Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Nasihat Pernikahan

 Sebagian orang mengatakan bahwa kehidupan suami istri didasari atas rasa cinta.


Jika hal itu memang benar, maka apabila rasa cinta itu hilang karena suatu hal, maka akan runtuhlah bangunan rumah tangga.


Oleh karena itu, Islam mengajarkan bahwa dalam mempergauli istri bukan dengan cinta tetapi dengan kebajikan.


وعاشروهن بالمعروف


"Pergauilah wanita-wanita itu dengan baik".


Al-Quran mengibaratkan dengan kata ma'ruf (baik, patut), tidak mengibaratkan dengan


وعاشروهن بالوداد أو بالمحبة


Dengan menggunakan kata widad atau hubb (cinta).


Karena kata ma'ruf mempunyai makna lebih luas dari pada kata mahabbah.


Kata Ma'ruf yang mempunyai arti baik atau patut digunakan untuk berbuat baik walaupun terhadap orang yang dibenci. Sedangkan kata Widad yang mempunyai arti cinta digunakan untuk berbuat baik terhadap orang yang dicintai atau terhadap orang yang kita merasa tentram bersamanya.


Hal itu dibuktikan dengan firman ALLOH ketika menjelaskan tentang perintah berbuat baik terhadap orang tua, walaupun keduanya masih dalam kekafiran dan memaksa untuk berbuat syirik, dengan menggunakan kata Ma'ruf:


وصاحبهما في الدنيا معروفا


Setelah menjelaskan paksaan keduanya terhadap kemusyrikan.


وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما


Paksaan akan kemusyrikan tentu hal yang dibenci, akan tetapi kita tetap diperintah untuk berbuat baik kepadanya.


Karena itu Al-Quran mengatakan:


وعاشروهن بالمعروف


Pergaulan suami istri dengan dasar ma'ruf, walaupun sang suami sedang benci terhadap istri. Bukan dasar cinta, karena bila demikian, saat cinta luntur karena benci, maka rumah tangga pun akan hancur.


 نعوذ بالله من ذلك

Hal itu diperkuat dengan firman ALLOH setelahnya


فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا


Maka, Walaupun ada rasa benci terhadap istri, hal itu mungkin karena sang suami sedang benci terhadap sesuatu hal. Karena itu, ALLOH mengajarkan agar tetap mempertahankan rumah tangga karena:


ويجعل الله فيه خيرا كثيرا


ALLOH menjadikan pada hal itu kebaikan yang banyak, karena:


1. Hal itu adalah wujud menjalankan perintah ALLOH.

2. Menerima Wasiat ALLOH yang tentu menghasilkan kebahagiaan dunia akhirat.

3. Memerangi hawa nafsu, dengan tetap mempertahankan rumah tangga walaupun tiada rasa cinta.

Hal ini adalah bentuk tata krama yang baik. Karena terkadang rasa benci yang ada akan berubah menjadi rasa cinta, seperti banyak disaksikan pada beberapa kasus. 


Dan setelah hilangnya kebencian akan timbul rasa sayang dan cinta yang besar sehingga keduanya diberi rizki berupa anak sholih. Dan hal ini adalah salah satu kebaikan yang dijanjikan oleh ALLOH.


Akan tetapi, ketika memang harus berpisah, Maka tetap dengan cara yang baik أو تسريح بإحسان dan ingat bahwa cerai adalah perkara yang dibenci walaupun hal itu halal. Seperti Sabda Nabi:


أبغض الحلال إلى الله الطلاق.


Itulah Pesan ALLOH dalam firmannya:


وعاشروهن بالمعروف


Mempergauli Istri dengan baik, walaupun tiada rasa cinta. Mengapa?


Karena penyebab rasa tidak cinta salah satunya adalah tidak adanya hal yang menarik dari diri perempuan itu. Semisal wajahnya kurang cantik, dan seterusnya.


Ingatlah wahai laki-laki!!!


Bahwa yang menjadi pokok pada istri adalah mereka itu suatu perkara untuk menyalurkan rasa dari laki-laki. Karena itu, apabila suami melihat seorang perempuan yang cantik sehingga ia terpikat terhadapnya, maka islam memerintahkan agar segera mendatangi istrinya dan berkumpul dengannya, untuk menyalurkan hasrat yang ditimbulkan dari wanita cantik itu. 


Hal itu karena setelah hasratnya tersalurkan dengan sang istri, maka akan redamlah syahwat yang meledak-ledak, walaupun syahwat itu ditimbulkan dari melihat wanita lain.


Semoga kita dan keluarga dijaga dari pandangan haram dan perbuatan farji yang haram.

Ridho Allah SWT melebihi Ni'mat Dunia

Perkembangan teknologi informasi di era industri 4:0 menjadikan Manusia banyak mengalami pergeseran dan perubahan paradigma serta keyakinan, tak ayal perubahan tersebut akan bermuara pada proses degradasi iman yang sangat signifikan, kita paham bahwa sejak hadirnya Adam As. hingga lahirnya sosok penyempurna akhlaq sekaligus pemberi syafaat (Muhammad SAW.), bahkan hingga datangnya Qiyamat nanti Allah SWT. telah perintahkan malaikat dengan masing-masing tugas dan fungsinya, namun seiring berjalannya perkembangan dan perubahan zaman, banyak dari kita yang tak lagi mempercayai wadhifah yang dipercayakan kepada malaikat tersebut, kita live streaming, kita record, kita posting seluruh rutinitas yang bersifat pribadi dan privasi kita di ruang-ruang sosial dan kita forward ke seluruh dinding-dinding virtual dan lain sebagainya, sepertinya ada yang low dengan manah kita hinggah kita ingin melampaui tugas malaikat roqib yang berwenang mencatat amal baik. Apakah mungkin mereka tidak ingin merepotkan malaikat lagi??? Ataukah tidak lagi percaya dengan kemampuan malaikat Roqib???


رِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ


Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah.

Permata Manusia


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡإِنۡسَانَ فِيۡۤ أَحۡسَنِ تَقۡوِيۡم


Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dalam bentuk terbaik. Ia diciptakan dengan bentuk fisik yang indah, juga diberi perangkat lunak yang sempurna, seperti Akal pikiran, Nafsu, dan Syahwat.

Manusia adalah makhluk yang berbeda dari mahluk Allah lainnya. Malaikat diciptakan hanya memiliki akal tanpa diberi syahwat dan nafsu. Hewan dibekali dengan syahwat sehingga hidupnya hanya mengikuti keinginan kebutuhan jasmaninya; seperti makan, minum, berhubungan badan dan segala keinginan yang bersifat jasmaniah. Sementara setan diciptakan hanya dengan bekal nafsu sehingga sepanjang hidupnya ia selalu ingkar akan nikmat Allah.

Manusia, sebagaimana disebutkan dalam surat At-Tiin ayat 4 diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya:

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡإِنۡسَانَ فِيۡۤ أَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Manusia diciptakan dengan segala yang dikaruniakan kepada malaikat, hewan dan setan, yakni berupa akal pikiran, syahwat, dan hawa nafsu. Oleh karenanya, kehidupan umat manusia cenderung lebih dinamis, karena manusia berjuang dalam tarikan antara ketiganya. Manusia bisa menjadi seperti malaikat hanya tunduk patuh pada Allah, juga bisa menjelma seperti hewan yang hanya mementingkan keinginan jasmaninya, juga bisa menjadi seperti setan yang hanya mengumbar hawa nafsunya.

Sebagai makhluk ciptaan dalam bentuk terbaik, manusia dikaruniai empat hal sebagai permata dalam dirinya.

Empat permata ini disebutkan Rasulullah dalam hadistnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ihya’ Ulumiddin.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَةُ جَوَهِرَ فِيْ جِسْمِ بَنِيْ اَدَمَ يُزَلُهَا اَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ اَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ وَالدِّيْنُ وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الْصَّالِحُ

Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat permata dalam tubuh manusia yang dapat hilang karena empat hal. Empat permata tersebut adalah Akal, Agama, sifat malu, dan amal salih”.

Permata pertama yang dianugerahkan Allah SWT adalah Akal, akal adalah alat untuk memahami agama. Agama adalah rambu-rambu atau aturan yang memberikan arah pada manusia, sifat malu adalah pengendali, dan amal salih adalah buah dari akal memahami agama dengan pengendali berupa sifat malu tadi. Akal menjadi pemimpin dalam tubuh manusia untuk memahami mana yang hak dan batil, mana yang patut ataupun tidak, mana yang harus dikerjakan ataupun ditinggalkan. Ibnu Hajar al-Asyqalani dalam kitab Nashaihul Ibad mendefinisikan akal adalah: 

جَوْهَرٌ رُوْحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالَى مُتَعَلَّقًا بِبَدْنِ الاِنْسَانِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ

“Permata ruhani ciptaan Allah yang berada dalam jasad manusia untuk mengetahui sesuatu yang hak dan batil.”

Permata kedua yang dikaruniakan Allah kepada manusia adalah agama. Agama adalah aturan atau norma yang mengarahkan akal manusia untuk menerima hal-hal yang baik, layak dan pantas.

Agama menjadi pedoman bagaimana manusia menjalani kehidupannya; bagaimana mengendalikan syahwat dan nafsu. Akal sehat akan mengarahkan kita dapat menerima agama yang hanif (lurus), yang mampu memberikan ketenangan lahir batin dan dapat melahirkan sifat pengedali (malu), serta membuahkan amal salih.

Permata ketiga, Malu merupakan sifat yang dikembangkan oleh agama untuk mengendalikan perilaku manusia, yang dapat membedakan kita dengan hewan ataupun setan. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani membagi malu menjadi dua, yakni haya’un nafsiyun dan haya’un imaniyun. Haya’un nafsiyun adalah rasa malu yang diberikan Allah pada setiap manusia, seperti rasa malu untuk memperlihatkan auratnya dan sejenisnya. Sifat ini tidak diberikan pada hewan. Sementara haya’un imaniyun adalah  

أَنْ يَمْنَعَ المُؤْمِنُ مِنْ فِعْلِ الْمَعَاصِي خَوْفًا مِنَ اللهِ

“Ketika seorang mukmin mampu mencegah dirinya untuk berbuat maksiat karena takut kepada Allah subhanahu wata'ala.”

Sifat ini hanya diberikan pada orang mukmin yang mampu menggunakan akalnya untuk memahami perintah dan larangan Allah. Karena itu, wajar jika Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada sahabatnya dengan mengatakan:  اَلْحَيَاءُ مِنَ الْاِيْمَانِ “Malu itu sebagian dari iman.” Malu untuk berbuat maksiat, malu meninggalkan perintah agama, malu tidak berbuat baik dan lain sebagainya.

Permata yang terakhir yang dimiliki manusia adalah amal shalih, yakni perbuatan yang patut dan baik menurut kaidah agama. Amal shalih adalah buah dari kemampuan kita memahami agama, menjalankan perintah agama, serta kemampuan kita mengendalikan sikap dalam kehidupan. Banyak orang mampu memahami agama atau mengerti ilmu agama, tetapi tidak mampu mengendalikan syahwat dan nafsunya, sehingga ia tidak memiliki rasa malu, maka ia hanya bisa melakukan sesuatu yang hanya berorientasi pada kebutuhannya yang kadang merugikan orang lain. Contoh sederhana yang dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyak orang pandai agama tetapi tidak mampu mengendalikan diri, sehingga ia bukan mengamalkan ilmu agama, namun hanya memperalat agama untuk kepentingan dirinya atau kelempoknya. Maka akibat yang timbul dari itu bukan amal shalih tetapi justru maksiat.

Rasulullah dalam hadits di atas juga lanjut mengingatkan pada kita akan bahaya yang mengancam empat permata manusia tersebut. Rasulullah mengatakan: 

فَالْغَضَبُ يُزِيْلُ الْعَقْلَ وَالْحَسَدُ يُزِيْلُ الدِّيْنَ وَالطَّمَعُ يُزِيْلُ الْحَيَاءَ وَالْغِيْبَةُ يُزِيْلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ

“Ghadlab (marah-marah) dapat menghilangkan akal, iri dan dengki (hasud) dapat menghilangkan agama, serakah (thama’) dapat menghilangkan sifat malu, dan menggunjing (ghibah) dapat menghilangkan amal shalih.

Semoga kita dapat mengoptimalkan permata yang ada dalam hidup kita untuk menjadi insan pilihan dan masuk dalam kategori muttaqin (orang yang memiliki ketakwaan). 

Dalam kitab Dhurrotun Nasihin diceritakan bahwa:

Ketahuilah sebelum Allah swt menciptakan akal dan nafsu yang hendak diletakkan dalam diri Adam As. terlebih dahulu Allah menguji keduanya agar kelak dikemudian hari Adam As. dan anak cucunya tahu fungsi dari keduanya, cara menggunakan dan menaklukkan keduanya.

Di dalam kitab tersebut dinyatakan bahwa setelah Allah menciptakan akal dan nafsu, lalu Allah memerintahkan mereka menghadap-Nya. Kemudian ditanya satu persatu.

Akal pun datang menghadap dan ketika disuruh berbalik, berbaliklah ia. Lalu Allah pun bertanya kepadanya, “Man ana wa man anta?( siapa Aku dan siapa kamu?)”.Maka dengan rasa penuh tawadhu’, akal menjawab, “Anta Rabbi wa ana ‘abduka adh dhoif (Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu yang lemah)”. Karena itu Allah memberikan kemuliaan kepada akal.

kemudian giliran nafsu, ketika diperintahkan untuk menghadap, ia diam saja, tidak menjawab. Ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama “Man ana wa man anta?( siapa Aku dan siapa kamu?)”., dengan sombongnya nafsu menjawab, “Ana wa ana, Anta wa Anta” (aku adalah aku, Engkau adalah Engkau). Karena jawaban itulah maka Allah menghukumnya dengan memasukkan nafsu ke dalam neraka Jahiim selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan dari neraka Jahiim dan ditanya lagi  oleh Allah  “Man ana wa man anta?( siapa Aku dan siapa kamu?)”., diapun menjawap dengan jawapan yang sama. “Ana wa ana, Anta wa Anta” (aku adalah aku, Engkau adalah Engkau).Akhirnya Allah memasukkan lagi nafsu ke neraka Juu’ (neraka yang penuh dengan rasa lapar yang amat sangat) selama 100 tahun pula. Nafsu dibiarkan tanpa makan dan minum. setelah nafsu tidak diberi makan dan minum ( puasa) membuat nafsu sadar dan tak berdaya. Nafsu menyerah dan mengakui bahawa Allah adalah Tuhan yang menciptakannya.

Karena akal dan nafsu ada dalam diri manusia, maka terjadilah pertentangan antara satu sama lain. Peperangan nafsu dan akal tidak pernah ada henti-hentinya. Kadang-kadang nafsu yang menang, kadang-kadang akal menang. Buktinya, jika kita berhadapan dengan perbuatan yang baik, maka nafsu akan menolaknya dan mengajak kepada kejahatan sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Kalau kita mengikuti nafsu, artinya kita kalah. Sebaliknya, jika kita mengikuti akal maka kita menang.

Namun demikian, bagaimanapun nafsu tetap diperlukan oleh manusia. Bila nafsu dimusnahkan, manusia juga akan musnah. Sebagai contoh adalah nafsu makan. Nafsu makan tidak akan hilang karena merupakan fitrah alami manusia. Jika nafsu makan tidak ada akan memiliki keturunan.

Kedudukan Syukur

 KHUTBAH PERTAMA


السلام عليكم ورحمة الله وبركا


الله أكبر (9×). الله أكبر كبيرا, و الحمد لله كثيرا, و سبحان الله بكرة و أصيلا.

والصلاة والسلام علي سيدنا رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

قال الله تعالى في القرآن الكريم: يأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته, ولا تموتنَّ إلا وأنتم مسلمون.

صدق الله العظيم.

أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله, فقد فاز المتقون.

أما بعد . . .


Jama’ah Idul Fithri 1442 H. yang dirahmati oleh Allah SWT.

Puasa Ramadhan, dan segala ibadah yang menyertainya, alhamdulillah telah kita jalankan. Tujuannya antara lain: La’allakum tasykurûn…agar kalian bersyukur…kata Allah saat menutup firman-Nya di dalam Surah al-Baqarah 185.

Di saat pandemi Covid-19 dengan segala efek negatifnya, tentu oleh agama kita dituntut untuk bersabar dan beristiqomah dalam kesabaran itu. Namun, masihkah kita juga harus bersyukur?

Dalam khazanah al-Qur`an, orang yang bersyukur disebut:

Pertama: Syâkir

Kedua: Syakûr

Kata Syâkir misalnya kita dapatkan misalnya di dalam Surah Al-A`raf ayat 144, ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa as. Adapun kata Syakûr bisa kita jumpai antara lain di dalam Surah al-Isra` ayat 3, saat Allah berfirman tentang Nabi Nuh as.

Di dalam bahasa Indonesia, kedua kata ini memiliki arti yang sama, yaitu “orang yang bersyukur”, namun ada perbedaan makna antara Syâkir dan Syakûr ini. Perhatikan berikut ini:

الشاكر: الذي يشكر على الموجود # الشكور: الذي يشكر على المفقود

Syâkir adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada # Syakûr adalah orang yang bersyukur atas apa yang tiada

الشاكر: الذي يشكر على الرِفد # الشكور: الذي يشكر على الرد

Syâkir adalah orang yang bersyukur atas pemberian # Syakûr adalah orang yang bersyukur atas penolakan

الشاكر: الذي يشكر على النفع # الشكور: الذي يشكر على المنع

Syâkir adalah orang yang bersyukur saat meraih manfaat # Syakûr adalah orang yang bersyukur saat tidak memperoleh manfaat

الشاكر: الذي يشكر على العطاء # الشكور: الذي يشكر على البلاء

Syâkir adalah orang yang bersyukur saat memperoleh anugerah # Syakûr adalah orang yang bersyukur saat tertimpa musibah

الشاكر: الذي يشكر على البذل # الشكور: الذي يشكر على المطل

Syâkir adalah orang yang bersyukur saat mampu mengerahkan # Syakûr adalah orang yang bersyukur saat harus menangguhkan

Demikianlah kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyah menggambarkannya.

Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh.

Di masa pandemi ini, kita ber-syâkir kepada Allah, karena Allah masih titipkan kehidupan untuk kita, sehingga dengan anugerah kehidupan dari Allah itu, kita masih punya kesempatan mengabdi kepada-Nya. Kita pun ber-syakûr kepada Allah, karena dengan ujian pandemi yang Allah anugerahkan kepada kita ini, kita punya kesempatan luas untuk bisa mempraktekkan ibadah yang ganjarannya tiada tara, yaitu berupa sabar dalam menghadapi ujian dan musibah. Kita ber-syâkir kepada Allah atas segala nikmat yang terus mengalir untuk kita, kita pun ber-syakûr kepada Allah yang menganugerahkan ujian dan musibah kepada kita, dan sesuai sabda Rasulullah Saw., Allah jadikan ujian dan musibah itu sebagai kaffârah atau penebus dosa-dosa kita dan sebagai sarana kita untuk dapat naik kelas ketaqwaan dan peringkat kemuliaan di sisi-Nya.

Demikianlah jika kita mau memandang lebih dalam, hanya sikap kesyukuran antara Syâkir dan Syakûr yang pantas kita tampilkan di hadapan Allah SWT, secara terus menerus, sehingga tiada alasan untuk mengeluh, tiada pula kesempatan untuk meratapi, apalagi mencaci-maki.

Maha benar firman Allah SWT:

وَإِنْ تعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tiada mampu menghimpunnya, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (An-Nahl: 18)

Akhirnya, semoga, ibadah Ramadhan dengan segala ujiannya, dan masa Pandemi dengan segala cobaannya, mampu membuka mata batin kita untuk dapat bersyukur atas segala anugerah Allah SWT kepada kita, baik itu anugerah kelapangan, maupun kesempitan; baik kesenangan, maupun kesedihan; baik suka, maupun duka. Semoga di momentum Idul Fithri ini, kita bisa sampai pada tujuan yang Allah ridhai, yaitu: La’allakum tasykurûn…agar kita senantiasa mampu bersyukur kepada-Nya, âmîn yâ Rabbal ’âlamîn.

بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم. ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. وتقبّل منى ومنكم تلاوته, إنه هو السميع العليم. أقول قولى هذا فاستغفروا الله, إنّه هو الغفور الرّحيم.


KHUTBAH KEDUA

الله أكبر (7 مرات) و لله الحمد.

أشهد ان لا إله إلا الله الملك العلاّم, و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله سيد الأنام.

أللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه صلاةً وسلاما دائمَين متلازمَين على ممرِّ الدهور والأيام.

أيها الناس, إتقوا الله حقَّ تقواه, وراقبوه مراقبة من يعلم أنه يراه.

أللهم اغفر للمسلمين و المسلمات, و المؤمنين و المؤمنات, ألأحياء منهم و الأموات, إنك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات.

ربنا ءاتنا من لدنك رحمة, وهيئ لنا من أمرنا رشدا

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم, وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة, وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

والحمد لله رب العالمين.

تقبل الله منا ومنكم, من العائدين والفائزين والمقبولين, كل عام وأنتم بخير.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Kampus Merdeka 2021




Selamat Hardiknas 2021

Lampung, 02 Mei 2021

Zainuddin:


Program Kampus Merdeka merupakan program unggulan Mendikbudristek Anwar Nadiem Makarim dalam hal ini Pemerintah semakin banyak memberikan motivasi kepada para Guru dan Tenaga Kependidikan untuk menulis buku ajar Referensi Pustaka dengan tambahan nilai Angka Kredit sebesar 20 poin, yang tentunya akan berdampak pada percepatan kenaikan Pangkat, Golongan serta Gaji bagi para ASN, hehe...


Sebagaimana pesan Dalam QS. Ashr bahwa: Allah mengeneralisir kerugian pasti akan dialami oleh segenap manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam QS., tersebut: Kokohnya Iman. Ilmu yang Amaliah dan Amal yang Ilmiah, Saling mengingatkan dalam kebaikan, dan yang keempat adalah bersabar dikala sempit maupun lapang.


لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتِيْ مَضَتْ 


"Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu."


Maqolah diatas Ini memberikan peringatan bagi kita dan siapa saja agar senantiasa semangat untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu terus mengalir, umur semakin berkurang. Melewatinya secara sia-sia merupakan langkah yang salah. Hari Senin barangkali akan datang lagi hari minggu dan minggu berikutnya, namun Senin hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai tuanya.


"Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?" (KH. Hasyim Asy'ari).


Sebagai wujud legitimate of knowledge maka pada kesempatan Hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2021 kali ini saya mempersembahkan dan wakafkan 2 (Dua) Karya Tulis, buku pertama dengan judul: Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Guru dengan Pengantar dari Ibu Wakil Bupati Fakfak Yohana Dina Hindom SE., MM, sekaligus Rektor Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nuuwar Fakfak, Buku yang kedua dengan judul: Pengembangan Evaluasi Pendidikan dengan pengantar dari Bapak  Dr. SURIEL SEMUEL MOFU, S.Pd, M.Ed (TEFL), M.Phil (Oxon)., selaku Kepala LLDikti Wilayah XIV Papua dan Papua Barat. kiranya keduanya dapat memberikan manfaat dan khazanah akan Perkembangan dan kemajuan Pendidikan khususnya di kabupaten Fakfak dan masyarakat Indonesia umumnya.


Demikian kiranya apa yang dapat saya hibahkan pada kesempatan kali ini untuk pendidikan semoga membawa barokah:

Amin...