Peristiwa penting yang melatarbelakangi terjadinya isra' dan mi'raj nya Nabi Muhammad SAW.
Tiga peristiwa itu adalah yang pertama berpulangnya Abu Tholib paman Rosulullah, ke-dua Wafatnya istrie tercinta Syahida Khadijah, peristiwa duka yang mendalam ini sehingga para ahli sejarah menyebutnya dengan istilah “Aam al-Huzni” atau tahun kesedihan. kemudian ke-tiga peristiwa perdebatan antara bami dan langit yangi diceritakan dalam kitab Durrotun Nasihin.
“Aku lebih baik darimu (langit), karena Allah SWT telah menghiasiku dengan hamparan pulau, lautan, sungai, pepohonan, pegunungan dan lain sebagainya,” tutur Bumi kepada langit.
Maka, langit membalas dengan perkataan, “aku lebih baik darimu (bumi), karena matahari, bulan, bintang, falaq (garis edar), buruj (gugusan bintang), arsy (singgasana-Nya), kursy (kekuasaan-Nya) dan surga berada padaku.”
Seolah tak mau kalah, Bumi membalas dengan ucapan, “padaku terdapat Baitullah (Ka’bah) yang selalu diziarahi manusia dan digunakan untuk melaksanakan ibadah thawaf oleh seluruh para Nabi dan Rasul, ulama, ahli hikmah, para pembesar dan orang-orang yang beriman.”
Lantas kemudian, Langit kembali berkata seolah tak mau kalah, “padaku ada Baitul Ma’mur, yang digunakan thawaf oleh seluruh malaikat, dan padaku juga ada surga yang menjadi tempat arwah para Nabi dan Rasul, ahli hikmah serta kaum mukminin yang mengamalkan ilmunya dan orang-orang solih.”
Maka bumi pun menjawab dengan kalimat pamungkas, “sesungguhnya pemimpin para Rasul dan penutup para Nabi, kekasih rabbil alamin berada padaku, dan syari’atnya berjalan di atasku.”
Ketika mendengar jawaban tersebut, Langit terdiam dan tidak mampu menjawab. Ia lantas mengadu kepada Allah SWT, “Ya Allah, Engkau Maha mengijabah doa hamba yang butuh ketika berdoa, kini aku tak mampu menjawab bumi. Maka aku mohon agar Engkau sudi menaikkan Nabi Muhammad SAW padaku, sehingga aku bisa berbangga kepada bumi dengan Mi’rajnya Nabi SAW.”
Allah SWT kemudian mengabulkan permintaan langit dan memberikan wahyu kepada malaikat Jibril, tertanggal malam 27 Rajab. Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Jibril, “wahai Jibril, bawalah padaku Nabi Muhammad SAW.”
Jibril lalu bergegas bersama Mikail ke Surga. Sewaktu tiba di surga, keduanya melihat 40.000 Buraq sedang memakan rumput surga, tetapi Jibril dan Mikail melihat satu Buraq yang selalu menundukkan kepalanya dan menangis dengan air mata yang deras.
Malaikat Jibril kemudian bertanya kepada Buraq tersebut, “wahai Buraq, ada apa denganmu?”
“Wahai Jibril, aku telah mendengar seorang hamba yang bernama Muhammad SAW selama 40.000 tahun. Entah mengapa aku jatuh cinta dan merindukan pemilik nama ini. Sejak itulah, aku butuh makanan dan minuman karena aku telah terbakar api kerinduan”, terang Buraq.
Jibril kemudian berkata, “aku akan mempertemukanmu dengan orang yang kau rindukan tersebut.”
Malaikat Jibril kemudian membawanya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi (Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha) menuju ke langit, hingga menembus sidratul muntaha untuk menerima perintah sholat 5 waktu.
Khulasho:
Dari hikayah tersebut diatas kita dapat menarik kesimpulan dan menjadikan pelajaran bahwa:
1. Betapa pentingnya menjaga etika dan perilaku sebagai manusia untuk tidak berlaku semena-mena dimanapun dan dalam keadaan seperti apapun posisi kita.
2. Seluruh makhluk yang ada di bumi dan dilangit pada haketnya membutuhkan Allah SWT., sebagai sebaik baik penolong dalam setiap keadaan. Maka Berdo'a dan istighfar lah, Apapun permasalahan dan kesedihan yang terjadi adukan kepada Allah SWT melalui sholat karena dengan sholat kebahagiaan dunia dan akhirat akan mudah di dapat.










