Mengevaluasi rasa Syukur
Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita senatiasa meningkatkan kadar kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena Sesungguhnya Nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl Ayat 18: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Kenikmatan seperti (Kesehatan,
harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang sholihah, teman
yang setia, tetangga yang baik) dan lain sebagainya adalah merupakan nikmat-nikmat
yang Allah anugerahkan kepada kita manusia. namun demikian, kebanyakan manusia
tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa
hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Banyak pula di
antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana caranya
bersyukur. Seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Ghafir: 61 : “Sesungguhnya
Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja
kebanyakan umat manusia tidak bersyukur”
Syukur ada dua macam. Ada syukur
yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah
tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat
maksiat kepada-Nya. Adapun Syukur yang sunnah adalah mengucapkan
dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan
yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan
alhamdulillah.
Suatu ketika Imam al-Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur?. Beliau menjawab: “(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.” Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia disebut manusia yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Allah SWT dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu membersamainya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur).
Dalam kaidah ilmu Nahwu, kata Syaakir
ikut wazan Failun (isim fail) yang artinya orang yang bersyukur sedangkan kata Syakuur
(isim masdar, Lissifat) yang artinya adalah orang yang paling banyak syukurnya.
Imam al-Qusyairi dalam kitab
Ar-Risalah, bahwa “Syakir” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu
yang ada, sementara “syakuur” adalah orang yang berterima kasih terhadap
sesuatu yang tidak ada. sehingga level syakuur lebih tinggi dibanding syakir. Seorang
hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Sebagaimana
firman Allah SWT. dalam QS. As-Saba’: 13 “Dan sedikit sekali dari
hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur”.
Dalam kesempatan yang sama pagi
ini baru saja kita memasuki tahun baru 2025 yang merupakan awal tahun kalender
Masehi, sekaligus merupakan awal masuknya bulan Rojab maka saya menjak kepada
kita sekalian untuk sekaligus mengevalusi diri dengan berbekal Hadist yang
diriwayatkan Imam Hakim, bahwa: "Barang siapa yang hari ini lebih baik
dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa
yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan
bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah
tergolong orang yang celaka."
Sebagai penutup sekaligus refleksi
akhir tahun 2024 menuju tahun 2025. saya mengajak kepada kita sekalain agar
kita lebih efektif menggunakan waktu, sekaligus meminta kepada Allah SWT., agar
dimampukan menjadi manusia-manusia yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya, dengan
level kualitas Syakuur (orang yang paling banyak syukurnya), memperbanyak perbuatan
baik untuk mendapatkan ridhai Allah SWT., serta Memohon kepada Allah SWT., agaar
selalu ingat untuk bertaubat dan istighfar dengan berdo’a أللَّهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan
Syaban, serta sampaikan lah (umur) kami hingga bulan Ramadan.“










