Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Tempatmu mempengaruhi hargamu

Jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu.

Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu..".

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah .

PEGANGAN HIDUP

PEGANGAN HIDUP DI ATAS MUKA BUMI INI


 بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم


1. KITA DAPAT BERUBAH, JIKA KITA MAU MENGUBAH DIRI :


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ (11) 


Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,

(QS.Ar-Ra’d: ayat 11)


2. ADA KEBAIKAN DI BALIK YANG TIDAK KITA SUKAI,


وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)


Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui, 

(QS. Al-Baqarah: ayat 216)


3. KITA PASTI SANGGUP,


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ َ (286)

 

Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya, 

(QS. Al-Baqarah: ayat 286) 


4.ADA KEMUDAHAN BERSAMA KESULITAN,


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)


Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, 

(QS.Al-Insyirah: ayat 5-6) 


5. TAKWA DAN TAWAKALLAH,


ِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

 

“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Alloh melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya,”

(QS. Ath-Thalaq: ayat 2-3)


۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ‎ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ ۞

Allahumma shalli'washallim ala Sayyidina Muhammad Wa ala alii Sayyidina Muhammad.

Upaya setiap kita (Lembaga dan Guru)

Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun ini ialah perbaikan kurikulum, dari kurikulum berbasis karakter hingga kurikulum Mardeka. Hal ini dihajatkan untuk menjawab tuntutan masyarakat yang menganggap sistem pendidikan di Indonesia lebih pada transfer kemampuan kognitif saja. Tujuan pendidikan yang sebenarnya, yakni membentuk karakter peserta didik yang belum tercapai. Lambat laun kini tujuan pendidikan ini sudah mulai bisa dirasakan.

Usaha pemerintah tersebut didukung dengan berdirinya lembaga pendidikan Islam yang semakin menjamur di Indonesia, baik dengan trade mark lembaga islam terpadu, islam unggulan, dan lain sebagainya termasuk pondok pesantren. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut tentu sangat menggembirakan karena masyarakat semakin banyak memiliki pilihan dalam menentukan pendidikan putra putrinya. Namun, di sisi lain masih sering kita temui di masyarakat, baik orang dewasa, remaja bahkan anak-anak yang berperilaku negatif, amoral, bahkan mengarah pada perbuatan kriminal. Hal ini tentu sangat meresahkan dan menimbulkan banyak sekali pertanyaan.

Kenapa semakin banyaknya lembaga pendidikan islam, tidak berpengaruh besar terhadap perbaikan akhlak masyarakat? Lalu, apa peran lembaga pendidikan terhadap pembentukan akhlak peserta didiknya? Seberapa serius lembaga pendidikan mengintegrasikan pembentukan akhlak dalam kurikulumnya? Ternyata memang tidak mudah mengaplikasikan kurikulum baru dan tidak semua lembaga memiliki kapasitas serta kualitas yang dibutuhkan dalam membentuk karakter mulia peserta didik.

Dari sekian banyak lembaga pendidikan, pesantren dipercaya sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengintegrasikan teori dan praktek dalam sistem kependidikannya, terutama dalam pembentukan karakter dan kemandirian santri. pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia sangat besar peranannya dan pantas dijadikan lembaga rujukan. Ini dikarenakan pesantren menerapkan pola pendidikan yang holistik yakni ta’lim (pengajaran), tarbiyah (pembelajaran), serta ta’dib (pembentukan akhlaq) selama ini. Para santri di pondok pesantren dilatih untuk memahami nilai-nilai Islam rohmatan lil ‘alamin seperti, al ‘Adalah, (adil), at Tasaamuh (toleransi), al Ikhlash (ikhlas), at Tawassuth (netral), amruhum syuro bainahum (demokrasi). Untuk memiliki nilai-nilai tersebut, santri atau pelajar tentu butuh pembelajaran dan pembiasaan melalui keteladanan serta lingkungan yang mendukung.

Pepatah arab Syaikh Musthofa Al Ghulayain menyebutkan;

 شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ أِنَّ فِي يَدِكُمْ أَمْرُ الْأُمَّةِ وَفِي اَقْدَامِكُمٍ حَيَاتُهَا.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya di tanganmu-lah urusan bangsa dan dalam langkahmu tertanggung masa depan bangsa.”

Maqolah tersebut senada dengan syair Imam Asy-Syauqiy yang menyebutkan bahwa:

وَ اِنَّمَا اْلاُمَمُ اْلاَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، فَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

“Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlak manusianya. Jika mereka telah kehilangan akhlaknya maka hancurlah bangsanya.”

Artinya, nasib sebuah bangsa di masa mendatang tergantung kualitas generasi hari ini, dan kualitas seseorang akan ternilai baik dari akhlaknya. Memang seharusnya pembentukan akhlak mulia generasi muda menjadi perhatian semua kalangan, baik keluarga, lembaga pendidikan, maupun pemerintah. Akhlak harus dibentuk sejak dini dan berkesinambungan karena itu membutuhkan peran serta semua pihak. Secara formal, pemerintah telah membuat berbagai aturan dalam pembentukan akhlak anak bangsa, terutama para peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan.

Akhirnya, setiap usaha pondok pesantren untuk menanamkan akhlak mulia bagi para santri merupakan sumbangsih besar dalam menyiapkan generasi bangsa yang memiliki nilai-nilai toleran, demokratis, tulus dan moderat. Jadi, tidak heran jika dikatakan bahwa sebuah bangsa akan hancur jika rakyatnya eksklusif, intoleran, diskrimanatif terhadap sesama. Nasib sebuah bangsa di masa depan ditentukan oleh generasi hari ini. Jika generasi hari ini baik maka bangsa tersebut akan semakin hebat. Sebaliknya, jika generasi tidak berkualitas maka bangsa tersebut akan hancur.

KEUTAMAAN MAULID NABI

Keutamaan Maulid Nabi Muhammad SAW


1. Sayyidina Abu Bakar RA, berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

"Barang siapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga."


2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام 

Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi Muhammad SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan islam."


3. Berkata Sayyidina Utsman RA:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين 

Barang siapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut serta menyaksikan perang Badar dan Hunain."


4. Sayyidina Ali RA, berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب 

"Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan Maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia malainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab."


5. Imam Hasan Bashri RA, berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم 

Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati Maulid Nabi SAW."


6. Imam Junaed Al-Baghdadi, semoga ALLAH membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:

من حصر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

"Barang siapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW, dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagiaan dengan penuh keimanan."


7. Imam Ma'ruf Al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir(rahasia)-nya, berkata:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم وجمع اخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتبخر وتعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه وسلم حشره الله يوم القيامة مع الفر قة الأ ولى من النبيين وكان فى أعلى عليين 

"Barang siapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengangungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya ALLAH akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para NABI dan dia akan di tempatkan di surga yang paling atas." ('illiyyin).


8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم

“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi SAW ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga ALLAH akan mengampuni orang yang memakannya."

Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi SAW. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.

Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi SAW. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi SAW.”


9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”


10. Imam Sirri Saqathi, semoga ALLAH membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi SAW. Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”


11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.

وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk mereka yang menjadi sebab dibacakan nya pembacaan maulid Nabi SAW. Dan beliau berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah SWT menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu.

Dan apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi SAW."

وﷲاعلم بالصواب


ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ


Sumber:

Kitab "An-Ni'matul kubra 'alal 'alami fi Maulidi Sayyidi Walidi Adam "halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami

Dia (Muhammad SAW) Bukan pemaksa kehendak

Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad Saw adalah pemberi peringatan. Nabi bukan pemaksa agar mereka mengikuti ajaran Islam.

Di antara rangkaian ayat-ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad, setelah ayat Iqra, adalah perintah untuk memberi peringatan:

‎يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 1-2)

Ayat ini merupakan ayat ‘pelantikan’ beliau sebagai Rasul, setelah sebelumnya diangkat sebagai Nabi. 

Sejak itu sejumlah ayat al-Quran mempertegas salah satu tugas pokok Nabi ini:

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.(Al Furqan : 56)

Nabi diutus kepada seluruh umat manusia membawa tugas pokok ini: mubasyiran (memberi kabar gembira) dan nadziran (membawa peringatan). Kabar gembira yang dibawa mengenai hal-hal yang baik berupa kebajikan untuk kebahagiaan manusia, termasuk didalamnya mengenai surga yang dijanjikan.

Sedangkan hal-hal yang disampaikan sebagai peringatan adalah hal-hal buruk yang harus dijauhi, yang bisa merusak tatanan kehidupan manusia, termasuk didalamnya konsekuensi di akherat kelak berupa siksa neraka. Kedua tema ini disampaikan secara seimbang dalam dakwah Nabi Muhammad Saw.

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(Saba’ : 28)

Bahkan ditegaskan pula Nabi Muhammad tidak akan dimintai pertanggungjawaban akan mereka yang menolak peringatan darinya. Tugas beliau SAW hanya berdakwah.

‎إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.(Al Baqarah : 119)

Itu sebabnya Nabi Muhammad Saw dikatakan bukan orang yang berkuasa atas mereka. Nabi tidak bisa memaksakan kehendaknya atas keyakinan mereka. Sekali lagi, al-Quran menegaskan bahwa tugas Nabi memberi peringatan (mudzakkir). 

‎{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Maka berilah peringatan. karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah. 21-22)

Dengan kata lain, ayat di atas seolah memberitahu kepada Nabi: 

Hai Muhammad, berilah manusia peringatan dengan apa yang engkau diutus kepada mereka untuk menyampaikannya. Tapi tidak usah memaksa mereka mengikutimu karena engkau tidak berkuasa atas apa yang ada dalam hati mereka. Mereka mengikuti ajaran Islam atau tidak, bukan urusanmu, tapi semata faktor hidayah dan rahmat dari Allah.

Dalam ayat lain disebutkan:

‎فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. (Ar-Ra'd: 40).

Semakin jelas dalam ayat ini bahwa tugas Nabi dinyatakan selesai setelah risalah disampaikan, dan selanjutnya Allah yang akan menghisab (memberi perhitungan) apakah mereka mau menerima dan menjalankan apa yang disampaikan Nabi atau tidak. Nabi Muhammad bukan penghitung amalan mereka, bukan pula penentu diterima atau tidaknya amalan mereka, apalagi bertindak sebagI penyiksa bagi mereka yang menolak ajaran Islam.

Karena itulah makna ayat ini: 

‎{لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah: 22).

sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:

‎وَما أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ

dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (Qaf: 45).

Sambung-menyambung tema penting ini dibahas oleh al-Quran:

‎لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya...” (Al-Baqarah:272).

‎فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ 

“...Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah)...” (Ali Imran:20).

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Al-Maidah:92).

Kita tutup pembahasan ini dengan ayat di bawah ini.

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus:99).

Jikalau Nabi Muhammad SAW saja hanya bertugas memberi peringatan, bukan pemaksa dan bukan pula penyiksa, maka tanya ke dalam hati kita: siapa kita jika kemudian mau memaksa orang untuk beriman? Mengapa pula sekarang orang yang sudah menyatakan dirinya beriman pun malah kita anggap kafir atau kita suruh dia murtad. Na’udzubillahi min dzalik!.

Wallahu A'lam