Memori at PASCASARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.
STUDY ACADEMIC
STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".
MY FAMILY
BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.
MOTIVASI HIDUP
DALAM KEBINEKAAN.
FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED
TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.
Bulan Rojab sebagai momentum refleksi diri
Syekh Abdurrahman Bajalhaban
Syekh Abdurrahman Bajalhaban (Hadramaut), adalah seorang wali yang diuji dengan istri yang cerewet dan menyebalkan.
Syekh Abdurrahman Bajalhaban memiliki seorang istri yang dikenal sangat cerewet, tukang mengomel, menuntut ini dan itu, permintaan-permintaan unik yang terkadang memberatkan, seperti meminta digendong setiap naik dan turun tangga (rumah mereka tingkat) dan perilaku perilaku lain yang menyebalkan.
Meskipun dihadapkan pada ujian kesabaran yang luar biasa, Syekh Abdurrahman tidak pernah mengeluh, mendebat, apalagi membalas omelan istrinya dengan kemarahan. Beliau selalu berusaha memenuhi permintaan sang istri dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Beliau menjadikan sifat buruknya istri sebagai ladang ibadah sekaligus melatih kesabaran.
Suatu hari, Syekh Abdurrahman mungkin saking capeknya akhirnya memutuskan untuk menyendiri (berkholwat) mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Beliau lantas berpamitan kepada istrinya dan (sembari diomeli) pergi ke sebuah gua di bebukitan yang tidak jauh dari kampungnya. Di sana, beliau bertemu dengan beberapa (dua) orang soleh yang juga sedang berkholwat.
Ditengah malam yang dingin mereka merasakan lapar hingga keesokan harinya mereka tiga bersepakat untuk bergantian tugas mencari makanan, hari pertama orang pertama bertugas dan seketika setelah berdo'a, makanan turun siap makan satu nampan, demikian hari berikutnya pun demikian satu nampan, Syekh Abdurrahman takjub melihat dua orang soleh ini, di mana setiap kali mereka berdo'a memohon makanan, Alloh mengabulkannya dengan menurunkan satu nampan makanan siap santap. Setelah waktu berselang giliran tugasnya Syekh Abdurrahman. Karena penasaran, beliau mencoba berdo'a seperti orang orang soleh itu. Ajaibnya, ketika beliau Berdo'a, turun makanan dengan jumlah yang lebih banyak (tiga nampan sekaligus).
Kedua orang soleh itupun terkejut dan bertanya kepada syekh Abdurrahman, wahai syekh do'a apa yang engkau baca sehingga permintaanmu dikabulkan dengan kelebihan seperti ini. Syekh Abdurrahman pun terdiam dan tak menjawabnya (karena baru pertama kali mengalami hal itu). Akhirnya, kedua orang soleh itu berkata bahwa mereka sering bertawasul (sebelum berdo'a) kepada seorang wali yang bernama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, yang dikenal memiliki derajat tinggi karena kesabarannya menghadapi istrinya yang cerewet. Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget (dalam hatinya dan baru menyadari bahwa dirinya-lah wali yang dimaksud).
Setelah menyadari karunia Allah tersebut, Syekh Abdurrahman bajalhaban memutuskan kembali pulang ke rumah menemui istri cerewetnya, setelah beberapa waktu berlalu sang istri mengetahui bahwa suaminya adalah seorang wali, akhirnya sang istri berangsur-angsur menjadi lebih lembut dan romantis.
Dibalik kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa Allah mengangkat derajatnya Syekh Abdurrohman Bajalhaban bukan hanya karena ibadah-ibadah yang ia lakukan, tetapi juga karena kesabaran dan keridhoannya dalam menghadapi ujian rumah tangga berupa istri yang Cerewet yang penuh tuntutan dan sering menyebalkan.
Bahwa karomah turunnya makanan dari langit bukan hal yang mustahil. Dalam Al-Qur’an, kisah serupa terjadi pada sayidah Maryam binti Imron ibundanya Nabi Isa As., Allah sering memberikan makanan dari langit meski tidak ada yang membawanya. Nabi Zakaria heran ketika mendapati Maryam selalu memiliki hidangan di mihrobnya (kamar). وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ "Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrobnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan"
Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT., dalam berkehendak memberikan karomah serupa kepada para wali-Nya sebagai tanda kedekatan seorang hamba kepada-Nya.
Bulan Rojab yang Mulia
Bulan Rojab hadir sebagai pengingat umat Islam untuk kembali menata hati (introspeksi), memperbanyak pertaubatan, memperhalus Akhlaq, dan menumbuhkan rindu menuju Romadhon, Bulan Rojab adalah bulan istimewa dan mulia (Peristiwa: Pada bulan Rojab, ditiupkan Nur Muhammad kepada Sayyidah Aminah binti Wahab, Isro' Mi'roj, dlsbg...), yang merupakan salah satu dari empat bulan-bulan suci sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Imam Ibnu Katsir menjelaskan (tafsirnya): اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتُ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ "Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab yang biasa diagungkan oleh Bani Mudhor (kelompok suku Arab Utara yang paling kuat) yang kedudukannya diantara Jumadil Tsani dan Sya'ban."
Rasulullah SAW menyebut: Rojab Mudhor, (karena posisinya di antara Jumad dan Sya'ban), disebut Rojab karena diambil dari kata Tarjib, yang artinya mengAgungkan atau memuliakan, sebab kaum Arab sejak dahulu telah memuliakan bulan ini.
Secara harfiah, kata Rojab (رجب) terdiri dari tiga huruf: فَرَجَبُ ثَلاَثَةُ أَحْرُفٍ، رَاءٌ وَجِيْمٌ وَبَاءٌ. فَالرَّاءُ رَحْمَةُ اللهِ، وَالْجِيْمُ: جُوْدُ اللهِ، وَالْبَاءُ: بِرُّ اللهِ“Rojab memiliki tiga huruf, yaitu ro’; jim; dan ba’. Ro’ berarti rahmat Allah, jim berarti kedermawanan Allah, dan ba’ berarti kebaikan Allah.” (Syekh Abdul Qadir, Al-Ghunyah li Thalibi Thoriqil Haq Azza wa Jall, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], juz I, halaman 319).
Selanjutnya: فَمِنْ أَوَّلِ هَذَا الشَّهْرِ اِلىَ أَخِرِهِ مِنَ اللهِ ثَلاَثُ عَطَايَا لِلْعِبَادِ، رَحْمَةٌ بِلاَ عَذَابٍ، وَجُوْدٌ بِلاَ بُخْلٍ، وَبِرٌّ بِلاَ جَفَاءٍ“Maka dari awal keberadaan bulan (Rojab) ini hingga akhirnya, terdapat tiga pemberian (hadiah) dari Allah SWT, yaitu kasih sayang tanpa siksa, kedermawanan tanpa kikir, dan kebaikan tanpa antipati"
Dan Rojab adalah bulan suci yang datang sendirian, tidak beriringan dengan tiga bulan haram lainnya, yang juga memiliki nama lain, Al-Asamm (yang tuli) karena tidak terdengar suara senjata atau peperangan di dalamnya, dan Al-Asabb (yang tercurah) karena konon rahmat tercurahkan padanya.
Kemuliaan bulan-bulan haram (ذُو الْقَعْدَةِ ذُو الْحِجَّةِ مُحَرَّمُ وَرَجَبُ) ini membawa dua pelajaran penting bagi kita.
1. Larangan Berperang dan Menumpahkan Darah: Bahwa pada bulan-bulan ini Allah haramkan peperangan sebagai bentuk pensyariatan dan pengagungan.
2. Dilipatgandakannya Kebaikan dan Keburukan: Para ulama menetapkan bahwa amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya, dan sebaliknya, perbuatan maksiat dan dosa akan dilipatgandakan dosanya. Allah menekankan, “Janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
Oleh karena itu, Kewajiban terbesar kita di setiap bulan Rojab ini diantaranya adalah meninggalkan segala bentuk maksiat dan kedzoliman terhadap diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain, sebab kedzoliman dan dosa di waktu/bulan yang mulia ini akan menjadi lebih besar nilai keburukannya di sisi Allah SWT.
Bahwa, ibadah kepada Allah SWT berlaku di setiap waktu dan tempat. Tingkatkanlah ibadah dan ketaatan kita sepanjang tahun, dan lebih-lebih dalam ibadah pada bulan Rajab.
Tugas utama kita di bulan Rojab adalah dua:
1. Menghindari Kedzoliman dan Dosa: (Perbanyak Muhasabah diri. Segeralah bertaubat dan jauhi segala bentuk maksiat, karena dosanya menjadi lebih berat di bulan yang mulia ini).
2. Meningkatkan Amal Soleh, seperti: (Perbanyak shalat sunnah, laksanakan puasa sunnah, sedekah, do'a dan dzikir)
Sejak malam pertama bulan Rajab, segala macam do'a dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: « خمس ليال لا تُرَدُّ فيهنَّ الدعوة : أول ليلة من رجب ، وليلة النصف من شعبان ، وليلة الجمعة ، وليلة الفطر ، وليلة النحر » أخرجه السيوطي رحمه الله تعالى في « الجامع » : عن ابن عساكر ، عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه "Terdapat 5 malam yang tidak tertolak do'a didalamnya, yaitu malam pertama bulan Rojab, malam nisfu Sya'ban, malam Jum'at, dan dua malam hari raya Idul Fitri dan Adha)"
Syekh Wahab bin Munabbih menyampaikan: bahwa semua sungai (mata air) di berbagai belahan dunia bersambung dengan air zamzam pada bulan Rojab.
Oleh karenanya Mari kita gunakan bulan Rojab ini sebagai awal persiapan kita sekaligus refleksi menuju bulan Sya'ban, dan sekaligus menyambut datangnya Romadhon yang penuh keberkahan dengan terus berdo'a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ serta senantiasa mengamalkan istigfar sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW: Sayidul (raja) istigfar: اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau"
Alloh SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [الحج: 77] “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan (Puasa, Infaq, Sedekah dlsbg), supaya kamu mendapat kemenangan.
Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk memperbanyak amal kebaikan di bulan Rojab, termasuk Puasa (meskipun tidak ada nash secara khusus).
Disebutkan dalam hadist Shahih Muslim, no .1960: عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ "Dari Utsman bin Hakim Al Anshori bahwa ia berkata: Saya bertanya kepada sahabat Sa'id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa"
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim menyatakan bahwa tidak ada nash yang secara khusus menyebutkan sunnah ataupun larangan terkait puasa Rajab, sehingga hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya.
Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra menyebutkan bahwa meskipun hadits tentang keutamaan puasa Rojab tidak shohih, sebagian besar berstatus dha'if tetap boleh diamalkan dalam konteks fadha'ilul a'mal (keutamaan amal kebaikan).
Do'a yang diminta oleh Syekh Abdul Qadir Jilani pada malam pertama bulan Rajab: اِلٰهِيْ؛ تَعَرَّضَ لَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُونَ، وَقَصَدَكَ الْقَاصِدُونَ، وَأَمَّلَ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ الطَّالِبُونَ؛ وَلَكَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ نَفَحَاتٌ وَجَوَائِزُ، وَعَطَايَا وَمَوَاهِبُ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ، وَتَمْنَعُهَا مِمَّنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، وَهٰأَنَذَا عَبْدُكَ الْفَقِيرُ إِلَيْكَ، الْمُؤَمِّلُ فَضْلَكَ وَمَعْرُوفَكَ؛ فَإِنْ كُنْتَ يَا مَوْلايَ تَفَضَّلْتَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَجُدْتَ عَلَيْهِ بِعَائِدَةٍ مِنْ عَطْفِكَ، فَصَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، وَجُدْ عَلَيَّ بِطَوْلِكَ وَمَعْرُوفِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Di bulan Rojab ini, mari kita kurangi kelalaian yang berulang-ulang, perbanyak Do'a, Dzikir, dan Amal kebaikan lainnya, Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menguatkan iman kita, dalam mempersiapkan dan menyambut bulan-bulan penuh keberkahan berikutnya اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT
SAMBUTAN PADA ACARA PEMBAGIAN RAPORT
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi/siang Bapak/Ibu orang tua yang saya hormati.
1. Pembukaan & Apresiasi.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir pada kegiatan pembagian rapor hari ini. Kehadiran Bapak/Ibu menunjukkan perhatian besar terhadap tumbuh kembang anak. Kami sangat menghargainya.
2. Tujuan Pertemuan.
Hari ini kita bukan hanya mengambil rapor, tetapi juga melihat bersama bagaimana perkembangan anak selama satu semester. Raport ini bukan penilaian benar-salah atau pintar-tidak pintar, tetapi catatan proses belajar sesuai tahap perkembangan mereka.
3. Informasi Perkembangan Anak.
Secara umum, anak-anak menunjukkan perkembangan yang baik. Ada yang sangat menonjol di aspek sosial-emosional, ada yang kuat di bahasa atau motorik, dan ada juga yang butuh waktu lebih dalam beberapa kemampuan. Itu semua wajar, karena setiap anak punya ritme tumbuhnya masing-masing.
4. Penekanan yg Tegas tapi Tetap Santai.
Kami berharap Bapak/Ibu wali murid tidak membandingkan anak dengan teman yang lain. Fokus kita adalah mendampingi mereka sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Bila ada catatan pada rapor, itu bukan teguran, melainkan panduan agar kita bisa bekerja sama memberikan stimulasi yang tepat.
5. Kerja Sama Sekolah & Orang Tua.
Kami mengajak Bapak/Ibu untuk terus bersinergi dengan sekolah. Komunikasi tetap terbuka-baik tentang perkembangan anak, kebiasaan di rumah, maupun hal-hal kecil yang perlu diperhatikan bersama.
6. Penutup.
Demikian Semoga manfaat dan pertemuan hari ini membawa pemahaman yang baik dan suasana yang baik kedepannya.
Terima kasih atas kerja sama yang selama ini Bapak/Ibu berikan. Mari terus mendampingi anak-anak kita bertumbuh dengan bahagia.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Pengertian Sabar dalam beberapa prespektif
Pengertian Sabar dalam beberapa prespektif:
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab I'ddah ash-Shabirin wa Dzakhirah ash-Syakirin, secara bahasa Sabar (الصبر) memiliki arti dasar "المنع والحبس" (Mencegah dan Menahan).
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hakikat sabar secara global dapat diartikan: خُلُقُ فَاضِلٌ مِنْ أَخْلاقِ النَّفْسِ يَمْتَنِعُ بِهِ مِنْ فِعْلِ مَا لَا يُحْسِنُ وَلَا يُجْمِلُ وَهُوَ قُوَّةٌ مِنْ قُوَى النَّفْسِ الَّتِي بِمَا صَلَاحُ شَأْنِهَا وَقِوَامُ أَمْرِهَا "Suatu akhlak mulia dari sejumlah akhlak jiwa yang mampu mencegah terjadinya tindakan yang tidak baik dan tidak elok. Sabar juga merupakan sebuah kekuatan jiwa yang dengannya segala urusan jiwa menjadi baik dan lurus. "
Adapun Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumiddin mendefinisikan sabar sebagai: ثَبَاتُ بَاعِثِ الدِّينِ الَّذِي هُوَ فِي مُقَابَلَةِ بَاعِثِ الشَّهْوَةِ وَثَبَاتُ بَاعِثِ الدِّينِ حَالٌ تَثْمِرُهَا الْمَعْرِفَةُ بِعَدَاوَةِ الشَّهَوَاتِ وَمُصَادَاتِهَا لِأَسْبَابِ السَّعَادَاتِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ "Kokohnya (menangnya) pendorong (motivasi) agama dalam menghadapi motivasi syahwat, yakni kukuhnya motivasi agama itu dihasilkan oleh pengetahuan akan permusuhan dan perlawanan syahwat terhadap sebab-sebab kebahagiaan dunia akhirat."
Imam al-Ghazali juga menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang diharamkan. واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا الصبر محرم "Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan"
Bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan.
Firman Alloh SWT dalam Az-Zumar, 10 sebagaimana pandangan tafsir jalalain: اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ (على الطاعة وما يبتلون به) اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (بغير مكيال ولا ميزان) "Sesungguhnya hanya orang- orang yang bersabarlah (dalam ketaatan dan dalam menghadapi ujian) yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (tanpa ukuran atau timbangan)"
Bahwa sabar dibagi menjadi tiga jenis:
1. Sabar atas Ketaatan (الصبر على الطاعة): Yaitu dengan istiqomah dan terus-menerus (دَوَام) dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
2. Sabar dalam menjauhi Kemaksiatan (الصبر عن المعصية): Yaitu dengan istiqomah dan terus-menerus (دَوَام) dalam meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah.
3. Sabar atas Musibah/Bala' (الصبر على البلاء) Cobaan / Ujian / Musibah tetap harus disikapi dengan sabar. Hati harus Qonaah (menerima). Yakinlah bahwa ujian yang diberikan pada makhluk sudah disesuaikan dengan kadar kemampuan hambanya.










