Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Dia (Muhammad SAW) Bukan pemaksa kehendak

Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad Saw adalah pemberi peringatan. Nabi bukan pemaksa agar mereka mengikuti ajaran Islam.

Di antara rangkaian ayat-ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad, setelah ayat Iqra, adalah perintah untuk memberi peringatan:

‎يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 1-2)

Ayat ini merupakan ayat ‘pelantikan’ beliau sebagai Rasul, setelah sebelumnya diangkat sebagai Nabi. 

Sejak itu sejumlah ayat al-Quran mempertegas salah satu tugas pokok Nabi ini:

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.(Al Furqan : 56)

Nabi diutus kepada seluruh umat manusia membawa tugas pokok ini: mubasyiran (memberi kabar gembira) dan nadziran (membawa peringatan). Kabar gembira yang dibawa mengenai hal-hal yang baik berupa kebajikan untuk kebahagiaan manusia, termasuk didalamnya mengenai surga yang dijanjikan.

Sedangkan hal-hal yang disampaikan sebagai peringatan adalah hal-hal buruk yang harus dijauhi, yang bisa merusak tatanan kehidupan manusia, termasuk didalamnya konsekuensi di akherat kelak berupa siksa neraka. Kedua tema ini disampaikan secara seimbang dalam dakwah Nabi Muhammad Saw.

‎وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(Saba’ : 28)

Bahkan ditegaskan pula Nabi Muhammad tidak akan dimintai pertanggungjawaban akan mereka yang menolak peringatan darinya. Tugas beliau SAW hanya berdakwah.

‎إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.(Al Baqarah : 119)

Itu sebabnya Nabi Muhammad Saw dikatakan bukan orang yang berkuasa atas mereka. Nabi tidak bisa memaksakan kehendaknya atas keyakinan mereka. Sekali lagi, al-Quran menegaskan bahwa tugas Nabi memberi peringatan (mudzakkir). 

‎{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Maka berilah peringatan. karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah. 21-22)

Dengan kata lain, ayat di atas seolah memberitahu kepada Nabi: 

Hai Muhammad, berilah manusia peringatan dengan apa yang engkau diutus kepada mereka untuk menyampaikannya. Tapi tidak usah memaksa mereka mengikutimu karena engkau tidak berkuasa atas apa yang ada dalam hati mereka. Mereka mengikuti ajaran Islam atau tidak, bukan urusanmu, tapi semata faktor hidayah dan rahmat dari Allah.

Dalam ayat lain disebutkan:

‎فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. (Ar-Ra'd: 40).

Semakin jelas dalam ayat ini bahwa tugas Nabi dinyatakan selesai setelah risalah disampaikan, dan selanjutnya Allah yang akan menghisab (memberi perhitungan) apakah mereka mau menerima dan menjalankan apa yang disampaikan Nabi atau tidak. Nabi Muhammad bukan penghitung amalan mereka, bukan pula penentu diterima atau tidaknya amalan mereka, apalagi bertindak sebagI penyiksa bagi mereka yang menolak ajaran Islam.

Karena itulah makna ayat ini: 

‎{لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ}

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al-Ghasyiyah: 22).

sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:

‎وَما أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ

dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (Qaf: 45).

Sambung-menyambung tema penting ini dibahas oleh al-Quran:

‎لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya...” (Al-Baqarah:272).

‎فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ 

“...Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah)...” (Ali Imran:20).

‎وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا ۚ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (Al-Maidah:92).

Kita tutup pembahasan ini dengan ayat di bawah ini.

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Yunus:99).

Jikalau Nabi Muhammad SAW saja hanya bertugas memberi peringatan, bukan pemaksa dan bukan pula penyiksa, maka tanya ke dalam hati kita: siapa kita jika kemudian mau memaksa orang untuk beriman? Mengapa pula sekarang orang yang sudah menyatakan dirinya beriman pun malah kita anggap kafir atau kita suruh dia murtad. Na’udzubillahi min dzalik!.

Wallahu A'lam

Menjadi Budaknya Ego

Ditengah hirupikuknya kehidupan Selama ini kita baru sadar bahwa ternyata kita selalu "mendewakan" apa yang telah kita ketahui, dan memandang rendah apa-apa yang tidak kita ketahui.

Sejau ini kita diakrapkan dengan kebenaran yang terbatas oleh penglihatan yang berbatas dan bahwa Solah-olah kebenaran adalah apa yang telah sudah kita ketahui dan Tanpa sadar kita telah menjadi budak bagi ego kita sendiri. 

Kita tak pernah mau memandang kebenaran secara holistik (menyeluruh) sehingga yang terjadi adalah kita selalu menyalahkan orang lain yang berpandangan berbeda.

Maka di tengah maraknya cacian, hujatan dan kebencian yang berserakan di dunia Maya dan nyata ini sebaiknya kita merenungkan nasehat bijak dari Imam Al-Ghazali yang tersebut dalam kitab Ihya Ulumuddin. Bahwa

الناس عبيد لما عرفوا و أعداء لما جهلوا 

Manusia adalah budak bagi apa yang telah diketahuinya dan musuh bagi apa yang tidak diketahuinya. 

Maka, ada baiknya kita mengambil peran Diam.

لو سكت من لا يدري، لقلّ الخلاف بين الخَلق

Kalaulah orang yang tidak tahu itu DIAM, maka pasti akan berkurang perbedaan pendapat di antara manusia.


6 HAL PENGGEROGOT AMAL BAIK:

1. Al-istighlal biuyubil kholqi (sibuk dengan aib orang lain) sehingga lupa pada aib sendiri. Semut diseberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.

2. Qaswatul qulub (hati yang keras) kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang. Sulit menerima nasehat.

3. Hubbun dunya (cinta mati terhadap dunia) merasa hidupnya hanya di dunia aja maka segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di akhirat.

4. Qillatul haya’ (sedikit rasa malunya), jika seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.

5. Thulul amal (panjang angan- angan), merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.

6. Dhulmun la yantahi (kezhaliman yang tak pernah berhenti) perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari 6 perkara tersebut diatas, sehingga kita dapat tetap istiqomah dalam ketaqwaan.

Kita mungkin sering meminta agar dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Setiap saat kita selalu berdo'a seperti yang tersebut dalam QS. Al Furqan ayat 74.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما.

Di dalam doa itu mengandung harapan agar kita dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Adanya ketaqwaan tentu setelah adanya keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin orang beriman seharusnya juga orang yang beriman. 

Imam adalah orang yang dijadikan sebagai panutan. Di dalam doa itu ada permintaan sebagai panutan bagi orang-orang yang bertakwa. Yang berarti sudah menjadi baik terlebih dahulu atau ada usaha sungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik dari yang dipimpin. 

Keberhasilan dalam menata keluarga yang berupa istri dan anak tentu didahulukan daripada masyarakat umum. Keluarga yang baik tentu akan menjadikan penentram hati. Bila keluarga telah tertata, maka keluarga itu bisa menjadi contoh untuk masyarakat. Hal itu diisyaratkan oleh doa diatas.

Menjadi pemimpin yang bisa menjadi contoh, tentu melalui proses panjang, terlebih pemimpin dalam hal keilmuan. 

Ada maqolah Al-Imam Syadlili yang bisa dijadikan peredam bila menghadapi rintangan sebagai berikut.

لا يكمل عالم في مقام العلم حتى يبتلى بأربع: شماتة الأعداء وملامة الأصدقاء وطعن الجهال وحسد العلماء، فإن صبر جعله الله إماما يقتدى به.

Orang yang berilmu tidak akan sempurna derajat keilmuannya sebelum dia diuji dengan empat hal:

1. Dimaki oleh musuh-musuhnya.

2. Dicela oleh teman-temannya.

3. Dihina oleh orang-orang bodoh.

4. Diiri (hasudi) oleh orang-orang alim lainnya.

Jika ia sabar dalam menghadapi cobaan itu, maka ia akan menjadi orang alim yang sejati yang pantas untuk diikuti petuah dan perilakunya.

Karena itu, setelah ayat tersebut terdapat pembahasan tentang kesabaran yang berbuah surga.

أولئك يجزون الغرفة بما صبروا ويلقون فيها تحية وسلاما، خالدين فيها حسنت مستقرا ومقاما.


Semoga bermanfaat.

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Kita semua tahu bahwa suatu perbuatan atau usaha manusia terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) tahap niat, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap hasil.

Berdasar pada QS. Ali Imran, ayat 159 

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

maka tawakal harus kita lakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahap itu.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11, إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, lulus dari ujian, kesehatan, dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu usaha secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usaha lahiriah.

Jadi seseorang akan tetap dalam ketertinggalannya kalau ia tidak berusaha mengatasi ketertinggalan dengan cara mencari ilmu. Seseorang akan tetap hidup sengsara jika ia tidak berikhtiar untuk lepas dari kesengsaraanya, misalnya dengan bekerja keras. Seseorang akan tetap pada watak dan kebiasaannya, seperti pelit, suka iri, malas, pendendam, dan sebagainya, sampai ia berusaha mengubah watak dan kebiasaan tersebut. Seseorang akan tetap sakit sampai ia berusaha mencari kesembuhan dengan cara berobat.

Berikhtiar adalah merupakan kewajiban. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai bentuk ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah SWT dan Jika ia bersabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat.

Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus berDo'a sebagai bentuk usaha batiniah. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya”

Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya.

Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan. Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah SWT. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS al-Mu’min: 60).

Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita lupa berDo'a kepada Allah SWT dalam setiap usaha kita untuk meraih sesuatu. Semakin banyak kita berDo'a dalam kehidupan kita sehar-hari, semakin dekatlah kita kepada Allah SWT dan tentu ini menjadi hal yang terpuji karena dengan berDo'a kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan betapa kecil dan lemahnya kita di depan Allah SWT.

Selain melakukan ikhtiar dan doa kepada Allah SWT dalam upaya kita meraih sesuatu, ada satu hal lagi yang tak boleh kita tinggalkan, yakni tawakal. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakal pada-Nya.”

Jadi memang ikhtiar dan Do'a sesungguhnya belum cukup karena masih ada satu hal lagi yang harus kita lakukam, yakni Tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT.

Pertanyaannya, mengapa kita harus bertawakal kepada Allah SWT?

Tawakal memiliki peran penting dalam hidup ini, terutama terkait dengan usaha dan Do'a kita. Seperti kita ketahui dan mungkin sering kita alami bersama bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau inginkan akan tercapai dengan segera sebagaimana kemauan kita, sebab memang bukan manusia yang mengatur hidup ini. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya usaha dan Do'a kita, kita serahkan kepada Allah SWT. Biarlah Allah yang mengatur kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Allah lebih tahu kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul.

Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT. Terkadang pula Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap, terutama secara mental spiritual, untuk menerima keberhasilan yang kita inginkan. Ingatlah, ada sebagian orang yang ketika usaha dan do'anya dikabulkan, mereka justru makin jauh dari Allah SWT dengan melakukan banyak kemaksiatan.

firman Allah:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Sebagai contoh, seseorang berDo'a memohon kenaikan pangkat dalam jabatannya. Ketika pangkatnya naik dan berkuasa, ia justru banyak melakukan penyalah gunaan jabatan, seperti memanipulasi dan sebagainya. Hal seperti ini banyak kita jumpai di era seperti sekarang ini dimana jabatan tidak lagi dinilai sebagai suatu amanah tetapi telah dipandang sebagai kesempatan untuk memupuk kekayaan sebesar-besarnya secara tidak sah. Sungguh tragis dan ironis, setelah doanya terkabul, ia malah menjadi penghuni penjara. Na’udzubillahi mindzalik. Ini artinya, secara mental spiritual ia sebenarnya belum siap menerima sebuah keberhasilan duniawi.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, kita tentu lebih siap untuk menerima kenyataan. Mereka yang tidak tawakal, mungkin akan sangat kecewa dan bahkan mengalami stres berat ketika usaha dan do'anya tidak atau belum terkabul. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menyalahkan Tuhan dengan menuduh Tuhan tidak adil. Na’udzubillahi mindzalik.

Sebaliknya, mereka yang bertawakal tentu akan sabar menerimanya sambil introspeksi diri dengan tetap berusaha dan berdoa secara istiqamah. Mereka tidak akan putus asa karena menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah Yang Maha Tahu kapan sebaiknya usaha dan doanya akan terkabul. Ketika usaha dan doanya telah terkabul, tentu mereka akan bersyukur karena menyadari sepenuhnya keberhasilan itu berasal dari Allah SWT dan Salah satu bentuk syukur itu dapat kita wujudkan dengan tetap taat dan patuh kepada Allah SWT yang disebut takwa.

Tawakal memiliki banyak sekali hikmah sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran; di antaranya adalah:

Pertama, orang yang bertawakal kepada Allah akan mendapat perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT sebagaimana ditegaskan di dalam Surah Al-Anfal, ayat 49, yang berbunyi: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ "Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Orang-orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap urusannya, Allah akan menunjukkan bukti keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya. Tentu kita ingat bagaimana ketika Rasulullah hendak dibunuh dengan diacungi sebilah pedang oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik.

Kedua, orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat sebagaimana disebutka dalam Surah An-Nahl, ayat 41-42: وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”

Orang-orang yang selalu bertawakal kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupannya, akan selalu mendapat balasan dari Allah SWT, tidak hanya balasan kebaikan di dunia tetapi terlebih balasan di akherat nanti.

Ketiga, orang yang bertawakal hidupnya akan dicukupi oleh Allah SWT sebagai ditegaskan dalam Surah Ath-Thlaaq, ayat 3: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah SWT bahwa orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakal kepada-Nya, akan dicukupi seluruh keperluan hidupnya, baik secara material maupun spiritual.

Demikianlah trilogi kehidupan dalam Islam, yang terdiri dari: ikhtiar, doa dan tawakal. Ketiga hal ini tak bisa dipisahkan dan harus dilakukan secara utuh setiap kali kita menginginkan sesuatu dalam hidup dan kehidupan ini. Semoga Allah SWT. senantiasa membimbing kita untuk melaksanakan trilogi tersebut.

Risalah yang didustakan

Semua orang yang membawa risalah ALLOH pasti dimusuhi.

Demikian dikatakan Waraqah bin Naufal kepada Nabi Muhammad:

لَم يَأتِ رَجُلٌ مِثْلَ مَا جِئْتَ بِهِ اِلَّا عُوْدِيَ

Orang yang membawa risalah seperti yang engkau bawa ini pasti dimusuhi.

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

من كان عدوا لجبريل فإنه نزله على قلبك.

Mengapa malaikat Jibril dimusuhi?.

Jawabannya:

فإنه نزله على قلبك

Karena Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu secara berangsur-angsur. 

Wong wis wani ngaji nyebar ilmu agomo, kudu siap dimusuhi. Ananging ojo golek musuh.

Itu adalah sunnah ALLOH yang pasti akan terjadi. 

Rosululloh disebutkan:

أفإن مات أو قتل انقلبتم على عقبيه

Apakah bila Nabi Muhammad mati (wafat) atau dibunuh, maka kalian akan kembali berpaling.

Sehingga diriwayatkan bahwa Rosululloh pernah disihir dan diracun oleh orang Yahudi. Berbagai perencanaan pembunuhan oleh orang-orang kafir. 

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا من المجرمين

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Akan tetapi, ALLOH tetap melindungi Rosululloh.

والله يعصمك من الناس.

إنا كفيناك المستهزئين.

Begitu pula orang-orang yang mengikuti jalan Rosululloh, pasti akan dilindungi oleh ALLOH.

وكفى الله المؤمنين القتال.

Dan akhirnya, semoga kita semua dilindungi oleh ALLOH dalam berjuang untuk agama ini.

Menjaga relasi di langit dan di bumi

Banyak kisah yang kita baca dan dengar dari banyak orang yang bertutur tentang sahabat atau kenalannya tentang sebuah kebajikan, kemudian merasa ingin membalas kebaikan. Bahkan menginspirasi penerima kebaikan untuk melakukan kebaikan yang serupa.

Begitupun Kejahatan dan Kenakalan. Banyak kisah tentang korban Bullian yang mendera seseorang yang kemudian berbuah ketidak nyamanan dalam bergaul dan bahkan berakhir dengan bunuh diri.

Betapa perbuatan baik dan tidak baik itu berkesan, dan bahkan mempengaruhi interaksi sosial antara sesama di kemudian hari.

Bahwa kebaikan kelak akan kembali kepada yang menanam, begitupun keburukan juga dipercaya akan kembali berpulang kepada pemiliknya. Orang yang menerima kebaikan akan cenderung melakukan hal yang serupa dan selalu komitmen dengan kebaikanya, sebaliknya juga demikian.

Maka, sesiapapun kamu jangan pernah lupa ketika kita berada ‘di atas’. Saat karir dan posisi kamu berada pada puncaknya, tetaplah berbaik kepada sesama, kepada lingkungan, kepada sahabat-sahabat kita terutama kepada orang yang berjasa lebih ditengah masa sulitmu mendera.

Ingat Tetaplah membumi. Berkompetisilah dalam kebaikan kepada sesama dengan tetap merajut ukhuwah langit dan di bumi. Sebab hidup ini terus berputar, ada saatnya kita akan selesai dan kembali turun ke bawah, dimana pada saat itu, merekalah yang akan menjadi kawan bergaul kamu seperti sedia kala.

Allah SWT. mengajarkan kepada kita untuk saling memberi penghormatan yang lebih baik dari yang diberikan oleh orang lain yang serupa dan atau setimpal. 

‎وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها

Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)

Dan pada saat sedang jatuh, janganlah berputus asa, teruslah berusaha untuk kembali meraih kesuksesan, dengan tetap menjaga relasi dengan langit. Karena apa yang kita raih saat ini akan kita pertanggung-jawabkan kelak pada Allah dihari kemudian.