Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Allah SWT sebagai tempat curhat sepanjang masa

Siapa di dunia ini yang tidak pernah merasakan sedih, kecewa, duka lantaran menghadapi cobaan yang berat.

Allah berfirman QS. Al-Ma’arij/19-20:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“manusia Sesungguhnya diciptakan dengan sifat keluh kesah. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.

Merasa tidak puas lalu curhat kepada teman dengan kondisi yang ada adalah manusiawi, tetapi sebenarnya jauh lebih baik apabila keluh kesah itu secara langsung kita sampaikan kepada Alloh SWT., melalui doa-doa kita. Itulah yang disebut munajat.

Alloh SWT., berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung"

Boleh jadi cobaan yang menimpa kita, suami/istri, anak ataupun anggota keluarga yang lain, adalah cara Alloh untuk mengukur kualitas iman kita, sebab لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا apakah kita akan sabar dan akan marah-marah, atau sebaliknya apakah kita ridho (rela) terhadap takdir Allah SWT.

Kaum muslimin pendengar RRI Fakfak YRA., bahwa Ada dua tipe manusia di dunia ini ketika saudaranya tertimpa musibah. Pertama, adalah mereka yang peduli. Kedua, mereka yang bahagia melihat saudaranya tertimpa musibah.

Sepintas, mencurahkan problematik kehidupan kepada sesama makhluk sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya, mungkin akan banyak yang berempati terhadap musibah yang sedang menimpa kita. Mereka akan mengomentari dengan kata-kata kedamaian/pelerai duka. Lalu, setelah itu? berlalu tanpa jejak.

Curhat kepada manusia atau di sosial media tentang masalah kita adalah suatu kesalahan. Sedikit manusia atau netizen yang benar-benar tulus/peduli terhadap curhatan kita, bahkan saudara sendiripun terkadang memusuhi kita.

Memilih untuk mengadu kepada manusia atau mem-posting kesedihan di sosial media agar mendapat perhatian, simpati (itu bukan solusi). Karena pada (QS. Al-Ma’arij/22-24) ayat lanjutnya, sesungguhnya Alloh SWT telah memberi solusi atas persoalan dan cobaan hidup, اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ kecuali orang yang sholat, Sholat yang bagaimana? الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ orang yang selalu setia (istiqomah) mengerjakan salatnya. Dalam QS yang lain الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.

Dampak negatif dan bahaya mengadukan nasib (buruk) kepada orang lain: (menimbulkan fitnah, kebencian, permusuhan, dan merusak silaturahim, bahkan rentan terhadap perilaku tidak ridho atas takdir Allah).

Bahkan Imam Al-Junaid mengatakan: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ “Barangsiapa suka mengadukan kesulitannya kepada sesama manusia, maka seolah-olah ia mengadukan Tuhannya (kepada manusia). Dan barangsiapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya, maka dia menjadi orang yang membenci Allah.” (kitab: Riyadhussolihin). Demikian juga Imam Ghozali mengatakan (Ihya' Ulumuddin-hadist Qudsy):مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ Barang siapa tidak ridho dengan qadho'Ku, وَ لَمْ يَصْبِرْ عَلى بَلاَئِيْ dan Tidak bersabar atas segala cobaan-Ku, وَ لَمْ يَشْكُرْ عَلى نَعْمَائِيْ dan Tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku, وَ لَمْ يَقْنَعْ بِعَطَائِيْ dan Tidak puas (dengan apa adanya) atas segala pemberian-Ku, فَلْيَعْبُدْ رَبًّا سِوَائِي Maka sembahlah tuhan selain-Ku.

Maka jadikanlah Alloh SWT sebagai tempat pertama yang kita tuju ketika kita merasa terluka, terlantar, atau terpinggirkan. Alloh SWT bukan hanya sebaik-baiknya tempat curhat, tetapi juga sahabat terbaik yang selalu siap mendengarkan kita, tanpa syarat dan batas.

Lalu, Apakah kita tidak boleh curhat?

Tentu saja boleh. Sepanjang curhat itu tidak ada unsur “ngrasani" atau menggunjing Alloh SWT. Curhat kepada sesama manusia boleh dilakukan selama masih dalam koridor diskusi atau meminta nasihat untuk mendapatkan cara-cara terbaik untuk keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebab memang ada kewajiban untuk saling tolong menolong dan nasihat menasihati diantara sesama manusia. Artinya setiap muslim memiliki hak untuk mendapatkan nasihat tentang alternatif solusi dari kesulitan yang ada. Namun, agama mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik tempat curhat adalah Alloh SWT. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ “dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

Alloh SWT tidak hanya sebagai pencipta alam semesta, tetapi juga teman setia, yang siap mendengar keluh kesah kita. ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu" (Al-Mukmin 60).

Dalam kehidupan yang serba kompleks ini, kita sering kali merasa kesepian dan merasa tidak dipahami oleh orang lain. Namun, dalam hubungan kita dengan Alloh, tidak ada rahasia yg tersembunyi, tidak ada kata-kata yang terlupakan. Alloh SWT pasti mendengarkan setiap keluh kesah yang kita ucapkan, lebih dari itu, Alloh SWT sangat memahami setiap perasaan yang melanda hati kita. Allah SWT., berfirman: يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Alloh mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid 4).

Setiap curahan hati yang kita sampaikan adalah sebuah bentuk ibadah yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dalam setiap do'a yang kita minta kepada-Nya, akan menemukan ketenangan yang tidak pernah kita temukan dalam percakapan dengan manusia. Hati ini merasa bahagia. Jiwa pun begitu tenang. Alloh adalah tempat yang sempurna untuk berbagi kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, dan keberhasilan kita.

Alloh SWT tidak hanya mendengarkan, tetapi Dia juga memberikan jawaban dan solusi yang kita butuhkan (bukan ke-inginan).Keyakinan (iman) pada-Nya memberikan kita kekuatan untuk menghadapi segala tantangan dan rintangan dalam hidup. Jangan pernah merasa bahwa beban hidup ini sangat sulit. Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak bisa melewati ujian yang berat, kita musti yakin dan percaya bahwa, ujian cobaan adalah cara Allah SWT untuk mengukur sejauhmana keteguhan dan kekuatan iman dan aqidah لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا "Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebaikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada pula sesuatu (siksa) atas (kejahatan). (Al-Baqarah 286).

Lantas, Kapan waktu yang tepat untuk mencurahkan isi hati kita kepada Alloh SWT.?

Kita boleh berdo'a dimana saja dan kapan saja. اينما سقفوا Akan tetapi, ada waktu-waktu mustajab untuk berdo'a.

Allah SWT berfirman: حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ "Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusto. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk"

Rasulullah SAW,. bersabda: يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir di setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa saja yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberi, siapa saja yang memohon ampunan dari-Ku akan Kuampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa waktu yang mustajab untuk berdo'a kepada Alloh antara lain: Pada waktu Sholat Wajib maupun Sunnah, saat hujan turun, hari Jum'at, dlsbg.

Mintalah kepada Alloh hajat atau solusi untuk masalah yang sedang kita hadapi (apapun persoalanya). مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا "Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat"

Oleh karenanya, Mintalah apa yang terpendam dalam hati. Keluarkan segala unek-unek sebab Alloh maha mendengar. Usaha, Do'a lalu pasrah. Sebab tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Alloh SWT.

Maka, mulai saat ini tidak usah, menampakkan kesedihan, baik di dunia nyata maupun maya, curhat sana-sini padahal nggak ada yang peduli. Cukup Allah yang mengetahui segala kekurangan dan kesedihan kita. لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita." حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ Cukuplah Allah sebagai penolong sekaligus pelindung.

Sebagai penutup:

Bahwa الَدُّعَاءُ مُخُّ اْلِعبَادَةِ Do'a adalah inti sari dari ibadah, maka selalulah berdo'a dalam semua kesempatan, sebab:

مَنْ عَلَّقَ قَلْبَهُ بِالدُّنْيَا تَرَكَهُ اللهُ فِيهَا

Barang siapa yang hatinya bergantung pada dunia, Alloh akan biarkan dia sibuk dengan urusan dunianya.

وَمَنْ عَلَقَ قَلْبَهُ بِاللَّهِ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ أَبْوَابَهَا

Dan barang siapa yang hatinya bergantung pada Alloh, maka Alloh yang akan membukakan jalan keluarnya.

Oleh karenanya: الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّانَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فعليكم عباد الله بالدعاء "Do'a sangatlah bermanfaat terhadap apa-apa yang telah diturunkan, dan apa-apa yang belum diturunkan, Maka, wahai hamba-hamba Alloh, bisakanlah berdo'a.

Pentingnya Fatihah

Mengapa para kiyai selalu mengirim Fatihah untuk guru mereka dan mushonnif sebelum mengajar kitab?

Syaikh Abdul Hadi Naja Al-Abyari berkata:

Sejak dulu aku selalu melihat para guru mengirim fatihah untuk para guru mereka di awal membaca kitab-kitab ilmu, awalnya aku mengira bahwa itu hanya bentuk bakti mereka kepada para guru mereka yang telah wafat, juga sebagai wujud balas budi untuk mereka, aku tidak melihat ada “rahasia” lain disana hingga aku membaca sebuah ibarot dalam Kitab Tafsir Arrozi yaitu:

“Ruh manusia, jika dia bersifat dengan ilmu dan akhlak mulia maka ia akan menjadi kuat, dan akan semakin kuat ikatannya dengan ruh-ruh baik yang lain, maka diantara ruh itu akan saling memantulkan cahaya seperti halnya kaca-kaca yang bersinar dan saling berhadapan“

Jadi ketika seseorang mengirim fatihah untuk gurunya, dan mendoakan gurunya agar mendapat ridho dan kasing sayang Allah, kemudian ia mulai membaca kitab maka akan semakin kuat ikatan ruhnya dengan ruh gurunya, dengan itu ia akan mendapatkan barokah ruh gurunya yang membuat ia mudah memahami berbagai macam ilmu. Begitu pula ketika seseorang mengirim fatihah untuk Rasulullah SAW “.

Fadhilah Burdah

Keutamaan dan Cara mengamalkan Qasidah Burdah.

Qasidah Burdah sangat mujarab untuk pemenuhan hajat dan berbagai kepentingan.

Salah satu shalawat yang sangat masyhur di Indonesia adalah shalawat atau Qasidah Burdah. Syair yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW., pesan moral, nilai spiritual dan semangat perjuangan, yang sering dibaca saat memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Qasidah Burdah juga sering menjadi bacaan rutin di pondok pesantren dan di tengah masyarakat. Qasidah Burdah disusun oleh ulama yang sangat tersohor alim, sufi, dan sangat mencintai Rasulullah SAW., yaitu Imam al-Bushiri.

Kecintaan Imam al-Bushiri kepada Rasulullah saw sangat tampak dalam syair-syair Qasidah Burdah. Di dalamnya tidak hanya menjelaskan bagaimana cara meningkatkan spiritual dan moral, namun juga mengajarkan hakikat cinta yang sebenarnya kepada Rasulullah saw, sekaligus pengakuan bagi umat Nabi Muhammad saw dalam hal tidak punya amalan apapun yang dapat diandalkan tanpa mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Biografi Singkat Penyusun: Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Al-Bushiri kecil kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat atau sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.

Sejak kecil al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an oleh ayahnya secara langsung. Ia besar dari keluarga yang sangat mencinta ilmu. Tidak heran jika ia kemudian menjadi sosok ulama yang sangat alim. Selain dari ayahnya, al-Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu kepada para guru. Di antara gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991], halaman 13; dan Muhammad Yahya, al-Burdah Syarhan wa I'râban, [Damskus, Dârul Bairuti: 1999], halaman 6). 

Semangatnya dalam mencari ilmu menjadikan al-Bushiri sebagai ulama yang sangat alim sekaligus menjadi sufi dan sastrawan. Bukti dari keluasan ilmunya bisa dilihat dari berbagai karyanya, yaitu al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Namun yang paling terkenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yang lebih populer disebut dengan nama Qasidah Burdah.

Kemasyhuran Qasidah Burdah tidak lepas dari peran penulisnya yang sangat ikhlas dan penuh kecintaan disertai harapan syafaat kepada Rasulullah saw, sehingga menjadikan tulisannya sangat dikenal dan selalu menggema di belahan dunia. Bahkan Qasidah Burdah tidak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga menjadi salah satu kitab yang banyak disyarahi oleh ulama. Di antara ulama yang mensyarahinya adalah, Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan ulama lainnya.

Sejarah Qasidah Burdah: Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al-Baijuri diceritakan, penulisan Qasidah Burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia tidak dapat melakukan apa pun, hanya berdiam tanpa dapat melakukan apa-apa. Akhirnya Imam al-Bushiri mengisi kekosongan waktunya dengan menulis pujian-pujian indah tentang Nabi Muhammmad SAW., dengan harapan agar mendapatkan syafaat darinya, sebagaimana dijelaskan:

رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ

Artinya, “Diriwayatkan sesungguhnya Imam al-Bushiri menggubah Qasidah Burdah ini ketika sedang menderita sakit lumpuh, kemudian ia memohon syafaat kepada Allah SWT., dengannya. Lalu ketika tidur, beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW., kemudian Nabi Saw mengusap badan al-Bushiri dengan tangan yang penuh berkah, dan setelah itu al-Bushiri pun sembuh.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).

Setelah bangun dari tidurnya dalam kondisi sehat, banyak orang mendatangi rumahnya, dan kemudian berkata: “Wahai Tuanku, saya berharap Engkau bisa memberikan qasidah yang di dalamnya ada pujian kepada Rasulullah.”

“Qasidah mana yang Engkau kehendaki?”, jawab Imam al-Bushiri.

“Qasidah yang diawali dengan syair ‘amin tadzakkuri jirânin”, kata mereka.

Kemudian Imam al-Bushiri memberikannya. Setelah itu, banyak orang mengambil berkah darinya sekaligus menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Baijuri, bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan lafal-lafal yang ada dalam Qasidah Burdah dan menganggapnya memiliki otoritas untuk menyembuhkan penyakit, namun murni bertawassul kepada Rasulullah saw dengan perantara Qasidah Burdah. Lebih lanjut Imam al-Baijuri menegaskan:

أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ

Artinya, “Banyak orang mengambil berkah Qasidah Burdah dan memohon syafaat dengannya, berdasarkan prinsip bahwa permohonan syafaat dengannya bukan dengan lafal-lafalnya, akan tetapi hupada hakikatnya adalah memohon syafaat dengan Rasulullah saw.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, halaman 4).

Kelebihan qasidah yang satu ini dibandingkan dengan qasidah lain terletak dari cara penyusunannya. Imam Al-Bushiri tidak hanya menulis pujian-pujian yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw dan peningkatan spiritualitas kepada Allah, namun juga menjelaskan kelahiran Rasulullah SAW., mukjizat-mukjizat Al-Qur’an, nasab dan keturunan Rasulullah SAW., mengingatkan manusia dari bahaya hawa nafsu, menceritakan Isra’ Mi’raj, menjelaskan jihad dan peperangan Rasulullah saw, juga menjelaskan tawasul dan permohonan syafaat, kemudian ditutup dengan munajat dan ungkapan perasaan hina di hadapan Allah SWT.

Sholawat Burdah adalah selawat berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW., serta mengandung nilai spiritual, pesan moral dan semangat perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini akan dijabarkan bacaan Sholawat Burdah, mulai dari lirik Arab, latin, arti dan keutamaanya.

Bacaan Sholawat Burdah Beserta Artinya Dikutip dari buku berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat oleh M. Syukron Maksum, Sholawat Burdah ditulis oleh Imam Busyiri.

Imam Busyiri merupakan seorang penyair asal Mesir. Sholawat Burdah tercipta saat Imam Al Bushiri menderita kelumpuhan dan kemudian bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi.

Di Indonesia, Sholawat Burdah dinyanyikan oleh para pelantun selawat terkenal seperti Hadad Alwi, Veve Zulfikar, hingga Sulis.

Simak bacaan Sholawat Burdah lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya berikut ini.

Sholawat Burdah:

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ

(Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat dan keselamatan atas kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk)

ِأَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِی سَلَم ِمَزَجْتَ دَمْعََا جَرَی مِنْ مُّقْلَةِِ بِدَم

(Aраkаh kаrеnа teringat tetаnggа уаng tіnggаl di "Dzі Salam". Sehingga engkau сuсurkаn airmata bеrсаmрur dаrаh уаng mеngаlіr dari matamu).

اَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ گاظِمَةِِ ِوَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِی الظَّلمَاءِ مِنْ إِضَم

(Ataukah kаrеnа tiupan angin kеnсаng уаng bеrhеmbuѕ dаrі аrаh "Kаzhіmаh". Atаu kаrеnа sinar kіlаt yang mеmbеlаh kеgеlараn mаlаm dari Gunung "Idhаm")

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَاهَمَتَا ِوَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِم

(Mengapa saat kau tahan air matamu ia tetap basah? Dan mengapa pula saat kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah?)

ٌأَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِـم ِمَا بَيْنَ مُنْسَجِمِِ مِّنْهُ وَمُضْطَرِم

(Apakah sang kekasih mengira bahwa tersembunyi cintanya. Di antara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora).

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمعاً عَلٰى طَلَلٍ وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَـمِ

(Jika bukan karena cinta tidak akan kau tangisi puing-puing rumahnya. Dan tidak akan pula kau begadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung, dekat rumah orang yang engkau cintai yakni Nabi Muhammad.)

ْفَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَت بِهٖ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

(Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedang air mata dan derita telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta?)

وَأَثْبَتَ الْوَجد خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَى ِمِثْلُ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَم

(Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis yang kurus lemah. Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah)

ْنَعَمْ سَرٰى طَيْفُ مَنْ أَهْوى فَأَرَّقَنِي وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

(Benar! Ia terlintas di dalam mimpiku, hingga aku susah tidur. Cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita)

ِيَا لَائِمِيْ فِى الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَة مني إليك ولو أنصفت لم تلمِ

(Wahai para pencaci gelora cintaku! Izinkan aku memohon maaf kepadamu. Namun seandainya kau bersikap adil, niscaya engkau tidak akan mencela diriku)

عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّيْ بِمُسْـتَتِرِِ عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِيْ بِمُنْحَسِمِ

(Kini kau tahu keadaanku. Bahkan rahasiaku tidak bisa tertutupi lagi bagi para pemfitnah yang mau merusak cintaku. Sedangkan penyakitku tak juga kunjung sembuh).

مَحَضْتَنِى النُّصْحَ لٰكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهٗ إنّ الْمُحِبِّ عَنِ الْعُذَّالِ فِيْ صَمَمِ

(Begitu tulus nasihatmu, akan tetapi aku tak kan pernah mendengarnya karena telinga sang pecinta tuli bagi para pencaci).

إنِّى اؐتَّهَمْتَ نَصِيْحَ الشَّيْبِ فِيْ عَذَلِيْ وَالشَّيْبُ أبْعَدُ فِيْ نُصْحِِ عَنِ التُّهَمِ

(Akupun menuduh ubanku turut serta mencercaku. Padahal ubanku pastilah tulus dalam memperingatkanku)

Keutamaan Membaca Sholawat Burdah. Membaca Sholawat Burdah diyakini dapat mengingatkan kita pada sosok Nabi Muhammad SAW dan segala perjuangannya, sehingga membuat hati terasa lebih tenang.

Selain itu, terdapat beberapa keutamaan yang bisa didapatkan dari membaca serta mengamalkan selawat ini dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut.

Mujarab sebagai obat dari berbagai macam penyakit, Terhindar dari gangguan setan, jin, santet dan hal-hal gaib lainnya, Meningkatkan keimanan dan rasa cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW., Segala permohonan doa akan terkabul, Sebaiknya dibaca ketika menempati rumah baru agar terbebas dari gangguan jin, Menjadi benteng pelindung bagi rumah, pondok dan desa dari marabahaya, Melindungi tempat yang jarang dihuni dari gangguan jin atau setan pengganggu.


Demikian yang dapat kami sajikan, Semoga bermanfaat.

Syari'at, Thoriqoh, Hakikat dan makrifat

Pada tulisan ini, kita akan membahas apa itu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat. Izinkan kami menggunakan bahasa ala milenial.

Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu, Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut:

“Sebagian ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat lautan, dan hakikat Ibarat mutiara. Seseorang tidak akan mendapat mutiara kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”.

“Sebagian ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang ada dalam daging buah”

Analogi tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya Sayyid Bakri bin Muhammad Syatho Al-Dimyati. Perahu itu sebagai sebab untuk mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Lautan itu tempat tujuan (mutiara) tersebut berada. Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu.

Gimana sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Menurut Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf, syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir. Tarekat adalah memperbaiki aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi (tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir. Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin. Hakikat itu menghiasi ruh (sarair).

Kayaknya tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua adalah ranah syariat (pada aspek dzahir). Lalu, kalian masuk thoriqah mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan mendapat cahaya-cahaya hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian (musyahadah) Al-Haq.

Gimana udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar. Makrifat adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub, dan sir).

Sebagai penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian, jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani manusia bisa kembali ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat. Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat.

Semoga kita semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.


Wallahu a’lam

Saat Rosulullah dalam kandungan hingga kelahirannya

Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami (909-974 H) dalam kitab Ni’matul Kubro halaman-19 menceritakan bahwa: Saat Rasulullah masih dalam kandungan ibundanya, Tepatnya di Usia kandungan menginjak satu bulan yakni pada Bulan Rojab Al-Ashom, suatu malam di saat sayidah aminah terlelap tidur, tiba-tiba datang kepadanya seorang laki-laki yang indah wajahnya, semerbak harum baunya dan diliputi cahaya yang berkemilauan. Lelaki itu berkata; “Selamat datang wahai Baginda Nabi Muhammad SAW. Salam sejahtera Allah SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aminah lantas bertanya; “Siapakah engkau wahai tuan”. Dia menjawab; “Sesungguhnya aku adalah Nabi Adam AS., bapaknya seluruh umat manusia”. Lalu Nabi adam memberi kabar gembira dengan mengatakan: berbahagialah engkau ya aminah. Sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung Junjungan seluruh umat manusia.

Pada bulan kedua dikandung, yaitu Sya'ban bermimpi didatangi oleh Nabi Idris, (dalam keterangan lain Nabi Syit).

Pada bulan ketiga dalam kandungan, yaitu Romadhon, bermimpi didatangi oleh Nabi Nuh.

Pada bulan keempat, yaitu Syawwal, bermimpi didatangi oleh Nabi Ibrohim.

Pada bulan kelima, yaitu Dzul-Qo'dah, bermimpi didatangi oleh Nabi Ismail.

Pada bulan keenam, yaitu Dzul-Hijjah, bermimpi didatangi oleh Nabi Musa.

Pada bulan ketujuh, yaitu bulan Muharrom, beliau bermimpi didatangi oleh Nabi Dawud.

Pada bulan kedelapan, yaitu bulan Shofar, bermimpi didatangi oleh Nabi Sulaiman.

Dan pada bulan kesembilan Rosululloh dikandung, yaitu bulan Robi'ul Awwal, Sayyidah Aminah bermimpi didatangi oleh Nabi Isa putra Maryam.

Semua memberikan kabar dengan gembira mengucapkan selamat kepada Sayidah Aminah karena akan lahir dari rahim beliau sosok nabi akhir zaman yang agung dan mulia sebagai rahmatan bagi seluruh alam.

Seluruh Nabi yang datang juga berpesan agar bayi yang dikandung bila lahir nanti agar diberi nama Muhammad.

Beberapa hari sebelum Rasulallah dilahirkan yakni pada malam tanggal 1 bulan robiul awal Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya ”Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT”.

Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.

Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.

Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.

Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.

Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan ”Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..”

Pada malam tanggal 9 Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Thoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Pada malam 12 Bulan Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun, saat itu Sayyid Abdul Muthalib sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah, dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah, tanpa ada seorangpun yang menemaninya, tiba-tiba Beliau Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah, dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun dan cantik yang diliputi cahaya yang memancar berkemilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.

Perempuan mulia tersebut adalah sayidah Hawa duduk di sebelah kanan beliau, sayidah Sarah duduk di sebelah kiri beliau, sayidah Asiyah binti muzahim duduk dibagian belakang dan sayidah Maryam ibunda Nabi Isya AS., Maka, keempat wanita suci mulia dan agung di sisi Allah SWT tersebut kemudian merapat dan mengelilingi Ibunda Rasulullah Muhammad SAW., Sayyidah Aminah Binti Wahab, sehingga Ibunda Rasulullah SAW semakin merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh Ibunda Rasulullah SAW saat itu, tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Dengan penuh rasa syukurnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, abu Tholib yang ketika itu mendengar bahwa cucunya telah lahir ke dunia, maka kemudian abu Tholib segera mendatangi Aminah untuk menggendong dan membawanya berkeliling di Ka'bah dan kemudian memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk memotong beberapa unta dan kambing untuk pesta merayakan syukuran atas kelahiran cucu kebanggaannya.

Lantas Siapakah orang pertama kali yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW? Orang yang pertama kali mengadakan seremonial maulid nabi adalah seorang penguasa Irbil, yaitu Raja Muzhaffar Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin, salah seorang raja yang mulia, agung, dan dermawan. Dia juga memiliki rekam jejak yang bagus. Dan, dia lah orang yang meneruskan pembangunan Masjid al-Muzhaffari di kaki gunung Qasiyun, seorang pengusaha sukses yang begitu cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.