Selamat Datang Di Website ZAINUDDINKAUMSARUNGAN Semoga Bermanfaat bagi para Pembaca yang Budiman !!!

Search

Memori at PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2015.

STUDY ACADEMIC

STAND UP LEFT "SANUSI (NTT), ZAINUDDIN (PAPUA),ZAID (SAUDI), CHAMRY (SUDAN), SHAMIR (IRAQ), BADRUS (PAKISAJI) ".

MY FAMILY

BAHAGIA SELALU DALAM KEBERKAHAN DAN RIDHO- NYA.

MOTIVASI HIDUP

DALAM KEBINEKAAN.

FRIEND IN NEED IS FRIEND IN DEED

TEMAN SEJATI ADALAH TEMAN DALAM KESEMPITAN.

Rahasia Kurma

Rahasia berbuka Dengan Kurma
 
Kurma adalah buah yang berkah yang telah diwasiatkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memulai buka puasa kita pada bulan Ramadhan dengannya. Dari Salman bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa:
” إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر ، فإنه بركة ، فإن لم يجد تمرا فالماء ، فإنه طهور ” رواه أبو داود والترمذي .
”Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud rahimahumallah)
وعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر قبل أن يصلي على رطبات ، فإن لم تكن رطبات فتميرات ، فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء ” رواه أبو داود والترمذي .
Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW. berbuka sebelum shalat (maghrib) dengan memakan beberapa ruthab (kurma segar/basah), apabila tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan apablia tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.”
Dan tidak diragukan lagi bahwa di balik sunah Nabi ini ada petunjuk medis, faidah kesehatan, dan hikmah yang besar. Rasulullah SAW. telah memilih makanan-makanan di atas di antara sekian makanan yang ada, dikarenakan faidah yang banyak yang berkaitan dengan kesehatan, dan bukanlah dikarenakan banyaknya ha-hal tersebut di lingkungan beliau.
Maka ketika seorang yang berpuasa memulai berbuka, aktiflah jaringan-jaringan dalam tubuh, dan mulailah jairngan pencernaan bekerja, khususnya lambung yang harus diperlakukan dengan pelan dan dibangunkan dengan lembut. Dan orang yang berpuasa pada kodisi itu membutuhkan sumber zat gula dengan cepat, yang bisa menghilangkan lapar, seperti ketika membutuhkab air.
Dan unsur makanan yang paling cepat untuk dicerna dan paling cepat masuk ke dalam darah adalah zat gula, khususnya yang terkandung di dalamnya monosakarida (sukrosa ) dan duosakarida (glukosa) karena badan kita dapat dengan mudah dan cepat menyerapnya dalam waktu beberapa detik saja. Lebih-lebih apabila lambung dan usus-usus dalam keadaan kosong sebagaimana hal itu adalah kondisinya yang berpuasa.
Seandainya engkau mencari makanan yang lebih baik yang bisa mewujudkan tujuan ini bersamaan (menghilangkan lapar dan dahaga), maka engkau tidak akan mendapatkan yang lebih baik dari sunnah Nabi yang menganjurkan orang yang berpuasa untuk memulai berbuka dengan makanan yang mengandung glukosa yang manis yang kaya dengan air seperti ruthab (kurma segar/basah) atau tamr (kurma kering) yang dicelupkan kedalam air.
Hasil penelitian kimiawi dan biologi menyatakan bahwa sepotong buah kurma yang dimakan setara dengan 85-87% dari beratnya. Dan itu mengandung 20-24% air, 70-75%zat gula, 2-3% protein, 8,5% serat dan kadar lemak yang rendah.
Sebagaimana juga penelitian menetapkan bahwa ruthab mengandung 65-70% air, dari berat bersihnya, 24-58 % zat gula, 2-2,1 % protein, 5,2 % serat dan kadar lemak yang sedikit.
Hasil yang terpenting dari penelitian kimiawi ini, sebagaimana disebutkan oleh Dr. ‘Abdurrouf Hisyam dan Dr. ‘Ali Ahmad asy-Syahat adalah sebagai berikut:
1. Mengkonsumsi ruthab atau tamr ketika memulai berbuka puasam, memberikan suplai kadar zat gula yang besar bagi tubuh dan menghilangkan gejala kekurangan zat gula (hipoglikemia) danmemebrikan semanagat bagi tubuh.
2. Kosongnya lambung dan usus dari makanan membuat keduannya (usus dan lambung) mampu untuk menyerap zat gula sederhana ini dengan sangat cepat.
3. Kandungan unsur gula dalam bentuk kimiawi yang sederhana yang terkadung di dalam ruthab dan tamr membuatnya mudah untuk dicerna, karena 2/3 dari unsur gula (glukosa) terdapat dalam kurma dalam bentuk susunan kimiawi yang sederhana. Dan demikianlah naiklah kadar gula dalam darah dalam waktu singkat.
4. Adanya kurma yang direndam dengan air, dan ruthab yang mengandung prosentasi air yang tinggi 65-70 % (65-70%) yang menyediakan air bagi tubuh dengan prosentase yang baik, maka tidak perlu minum air dalam jumlah besar pada saat berbuka.
(Sumber: diterjemahkan dari أسرار الإفطار على تمر oleh Abu Yusuf sujono)

PEMUDA PENAKLUK KERAJAAN

KISAH PEMUDA PENAKLUK SEBUAH KERAJAAN
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah menjadi tua, ia berkata kepada raja, "Wahai raja, saya telah tua, untuk itu kirimkanlah kepada saya seorang anak untuk mempelajari ilmu sihir agar nanti bisa menjadi pengganti saya bila saya meninggal." Lalu raja memilih anak (Ghulam) untuk mempelajari ilmu sihir, dan adalah jalan yang dilalui oleh Ghulam ke rumah tukang sihir terdapat rahib (sang kyai jaman dahulu). Ghulam tertarik dengan rahib itu, hingga ia duduk untuk mendengarkan ajaran-ajarannya dan ia merasa puas.

Maka ia selalu terlambat untuk belajar pada tukang sihir, lalu ia dipukulinya. Kemudian ia mengadu kepada sang kyai, lalu sang kyai berkata: "Kalau kamu dipukul tukang sihir, katakan kepadanya bahwa kamu masih disuruh ibumu, dan kalau kamu dimarahi oleh ibumu katakan kepadanya bahwa kamu ditahan oleh tukang sihir, maka hal itu berjalan dengan baik."

Pada suatu hari di jalan raya terdapat ular yang sangat besar, hingga jalan menjadi macet dan orang-orang sama ketakutan, lalu Ghulam maju sambil berkata, "Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihirkah yang lebih besar ajarannya atau sang kyai."

Lalu ia mengambil batu dan dilemparkannya ke ular itu seraya berkata: "Ya Allah, jika ajaran sang kyai yang benar daripada ajaran tukang sihir, maka matikanlah ular ini supaya orang-orang bisa berjalan dengan aman." Maka ular itu pun mati dan orang-orang bisa meneruskan perjalanannya.

Hal itu ia ceritakan kepada sang kyai, lalu sang kyai berkata, "Wahai anakku, kini kamu lebih hebat daripadaku, dan kamu akan mendapat ujian yang sangat berat karena kekuatan imanmu, dan besarnya imanmu, maka jika hal itu telah datang, kamu jangan sekali-kali menyebut nama saya."

Suatu ketika ujian itu datang, dimana salah seorang kawan raja ada yang buta; ia telah berobat ke mana saja tetap belum juga sembuh, lalu dia datang kepada Ghulam ia berkata, "Jika kamu dapat menyembuhkan, maka seluruh permintaanmu akan kami penuhi." Ghulam menjawab, "Saya tidak dapat menyembuhkan, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah, kalau tuan mau beriman kepada Allah, maka saya akan berdo'a untuk kesembuhan tuan."

Kuncinya Ghulam menunjukkan keimanannya dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah SWT, mentaati Agama Allah SWT

Lalu ia pun beriman kepada Allah, setelah itu Ghulam berdo'a kepada Allah, seketika itu juga mata orang itu menjadi sembuh.

Kemudian orang itu mendatangi raja, lalu kagum kepadanya seraya bertanya:

"Siapakah yang telah menyembuhkan matamu?"
Ia menjawab, "Tuhanku."
Raja bertanya, "Adakah Tuhan selain aku ?"
Ia menjawab, "Tuhanku dan tuhan raja adalah Allah."
Raja itu tetap tidak beriman, dan tunduk kepada hukum Allah SWT sesuai amanahnya dalam kehidupan sebagai penguasa, yang bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya.

Lalu raja memaksa ia meninggalkan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi ia menolak. Maka raja menyiksanya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukan bahwa yang telah menyembuhkan matanya adalah Ghulam.

Kemudian raja memanggil Ghulam, lalu berkata kepadanya:
"Wahai anakku, sihirmu telah melampaui batas hingga dapat menyembuhkan penyakit buta dan belang."
Ia menjawab, "Saya tidak dapat menyembuhkan apa-apa, sesungguhnya yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah."

Maka raja menyiksa dan terus menyiksa hingga ia terpaksa menunjukkan sang kyai, lalu raja memanggil sang kyai itu dan memerintahkan kepadanya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak. Dan akhirnya sang kyai digergaji hingga badannya belah menjadi dua.

Lalu raja memerintahkan kepada orang yang telah sembuh dari butannya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak, maka ia pun akhirnya digergaji seperti sang kyai. Kemudian giliran Ghulam diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, tetapi ia pun menolak, lalu raja memerintah tentara-tentaranya untuk membawa Ghulam keatas bukit dan kalau tetap menolak supaya dilemparkan. Lalu mereka berangkat dan ketika sampai di atas bukit Ghulam berdo'a:

"Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini."
Tiba-tiba bukit ini bergoncang dan tentara-tentara itu jatuh dari atas bukit, mereka mati.

Maka Ghulam berangkat menghadap raja, lalu ia ditanya oleh raja, "Kemana tentara-tentara yang tadi bersamamu ?"
Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkan saya dari kejahatan mereka."

Lalu raja memerintahkan beberapa tentara lainnya untuk membawa Ghulam ke tengah laut dan bila masih tetap menolak untuk dilemparkan ketengah laut. Lalu mereka berangkat dan setelah mereka sampai di tengah laut, Ghulam berdo'a:
"Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini."
Tiba-tiba datanglah ombak besar hingga perahu terbalik dan mereka tenggelam semuanya, lalu Ghulam kembali menghadap raja, dan ia ditanya :

"Kemana tentara-tentara yang membawamu tadi?"
Ia menjawab, "Allah telah melindungi kami dari kejahatan mereka. Wahai raja, engkau tidak akan bisa membunuh saya melainkan bila raja mau menuruti perintah saya."
Lalu raja bertanya, "Apa perintahmu itu?"
Ia menjawab, "Kumpulkan semua rakyat di alun-alun, lalu ikat saya pada sebuah tiang dan ambilah panahku. Kemudian panahlah aku sambil mengucapkan: Bismillahir Rabbil Ghulam (dengan nama Allah Tuhannya Ghulam). Bila itu engkau lakukan, maka engkau dapat membunuhku."

Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyatnya di alun-alan, lalu ia mengikat Ghulam pada sebuah tiang. Kemudian ia memanahnya dengan panah Ghulam sambil membaca: Bismillahir Rabbil Ghulam, maka panah itu mengenai pelipis Ghulam dan mengucurkan darah segar dari pelipisnya. Lalu ia meletakkan tangannya di atas luka-lukanya, hingga ia mati.

Melihat kejadian yang menakjubkan itu, tiba-tiba rakyat serentak mengucapkan: Amanna bi Rabbil Ghulam (kami beriman kepada Tuhannya Ghulam), sehingga kepercayaan kepada Allah merata kepada semua lapisan rakyat.

Maka seorang pembantu raja berkata kepada raja : "Sesuatu yang tuan takuti kini benar-benar telah menjadi kenyataan, semua rakyat tuan telah beriman kepada Tuhannya Ghulam."

Maka dengan marah segeralah raja memerintahkan untuk membuat parit besar pada setiap persimpangan jalan, lalu dinyalakan api di dalamnya. Kemudian raja memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk melemparkan ke dalam api tersebut siapa saja yang telah beriman kepada Tuhannya Ghulam.

Maka diantara orang yang telah beriman yang dibakar itu terdapat seorang ibu yang menggendong bayi, ketika ia mau masuk ke dalam api itu, ia menjadi maju mundur karena tak tega anaknya ikut terbakar, dalam keadaan itu tiba-tiba bayi itu dapat berbicara (menasehati ibunya): "Wahai ibu, bersabarlah engkau karena engkau berada di pihak yang benar."

Begitulah mereka yang kekuatan imannya jernih dan mengikuti para Nabi dan Rosul sebagai manusia terbaik disisi Allah SWT, dimana kuncinya adalah sama yaitu :

Kekuatan Imannya terukur dengan kecintaannya menegakkan Agama Allah SWT dalam kehidupannya. Walaupun kepada para Penguasa dimana penyampaian bahwa penguasa yang sebenarnya adalah Allah SWT, penguasalah yang berhak memutuskan segala hukum-hukum Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان

في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة

“Orang yang paling keras ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih).

HARTA DALAM ISLAM

HARTA DALAM ISLAM (BERHALA)
Zaman Nabi Isa diceritakan sesungguhnya ada seorang pemuda kaya yang ingin mengikuti Al Masih dan ingin masuk ke agamanya, maka Al Masih berkata kepadanya, "Juallah harta milikmu kemudian berikanlah dari hasil penjualan itu kepada fuqara' dan kemari ikuti aku." Maka ketika dirasa berat bagi pemuda itu maka Al Masih pun berkata, "Sulit bagi orang kaya untuk memasuki kerajaan langit! Saya katakan juga kepadamu, "Sesungguhnya masuknya unta ke lubang jarum itu lebih mudah, daripada masuknya orang kaya ke kerajaan Allah."

Kini ketika berbagai aliran (faham) baru seperti Materialis dan Sosialis, mereka menjadikan perekonomian itu sebagai tujuan hidup dan menjadikan harta sebagai Tuhannya bagi individu dan masyarakat.

Harta dalam Islam itu tidak menjadi berhala yang disembah oleh manusia sebagai tandingan selain Allah. Dan hendaknya jangan menyebabkan bagi pemiliknya untuk lalai terhadap Rabb-Nya dan menindas makhluq-Nya. Maka ini semua merupakan fitnah harta yang diperingatkan oleh Islam, Allah SWT berfirman:

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al Anfal:28)

"Hai orang-orang yang beriman,janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al Munaafiquun: 9)

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al Kahfi: 46)

"Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al 'Alaq: 6-7)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya penyelewengan itu tidak muncul disebabkan sekedar oleh kekayaan, akan tetapi disebabkan karena anggapan manusia itu sendiri bahwa seakan harta itu segala-galanya, ia tidak lagi memerlukan yang lainnya.

Allahlah pemilik harta benda, karena Dia yang menciptakannya dan yang menciptakan sumber produksinya serta memudahkan sarana untuk mendapatkannya, bahkan Dia-lah yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta.

"Dan kepunyaannya (Allah) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..." (An-Najm: 31)

"Ingatlah sesungguhnya hanya milik-Nya makhluq yang ada di langit dan makhluk yang ada di bumi.." (Yunus: 66)

"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam, kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya." (AI Waqi'ah: 63-64)

"Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu... (An-Nuur: 33)

"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka..." (Ali 'Imran: 180)

Jadi apa yang diberikan Allah kepada manusia dari karunia-Nya salah satunya adalah harta, sehingga kekuasaan manusia atas harta itu sekedar sebagai wakil, bukan pemilik aslinya.

Jika manusia adalah sebagai amin (yang dipercaya) untuk memegang harta dan sebagai wakil, maka tidak boleh bagi manusia untuk menyandarkan harta itu pada dirinya dan mengatasnamakan keutamaan itu sebagai atas jerih payahnya, sehingga ia mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang kafir, "Ini adalah milikku" (Fushshilat: 41). Atau mengatakan seperti yang dikatakan oleh Qarun, "Sesungguhnya aku diberi harta itu, hanya karena ilmu yang ada padaku" (Al Qashash: 78).

Demikian juga tidak diperbolehkan bagi manusia untuk menyibukkan dirinya dengan harta itu, tanpa melibatkan keluarga dari pemilik aslinya, karena seluruh makhluq adalah keluarga Allah. Hal ini berarti ia telah melupakan kedudukan dan fungsi harta itu.

Imam Fakhruddin Ar-Razi mengatakan di dalam tafsirnya, "Sesungguhnya orang-orang fakir itu adalah keluarga Allah dan orang-orang kaya itu khuzzanullah (yang menyimpan harta Allah), karena harta yang ada di tangan mereka adalah harta Allah. Seandainya Allah SWT tidak memberikan harta itu di tangan mereka, niscaya mereka tidak memilikinya sedikit pun. Maka bukan sesuatu yang aneh jika ada seorang raja berkata kepada bendaharanya, "Berikan sebagian dari harta yang ada di gudang kepada orang-orang yang membutuhkan dari hamba-hamba sahayaku."

SHALAT TIANG AGAMA

SHALAT TIANG AGAMA PENYANGGA KEHIDUPAN LAHIR & BATHIN 

Shalat untuk mengingat Allah artinya mengingatkan agar hati kita didalam kehidupan fana ini bisa berlabuh, menyandarkan diri sepenuhnya kepada firman-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Shalat berfungsi untuk menguatkan hati, Shalat sebagai tiang jiwa agar sanggup menegakkan Agama Allah didalam aktifitas kehidupan kita, baik pribadi dan lingkungan.

Kehidupan ini adalah sebuah Amanah yang teramat besar dari Allah SWT agar kita jalani sesuai Al Islam.

Mereka yang bertaqwa, adalah mereka yang berada dalam keredhoan Allah, sesungguhnya teramat berat mencapai ketaqwaan itu, standarisasinya adalah para Nabi dan Shahabatnya Rodhiyallahu anhu. Mereka yang terjamin, bukan manusia generasi selainnya.

Mustahil bertaqwa secara benar, ber-Islam secara benar dengan berbeda jalan dengan generasi yang dijamin Allah.

Allah SWT Berfirman artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir- sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (QS. At-Taubah: 100)

Dimana Allah meredhoi mereka, dan mereka redho kepada Allah. Ketaqwaan adalah nilai tertinggi seseorang hamba, bila kita salah merujuk, salah mengambil keteladanan, salah menilai siapa sesungguhnya manusia bertaqwa itu maka resiko kesalahan teramat besar, apalagi sampai membuat definisi taqwa dengan kesimpulan sendiri.

Ketaatan kepada Allah, hasil dari mengkaji dan memahami Isi Kitabullah dan Hadist, dimana seluruh aspek kehidupan diatur dalam Islam sebagai perintah mutlak dalam sebuah pengabdian. Memegang teguh Agama, konsisten mendidik keluarga, meningkatkan ketaatan, bagian dari Ibadah. Bila ia bekerja, maka tempatnya mencari nafkah sesuai dengan tuntunan Islam, bila ia mendidik anak juga sesuai tuntunan Islam, bila ia memimpin juga sesuai dengan tuntunan Islam, dia tidak akan berlaku diluar tuntunan Islam. Bila ia memilih pasangan hidup juga sesuai dengan tuntunan Islam demikian juga dengan makan dan minum, semua adalah bagian dalam Agama Islam.

Ekonomi, politik, budayanya juga sesuai tuntunan Islam, pergaulannya juga sesuai Syariat Islam, dsb karena tidak ada satu bidangpun didunia ini yang tidak ada aturannya didalam Islam.

Islam yang ditegakkan oleh jiwa-jiwa yang shalatnya benar, maka tidak akan melenceng.

Takbirnya, Allah maha besarnya akan nyata dalam kehidupannya.

Tasbihnya dalam ruku dan sujud, mensakralkan perintah Allah berada diatas hatinya diatas perintah siappapun. Itulah pengabdian penyembahan yang hak kepada Allah SWT

Menjalankan Agama, Shalat sebagai pengingat agar kita kuat menanggung beban dalam ujian menegakkan Agama Allah dalam diri dan lingkungan. Menuju kesempurnaan dalam Taqwa, melewati ujian dan hambatan selalu menyandarkan dirinya kepada Allah SWT.

Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi SAW, maka beliau bersabda kepadaku:

Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah syariat Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah perintah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yg telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dgn suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran2 telah kering.(HR Ahmad, dan At Tirmizy)

Sesungguhnya menjaga Syariat Allah tidak akan lepas dari ujian-ujian. Syurga tidaklah gratis, ada harga yang teramat mahal sebagai ganjaran mereka yang membuktikan imannya.

Allah SWT Berfirman artinya : Apakah kalian menyangka masuk surga, padahal kalian belum� merasakan� musibah� yang telah menimpa� orang-orang� sebelum� kalian, mereka telah ditimpa malapeteka dan kesengsaraan dan digoncangkan sampai rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya� menyatakan, Kapan�pertolongan� Allah�tiba? Katakanlah,�Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat QS: Al Baqarah 214)

Allah SWT Berfirman artinya : Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka bila� ditimpa kebaikan ia merasa tenang, dan jika ditimpa� fitnah ia� membalikkan wajahnya (murtad) ia merugi di dunia dan� akirat, itulah kerugian yang nyata. (QS. Al Hajj: 11).

Kesempurnaan Islam



Kesempurnaan Islam adalah satu kepastian yang wajib diimani seorang muslim. Karena syari'at Islam telah mengatur semua sisi kehidupan manusia menuju kebahagian hakiki. Dengan ajaran Islam, maka seorang muslim dapat meraih keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [Al Baqarah/2:38].

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan keselamatan dan kebahagian kepada seluruh manusia yang mau mengikuti dan menjalankan petunjuk ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, semua permasalahan hidup, sudah seharusnya dikembalikan kepada syari'at Islam, yang merupakan petunjuk Allah. Begitu pula dalam masalah poligami, semestinya dikembalikan kepada petunjuk dan syari'at Allah. Dan seorang muslim dilarang memilih ketentuan dan hukum yang menyelisihi syari'at Islam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

"Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" [Al Ahzab/33:36]

ISLAM MEMANDANG POLIGAMI
Menilik al Qur`an dan as-Sunnah dalam menyebutkan tentang hukum poligami, maka didapatkan, bahwa berpoligami itu hukumnya sunnah bagi yang mampu. Dalam firman-Nya, Allah telah menyatakan:

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya" [An-Nisaa`/4:3].

Dalam ayat ini Allah berbicara kepada para wali (pengasuh) anak-anak yatim, bila anak yatim berada dalam pengasuhan dan tanggung jawab salah seorang kalian, dan ia khawatir tidak dapat memberinya mahar yang cukup, maka hendaknya beralih kepada wanita yang lainnya, karena wanita itu banyak. Allah tidak membuatnya sempit, karena menghalalkan untuknya sampai empat wanita. Apabila khawatir berbuat zhalim bila menikahi lebih dari satu wanita, maka wajib baginya untuk mencukupkan satu saja, atau mengambil budak-budak wanitanya. [1]

Dengan izin Allah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah menikahi sembilan wanita selama hidupnya. Sebagaimana nampak dari sebuah hadits yang diberitakan Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ وَلَهُ يَوْمَئِذٍ تِسْعُ نِسْوَةٍ

"Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengelilingi (menggilir) isteri-isterinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri". [HR al Bukhari, no. 5068 dan an-Nasaa-i, 6/54]

Juga nampak dalam perkataan Ibnu 'Abbas kepada Sa'id bin Jubair:

هَلْ تَزَوَّجْتَ؟ قُلْتُ: لَا, قَالَ: فَتَزَوَّجْ! فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً

"Apakah kamu telah menikah?" Sa'id menjawab,"Belum," lalu beliau berkata,"Menikahlah! Karena orang terbaik ummat ini paling banyak isterinya." [HR al Bukhari no. 5069]

Dalam kalimat "orang terbaik ummat", terdapat dua pengertian. :

Pertama : Yang dimaksudkan ialah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga memiliki pengertian, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam orang terbaik dari ummat ini adalah orang yang paling banyak isterinya.

Kedua : Yang dimaksud dengan "yang terbaik dari ummat ini" dalam pernikahan, yaitu yang paling banyak isterinya.

Syaikh Mushthafa al 'Adawi berkata,"Semuanya mempunyai dasar dan menunjukkan pengertian yang sama, yang menjadi dasar pendapat ulama yang menyatakan sunnahnya berpoligami".[2]

Landasan lain yang menunjukkan poligami merupakan sunnah, juga didapatkan dengan merujuk kepada hadits-hadits yang menganjurkan agar kaum Muslimin memiliki banyak anak.

Di antara hadits-hadits tersebut ialah:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لَا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا ؟ قَالَ: لَا, ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

"Dari Ma'qil bin Yasar, beliau berkata: Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Aku mendapatkan seorang wanita yang memiliki martabat dan cantik, namun ia mandul. Apakah aku boleh menikahinya?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Jangan!" Lalu ia mendatangi beliau kedua kalinya, dan beliau melarangnya. Kemudian datang ketiga kalinya, dan beliau berkata: "Nikahilah wanita yang baik dan subur, karena aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian terhadap ummat-ummat lainnya". [HR Abu Dawud no. 2050, dan Syaikh al Albani bekata: "Hadits hasan shahih". Lihat Shahih Sunan Abu Dawud].

Tentang hadits di atas, Syaikh Musthafa al 'Adawi menjelaskan: "Menikah banyak, dengan izin Allah dapat memperbanyak kelahiran. Dan banyaknya kelahiran, dapat menyebabkan takatsur (bangga dengan banyaknya jumlah). Dengan demikian, wanita yang subur juga dinasihati bila mengetahui seorang laki-laki (yang melamarnya) itu mandul, maka jangan menikah dengannya. Kemudian larangan (dalam hadits) ini bersifat makruh, bukan pengharaman. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mempertahankan para isterinya yang tidak melahirkan anak kecuali Khadijah dan Mariyah".[3]

Demikianlah, bahwa salah satu cara memperbanyak keturunan adalah dengan memperbanyak isteri.

HIKMAH DAN MANFAAT POLIGAMI
Setiap yang disyari'atkan dalam Islam, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar untuk ummatnya. Dibolehkannya poligami adalah cara terbaik dalam menciptakan keluarga dan masyarakat agar terjaga kemuliaan dan kehormatannya.

Ada beberapa hal bisa disebutkan untuk menunjukkan himkah dan manfaat poligami, sebagai berikut:

1. Poligami merupakan syari'at yang dipilih oleh Allah Azza wa Jalla untuk kemaslahatan ummat-Nya.

2. Seorang wanita mengalami sakit, haidh, nifas dan sejenisnya, yang menghalangi dirinya menjalankan tugas-tugas sebagai pasangan suami-isteri. Sedangkan lelaki, ia selalu siap menjadi penyebab bertambahnya ummat ini. Seandainya seorang lelaki tertahan pada masa-masa wanita berhalangan, tentu kemanfaatannya terbuang.[4]

3. Allah telah menjadikan jumlah lelaki lebih sedikit dari wanita. Kaum lelaki juga lebih banyak menghadapai sebab-sebab kematian dalam seluruh kehidupannya. Seandainya lelaki hanya dicukupkan dengan seorang wanita, tentulah banyak tersisa wanita yang tidak mendapatkan suami, sehingga memaksa mereka berbuat perbuatan kotor. Dan berpaling dari petunjuk al Qur`an dalam permasalahan ini menjadi sebab terbesar dalam masalah akhlak.[6]

Tentang jumlah lelaki dan wanita ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

"Di antara tanda-tanda kiamat, yaitu berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan, tampak zina dan wanita menjadi banyak, sedangkan lelaki menjadi sedikit, hingga seorang lelaki berbanding dengan lima puluh wanita". [Mutafaqun 'alaihi].

4. Secara umum, seluruh wanita selalu siap untuk menikah. Dan sebaliknya, banyak lelaki yang tidak memiliki kemampuan melaksanakan konsekwensi pernikahan dikarenakan kefakirannya. Sehingga kaum laki-laki yang siap menikah dari lebih sedikit dari wanita.

5. Poligami dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menthalaqnya, sedangkan dirinya tidak memiliki seorang pun dari keluarganya yang dapat menanggungnya. Sehingga dengan poligami ada yang bertanggung jawab atas kebutuhannya.

Demikian juga poligami memiliki banyak manfaat, baik bagi individu, masyarakat maupun ummat Islam. Di antaranya:

1. Salah satu cara efektif untuk menundukkan pandangan, memelihara kehormatan dan memperbanyak keturunan.

2. Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai faktor keburukan dan penyimpangan. Syaikh bin Baz dalam fatwa beliau mengatakan, berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan ummat Islam secara keseluruhan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai kemaslahatan oleh semua pihak, tunduknya pandangan (ghaddul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, kaum laki-laki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para isteri, melindungi mereka dari berbagai faktor yang menjadi penyebab keburukan dan penyimpangan (akhlak).[7]

Syaikh bin Baz juga menyatakan, hukum asal perkawinan itu adalah poligami (menikah lebih dari satu isteri) bagi laki-laki yang mampu dan tidak ada rasa kekhawatiran akan terjerumus kepada perbuatan zhalim, karena (dengan poligami) mengandung banyak maslahat dalam memelihara kesucian kehormatan, kesucian kehormatan wanita-wanita yang dinikahi itu sendiri, berbuat ihsan kepada mereka dan memperbanyak keturunan, yang dengannya ummat Islam akan menjadi banyak, dan makin banyak pula orang yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata.[8]

3. Memperbanyak jumlah ummat Islam, sehingga memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi musuh-musuhnya dengan berjihad.

Syaikh Muhammad al Amin asy-Syinqithi berkata: "Al Qur`an menghalalkan poligami untuk kemaslahatan wanita agar mendapatkan suami, dan kemaslahatan lelaki agar tidak terbuang kemanfaatannya, ketika seorang wanita dalam keadaan udzur, serta (untuk) kemaslahatan ummat agar menjadi banyak jumlahnya, lalu dapat menghadapi musuh-musuhnya demi menegakkan kalimatullah agar tetap tinggi.[9]

Demikian indahnya ajaran Islam yang menghalalkan poligami. Tentu dalam mempraktekkan syari'at poligami ini perlu memenuhi syarat dan ketentuan yang telah digariskan. Walahul-musta'an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428H/2007. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

SILAHKAN DI SUKAI / DI BAGIKAN KE BERANDA / DI TANDAI DI SALAH SATU FOTO DI ALBUM JIKA YANG DI TANDAI DAPAT TERMOTIVASI TUK BAIK,. INSYAALAH AKAN DI CATATKAN SEBAGAI SUATU AMAL BAIK, AAMIIN,.