Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Sepertiga malam

Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ

“Barang siapa yang bangun malam (kemudian shalat) dengan membaca sepuluh ayat, maka ia tidak dicatat sebagai golongan al-ghaafiliin (orang-orang yang lalai).

وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ

Dan barang siapa bangun malam (kemudian shalat) dengan membaca seratus ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-qaanitiin (orang-orang yang patuh).

وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

Dan barang siapa (kemudian shalat) dengan seribu ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-muqonthiriin (orang-orang berharta banyak).” (HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaymah dll; “terdapat dalam Silsilah Shahihah”)

( Bacaan yang sebelum Shalat Tahajud )

Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،
Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ،
Dan tidak ada daya upaya (untuk melakukan ketaatan) dan tidak ada kekuatan (untuk meninggalkan kemaksiatan) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

رَبِّ اغْفِرْلِيْ
“.Ya Rabbku, ampunilah aku.”

Rasulullah kemudian bersabda:
…maka akan diampuni (dosa-dosanya), dan jika berdo’a maka akan dikabulkan dan jika dia bangkit lalu berwudhu` kemudian shalat maka akan diterima shalatnya. (HR. Al-Bukhari bersama Fathul Baarii 3/39 dan lainnya)

( Penjelasan kitab para Imam / ahli hadist )
  1. Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya (lihat kitab “Tuhfatul Ahwadzi” – 9/254)
  2. Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’ala memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya” (Kitab “Fathul Baari”, 3/40).
  3. Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan, dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemaha sucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemaha besaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidak mampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya.
Sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala” (dinukil dalam kitab “Fathul Baari”, 3/41).

Marilah kita amalin, mudah-mudahan bermanfaat untuk bisa menambah keutamaan shalat tahajud kita disepertiga malam. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam menjalankannya. Jangan dilupakan untuk diajarkan, dan mengajak anak dan istri kita shalat tahajud. Silahkan disebarkan guna meraih pahala kebaikan sebanyak-banyaknya. Insya Allah, Aamiin.

Zikir Keluar Rumah

Dzikir ini adalah dzikir yang mungkin telah banyak kita ketahui, telah sering kita amalkan… Ya, dzikir itu adalah dzikir keluar rumah. Namun apakah kita telah memahami kandungan yang sangat agung dibaliknya?

Dari Anas bin Malik, ia berkata: bahwa Nabi SAW bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ
Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
(Dengan nama Allah; aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).

Beliau melanjutkan:

قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ
Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya,

هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ
Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan

فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ
Hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata,

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan. (HR. Abu Dawud (4/325), no. 5094, dan at Tirmidziy (5/490), no. 3427; Shahiih at Tirmidziy)

Kalimat yang singkat ini, memiliki arti yang luas dalam masalah tawakal…

Imam Al-Ghazali, beliau berkata : “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata”. [Ihya' Ulumid Din, 4/259]

Al-Allamah Al-Manawi berkata : “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali” [Faidhul Qadir, 5/311]

Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. [Murqatul Mafatih, 9/156]

Sehingga ketika kita keluar rumah: kita sandarkan hati kita kepada Allah, kita mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam melakukan apapun, yang mana seluruh kekuatan kita kembali kepada pertolonganNya, seluruh manfaat yang kita peroleh dan seluruh mudharat yang terhindarkan dari kita adalah karuniaNya.

Ia mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi manfa’at melainkan atas seizinNya, ia pun mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memberi mudharat melainkan atas seizinNya, maka ia bertawakkal kepadaNya.

Ia mengetahui bahwa Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan taqdir, ia mengetahui bahwa Allah Maha Teliti lagi Maha Bijaksana dalam mengurusi seluruh urusanNya, ia mengetahui bahwa kepadaNyalah kembali urusan rezeki dari seluruh makhlukNya, maka ia bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan.

Kalimat doa berikutnya :
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kalimat al-Hawqolah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, mengandung konsekuensi makna; “isti’aanah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah.”

Karena kalimat ini berisi ikrar hamba, bahwasanya ia sedikitpun tidak memiliki daya dan kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan dan menghindar dari apa yang dibencinya, kecuali dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari al-Maula, yaitu Allah semata.

Demikian pula Zuhair bin Muhammad pernah ditanya tentang makna “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, lalu beliau menjawab:

لاَ تَأْخُذُ مَا تُحِبُّ إِلاِّ بِاللهِ، وَلاَ تَمْتَنِعُ مِمَّا تَكْرَهُ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ
“Engkau tidak akan mampu meraih apa-apa yang engkau sukai kecuali dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan mampu menghindar dari apa-apa yang engkau benci kecuali dengan pertolongan Allah pula.”

Kedua tafsiran tersebut diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur: 5/393-394 [dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282]

Kiamat Semakin dekat

6 TANDA KIAMAT
Rasulullah SAW bersabda “Segeralah beramal baik sebelum terjadi enam tanda kiamat. Yaitu;
1. matahari terbit dari arah ia terbenam,
2. dajjal,
3. asap tebal,
4. satwa melata bicara (dabbah)
5. petaka (kematian spesifik) perorangan, dan
6. petaka umum (kiamat besar).” (HR Ahmad).

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari hadis ini, bertambah keimanan dan ketakwaan kita. semoga kita terlindungi dari petaka-petaka akhir zaman tersebut. aamiin.
Mari bagikan pesan Rasulullah ini kepada sahabat yang lain agar menjadi peringatan di akhir zaman untuk segera memperbaiki diri.aamiin.

Mengupas perbedaan

Bila tibanya penghujung tahun, salah satu soalan yang sering dilontarkan oleh mereka yang beragama Kristian kepada penganut Islam ialah seperti berikut:

 Kalau benar umat Islam beriman kepada Isa, mengapa mereka tidak berserta bersama dengan penganut Kristian menyambut Hari Natal sepertimana mereka memperingati Maulid Nabi?

Bagi kita, ini merupakan satu soalan yang sememangnya menarik dan perlu diberikan perhatian yang sewajar. Sebenarnya, ada beberapa sebab mengapa umat Islam tidak merayakan Hari Natal seperti yang dilakukan oleh penganut beragama Kristian.

Tiada bukti kukuh Isa a.s lahir pada 25 Disember

Hari Natal atau Krismas tidak ada kaitannya dengan Isa a.s. Perkara ini mungkin memeranjatkan bagi kebanyakkan orang tapi hakikatnya ialah tidak ada sebarang bukti atau dalil kukuh dari kitab Perjanjian Baru atau mana-mana buku sejarah yang mengatakan bahawa Yesus lahir pada 25 Disember. Cuba kita lihat beberapa pendapat.

It is doubtful that Jesus was truly born on December 25th. Some early church fathers believed it to have been December 25th, but the Bible does not say when Jesus was born.  The Bible does not even really tell us what season he was born.  The early church declared December 25th to be Jesus’ birthday in order to replace a pagan Roman holiday.” (John Benza, Power to Change)

“The exact date of Christ’s birth is not known” (Encyclopedia of Early Christianity)

“Was Jesus born on December 25? There is no evidence for this date. So then, who decided that Jesus' birth would be celebrated on that date? The early Christian church did not celebrate Jesus' birth. It wasn't until A.D. 440 that the church officially proclaimed December 25 as the birth of Christ. This was not based on any religious evidence but on a pagan feast. Saturnalia was a tradition inherited by the Roman pagans from an earlier Babylonian priesthood. December 25 was used as a celebration of the birthday of the sun god. It was observed near the winter solstice.”                     
(dari laman web allaboutjesuschrist.org)

 Ini diakui oleh John W.Schoenheit dari Spirit & Truth Fellowship International. Dia menyatakan bulan kelahiran Isa a.s adalah pada September. Namun, dia sendiri menyakini tiada bukti yang jelas akan  tarikh kelahiran baginda  dan perayaan kelahiran Isa a.s hanyalah satu kesyukuran kepada Tuhan
25 Disember tarikh kelahiran dewa matahari

Menurut bukti sejarah, tarikh Disember 25 merupakan sambutan hari kelahiran dewa matahari di zaman empayar Rom. Ketika empayar Rom yang dahulunya mengamalkan penyembahan berhala menerima agama Kristian sebagai agama rasmi, perayaan hari kelahiran dewa matahari ditukar-ganti dengan menyambut hari kelahiran Isa a.s sebagai anak Tuhan.

Ikuti penjelasan dibawah yang dipetik dari buku Jesus Christ, Our Promised Seed:

“In 274 A.D., the Romans designated December 25 as the birthday of the unconquered sun, being the time when the sun begins noticeably to show an increase in light, resulting in longer daylight hours. By 336 A.D., the church in Rome was adapting this festival, spiritualizing its significance as a reference to Jesus Christ and calling it the ‘Feast of the Nativity of the Sun of Righteousness.’ Attempting to Christianize and incorporate the pagan traditions of antiquity, the church in Rome adopted this midwinter holiday celebrating the birth of the sun god as one of its own observances, somewhat changing its significance, but retaining many customs of the pagan festival. As the Roman church spread its influence religiously and militarily, this holiday of December 25 became the most popular date in Christendom to celebrate the birth of Jesus Christ. A special mass was established for Christ, hence, the name, ‘Christmass,’ abbreviated ‘Christmas.’”

One widespread explanation of the origin of this date is that December 25 was the Christianizing of the dies solis invicti nati (‘day of the birth of the unconquered sun’), a popular holiday in the Roman Empire that celebrated the winter solstice as a symbol of the resurgence of the sun, the casting away of winter and the heralding of the rebirth of spring and summer.” (Encylopaedia Britannica)

Pendek kata, tarikh Disember 25 dan sambutan Krismas bertitik tolak dari pemujaan berhala yang jelas berunsur syirik dan sesat. Ia bukan hari kelahiran Isa al Masih (as) yang sebenar tapi diwujudkan untuk meraikan kelahiran dewa matahari yang disembah oleh masyarakat Rom ketika itu. Oleh kerana Islam menegah umatnya dari terlibat dalam perkara-perkara yang mengandungi unsur syirik dan batil, maka sewajarnya kita perlu menjauhi diri dari menyertai sambutan Hari Natal.


Kelahiran Isa a.s bukan di musim sejuk

Menurut gambaran tentang kelahiran Isa yang diberikan dalam bab 2, ayat 8 dalam Injil Lukas, semasa beliau lahir “gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Al Kitab Indonesia Terjemahan Baru). Ini membawa maksud bahawa para pengembala kambing berada di kawasan padang terbuka pada waktu malam bersama-sama dengan haiwan ternakan mereka.

Kalau peristiwa ini dikatakan berlaku pada penghujung bulan Disember ia adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Ini kerana bumi Palestin pada setiap bulan tersebut mengalami musim sejuk, sepertimana di Eropah. Sudah tentu ia bukannya masa yang sesuai untuk menternak haiwan di kawasan terbuka kerana kemungkinan besar si pengembala dan haiwan ternakkannya akan mati kesejukan bersama.

Jadi, berkemungkinan besar Isa a.s lahir lebih awal dari bulan Disember, iaitu semasa musim panas yang membolehkan haiwan ternakan dilepaskan untuk berkeliaran di kawasan padang terbuka walaupun pada waktu malam. Hanya cuaca musim panas yang dapat mengizinkan perkara sedemikian.


Isa a.s dan pengikutnya tidak menyambut kelahiran baginda

Dalam kitab Perjanjian Baru tidak disebut bahawa Isa a.s menyambut hari lahirnya atau menyuruh para pengikut untuk memperingati tarikh kelahiran beliau. Malah tidak ada sebarang rekod yang membuktikan pengikut Isa yang terawal mahupun generasi yang seterusnya merayakan hari kelahiran beliau. Lebih memeranjatkan ialah ada segelintir penganut Kristian yang menganggap sambutan Hari Natal sebagai satu bidaah dalam agama mereka yang patut ditentang keras.

Sebagai contoh, pada kurun ke-17 pengikut bermazhab Puritan di England berjaya mendesak Parlimen di negara itu untuk mengharamkan perayaan Krismas pada tahun 1647. Sambutan itu digantikan dengan hari untuk berpuasa. Pengharaman itu hanya berakhir pada tahun 1660 bila Raja Charles II menaiki takhta. Pada masa yang sama, gereja Presbyterian juga tidak mengalakkan sambutan perayaan itu di negara Scotland. Fakta sejarah ini jelas menunjukkan bukan semua penganut Kristian yang teruja dengan sambutan Krismas, walaupun mereka merupakan komuniti yang kecil dalam dunia Kristian.

Meraikan kelahiran para nabi-nabi bukan tuntutan agama

Tidak ada sebarang nas atau dalil dalam sumber-sumber Islam yang mewajibkan atau menyuruh umat Nabi Muhammad (sas) untuk merayakan Hari Natal mahupun hari kelahiran mana-mana nabi atau rasul yang diutus oleh Allah s.w.t.

Dalam Islam, hanya ada 2 perayaan keagamaan yang mesti disambut, iaitu Hari Raya Eid-ul Fitr dan Hari Raya Eid-ul Adha atau Hari Raya Korban. Perayaan menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan satu bidaah kerana ia tidak pernah diajar oleh baginda dan tidak disambut oleh para sahabat baginda, sepertimana yang dilakukan oleh segelintir umat Islam hari ini. Kalau sambutan Maulid Nabi itu merupakan bidaah, apatah lagi menyambut Hari Natal yang tidak ada kaitannya dengan kelahiran Isa putera Maryam (as).

Perayaan maulid nabi tidak boleh dianggap sebagai satu ibadah khusus kerana setiap dalil yang khusus memerlukan dalil-dalil yang spesifik dari Allah dan RasulNYA. Adapun kuliah-kuliah ilmu berkenaan dengan sirah Muhammad sallahu a’alaihi wassalam bukanlah bid’ah kerana ia dilakukan sepanjang tahun. Ia menjadi bid’ah jika ia dikhususkan pada tarikh tertentu dengan niat menjadikannya sebagai perayaan.

Maka marilah kita sama-sama menjunjung tinggi sunnah Rasulullah SAW dan ajaran Islam yang sebenar. Janganlah kita secara membuta tuli berturut serta merayakan sesuatu perayaan keagaaman yang telah jelas kesesatan dan kesyirikannya. Perlu kita ingat, bila penganut Kristian merayakan Hari Natal mereka bukan sekadar memperingati tarikh lahir seorang nabi berketurunan Bani Israel tapi seorang manusia yang mereka anggap sebagai Anak Tuhan yang telah turun ke bumi dari syurga untuk mati di tiang salib sebagai menebus dosa manusia.

Pegangan ini jelas bercanggah dengan akidah suci Islam yang menegaskan bahawa Isa al Masih (as ) bukan Tuhan atau Anak Tuhan tapi seorang nabi pilihan dan pesuruh Allah yang diutuskan kepada Bani Israel untuk membawa mereka kembali kepada syariat Nabi Musa (as) yang sebenar dan mengesakan Allah Yang Tunggal.

Begitulah antara beberapa sebab mengapa umat Islam tidak menyambut upacara Hari Natal dan mengapa mereka perlu memastikan supaya tidak terlibat dalam apa jua cara sekali pun. Dan Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Bidasan kristian

Sebahagian golongan kristian membidas dengan mengatakan pilihan tarikh ini bukanlah satu yang penting. Yang penting, umat kristian bersatu dalam meraikan anak Tuhan yang datang menebus dosa manusia. Maka isu bila Isa a.s dilahirkan tidak penting. Sebab itulah ada mazhab kristian yang tidak menyambut tarikh ini tapi pada bulan Januari 6

Bidasan mereka ini sama seperti golongan yang mensyariatkan perayaan Maulid nabi dan menjadikannya satu ibadah yang khusus

Ulasan kepada bidasan kristian

Jika itu pegangan umat kristian, maka tidak perlulah mereka menyuruh umat Islam mengikutinya. Umat Islam beribadah berdasarkan fakta dan dalil. Kami mencontohi apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w dan para sahabah. Kami tidak menambah ibadah khusus sesuka hati mengikut hawa nafsu
Jika golongan kristian dengan mudah melakukan ritual yang menyanggahi ajaran Isa a.s dan pengikutnya, maka tak perlulah di’ajak’ umat Islam menyertainya
Jika mereka tidak segan silu mengubah ajaran Isa a.s, masakan pula mereka mampu menjaga ketulenan kitab pegangan mereka.

Lebih-lebih lagi intipati perayaan tidaklah sama. Golongan kristian meraikannya dengan kepercayaan bahawa Isa a.s adalah Tuhan, anak Tuhan dan sebahagian dari trinity.

Sedangkan umat Islam yang telah menyakini al-Quran, telah sebenarnya ‘merayakan’  kebenaran berkaitan dengan Isa a.s walaupun kami tidak meraikan kelahiran baginda


Kesimpulan

Tarikh 25 Disember bukanlah tarikh kelahiran Isa a.s dan umat Islam tidak dituntut meraikannya bersama golongan kristian. Alasan yang diberikan kristian tidak menjadikan umat Islam perlu menyambut bersama mereka. Umat Islam telahpun memuliakan para nabi walaupun kita tidak meraikan tarikh lahir mereka

Umat Islam telahpun beriman kepada Isa a.s sebagai salah satu rasul agung pilihan Allah

Penghargaan 

Artikel ini ditulis oleh Mohamed Sirajudin (Bendahari, IPSI)  ( siraj_07@yahoo.co.uk) dengan sedikit ubahsuai dan tambahan dari pencari kebenaran

Romantisme Rasulullah SAW Bersama Istrinya

Romantisme Rasulullah SAW Bersama Istrinya
Nabi Muhammad membantu pekerjaan istrinya di rumah
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”
Adakah suami hari ini yang ikhlas membantu pekerjaan istrinya?
Nabi Muhammad melayani istrinya untuk naik unta
Anas bin Malik meriwayatkan, “Aku melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan kelambu di atas unta untuk Shafiah (istri nabi) lalu beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat unta lalu meletakkan lutut, lalu Shafiah menginjakkan kakinya di atas lutut beliau untuk naik di atas unta.”
Sudahkah suami hari ini membukakan pintu mobil, pintu rumah juga membawakan belanjaan isrinya?
Nabi Mendampingi Istrinya Menikmati Hiburan
Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku ‘wahai khumaira (panggilan saying untuk Aisyah), apakah engkau ingin meihat mereka?’, aku menjawab, ‘iya’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya.
(setelah agak lama) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)’, aku menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”
Para calon suami, siapkah Anda bersabar saat istri berbelanja atau menikmati hiburannya?
Subhanallah, kalau Nabi Muhammad SAW yang begitu mulia saja pandai memuliakan istri-istrinya. Semoga kita juga kelak bisa memuliakan dan membahagiakan istri kita. Aamiin