Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Meraih hikmah dalam ucapan dan tindakan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang berbicara dan bertindak tanpa pertimbangan. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam menimbang setiap ucapan dan perbuatan. Hikmah adalah karunia Allah bagi mereka yang berpikir jernih dan berhati bersih.

Allah SWT berfirman: يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا “Allah meng-anugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh, ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS al-Baqarah: 269).

Apasih Hikmah itu dan bagaimana cara mendapatkannya? Sehingga kita bisa menjadi manusia-manusia yang selamat dunia dan selamat di akhirat.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra, Apasih Hikmah itu? hikmah adalah ketepatan dalam berucap dan berbuat, kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi ketepatan dalam hal itu, maka ia telah dianugerahi kebaikan (ilmu) yang banyak.

Bahwa ilmu adalah hikmah, karena ilmu mencegah kebodohan bagi orang yang mengamalkannya. Hikmah meniscayakan tindakan yang tepat dan pada waktu yang tepat serta dengan cara yang tepat.

Hikmah adalah: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ “Tepat dalam ucapan dan tindakan.”

Hikmah adalah kekayaan hati dan jiwa. Betapa banyak orang yang kaya harta tetapi fakir ilmu dan hikmah. Bahkan, betapa banyak pemimpin yang menjerumuskan rakyatnya ke dalam berbagai kerusakan karena gaya kepemimpinan yang tidak bertumpu pada hikmah.

Di dalam kitab Tharhut Tatsrib dikatakan: الْحِكْمَةُ كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيْحِ “Hikmah adalah segala yang mencegah dari kebodohan dan menghalangi dari perilaku buruk.”

Manusia agung yang dianugerahi hikmah adalah para nabi, dan nabi yang paling agung di antara mereka adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dapat dikatakan bahwa beliau adalah imam para ahli hikmah dan manusia paling bijaksana di antara para nabi yang bijaksana.

Orang yang cerdas adalah orang yang mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah hidup para nabi, lalu mengikuti mereka dalam kemuliaan akhlak, pergaulan yang baik, dan akidah yang lurus, yakni keyakinan bahwa Allah Mahasuci dari tempat dan arah, serta Mahasuci dari keserupaan dengan makhluk.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab 21: لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡآخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Kalau kita mampu memahami situasi di sekeliling kita (lingkungan), tepat dalam menyikapi keadaan dari setiap peristiwa, selalu berupaya untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik dan benar, serta berucap dan bertindak dengan tepat, maka (dia, kita, kalian dan saya) adalah seorang hakim (bijak bestari) yang benar-benar telah dianugerahi hikmah.

Allah SWT memuji Luqman, seorang lelaki soleh, menurut pendapat lain, Luqman adalah seorang nabi, yang namanya di abadikan didalam Al-Qur’an: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah!” (QS Luqman: 12).

Salah satu kisah hikmah dari Luqman yang cukup masyhur adalah kisahnya saat menunggangi keledai dengan putranya yang memberi pelajaran penting, bagaimana hidup sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial disaat yang bersamaan.

Bahwa dalam hidup ini kita harus punya prinsip, pendirian yang kuat dan harus tegas. Lakukan saja apa yang bermanfaat bagimu dan agamamu, jangan terlalu ambil pusing dengan perkataan orang lain.

Oleh karenanya kaum muslimin pendengar RRI Fakfak yra., Betapa penting dan agungnya menjadi seorang yang bijak, yang selalu berupaya menyucikan diri dari penyakit-penyakit hati yang melekat pada jiwa kita.

Sedangkan cara untuk mendapatkan hikmah adalah dengan cara, Meneladani para nabi, karena Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi umat manusia dan memerintahkan kita semua untuk menaati mereka.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa 64: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah.”

Karena Allah telah menetapkan keselamatan dalam mengikuti jejak para nabi, maka siapa pun yang mendambakan keselamatan hendaklah menempuhnya melalui tuntunan mereka yang diwariskan kepada para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW bersabda (At-Tirmidzi): وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ “Sesungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin meriwayatkan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya: يَا بُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ، فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan dekatkanlah dirimu kepada mereka, karena Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan dari langit.”

Rasulullah SAW., bersabda (At-Tirmidzi): الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا “Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya.”

Oleh karenanya marilah kita jadikan ilmu dan hikmah sebagai bekal hidup, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Demikian, semoga manfaat dan membawa berkah bagi kita semua dan tentunya para pendengar setia Pro 1 RRI Fakfak.

Merawat Alam menghormati makhluk Alloh SWT.

Menjaga alam bukan sekadar tindakan ekologis "hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya)", tetapi juga bentuk ibadah dan rasa syukur kita kepada Allah atas amanah-Nya sebagai khalifah di bumi. Alam adalah makhluk Allah yang juga hidup, bertasbih, dan tunduk kepada-Nya. Maka merawat alam berarti menghormati ciptaan-Nya dan menunaikan tanggung jawab kita sebagai penjaga keseimbangan kehidupan.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Alam semesta yang kita pijak dan kita huni ini bukanlah benda mati yang tanpa jiwa (Rukh). Dalam pandangan Islam, seluruh alam adalah makhluk Allah yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Memiliki bentuk kehidupan sesuai kadar dan cara yang Allah kehendaki. Mereka tunduk kepada hukum Alloh, bertasbih dan memuji Alloh, meskipun! manusia sering kali tidak memahami bahasa tasbih mereka.: تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44).

Dari ayat ini kita menjadi tahu bahwa seluruh makhluk memiliki kesadaran untuk memuji Alloh. Batu, tanah, air, udara, bahkan partikel kecil yang tidak tampak oleh mata kita, semuanya hidup dalam keadaan zikir dan ketaatan kepada Alloh SWT., Alam tidak diam, dia terus berzikir, hanya saja manusia tidak dapat menangkap bahasa mereka. Kita sibuk dengan urusan dunia, sementara alam terus tunduk kepada perintah Alloh dengan caranya sendiri.

Kaum muslimin pendengar RRI yra. Apakah benar makhluk selain manusia mampu berdzikir dan saling mendo'akan antar sesama?

Ada beberapa kisah nyata tentang alam dan bukti nyata bahwa makhluk selain manusia memiliki kesadaran terhadap kebenaran dan antar sesama:

Pertama: Kisah batu yang merindukan Rosululloh, sampai ia ingin ikut bersama Rosululloh menuju langit.

Rasulullah SAW., sesungguhnya telah menunjukkan kepada kita tentang: إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ، إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ “Aku masih mengenal sebuah batu di Makkah yang selalu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi, dan aku masih mengenalnya sekarang.” (HR. Muslim).

Dari Hadits ini, sesungguhnya kita telah di tunjukkan bahwa, batu yang tampak keras dan diam itu memiliki bentuk kehidupan dan kesadaran yang Allah berikan kepadanya.

Bahwa sebagian benda mati (batu) memiliki kemampuan membedakan dan mengenal, وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ “Tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” Allah menjadikan pada setiap makhluk kemampuan mengenal dan membedakan sesuai dengan kadar yang Dia kehendaki.

Termasuk katak, dalam kitab Sunnah Imam Nasai disebutkan bahwa Rasulullah SAW., melarang membunuh katak, sebab; نَقِيقُهَا تَسْبِيْحٌ "Suara katak adalah tasbihnya."

Kedua: Kisah dua ahli kubur yang sedang disiksa ketika Rasulullah SAW., melewati dua buah kuburan.

Rosululloh SAW bersabda: اِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ اَمَّا اَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَاَمَّا الْاٰخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ "Sesungguhnya keduanya sedang disiksa dan bukanlah keduanya disiksa karena dosa besar. Salah seorang di antara keduanya tidak pernah membersihkan diri setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya gemar mengadu domba."

Setelah itu Nabi mengambil sebuah pelepah kurma, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menanamnya pada masing-masing dari dua kuburan tersebut. Dan setelah itu beliau bersabda: لَعَلَّهٗ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا "Mudah- mudahan siksanya diringankan selagi kedua pelepah kurma ini belum kering." karena keduanya tetap bertasbih selagi masih hijau warnanya; dan apabila telah kering, maka berhentilah tasbihnya.

Ketiga: Kisah lain yang juga menggambarkan bahwa alam hidup dan memiliki rasa adalah peristiwa batang pohon kurma yang menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Jabir bin Abdullah ra., disebutkan: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ، فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ كَحَنِينِ الْعِشَارِ، فَنَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ، فَسَكَنَ “Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata: Nabi SAW dahulu berkhutbah bersandar pada batang pohon kurma. Ketika beliau membuat mimbar dan berpindah ke sana, batang itu pun menangis seperti unta betina yang sedang hamil. Lalu Nabi SAW turun dan memeluknya hingga tenang.” (HR. Bukhari).

Pelajaran penting dari beberapa peristiwa yang saya ceritakan tadi adalah bahwa Allah telah menciptakan kehidupan, akal, cinta dan rasa rindu bukan sekadar mukjizat, tetapi juga pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa makhluk di sekitar kita juga hidup, dan mereka pun merasakan sesuatu sesuai kehendak Alloh SWT., maka salinglah menjaga diantara kita.

Bahwa Manusia diciptakan sebagai khalifah: وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi, meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain" Dan: هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ "Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri"

Allah mempercayakan bumi kepada kita (manusia), bukan untuk dikeruk, dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan dimakmurkan. Maka ketika manusia menebang hutan tanpa kendali, mencemari air, menumpuk sampah, dan mengotori udara, sesungguhnya ia sedang mengganggu makhluk-makhluk Allah yang sedang berzikir dan tunduk kepada-Nya.

Oleh karenanya, Marilah kita secara bersama-sama merenungkan kembali hubungan kita dengan alam. وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ "Jangan berbuat rusak dibumi, karena Alloh tidak menyukainya"

Alam adalah saudara kita dalam ketaatan kepada Allah. Ia tunduk dan berserah, sementara kita sering lalai. وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ فِيهِ الْحَيَاةَ وَالْعَقْلَ وَالشَّوْقَ، وَلِهٰذَا حَنّ "Dan ini menunjukkan bahwa Allah SWT., telah menciptakan padanya kehidupan, akal, dan kerinduan; karena itulah ia merintih (atau mengeluarkan suara rindu)"

Bagaimana menyikapi zaman yang semakin modern hubungannya dengan merawat alam semesta? Modernisasi adalah rasionalime bukan sekularisme, Modernisasi dalam Islam bukan berarti bebas kebohongan dan kebodohan, bukan (lantas) bebas dari hukum Alloh SWT. (Semua ada pertanggungjawaban nya).

Rosululloh SAW bersabda: الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

Bahwa, Alam akan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia. Tanah akan bersaksi di mana kita sujud, air akan bersaksi terhadap apa yang kita cemari, dan udara akan bersaksi atas apa yang kita lepas dan hirup.

Maka jaga mereka, karena mereka juga makhluk Allah yang sama seperti kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur dan tidak merusak bumi yang telah Dia karuniakan kepada kita.


Allah SWT sebagai tempat curhat sepanjang masa

Siapa di dunia ini yang tidak pernah merasakan sedih, kecewa, duka lantaran menghadapi cobaan yang berat.

Allah berfirman QS. Al-Ma’arij/19-20:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“manusia Sesungguhnya diciptakan dengan sifat keluh kesah. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.

Merasa tidak puas lalu curhat kepada teman dengan kondisi yang ada adalah manusiawi, tetapi sebenarnya jauh lebih baik apabila keluh kesah itu secara langsung kita sampaikan kepada Alloh SWT., melalui doa-doa kita. Itulah yang disebut munajat.

Alloh SWT., berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung"

Boleh jadi cobaan yang menimpa kita, suami/istri, anak ataupun anggota keluarga yang lain, adalah cara Alloh untuk mengukur kualitas iman kita, sebab لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا apakah kita akan sabar dan akan marah-marah, atau sebaliknya apakah kita ridho (rela) terhadap takdir Allah SWT.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak YRA., bahwa Ada dua tipe manusia di dunia ini ketika saudaranya tertimpa musibah. Pertama, adalah mereka yang peduli. Kedua, mereka yang bahagia melihat saudaranya tertimpa musibah.

Sepintas, mencurahkan problematik kehidupan kepada sesama makhluk sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya, mungkin akan banyak yang berempati terhadap musibah yang sedang menimpa kita. Mereka akan mengomentari dengan kata-kata kedamaian/pelerai duka. Lalu, setelah itu? berlalu tanpa jejak.

Curhat kepada manusia atau di sosial media tentang masalah kita adalah suatu kesalahan. Sedikit manusia atau netizen yang benar-benar tulus/peduli terhadap curhatan kita, bahkan saudara sendiripun terkadang memusuhi kita.

Memilih untuk mengadu kepada manusia atau mem-posting kesedihan di sosial media agar mendapat perhatian, simpati (itu bukan solusi). Karena pada (QS. Al-Ma’arij/22-24) ayat lanjutnya, sesungguhnya Alloh SWT telah memberi solusi atas persoalan dan cobaan hidup, اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ kecuali orang yang sholat, Sholat yang bagaimana? الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ orang yang selalu setia (istiqomah) mengerjakan salatnya. Dalam QS yang lain الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.

Dampak negatif dan bahaya mengadukan nasib (buruk) kepada orang lain: (menimbulkan fitnah, kebencian, permusuhan, dan merusak silaturahim, bahkan rentan terhadap perilaku tidak ridho atas takdir Allah).

Bahkan Imam Al-Junaid mengatakan: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ “Barangsiapa suka mengadukan kesulitannya kepada sesama manusia, maka seolah-olah ia mengadukan Tuhannya (kepada manusia). Dan barangsiapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya, maka dia menjadi orang yang membenci Allah.” (kitab: Riyadhussolihin). Demikian juga Imam Ghozali mengatakan (Ihya' Ulumuddin-hadist Qudsy):مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ Barang siapa tidak ridho dengan qadho'Ku, وَ لَمْ يَصْبِرْ عَلى بَلاَئِيْ dan Tidak bersabar atas segala cobaan-Ku, وَ لَمْ يَشْكُرْ عَلى نَعْمَائِيْ dan Tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku, وَ لَمْ يَقْنَعْ بِعَطَائِيْ dan Tidak puas (dengan apa adanya) atas segala pemberian-Ku, فَلْيَعْبُدْ رَبًّا سِوَائِي Maka sembahlah tuhan selain-Ku.

Maka jadikanlah Alloh SWT sebagai tempat pertama yang kita tuju ketika kita merasa terluka, terlantar, atau terpinggirkan. Alloh SWT bukan hanya sebaik-baiknya tempat curhat, tetapi juga sahabat terbaik yang selalu siap mendengarkan kita, tanpa syarat dan batas.

Lalu, Apakah kita tidak boleh curhat?

Tentu saja boleh. Sepanjang curhat itu tidak ada unsur “ngrasani" atau menggunjing Alloh SWT. Curhat kepada sesama manusia boleh dilakukan selama masih dalam koridor diskusi atau meminta nasihat untuk mendapatkan cara-cara terbaik untuk keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebab memang ada kewajiban untuk saling tolong menolong dan nasihat menasihati diantara sesama manusia. Artinya setiap muslim memiliki hak untuk mendapatkan nasihat tentang alternatif solusi dari kesulitan yang ada. Namun, agama mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik tempat curhat adalah Alloh SWT. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

Alloh SWT tidak hanya sebagai pencipta alam semesta, tetapi juga teman setia, yang siap mendengar keluh kesah kita. ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu" (Al-Mukmin 60).

Dalam kehidupan yang serba kompleks ini, kita sering kali merasa kesepian dan merasa tidak dipahami oleh orang lain. Namun, dalam hubungan kita dengan Alloh, tidak ada rahasia yg tersembunyi, tidak ada kata-kata yang terlupakan. Alloh SWT pasti mendengarkan setiap keluh kesah yang kita ucapkan, lebih dari itu, Alloh SWT sangat memahami setiap perasaan yang melanda hati kita. Allah SWT., berfirman: يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Alloh mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid 4).

Setiap curahan hati yang kita sampaikan adalah sebuah bentuk ibadah yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dalam setiap do'a yang kita minta kepada-Nya, akan menemukan ketenangan yang tidak pernah kita temukan dalam percakapan dengan manusia. Hati ini merasa bahagia. Jiwa pun begitu tenang. Alloh adalah tempat yang sempurna untuk berbagi kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, dan keberhasilan kita.

Alloh SWT tidak hanya mendengarkan, tetapi Dia juga memberikan jawaban dan solusi yang kita butuhkan (bukan ke-inginan).Keyakinan (iman) pada-Nya memberikan kita kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan rintangan dalam hidup. Jangan pernah merasa bahwa beban hidup ini sangat sulit. Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak bisa melewati ujian yang berat, kita musti yakin dan percaya bahwa, ujian cobaan adalah cara Allah SWT untuk mengukur sejauhmana keteguhan dan kekuatan iman dan aqidah لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا "Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebaikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada pula sesuatu (siksa) atas (kejahatan). (Al-Baqarah 286).

Lantas, Kapan waktu yang tepat untuk mencurahkan isi hati kita kepada Alloh SWT.?

Kita boleh berdo'a dimana saja dan kapan saja. اينما سقفوا Akan tetapi, ada waktu-waktu mustajab untuk berdo'a.

Allah SWT berfirman: حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ "Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusto. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk"

Rasulullah SAW,. bersabda: يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir di setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa saja yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberi, siapa saja yang memohon ampunan dari-Ku akan Kuampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa waktu yang mustajab untuk berdo'a kepada Alloh antara lain: Pada waktu Sholat Wajib maupun Sunnah, saat hujan turun, hari Jum'at, dlsbg.

Mintalah kepada Alloh hajat atau solusi untuk masalah yang sedang kita hadapi (apapun persoalanya). مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا "Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

Oleh karenanya, Mintalah apa yang terpendam dalam hati. Keluarkan segala unek-unek sebab Alloh maha mendengar. Usaha, Do'a lalu pasrah. Sebab tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Alloh SWT.

Maka, mulai saat ini tidak usah, menampakkan kesedihan, baik di dunia nyata maupun maya, curhat sana-sini padahal nggak ada yang peduli. Cukup Allah yang mengetahui segala kekurangan dan kesedihan kita. لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita." حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ Cukuplah Allah sebagai penolong sekaligus pelindung.

Sebagai penutup:

Bahwa الَدُّعَاءُ مُخُّ اْلِعبَادَةِ Do'a adalah inti sari dari ibadah, maka selalulah berdo'a dalam semua kesempatan, sebab:

مَنْ عَلَّقَ قَلْبَهُ بِالدُّنْيَا تَرَكَهُ اللهُ فِيهَا

Barang siapa yang hatinya bergantung pada dunia, Alloh akan biarkan dia sibuk dengan urusan dunianya.

وَمَنْ عَلَقَ قَلْبَهُ بِاللَّهِ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ أَبْوَابَهَا

Dan barang siapa yang hatinya bergantung pada Alloh, maka Alloh yang akan membukakan jalan keluarnya.

Oleh karenanya: الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّانَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فعليكم عباد الله بالدعاء "Do'a sangatlah bermanfaat terhadap apa-apa yang telah diturunkan, dan apa-apa yang belum diturunkan, Maka, wahai hamba-hamba Alloh, bisakanlah berdo'a.

Pentingnya Fatihah

Mengapa para kiyai selalu mengirim Fatihah untuk guru mereka dan mushonnif sebelum mengajar kitab?

Syaikh Abdul Hadi Naja Al-Abyari berkata:

Sejak dulu aku selalu melihat para guru mengirim fatihah untuk para guru mereka di awal membaca kitab-kitab ilmu, awalnya aku mengira bahwa itu hanya bentuk bakti mereka kepada para guru mereka yang telah wafat, juga sebagai wujud balas budi untuk mereka, aku tidak melihat ada “rahasia” lain disana hingga aku membaca sebuah ibarot dalam Kitab Tafsir Arrozi yaitu:

“Ruh manusia, jika dia bersifat dengan ilmu dan akhlak mulia maka ia akan menjadi kuat, dan akan semakin kuat ikatannya dengan ruh-ruh baik yang lain, maka diantara ruh itu akan saling memantulkan cahaya seperti halnya kaca-kaca yang bersinar dan saling berhadapan“

Jadi ketika seseorang mengirim fatihah untuk gurunya, dan mendoakan gurunya agar mendapat ridho dan kasing sayang Allah, kemudian ia mulai membaca kitab maka akan semakin kuat ikatan ruhnya dengan ruh gurunya, dengan itu ia akan mendapatkan barokah ruh gurunya yang membuat ia mudah memahami berbagai macam ilmu. Begitu pula ketika seseorang mengirim fatihah untuk Rasulullah SAW “.

Fadhilah Burdah

Keutamaan dan Cara mengamalkan Qasidah Burdah.

Qasidah Burdah sangat mujarab untuk pemenuhan hajat dan berbagai kepentingan.

Salah satu shalawat yang sangat masyhur di Indonesia adalah shalawat atau Qasidah Burdah. Syair yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW., pesan moral, nilai spiritual dan semangat perjuangan, yang sering dibaca saat memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Qasidah Burdah juga sering menjadi bacaan rutin di pondok pesantren dan di tengah masyarakat. Qasidah Burdah disusun oleh ulama yang sangat tersohor alim, sufi, dan sangat mencintai Rasulullah SAW., yaitu Imam al-Bushiri.

Kecintaan Imam al-Bushiri kepada Rasulullah saw sangat tampak dalam syair-syair Qasidah Burdah. Di dalamnya tidak hanya menjelaskan bagaimana cara meningkatkan spiritual dan moral, namun juga mengajarkan hakikat cinta yang sebenarnya kepada Rasulullah saw, sekaligus pengakuan bagi umat Nabi Muhammad saw dalam hal tidak punya amalan apapun yang dapat diandalkan tanpa mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Biografi Singkat Penyusun: Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Al-Bushiri kecil kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat atau sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.

Sejak kecil al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an oleh ayahnya secara langsung. Ia besar dari keluarga yang sangat mencinta ilmu. Tidak heran jika ia kemudian menjadi sosok ulama yang sangat alim. Selain dari ayahnya, al-Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu kepada para guru. Di antara gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991], halaman 13; dan Muhammad Yahya, al-Burdah Syarhan wa I'râban, [Damskus, Dârul Bairuti: 1999], halaman 6). 

Semangatnya dalam mencari ilmu menjadikan al-Bushiri sebagai ulama yang sangat alim sekaligus menjadi sufi dan sastrawan. Bukti dari keluasan ilmunya bisa dilihat dari berbagai karyanya, yaitu al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Namun yang paling terkenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yang lebih populer disebut dengan nama Qasidah Burdah.

Kemasyhuran Qasidah Burdah tidak lepas dari peran penulisnya yang sangat ikhlas dan penuh kecintaan disertai harapan syafaat kepada Rasulullah saw, sehingga menjadikan tulisannya sangat dikenal dan selalu menggema di belahan dunia. Bahkan Qasidah Burdah tidak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga menjadi salah satu kitab yang banyak disyarahi oleh ulama. Di antara ulama yang mensyarahinya adalah, Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan ulama lainnya.

Sejarah Qasidah Burdah: Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al-Baijuri diceritakan, penulisan Qasidah Burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia tidak dapat melakukan apa pun, hanya berdiam tanpa dapat melakukan apa-apa. Akhirnya Imam al-Bushiri mengisi kekosongan waktunya dengan menulis pujian-pujian indah tentang Nabi Muhammmad SAW., dengan harapan agar mendapatkan syafaat darinya, sebagaimana dijelaskan:

رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ

Artinya, “Diriwayatkan sesungguhnya Imam al-Bushiri menggubah Qasidah Burdah ini ketika sedang menderita sakit lumpuh, kemudian ia memohon syafaat kepada Allah SWT., dengannya. Lalu ketika tidur, beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW., kemudian Nabi Saw mengusap badan al-Bushiri dengan tangan yang penuh berkah, dan setelah itu al-Bushiri pun sembuh.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).

Setelah bangun dari tidurnya dalam kondisi sehat, banyak orang mendatangi rumahnya, dan kemudian berkata: “Wahai Tuanku, saya berharap Engkau bisa memberikan qasidah yang di dalamnya ada pujian kepada Rasulullah.”

“Qasidah mana yang Engkau kehendaki?”, jawab Imam al-Bushiri.

“Qasidah yang diawali dengan syair ‘amin tadzakkuri jirânin”, kata mereka.

Kemudian Imam al-Bushiri memberikannya. Setelah itu, banyak orang mengambil berkah darinya sekaligus menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Baijuri, bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan lafal-lafal yang ada dalam Qasidah Burdah dan menganggapnya memiliki otoritas untuk menyembuhkan penyakit, namun murni bertawassul kepada Rasulullah saw dengan perantara Qasidah Burdah. Lebih lanjut Imam al-Baijuri menegaskan:

أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ

Artinya, “Banyak orang mengambil berkah Qasidah Burdah dan memohon syafaat dengannya, berdasarkan prinsip bahwa permohonan syafaat dengannya bukan dengan lafal-lafalnya, akan tetapi hupada hakikatnya adalah memohon syafaat dengan Rasulullah saw.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, halaman 4).

Kelebihan qasidah yang satu ini dibandingkan dengan qasidah lain terletak dari cara penyusunannya. Imam Al-Bushiri tidak hanya menulis pujian-pujian yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw dan peningkatan spiritualitas kepada Allah, namun juga menjelaskan kelahiran Rasulullah SAW., mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, nasab dan keturunan Rasulullah SAW., mengingatkan manusia dari bahaya hawa nafsu, menceritakan Isra’ Mi’raj, menjelaskan jihad dan peperangan Rasulullah saw, juga menjelaskan tawasul dan permohonan syafaat, kemudian ditutup dengan munajat dan ungkapan perasaan hina di hadapan Allah SWT.

Sholawat Burdah adalah selawat berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW., serta mengandung nilai spiritual, pesan moral dan semangat perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini akan dijabarkan bacaan Sholawat Burdah, mulai dari lirik Arab, latin, arti dan keutamaanya.

Bacaan Sholawat Burdah Beserta Artinya Dikutip dari buku berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat oleh M. Syukron Maksum, Sholawat Burdah ditulis oleh Imam Busyiri.

Imam Busyiri merupakan seorang penyair asal Mesir. Sholawat Burdah tercipta saat Imam Al Bushiri menderita kelumpuhan dan kemudian bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi.

Di Indonesia, Sholawat Burdah dinyanyikan oleh para pelantun selawat terkenal seperti Hadad Alwi, Veve Zulfikar, hingga Sulis.

Simak bacaan Sholawat Burdah lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya berikut ini.

Sholawat Burdah:

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ

(Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk)

ِأَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِی سَلَم ِمَزَجْتَ دَمْعََا جَرَی مِنْ مُّقْلَةِِ بِدَم

(Aраkаh kаrеnа teringat tetаnggа уаng tіnggаl di "Dzі Salam". Sehingga engkau сuсurkаn airmata bеrсаmрur dаrаh уаng mеngаlіr dari matamu).

اَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ گاظِمَةِِ ِوَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِی الظَّلمَاءِ مِنْ إِضَم

(Ataukah kаrеnа tiupan angin kеnсаng уаng bеrhеmbuѕ dаrі аrаh "Kаzhіmаh". Atаu kаrеnа sinar kіlаt yang mеmbеlаh kеgеlараn mаlаm dari Gunung "Idhаm")

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَاهَمَتَا ِوَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِم

(Mengapa saat kau tahan air matamu ia tetap basah? Dan mengapa pula saat kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah?)

ٌأَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِـم ِمَا بَيْنَ مُنْسَجِمِِ مِّنْهُ وَمُضْطَرِم

(Apakah sang kekasih mengira bahwa tersembunyi cintanya. Di antara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora).

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمعاً عَلٰى طَلَلٍ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَـمِ

(Jika bukan karena cinta tidak akan kau tangisi puing-puing rumahnya. Dan tidak akan pula kau begadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung, dekat rumah orang yang engkau cintai yakni Nabi Muhammad.)

ْفَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَت بِهٖ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

(Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedang air mata dan derita telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta?)

وَأَثْبَتَ الْوَجد خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَى ِمِثْلُ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَم

(Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis yang kurus lemah. Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah)

ْنَعَمْ سَرٰى طَيْفُ مَنْ أَهْوى فَأَرَّقَنِي وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

(Benar! Ia terlintas di dalam mimpiku, hingga aku susah tidur. Cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita)

ِيَا لَائِمِيْ فِى الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَة مني إليك ولو أنصفت لم تلمِ

(Wahai para pencaci gelora cintaku! Izinkan aku memohon maaf kepadamu. Namun seandainya kau bersikap adil, niscaya engkau tidak akan mencela diriku)

عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّيْ بِمُسْـتَتِرِِ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِيْ بِمُنْحَسِمِ

(Kini kau tahu keadaanku. Bahkan rahasiaku tidak bisa tertutupi lagi bagi para pemfitnah yang mau merusak cintaku. Sedangkan penyakitku tak juga kunjung sembuh).

مَحَضْتَنِى النُّصْحَ لٰكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهٗ إنّ الْمُحِبِّ عَنِ الْعُذَّالِ فِيْ صَمَمِ

(Begitu tulus nasihatmu, akan tetapi aku tak kan pernah mendengarnya karena telinga sang pecinta tuli bagi para pencaci).

إنِّى اؐتَّهَمْتَ نَصِيْحَ الشَّيْبِ فِيْ عَذَلِيْ وَالشَّيْبُ أبْعَدُ فِيْ نُصْحِِ عَنِ التُّهَمِ

(Akupun menuduh ubanku turut serta mencercaku. Padahal ubanku pastilah tulus dalam memperingatkanku)

Keutamaan Membaca Sholawat Burdah. Membaca Sholawat Burdah diyakini dapat mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad SAW dan segala perjuangannya, sehingga membuat hati terasa lebih tenang.

Selain itu, terdapat beberapa keutamaan yang bisa didapatkan dari membaca serta mengamalkan selawat ini dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut.

Mujarab sebagai obat dari berbagai macam penyakit, Terhindar dari gangguan setan, jin, santet dan hal-hal gaib lainnya, Meningkatkan keimanan dan rasa cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW., Segala permohonan doa akan terkabul, Sebaiknya dibaca ketika menempati rumah baru agar terbebas dari gangguan jin, Menjadi benteng pelindung bagi rumah, pondok dan desa dari marabahaya, Melindungi tempat yang jarang dihuni dari gangguan jin atau setan pengganggu.


Demikian yang dapat kami sajikan, Semoga bermanfaat.