Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal

Kita semua tahu bahwa suatu perbuatan atau usaha manusia terdiri dari 3 (tiga) tahap, yakni: (1) tahap niat, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap hasil.

Berdasar pada QS. Ali Imran, ayat 159 

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

maka tawakal harus kita lakukan pada akhir setiap tahap. Artinya, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dalam keseluruhan tahap itu.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11, إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, lulus dari ujian, kesehatan, dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu usaha secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usaha lahiriah.

Jadi seseorang akan tetap dalam ketertinggalannya kalau ia tidak berusaha mengatasi ketertinggalan dengan cara mencari ilmu. Seseorang akan tetap hidup sengsara jika ia tidak berikhtiar untuk lepas dari kesengsaraanya, misalnya dengan bekerja keras. Seseorang akan tetap pada watak dan kebiasaannya, seperti pelit, suka iri, malas, pendendam, dan sebagainya, sampai ia berusaha mengubah watak dan kebiasaan tersebut. Seseorang akan tetap sakit sampai ia berusaha mencari kesembuhan dengan cara berobat.

Berikhtiar adalah merupakan kewajiban. Maka barangsiapa mau berikhtiar, ikhtiarnya akan dicatat sebagai bentuk ibadah. Jika ikhtiarnya membuahkan hasil, maka setidaknya ia akan mendapat 2 (dua) keuntungan. Pertama, ia akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Kedua, ia akan mendapat keberhasilan atau manfaat dari apa yang telah ia usahakan. Tetapi jika ikhtiarnya belum berhasil, maka setidaknya ia akan mendapat pahala dari Allah SWT dan Jika ia bersabar, maka ia akan mendapatkan pahala yang berlipat.

Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus berDo'a sebagai bentuk usaha batiniah. ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkannnya”

Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya.

Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan. Hikmah lain adalah bahwa dengan berdoa, kita akan terhindar dari klaim bahwa keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar kita sendiri tanpa campur tangan dari Allah SWT. Tentu ini akan mejadi kesombongan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS al-Mu’min: 60).

Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita lupa berDo'a kepada Allah SWT dalam setiap usaha kita untuk meraih sesuatu. Semakin banyak kita berDo'a dalam kehidupan kita sehar-hari, semakin dekatlah kita kepada Allah SWT dan tentu ini menjadi hal yang terpuji karena dengan berDo'a kita menunjukkan kerendahan dan pengakuan betapa kecil dan lemahnya kita di depan Allah SWT.

Selain melakukan ikhtiar dan doa kepada Allah SWT dalam upaya kita meraih sesuatu, ada satu hal lagi yang tak boleh kita tinggalkan, yakni tawakal. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang brtawakal pada-Nya.”

Jadi memang ikhtiar dan Do'a sesungguhnya belum cukup karena masih ada satu hal lagi yang harus kita lakukam, yakni Tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT.

Pertanyaannya, mengapa kita harus bertawakal kepada Allah SWT?

Tawakal memiliki peran penting dalam hidup ini, terutama terkait dengan usaha dan Do'a kita. Seperti kita ketahui dan mungkin sering kita alami bersama bahwa tidak setiap yang kita usahakan atau inginkan akan tercapai dengan segera sebagaimana kemauan kita, sebab memang bukan manusia yang mengatur hidup ini. Allah-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya usaha dan Do'a kita, kita serahkan kepada Allah SWT. Biarlah Allah yang mengatur kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Allah lebih tahu kapan usaha dan Do'a kita akan terkabul.

Terkadang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT. Terkadang pula Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap, terutama secara mental spiritual, untuk menerima keberhasilan yang kita inginkan. Ingatlah, ada sebagian orang yang ketika usaha dan do'anya dikabulkan, mereka justru makin jauh dari Allah SWT dengan melakukan banyak kemaksiatan.

firman Allah:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Sebagai contoh, seseorang berDo'a memohon kenaikan pangkat dalam jabatannya. Ketika pangkatnya naik dan berkuasa, ia justru banyak melakukan penyalah gunaan jabatan, seperti memanipulasi dan sebagainya. Hal seperti ini banyak kita jumpai di era seperti sekarang ini dimana jabatan tidak lagi dinilai sebagai suatu amanah tetapi telah dipandang sebagai kesempatan untuk memupuk kekayaan sebesar-besarnya secara tidak sah. Sungguh tragis dan ironis, setelah doanya terkabul, ia malah menjadi penghuni penjara. Na’udzubillahi mindzalik. Ini artinya, secara mental spiritual ia sebenarnya belum siap menerima sebuah keberhasilan duniawi.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, kita tentu lebih siap untuk menerima kenyataan. Mereka yang tidak tawakal, mungkin akan sangat kecewa dan bahkan mengalami stres berat ketika usaha dan do'anya tidak atau belum terkabul. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menyalahkan Tuhan dengan menuduh Tuhan tidak adil. Na’udzubillahi mindzalik.

Sebaliknya, mereka yang bertawakal tentu akan sabar menerimanya sambil introspeksi diri dengan tetap berusaha dan berdoa secara istiqamah. Mereka tidak akan putus asa karena menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah Yang Maha Tahu kapan sebaiknya usaha dan doanya akan terkabul. Ketika usaha dan doanya telah terkabul, tentu mereka akan bersyukur karena menyadari sepenuhnya keberhasilan itu berasal dari Allah SWT dan Salah satu bentuk syukur itu dapat kita wujudkan dengan tetap taat dan patuh kepada Allah SWT yang disebut takwa.

Tawakal memiliki banyak sekali hikmah sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran; di antaranya adalah:

Pertama, orang yang bertawakal kepada Allah akan mendapat perlindungan, pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT sebagaimana ditegaskan di dalam Surah Al-Anfal, ayat 49, yang berbunyi: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ "Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Orang-orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap urusannya, Allah akan menunjukkan bukti keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya. Tentu kita ingat bagaimana ketika Rasulullah hendak dibunuh dengan diacungi sebilah pedang oleh seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik.

Kedua, orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat sebagaimana disebutka dalam Surah An-Nahl, ayat 41-42: وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”

Orang-orang yang selalu bertawakal kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupannya, akan selalu mendapat balasan dari Allah SWT, tidak hanya balasan kebaikan di dunia tetapi terlebih balasan di akherat nanti.

Ketiga, orang yang bertawakal hidupnya akan dicukupi oleh Allah SWT sebagai ditegaskan dalam Surah Ath-Thlaaq, ayat 3: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” Ayat tersebut merupakan jaminan dari Allah SWT bahwa orang-orang yang hatinya senantiasa bertawakal kepada-Nya, akan dicukupi seluruh keperluan hidupnya, baik secara material maupun spiritual.

Demikianlah trilogi kehidupan dalam Islam, yang terdiri dari: ikhtiar, doa dan tawakal. Ketiga hal ini tak bisa dipisahkan dan harus dilakukan secara utuh setiap kali kita menginginkan sesuatu dalam hidup dan kehidupan ini. Semoga Allah SWT. senantiasa membimbing kita untuk melaksanakan trilogi tersebut.

Risalah yang didustakan

Semua orang yang membawa risalah ALLOH pasti dimusuhi.

Demikian dikatakan Waraqah bin Naufal kepada Nabi Muhammad:

لَم يَأتِ رَجُلٌ مِثْلَ مَا جِئْتَ بِهِ اِلَّا عُوْدِيَ

Orang yang membawa risalah seperti yang engkau bawa ini pasti dimusuhi.

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

من كان عدوا لجبريل فإنه نزله على قلبك.

Mengapa malaikat Jibril dimusuhi?.

Jawabannya:

فإنه نزله على قلبك

Karena Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu secara berangsur-angsur. 

Wong wis wani ngaji nyebar ilmu agomo, kudu siap dimusuhi. Ananging ojo golek musuh.

Itu adalah sunnah ALLOH yang pasti akan terjadi. 

Rosululloh disebutkan:

أفإن مات أو قتل انقلبتم على عقبيه

Apakah bila Nabi Muhammad mati (wafat) atau dibunuh, maka kalian akan kembali berpaling.

Sehingga diriwayatkan bahwa Rosululloh pernah disihir dan diracun oleh orang Yahudi. Berbagai perencanaan pembunuhan oleh orang-orang kafir. 

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا من المجرمين

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن

Akan tetapi, ALLOH tetap melindungi Rosululloh.

والله يعصمك من الناس.

إنا كفيناك المستهزئين.

Begitu pula orang-orang yang mengikuti jalan Rosululloh, pasti akan dilindungi oleh ALLOH.

وكفى الله المؤمنين القتال.

Dan akhirnya, semoga kita semua dilindungi oleh ALLOH dalam berjuang untuk agama ini.

Menjaga relasi di langit dan di bumi

Banyak kisah yang kita baca dan dengar dari banyak orang yang bertutur tentang sahabat atau kenalannya tentang sebuah kebajikan, kemudian merasa ingin membalas kebaikan. Bahkan menginspirasi penerima kebaikan untuk melakukan kebaikan yang serupa.

Begitupun Kejahatan dan Kenakalan. Banyak kisah tentang korban Bullian yang mendera seseorang yang kemudian berbuah ketidak nyamanan dalam bergaul dan bahkan berakhir dengan bunuh diri.

Betapa perbuatan baik dan tidak baik itu berkesan, dan bahkan mempengaruhi interaksi sosial antara sesama di kemudian hari.

Bahwa kebaikan kelak akan kembali kepada yang menanam, begitupun keburukan juga dipercaya akan kembali berpulang kepada pemiliknya. Orang yang menerima kebaikan akan cenderung melakukan hal yang serupa dan selalu komitmen dengan kebaikanya, sebaliknya juga demikian.

Maka, sesiapapun kamu jangan pernah lupa ketika kita berada ‘di atas’. Saat karir dan posisi kamu berada pada puncaknya, tetaplah berbaik kepada sesama, kepada lingkungan, kepada sahabat-sahabat kita terutama kepada orang yang berjasa lebih ditengah masa sulitmu mendera.

Ingat Tetaplah membumi. Berkompetisilah dalam kebaikan kepada sesama dengan tetap merajut ukhuwah langit dan di bumi. Sebab hidup ini terus berputar, ada saatnya kita akan selesai dan kembali turun ke bawah, dimana pada saat itu, merekalah yang akan menjadi kawan bergaul kamu seperti sedia kala.

Allah SWT. mengajarkan kepada kita untuk saling memberi penghormatan yang lebih baik dari yang diberikan oleh orang lain yang serupa dan atau setimpal. 

‎وَإِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها

Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik darinya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (An-Nisa: 86)

Dan pada saat sedang jatuh, janganlah berputus asa, teruslah berusaha untuk kembali meraih kesuksesan, dengan tetap menjaga relasi dengan langit. Karena apa yang kita raih saat ini akan kita pertanggung-jawabkan kelak pada Allah dihari kemudian.

Mintalah Hanya Kepadaku

Jika engkau mengetuk pintu rumah orang (manusia) boleh jadi penghuninya sedang tidak ada atau pemilik rumah sedang dalam  kesibukannya dan begitupun ketukan ketukan selanjutnya yang ada hanyalah kesia-siaan belaka... Jika itu terus kamu lakukan bisa jadi pemilik rumah akan semakin naik amarahnya.

Begitulah yang terjadi ketika engkau meminta dan berharap kepada mahluk yang namanya manusia, jika engkau sering meminta kepadanya mereka akan menjauh dan menganggapmu semakin hina dimatanya.

Tapi ketika pola dan pikirmu kau ubah, hatimu kau cuci dan kembali untuk mengetuk pintu rahmat dan karunia dari  Allah SWT. Allah akan selalu dan dipastikan ada untuk selamanya...

Allah tahu, Allah mendengar akan semua yang menjadi harapanmu jika kamu mengetuk pintuNya, niscaya Allah akan mendengar jeritan hatimu.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْن 

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Maka semakin sering kamu memanggil (mengetuk) nama-Nya, semakin dekat dirimu dan diriNya, semakin intim hubunganmu denganNya, sungguh Allah SWT telah mempersiapkan segala yang indah menurutNya untukmu, hanya terkadang engkau tidak sadari itu dan selalu terburu oleh nafsu su'mu.

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186).


يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ


“Wahai Rabb Yang Maha hidup, Wahai Rabb Yang Maha berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT

Optimis akan Rahmat dan Ampunan Allah SWT.

Oleh:

Zainuddin, M.Pd.


Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sering berbuat salah, dan yang paling baik dari mereka adalah yang bersegera untuk bertaubat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:


 كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ 


Artinya;

Seluruh anak Adam sering berbuat kesalahan. Dan yang terbaik dari mereka yang sering berbuat kesalahan adalah yang paling banyak bertaubat (HR. Ibnu Majah no. 4251; Imam Suyuti menilai hadits ini shahih).


Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa jika tidak ada lagi manusia pendosa, Allah SWT akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa dan Allah SWT akan mengampuni mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:


لَوْلاَ أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ


Artinya;

Seandainya kalian tidak ada yang berdosa, maka Allah akan menciptakan makhluk lagi yang akan berbuat dosa dan akan mengampuni mereka (HR. Muslim no. 2748).


Ampunan dan kasih sayang Allah sangatlah luas. Sebagai seorang mukmin, hendaknya kita tetap optimis dan meyakini bahwa Allah SWT maha mengampuni seluruh dosa-dosa kita.


Maka, langkah pertama agar hati kita tetap merasa tenang dengan taubat adalah optimis bahwa Allah SWT mengampuni dosa kita. Sebagimana Allah berfirman dalam salah satu hadis Qudsiy: 


قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


Artinya:

Wahai anak Adam! Jika kamu berdo'a dan berharap kepadaKu, maka akan Aku ampuni segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika dosamu setinggi langit dan engkau memohon ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi dan engkau menemuiKu (kembali kepadaKu) dengan keadaan tidak menyekutukanKu dengan suatu apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan seisi bumi pula (HR. Tirmidzi no. 3540).


Maksud hadis ini adalah, bahwa Allah SWT sangat menyukai hamba-nya yang bertaubat melebihi senangnya seseorang yang menemukan hartanya yang hilang.


Kita haruslah selalu optimis bahwa dengan bertaubat yang sebenar-benarnya pasti Allah SWT akan diterima dan dosa akan diampuni, karena dalam hadis Qudsiy yang lain Allah berfirman, 


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي 


Artinya;

Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku (HR. Bukhari no. 7505). 


Taubat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah, Disebutkan:


أما شروطها فثلاثة: أولها الندم على ما عمل من المخالفات وهو قول النبي صلى الله عليه وسلم الندم توبة. وعلامة صحة الندم رقة القلب وغزارة الدمع ولهذا روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: جالسوا التوابين فإنم أرق أفئدة. والثاني ترك الزلات في جميع الحالات والساعات. والثالث العزم على ألا يعود إلى مثل ما اقترف من المعاصى والخطيئات


Artinya, “Syarat tobat ada tiga:

Pertama, menyesali atas kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan, ini berdasarkan hadis Rasulullah, ‘Menyesali kesalahan adalah tobat’. Tanda dari penyesalan adalah lembutnya hati dan berderainya air mata. Sebab itu, Rasulullah mengatakan, ‘Berkumpullah bersama orang yang bertobat, karena hati mereka lembut’.

Kedua, meninggalkan setiap kesalahan di mana pun dan kapan pun.

Ketiga, berjanji dan berusaha untuk tidak kembali pada dosa dan kesalahan.


Rahmat dan kedermawanan Allah tidak terukur. Walaupun seseorang datang kepada-Nya dengan dosa seisi langit dan bumi, kasih sayang dan ampunan Allah lebih besar dari itu semua.


Allah SWT akan mengampuni semua dosa dengan syarat hamba-nya memohon ampun disertai iman di dalam hati dan menjauhi perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah SWT:


اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا


Artinya;

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar (QS. An-Nisa 48).


Lantas bagaimana Tanda-tanda taubat yang diterima;


Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa tanda diterimanya taubat seorang hamba bisa dilihat dalam 6 Perkara:


1. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya tidak terjaga dari maksiat, sehingga maksiat kemungkinan bisa terjadi kembali. Kemudian dia berusaha untuk menyempurnakan amalnya.


Maksudnya, ia tidak merasa telah suci dan berbangga hati bahwa ia tidak akan pernah berbuat dosa lagi. Hal ini menumbuhkan kehati-hatian dalam berucap, berbuat dan bersikap.


Maka betapa pentingnya menjaga lisan kita:


أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ حِفْظُ اللِّسَانِ


Artinya:

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah menjaga lisan.”


2. Dia lebih banyak berempati, berkontemplasi, dan bersenang-senang secukupnya saja. (Bahagia secukupnya)


Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:


مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ قَلَّ فَرَحُهُ، وَقَلَّ حَسَدُهُ   


Artinya, “Siapa yang banyak mengingat kematian akan sedikit gembiranya dan sedikit rasa hasudnya,” (HR. Ibnu al-Mubarak).


3. Bergaul dengan orang-orang baik dan menjauhi orang-orang dengan perilaku buruk.


Kita tahu bahwa bersama orang-orang baik akan membuat iman kita bertambah sekaligus mendekatkan kepada kebaikan-kebaikan.


Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً


Artinya;

“Teman yang baik dan teman yang buruk dibaratkan seperti pembawa minyak wangi dan peniup selongsong api. Pembawa minyak wangi akan menghembuskan aroma wangi kepadamu. Sehingga engkau membeli minyak wanginya atau mencium aromanya. Sedangkan peniup selongsong api akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau asap darinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


4. Melihat bahwa harta dunia yang sedikit adalah banyak dan mengambil secukupnya saja.


Selanjutnya, melihat bahwa amal akhiratnya masih sedikit sehingga dia fokus memperbanyak amal akhirat.


التَّفَكُّرُ فِى عَظِمَةِ اللهِ وَجَنَّتِهِ وَنَارِهِ سَاعَةً خَيرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ


Artinya:

“Bertafakkur sejenak tentang keagungan Allah serta tentang surga dan neraka-Nya itu lebih baik dari pada shalat malam.”


5. Lebih banyak meluangkan diri untuk beribadah kepada Allah dan lebih santai dalam memenuhi kebutuhan hidup.


Dia memahami bahwa rezeki sudah dijamin, sehingga ia tetap berikhtiar namun tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi.


Maksudnya tidak pernah resah dengan rezeki yang sudah ditetapkan, tetapi resah jika ketaatannya pada Allah belum maksimal.


تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُا فِى ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوْا


Artinya;

“Bertafakkurlah kalian tentang ciptaan Allah SWT., dan janganlah sekali-kali bertafakkur tentang Dzat Allah, sebab kalian akan celaka.”


6. Lebih bijak dan berhati-hati dalam bertutur kata.


Orang yang diterima taubatnya hanya berbicara hal yang bermanfaat dan menjauhi kesia-siaan. Dia juga banyak bertafakur mengenai keagungan Allah.


إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ   


Artinya;

“Sesungguhnya orang yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bicaranya dalam hal yang tiada guna.” (HR. Ibnu Nashr).


Oleh karenanya, tidak heran jika menjaga lisan adalah termasuk amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits;


“Amal yang paling dicintai Allah adalah menjaga lisan,” (HR. Al-Baihaqi)


Kesimpulan

Al-Baqoroh 284


Merasa optimis bahwa rahmat dan ampunan Allah begitu luas kepada hamba-Nya adalah kunci ketenangan hati untuk orang yang bertobat.


Sebagai manusia kita juga perlu sadar bahwa kita tidak sempurna dan rentan melakukan kesalahan. Namun, kita tidak boleh berkecil hati karena Allah Maha Pengampun. 


Hamba yang baik adalah mereka yang berusaha menyempurnakan amal kebaikan dan tidak merasa cukup dengan apa yang diperbuat. Kita juga harus senantiasa berusaha untuk hidup secara seimbang dengan mengejar akhirat dan tidak lupa berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup di bumi.