Empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW انتقل الى رفيق الاعلا, umat yang sekarang tidak pernah melihat fisik dan bagaimana Nabi hidup. Umat sekarang hanya mewarisi cerita-cerita kemuliaan Nabi lewat haditsnya dan cerita para sahabat-sahabatnya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam mahfudhot disebutkan “مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ ذِكْرُهُ” “siapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan sering mengingatnya atau menyebutnya.”
Sepanjang sejarah kehidupannya, Nabi Muhammad SAW., mendedikasikan hidupnya untuk menegakkan agama Alloh dan mendidik umatnya, tentang Kepedulian, dan Rosululloh Muhammad SAW sangat mencintai kita: Kecintaannya kepada kita ditunjukkan hingga akhir hayatnya, menjelang terpisahnya roh dari jasad yang terlintas dari benaknya hanyalah umatnya, bukan keluarganya, apalagi hartanya.
Dalam kitab shahih Imam Ibn Hibban diriwayatkan, bahwa Nabi berdo'a kepada Allah: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنَبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ، مَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ “Ya Allah, ampunilah ‘Aisyah, seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi,” (HR Ibn Hibban). واللهِ إنَّها لَدعائي لِأُمَّتي في كلِّ صلاةٍ “Demi Allah, itulah doaku untuk umatku setiap sholat,” (HR Ibn Hibban).
Firman Alloh dalam QS. Al-Taubah 128: لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالـمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meningginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Kepedulian dan kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada kita sangat luar biasa, dunia dan akhirat. Maka sungguh merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mencintai beliau, karena mencintai beliau pada hakikatnya adalah mencintai Allah SWT.: قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Katakanlah (Muhammad), apabila kalian mengakui mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS. Ali Imron 31).
Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang diperintahkan untuk membimbing umat manusia, menegakkan keadilan, menyempurnakan akhlak dan meng-Esakan Alloh SWT.
Lalu bagaimana cara umat yang sekarang ini agar tetap selalu mencintai Rasululloh SAW.,? Tidak hanya sekedar mengingatnya tetapi mejadikannya sebagai sosok yang kita diidolakan.
Pertama: Ikuti Sunnahnya, Rosululloh SAW bersabda: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ "Tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan aku (Muhammad) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia" (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua: Baca dan Pahami Sejarah Hidupnya, Melalui Al-Qur'an, Hadist dan Syirohnya nabi serta bergaulah dengan orang orang soleh, ikut ngaji.
Ketiga: Membaca sholawat kepada-Nya, Sholawat selain untuk menimbulkan kecintaan, juga sebagai balas budi atas kebaikan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita, Firman Alloh:إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْما “sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzâb : 56).
Keempat, Meneladani Akhlaknya Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW berarti berusaha meniru dan menerapkan nilai-nilai luhur yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad saw diutus bukan hanya sebagai penyampai wahyu, tetapi juga sebagai teladan akhlak yang sempurna. Hal ini sebagaimana yang diwahyukan dalam QS. Al-Qalam ayat 4: وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Nabi SAW bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad).
Meneladani akhlak Nabi adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semakin kita meniru beliau, semakin mulia karakter kita di mata manusia dan Allah SWT. Sifat-sifat Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam kitab Aqidatul Awam أَرْسَلَ أَنْبِيَا ذَوِي فَطَانَهُ بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيغِ وَالْأَمَانَهُ Allah telah mengutus para nabi yang memiliki (sifat) cerdas, jujur, menyampaikan dan dipercaya, yang tidak hanya menjadi ciri khas beliau, tetapi juga pedoman bagi kita semua dalam menjalani kehidupan: FATHONAH: Cerdas; Inovatif, SHIDiQ: Jujur; Serius, TABLIGH: Menyampaikan, Memberi Pemahaman; Komunikatif, AMANAH: Dapat dipercaya; Akuntable.
Kelima, membela agama Islam. Membela agama Islam adalah salah satu bentuk nyata dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW., Orang yang benar-benar mencintai Nabi tidak hanya cukup dengan ucapan, tetapi membuktikannya lewat sikap dan tindakan dalam menjaga ajaran yang beliau bawa. Membela Islam berarti menjaga ajaran dan nilai-nilai yang Nabi Muhammad SAW., perjuangkan sepanjang hidupnya.
Membela Islam di zaman sekarang, terutama di negara yang merdeka dan damai seperti Indonesia, tidak cocok dengan senjata perang, apa lagi sampai menentengnya di jalan raya. Membela Islam di negeri ini bisa dengan menjaga ajarannya, memperbaiki akhlak masyarakatnya, dan memperbanyak menimba ilmu bagi generasi muda.
Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Hakikat cinta yang sejati menurut Imam Ghazali adalah kenikmatan cinta yang berasal dari penglihatan non fisik (batin), yakni kenikmatan hati. Kenikmatan hati yang disebabkan telah mengetahui perkara-perkara ilahiah yang mulia dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera merupakan sesuatu yang lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih besar kenikmatannya.
Dengan demikian, meskipun kita atau siapa saja tidak sezaman, dan tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad, para sahabatnya, atau kalangan salafus sholeh, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kenikmatan untuk mencintainya. Justru, meskipun mereka tidak bisa ditangkap dengan panca indera, kenikmatan untuk mencintainya akan tetap diperoleh, melalui kebaikan-kebaikan, sifat-sifat, serta ajaran-ajarannya.
Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Adapun manfaat mencintai Nabi bagi seorang mukmin diantaranya adalah, akan dikumpulkan bersamanya, meskipun ibadah-ibadah yang dilakukannya tidak sesempurna seperti ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad, diceritakan ada seorang Arab Badui bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan kiamat datang? Rasulullah berkata: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Orang Arab Badui itu menjawab: “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat-shalat dan puasa untuk menghadapi kiamat, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda: Almaru ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama orang yang dicintainya).
Dalam QS an-Nisa ayat 69 Allah SWT berfirman: وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa [4]: 69).
Tsauban adalah budaknya Rasulullah SAW. Tsauban sangat mencintai Nabi, ia tidak kuat berlama-lama berpisah dengan Nabi. Ketika diceritakan tentang akhirat, ia sangat khawatir tidak dapat bersama Rasulullah SAW di surga, karena pastinya Nabi akan bersama-sama dengan para nabi yang lain. Tsauban pun khawatir dan cemas jika tidak bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW lagi, terlebih ketika Nabi Muhammad SAW wafat.
Ayat ini menginsyaratkan kepada kita bahwa dahsyatnya perasaan cinta akan menjadikan seseorang yang mencintai itu akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Rosululloh Muhammad SAW bersabda: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ Dalam riwayat lain menyebutkan: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Bahwa menaati dan mencintai Nabi Muhammad SAW harus disertai dengan rasa cintanya dalam melaksanakan ajaran-ajarannya yang kemudian dibuktikan dengan kesholehan pribadi maupun sosial. Meskipun ibadah yang kita lakukan tidak akan sesempurna seperti ibadahnya Nabi SAW., paling tidak dengan mencintai Nabi Muhammad SAW, ibadah-ibadah yang kita lakukan akan bernilai tinggi. Inilah harapan kita semua.










