْغَى، وَهَذِهِ نِقْمَةٌ وَلَيْسَتْ نِعْمَةً، إِذَا فَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهِ إِن شَاءَ» Allah tidak ingin memberimu harta yang kamu duga bisa membuatmu berkecukupan (mandiri dari Allah) sehingga malah mengakibatkanmu melewati batas (agama) Ini adalah petaka, bukan nikmat.

Allah SWT berfirman: فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ ٱللّٰهُ مِن فَضْلِهِۦٓ إِن شَآءَ ۚ" ... maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki." (QS. At-Taubah [9:]28).

وَفِي ذَلِكَ إِبْقَاءٌ لِطَلَاقَةِ قُدْرَةِ اللَّهِ فِي الْكَوْنِ حَتَّى يَكُونَ الْإِغْنَاءُ لَيْسَ بِالْمَادَّةِ وَحْدَهَا وَلَا بِالْمَالِ وَحْدَهُ، وَلَكِنْ بِالْقِيَمِ أَيْضًا فَلَا يَذْهَبُ الْمَالُ قِيَمَ السَّمَاءِ وَلَا يُبْعِدُ عَنْ مَنْهَجِ اللَّهِ، وَيُؤَكِّدُ هَذَا قَوْلُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «إِنَّ اللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ» أَيْ عَلِيمٌ بِالْأَمْرِ الَّذِي يَصْلُحُ لَكُمْ حَكِيمٌ فِي وَضْعِ الْعَطَاءِ فِي مَوْضِعِهِ، وَالْمَنْعِ فِي مَوْضِعِهِ.

Hal tersebut merupakan bentuk pemeliharaan laju kekuasaan Allah di alam semesta sehingga kekayaan bukan hanya dengan materi dan harta benda semata, tetapi juga dengan adanya nilai-nilai luhur; (Menghargai pendapat orang lain, Kerja keras, Rendah hati, Mengutamakan persatuan, Rela berkorban, Melaksanakan keputusan bersama), sehingga harta tidak sampai menghilangkan nilai-nilai samawi (agama), dan tidak jauh menyimpang dari jalan ketetapan Allah.

Allah SWT berfirman: إِنَّ ٱللّٰهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. At Taubah:28)

Artinya, Allah Mengetahui apa yang membawa kebaikan untukmu, dan Maha Bijaksana dalam memberikan apa yang tepat sesuai posisinya, dan menahan apa yang tepat sesuai plotnya (alur cerita). وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sebagai penutup: bahwa Peralihan tahun adalah momentum yang tepat untuk kita bertekad dan bertransformasi menjadi insan yang lebih baik, dengan cara memohon ampun atas semua kekhilafan kita pada tahun sebelumnya, انَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di sepanjang tahun yang baru ini.

______________

¹ Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi, Tilka Hiya al-Arzaq, hlm. 60.

Introvert, Ekstrovert, Ambivert dan Otrovert

Selama ini, kita hanya mengenal tiga tipe kepribadian manusia, yaitu introvert, ekstrovert, dan ambivert. Namun, nyatanya ada tipe kepribadian lain yang disebut otrovert.

Istilah tipe kepribadian ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater asal Amerika Serikat, Rami Kaminski melalui bukunya berjudul “The Gift of Not Belonging” yang dirilis pada 2025.

Kata otrovert berasal dari bahasa Spanyol “otro” yang berarti “lain” atau “other

Perbandingan fleksibilitas Otrovert dan tiga tipe kepribadian lain yang sebelumnya:

  1. Introvert lebih nyaman menyendiri dan cepat lelah saat bersosialisasi.
  2. Ekstrovert mendapatkan energi dari interaksi sosial dan merasa jenuh jika terlalu lama sendiri.
  3. Ambivert berada di tengah-tengah, menyeimbangkan fleksibilitas keduanya secara alami. Sedangkan
  4. Otrovert berada di posisi yang lebih fleksibel, di mana mereka bisa menikmati keduanya secara seimbang.
  5. Ambivert; Gabungan sifat introvert dan ekstrovert, Otrovert; Orang dengan orientasi ketahanan emosional.

Ciri umum Otrovert:

  1. Lebih nyaman dalam interaksi satu lawan satu dibanding di kerumunan besar.
  2. Selektif dalam memilih hubungan atau lingkungan sosial dan Menolak kepatuhan pada aturan atau tradisi kelompok.
  3. Memiliki ketahanan emosional dan berpikir bebas.
  4. Punya prioritas koneksi yang mendalam bukan dalam keramaian.
  5. Fleksibel tapi perlu waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi.

Seorang Otrovert sangat sulit diikat oleh aturan atau tradisi yang dibuat oleh kelompok. Kalau ada kegiatan yang menuntut loyalitas buta, yaitu patuh tanpa mikir panjang atau mempertanyakan logikanya, mereka biasanya akan memilih menjauh.

Inti dari ciri ini adalah penolakan terhadap identitas kolektif. Mereka lebih memilih untuk diidentifikasi sebagai individu dengan nilai-nilai pribadi, bukan sebagai "bagian dari X Group." Ini membuat mereka menjadi sosok yang tangguh dan resilien, sebab mereka tidak pernah menempatkan harga diri atau rasa memiliki pada persetujuan orang banyak.

Memahami konsep otrovert membantu kita melihat bahwa kepribadian manusia gak cuma terbagi jadi dua atau tiga tipe. Kalau kamu merasa ada di antara introvert dan ekstrovert, nyaman sendiri tapi juga suka ngobrol mendalam, mungkin kamu seorang otrovert. Kamu bisa peduli sama orang lain tanpa kehilangan batas diri, dan itu hal yang bagus.

Alhasil, Otrovert tidak berada di tengah-tengah dua kepribadian (Introvert dan Ekstrovert) melainkan di luar spektrum. Otrovert beradaptasi bukan karena pengaruh lingkungan, melainkan karena dorongan pribadinya. Mereka juga cenderung merasa nyaman menjadi orang luar (outsider) dan memiliki cara berpikir yang sering kali berbeda dari kebanyakan orang kebanyakan.

Bulan Rojab sebagai momentum refleksi diri

Bulan Rojab hadir sebagai pengingat untuk kembali merefleksikan diri, menata hati (introspeksi), memperbanyak pertaubatan, memperhalus Akhlaq, dan menumbuhkan rindu menuju Romadhon. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Bulan Rojab adalah bulan istimewa dan mulia, yang merupakan salah satu dari empat bulan-bulan suci lainnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Imam Ibnu Katsir menjelaskan (tafsirnya), kata: اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتُ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab yang biasa diagungkan oleh Bani Mudhor (kelompok suku Arab Utara yang paling kuat) yang kedudukannya diantara Jumadil Tsani dan Sya'ban."
Rasulullah SAW menyebut: Rojab Mudhor, (karena posisinya di antara Jumad dan Sya'ban), disebut Rojab karena diambil dari kata Tarjib, yang artinya meng-Agungkan atau Memuliakan, sebab kaum Arab sejak dahulu telah memuliakan bulan ini.
Secara harfiah, kata Rojab (رجب) terdiri dari tiga huruf: فَرَجَبُ ثَلاَثَةُ أَحْرُفٍ، رَاءٌ وَجِيْمٌ وَبَاءٌ. فَالرَّاءُ رَحْمَةُ اللهِ، وَالْجِيْمُ: جُوْدُ اللهِ، وَالْبَاءُ: بِرُّ اللهِ“Rojab memiliki tiga huruf, yaitu ro’; jim; dan ba’. Ro’ berarti rahmat Allah, Jim berarti kedermawanan Allah, dan Ba’ berarti kebaikan Allah.”
Rasulullah SAW., bersabda: « خمس ليال لا تُرَدُّ فيهنَّ الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر ، وليلة النحر » أخرجه السيوطي رحمه الله تعالى في « الجامع » : عن ابن عساكر ، عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه "Terdapat 5 malam yang tidak tertolak do'a didalamnya, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam nisfu Sya'ban, malam Jum'at, dan dua malam hari raya Idul Fitri dan Adha)"
Para ulama (Imam al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an). mengatakan bahwa: العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ "seluruh amal soleh yang dikerjakan (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rajab) akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, perbuatan maksiat dan dosa akan dilipatgandakan dosanya. Maka: اعْمَلْ لِلدُّنْيَاك بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا وَاعْمَلْ الْآخِرَةِ بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا "Beramal-lah untuk duniamu sesuai dengan lamanya kamu tinggal di dalamnya, dan juga Beramal-lah untuk akhiratmu sesuai dengan lamanya kamu nanti tinggal di dalamnya"
Disebutkan dalam QS. Al-Mu'min 39, bahwa: إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ "Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (persinggahan sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal"
Karena dunia ini hanya persinggahan, sementara akhirat adalah tujuan utamanya. maka mari kita Bijak dalam menimbang dan menggunakan waktu yang singkat ini, jangan dipertuhankan, dan yang abadi jangan dilupakan. Apa? أَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ "Laksanakanlah Sholat, tunaikanlah Zakat, dan Ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'."
Rojab adalah bulan suci yang datang sendirian, tidak beriringan dengan tiga bulan haram lainnya, yang juga memiliki nama lain, Al-Asamm (yang tuli) karena tidak terdengar suara senjata atau peperangan di dalamnya, dan Al-Asabb (yang tercurah) karena rahmat tercurahkan padanya.
Bulan Rojab hadir bukan sekadar sebagai penanda pergantian waktu, melainkan sebagai ketukan (Alarm) halus dari langit, mengajak hati kita untuk mulai bersiap, menata niat, merefleksikan diri (sudah sejauh mana pertumbuhan batin, perubahan perilaku, dan jiwa kita), memperbaiki langkah sebelum Romadhon hadir di tengah-tengah kita, dengan harapan seluruh upaya amal soleh yang kita kerjakan, misalnya (sholat) kita menjadi, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ artinya setelah melakukan ibadah kita memiliki Novelty/Kebaruan (Pola, Perilaku Ibadah) yang melahirkan berkontribusi nyata untuk ummat, Agama dan Bangsa.
Syekh Wahab bin Munabbih menyampaikan: Bahwa semua sungai (mata air) di berbagai belahan dunia ini bersambung dengan air zamzam pada bulan Rojab. Artinya Bahwa, ibadah kepada Alloh SWT., berlaku di setiap tempat, maka terus tingkatkan/biasakan ibadah dengan penuh ketaatan sepanjang waktu, lebih-lebih pada bulan Rojab ini, sekecil apapun, karena amal Sholeh yang kita kerjakan pasti akan menemukan jalan dan keberkahannya.
Maka poin penting dan utama yang musti kita amalkan di bulan Rojab ini ada dua: فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ dan وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
1. Hindari Kedzoliman dan Dosa: (denga cara Perbanyak Muhasabah diri. Segeralah bertaubat dan jauhi segala bentuk maksiat, karena dosanya menjadi lebih berat di bulan yang mulia ini).
2. Tingkatkan ketaqwaan melalui Amal Soleh, seperti: (Perbanyak sholat sunnah, laksanakan Zakat, Infaq, Sedekah, Kerja yang tulus dan ikhlas, perbanyak Do'a, Dzikir dlsbg...)
Oleh karena itu maka, mari kita gunakan bulan Rojab ini sebagai awal persiapan kita sekaligus refleksi menuju bulan Sya'ban, dan sekaligus menyambut datangnya Romadhon yang penuh keberkahan dengan terus berdo'a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ serta senantiasa mengamalkan istigfar sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW: Sayidul (raja) istigfar: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ yang isinya adalah pengakuan, penghambaan, dan ketidak sempurnaan ibadah secara khusyuk tetapi dengan pertolongan, ridho, Tuhan kita yakin dan percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baik penjaga stabilitas kehidupan dunia dan akhirat bagi kita semua.
Alloh SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الحج: 77] “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”
Maka mari kita kurangi kelalaian-kelalaian yang berulang-ulang, perbanyak Do'a, Dzikir, dan Amal kesalehan lainnya, Semoga Allah SWT., membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, untuk mempersiapkan dan menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ