Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk berjuang tidak hanya pada satu lini (jalan usaha) kehidupan, tetapi merambah ke berbagai lini dengan satu tujuan mulia yaitu memperjuangkan agama Islam.
Hal ini selaras dengan pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya:
يا بني لا تدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة
"Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu saja, tetapi masuklah dari berbagai pintu yang berbeda."
Namun, perjuangan ini harus tetap dalam bingkai keimanan dan Islam. Tujuan hidup dan mati kita adalah membawa iman hingga akhir hayat, sebagaimana peringatan dalam Al-Qur'an:
يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون
"Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."
Setiap muslim tentu mendambakan menjadi golongan yang istimewa, tetapi menjadi golongan istimewa tentu tidak semuanya bisa menggapai. Allah SWT berfirman:
وقليل من عبادي الشكور
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
Dan para pemenang sejati yang lebih dahulu dalam kebaikan:
والسابقون السابقون... وقليل من الآخرين
"Dan orang-orang yang lebih dahulu (berbuat kebaikan), mereka itulah yang terdepan… dan sedikit dari mereka yang kemudian."
Namun, sudahkah kita layak menjadi bagian dari golongan yang istimewa ini? Jika belum, seyogianya kita mengukur kemampuan diri, berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi baik terlebih dahulu, meskipun belum sempurna atau istimewa.
1. Langkah awal adalah menjadi bagian dari golongan umum yang telah memenuhi kewajibannya dan tetap menjaga dzikir kepada Allah:
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
"Apabila sholat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."
2. Sedikit demi sedikit, kita harus meningkatkan diri dari golongan yang umum menjadi golongan yang lebih baik. Golongan ini tidak hanya mengerjakan kewajiban, tetapi juga menambah amalan (Sunnah) dzikir kapan pun dan dalam keadaan apa pun:
فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم
"Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat, berdzikirlah kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring."
Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa golongan ini memperbanyak tasbih, tahlil, dan dzikir dengan keadaan semampunya, baik berdiri, duduk, atau bahkan saat berbaring. Tentu saja, jumlah golongan ini lebih sedikit dibandingkan golongan pertama, karena melibatkan usaha yang lebih besar.
3. Tahapan terakhir adalah menjadi golongan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya untuk ketaatan. Allah SWT berfirman:
فإذا فرغت فانصب
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras."
Dalam Tafsir Al-Jalalain, ayat ini dipahami sebagai perintah untuk tetap bersungguh-sungguh dalam doa dan ibadah setelah menyelesaikan urusan dunia. Golongan ini tentu jauh lebih sedikit karena melibatkan pengorbanan pribadi yang lebih besar.
Kita perlu mengukur kapasitas dan kemampuan kita dalam mengemban tanggung jawab ini, sebagaimana kita mengelola penyimpanan data yang terbatas. Jika kapasitas kita kecil, maka kita harus bersiap untuk terus memperbaiki diri atau meningkatkan "penyimpanan spiritual" dengan usaha dan doa yang lebih besar.
لكل زمان رجال ولكل مقام مقال
"Setiap zaman memiliki tokohnya, dan setiap tempat memiliki pembahasannya."
Maka, mari kita berusaha sesuai kemampuan, namun tetap berdoa dan berharap agar Allah menjadikan kita bagian dari golongan yang istimewa.
Author: Ust. Wahyudi










