Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Mengevaluasi Syukur

Mengevaluasi rasa Syukur

Dalam kesempatan yang baik ini marilah kita senatiasa meningkatkan kadar kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena Sesungguhnya Nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl Ayat 18: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Kenikmatan seperti (Kesehatan, harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang sholihah, teman yang setia, tetangga yang baik) dan lain sebagainya adalah merupakan nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita manusia. namun demikian, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Banyak pula di antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana caranya bersyukur. Seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Ghafir: 61 : “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja kebanyakan umat manusia tidak bersyukur

Syukur ada dua macam. Ada syukur yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Adapun Syukur yang sunnah adalah mengucapkan dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan alhamdulillah.

Suatu ketika Imam al-Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur?. Beliau menjawab: “(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.” Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia disebut manusia yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Allah SWT dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu membersamainya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur).

Dalam kaidah ilmu Nahwu, kata Syaakir ikut wazan Failun (isim fail) yang artinya orang yang bersyukur sedangkan kata Syakuur (isim masdar, Lissifat) yang artinya adalah orang yang paling banyak syukurnya.

Imam al-Qusyairi dalam kitab Ar-Risalah, bahwa “Syakir” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang ada, sementara “syakuur” adalah orang yang berterima kasih terhadap sesuatu yang tidak ada. sehingga level syakuur lebih tinggi dibanding syakir. Seorang hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. As-Saba’: 13 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur”.

Dalam kesempatan yang sama pagi ini baru saja kita memasuki tahun baru 2025 yang merupakan awal tahun kalender Masehi, sekaligus merupakan awal masuknya bulan Rojab maka saya menjak kepada kita sekalian untuk sekaligus mengevalusi diri dengan berbekal Hadist yang diriwayatkan Imam Hakim, bahwa: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."

Sebagai penutup sekaligus refleksi akhir tahun 2024 menuju tahun 2025. saya mengajak kepada kita sekalain agar kita lebih efektif menggunakan waktu, sekaligus meminta kepada Allah SWT., agar dimampukan menjadi manusia-manusia yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya, dengan level kualitas Syakuur (orang yang paling banyak syukurnya), memperbanyak perbuatan baik untuk mendapatkan ridhai Allah SWT., serta Memohon kepada Allah SWT., agaar selalu ingat untuk bertaubat dan istighfar dengan berdo’a أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikan lah (umur) kami hingga bulan Ramadan.


Bahaya minum keras

Di dalam kitab Tafsir Ayat Al-Ahkam disebutkan bahwa sesuatu yang paling mahal dan paling berharga yang ada di dalam diri manusia adalah akalnya. Maka, jika seorang manusia telah hilang akalnya, tiada lagi perbedaan antara dirinya dan hewan.

أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

"Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih hina"

Salah satu cara agar akal kita tetap sehat adalah dengan senantiasa menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak fungsi positifnya. Maka, dari sinilah kita mengerti mengapa Allah secara keras mengharamkan khamr atau minuman keras/beralkohol, dan segala hal yang memabukkan dan mendisfungsi akal sehat manusia, seperti narkoba.

Dalam QS. Al-Maidah ayat 90-91 disebutkan bahwa:

يأيها الذين آمنوا إنما الخمرُ و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان, فاجتنبوه لعلكم تفلحون. إنما يريد الشيطان أن يُوقِعَ بينكم العداوة و البغضاء فى الخمر و الميسر, و يصدُّكم عن ذكر الله و عن الصلوة, فهل أنتم منتهون.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, mempersembahkan sesajian untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah, perbuatan-perbutan itu agar kalian beruntung. Dengan minuman keras dan berjudi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian, dan menghalang-halangi kalian dari mengingat Allah dan dari melaksanakan shalat. Maka tidakkah kalian berhenti.

Nabi Muhammad SAW. bersabda,” Khamr dilaknat (oleh Allah SWT) dalam sepuluh sisinya; zat atau barangnya, (para) pekerja produksinya, (para) pemilik produksinya, penjualnya, pembelinya, pensuplainya, agennya, semua yang mendapat keuntungan darinya, peminumnya, dan yang menuangkannya.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Penyebutan jumlah sepuluh hanyalah untuk contoh (lil mitsâl), bukan restriksi (lil hashr). Artinya, segala hal yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi khamr dan zat yang memabukkan lainnya, walau lebih dari sepuluh sisi, tetaplah tertimpa laknat Allah Swt. Termasuk di dalamnya adalah para investornya dan para pembuat aturan yang melegalkannya.

Hanya dengan akal yang sehatlah manusia tetap memiliki rasa malu, dan rasa malulah yang menjadi benteng utama guna menghindari diri dari perbuatan keji dan munkar. Namun, bila rasa malu telah hilang, yang salah satunya disebabkan karena mabuk, manusiapun telah hilang kemanusiaannya. Akhirnya, perbuatan senista dan sekeji apapun dapat ia lakukan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,” Jika engkau telah kehilangan rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).

Hilangnya akal, yang salah satunya disebabkan karena mabuk, adalah pintu gerbang semua kejahatan. Abu Dardâ’ berkata bahwa Rasulullah berwasiat,” Janganlah meminum khamr, karena ia adalah kunci dari semua kejahatan.” (HR. Ibnu Majah)

Bahkan lebih tajam lagi, Rasulullah SAW. bersabda,”Tidaklah seorang itu meminum khamr, ketika ia meminumnya, padahal ia dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maka, Wahai para orang tua, jaga dan jauhkanlah keluarga kita dari jangkauan miras (juga narkoba). Wahai para guru dan ulama, terus tegaskan sikap penolakan kita terhadap miras.. Wahai para pemimpin dan pemangku kebijakan, jangan pernah membuat aturan atau kebijakan apapun yang memuat legalisasi miras, apapun bentuknya. Ingat…legalisasi miras jelas bertentangan dengan spirit keagamaan yang termuat dalam sila pertama Pancasila, bertentangan dengan keadaban manusia yang termuat dalam sila kedua Pancasila, dan seterusnya. Jangan khianati agama! Jangan khianati Pancasila!

Semoga, diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, dan bangsa kita dapat terhindar dari laknat Allah SWT.

Empat masa yang dimiliki oleh manusia

Empat masa yang dimiliki oleh manusia.


قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْعَبَّاسِ الْمُرْسِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

Berkata Sayyidi Abul ‘Abbas Al-mursiy Ra: 


أَوْقَاتُ الْعَبْدِ أَرْبَعَةٌ لاَ خَامِسَ لَهَا٬

Seorang manusia (hamba) hanya memiliki empat masa dalam kehidupan, tidak lebih dari itu,


اَلنِّعْمَةُ وَالْبَلِيَّةُ وَالطَّاعَةُ وَالْمَعْصِيَةُ٬ 

Yaitu : Masa mendapat ni’mat dari Allah, Masa mendapat musibah (diuji oleh Allah), Masa bisa ta’at kepada Allah dan Masa berma'siat.


وَلِلّٰهِ تَعَالىٰ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْهَا سَهْمٌ مِنَ الْعُبُوْدِيَّةِ يَقْتَضِيْهِ الْحَقُّ مِنْكَ بِحُكْمِ الرُّبُوْبِيَّةِ٬ 

Dan Allah SWT senantiasa menuntut ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) pada waktu-waktu tersebut : 


فَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الطَّاعَةُ فَسَبِيْلُهُ شُهُوْدُ الْمِنَّةِ مِنَ اللهِ عَلَيْهِ أَنْ هَدَاهُ لَهَا وَوَفَّقَهُ لِلْقِيَامِ بِهَا٬

1. Apabila dalam keadaan melakukan ta’at kepada Allah, maka hendaknya dia melihat bahwasanya semua itu adalah pemberian dari Allah SWT. sehingga mendapat taufiq dapat beribadah kepada Allah, 


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْمَعْصِيَةُ فَمُقْتَضَى الْحَقِّ مِنْهُ وُجُوْدُ الْاِسْتِغْفَارِ وَالنَّدَمِ٬

2. Apabila dalam keadaan terpeleset melakukan ma’shiat, maka tuntutan Allah (yang harus dilakukan) adalah agar dia cepat-cepat bertaubat, beristighfar dan menyesalinya.


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ النِّعْمَةُ فَسَبِيْلُهُ الشُّكْرُ وَهُوَ فَرَحُ الْقَلْبِ بِاللهِ٬ 

3. Apabila dalam keadaan mendapat ni’mat, maka hendaknya dia bersyukur yaitu bahagia dengan apa yang Allah berikan padanya.


وَمَنْ كَانَ وَقْتُهُ الْبَلِيَّةُ فَسَبِيْلُهِ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ وَالصَّبْرِ.

4. Apabila dalam keadaan tertimpa musibah (diuji oleh Allah), maka hendaknya dia rela dengan ketentuan Allah dan sabar menghadapinya.

Nasihat Khulafaur Rosyidin

Abu Bakar Ash-Shiddiq;

"Ilmu pengetahuan adalah kehidupan pikiran."

"Jika kamu mengharapkan berkah dari Allah, maka bersikap baiklah kepada hamba-Nya."

"Memang sulit untuk bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari sebuah kesabaran itu jauh lebih buruk."

"Kita menemukan kedermawanan dalam takwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam yakin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati."

"Tanpa tindakan, pengetahuan tidak ada gunanya dan pengetahuan tanpa tindakan itu sia-sia."

"Hidup akan berlaku, namun kematian sangatlah dekat."

"Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah."

"Setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan."

"Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya."

"Mau bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati."

"Ada kebesaran dalam rasa takut akan Allah, kepuasan dalam beriman kepada Allah, dan kehormatan dalam kerendahan hati."

"Adalah hal yang memalukan bahwa seekor burung bangun lebih pagi daripada kamu di pagi hari."

"Tanpa ilmu, amal tidak ada gunanya. Sedangkan ilmu tanpa amal adalah hal yang sia-sia."


Umar bin Khattab:

"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku."

"Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan."

"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."

"Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya."

"Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita."

"Berpegang teguhlah pada kebenaran, bahkan meski kebenaran itu akan membunuhmu."

Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku."

"Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya."

"Suatu pengetahuan (ilmu), kalaupun tidak bermanfaat untukmu, tidak akan membahayakanmu."

"Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu."

"Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit."

"Jagalah salatmu. Karena saat kamu kehilangan salat, maka kamu akan kehilangan segalanya."


Utsman bin Affan:

"Berbisnislah (berniagalah) dengan Allah swt niscaya kalian akan mendapatkan untung."

"Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati."

"Derajat keimanan yang paling tinggi adalah bahwa kamu selalu merasa berada di hadapan Allah."

"Cukuplah bagimu bahwa orang yang iri terhadapmu merasa tertekan pada saat senangmu."

"Tergelincirnya lidah itu lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki."

"Ketika lidah seseorang menjadi tenang dan ramah, maka hatinya menjadi saleh dan bersih."

"Diamnya orang yang diam lebih bahaya dari perlakuan serangan orang lain."

"Di antara pendosa, yang paling buruk adalah dia yang meluangkan waktunya untuk membahas kesalahan orang lain."

"Ketahuilah dunia itu dilipat di atas tipuan. Jangan sampai kamu tertipu oleh dunia dan jangan sampai kamu tertipu oleh setan dalam keta'atan kepada Allah."


Ali bin Abi Thalib:

"Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya."

"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik."

"Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat."

"Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik."

"Apabila akal tidak sempurna maka kurangilah berbicara."

"Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya."

"Orang yang berdoa tanpa beramal sama halnya seperti pemanah tanpa busur."

"Memaafkan adalah kemenangan terbaik."

"Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari."

"Perkataan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang."

"Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu."

Jangan Sedih Dengan Ujian

Jangan Sedih Dengan Ujian Dunia Ini


Dunia adalah ladang ujian, tidak ada seorang manusia pun melainkan akan diuji dengan kesehatan dan kelapangan untuk mengetahui sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah dan kesempitan untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar menghadapi ujian tersebut.

Allah ﷻ berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ 

وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf 168).


Rasulullah ﷺ bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ 

وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ 

إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ 

وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya, jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim 2999).


Ibnul Qayyim رحمه الله‎ berkata : “Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Allah ﷻ yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Allah ﷻ yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.”


Allah ﷻ berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً

وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً

وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216).